Extra Part

Beberapa tahun kemudian.

Ruang apartemen itu tampak sepi dan hanya ada seorang pemuda yang sedang bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Ia terlihat sangat lelah dan kurang tidur akibat tugas akhir kuliah. Cahaya matahari yang mengintip dari balik gorden, membuat dia harus memaksakan diri untuk bangun, sekadar merapatkan tirai.

"Aku merindukanmu, Alsou." Pemuda itu—Zac mengambil foto seorang gadis manis yang terpajang di meja samping tempat tidurnya. "Mengapa kita harus terpisah jarak sejauh ini? Dan mengapa Rika tidak menginjinkanku untuk membawamu bersamaku?"

Zac meletakkan foto itu di tempat tidur. Ia merebahkan tubuh lalu memejamkan mata sejenak.

Aku ingin segera menyelesaikan dan mendapatkan gelar master lalu kembali ke Jepang untuk menemuimu, Alsou.

Ia mengembuskan napas. Masih satu tahun lagi. Argh! Mengapa aku harus mengambil master di London juga!

Dengan tampang frustrasi Zac memeluk foto Alsou lalu memutuskan untuk kembali tidur, berharap gadis itu akan hadir dalam mimpinya.

Ia merasa tersiksa berjauhan dengan gadis kesayangannya.

Ting.

Ponsel Zac berbunyi dan terpaksa ia harus kembali membuka matanya. Seketika pemuda itu mengernyit melihat nomor asing yang tertera di layar touch screen.

"Who are you?" bisiknya, sambil mengetik balasan pesan asing tersebut.

Ting.

Open the door! Zac melipat keningnya semakin dalam setelah membaca balasan pesan dari orang asing tersebut. Memutar mata pemuda itu memutuskan untuk mengabaikan pesan tersrbut. Namun, sebuah panggilan kembali membuatnya teralihkan.

"Open the door, Zac!!" Suara Rika terdengar begitu nyaring di ponsel Zac hingga membuat pemuda itu harus menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.

"Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan? Calm down, maam." Dengan sikap gusar Zac mematikan ponselnya lalu bergerak malas untuk membuka pintu apartemennya.

Dalam hati ia merasa heran mengapa Rika harus meneleponnya dan tidak memencet bel yang sudah tersedia. Setidaknya, gadis itu tidak perlu membuang uang untuk menelepon.

Aneh sekali.

Masih dengan mata mengantuk dan penampilan yang berantakan, Zac membuka pintu.

"Hai!" sapa seorang gadis yang berdiri di depan pintu dengan sebuah koper di sampingnya.

Zac membuka matanya lebar-lebar, wajahnya tampak terkejut setelah melihat siapa yang berada di hadapannya, bahkan tanpa sadar dia membuka mulut menjadi huruf O.

Mengusap mata berulang kali, pemuda itu masih tidak percaya dengan yang ia lihat. "Alsou! Kau ... seriously?!"

Alsou tersenyum menatap Zac lalu mengepal kedua tangannya membentuk tangan kucing.

"Meong, aku kembali, Daddy." Ia tertawa kecil, terlihat sangat imut dengan sebuah bandana berbentuk telinga kucing.

Zac merona melihat gadis yang terlihat begitu manis dan imut. Ia ingin memeluk Alsou dengan erat.

"Kau masih memanggilku daddy." Zac tertawa kecil. Ia merentangkan kedua tangannya lalu maju selangkah untuk memeluk Alsou, tetapi tiba-tiba gadis itu menjauh.

"Meong meong. Aku tidak akan membiarkan Zac memelukku dengan mudah, apalagi melihat tubuhku seperti dulu. Rika chan telah mengajariku banyak hal jadi Zac harus berusaha untuk mendapatkannya." Alsou mencondongkan tubuhnya dan dengan gerakan cepat ia mengecup pipi Zac lalu masuk ke dalam apartemen pemuda itu.

Tanpa mengucapkan permisi terlebih dahulu.

"Alsou, aku merindukanmu dan kau tahu bahwa—"

"Aku tahu bahwa Zac sangat mencintaiku, bahkan aku tahu apa yang terjadi saat aku dalam masa kekosongan." Alsou tersenyum lalu memeluk Zac erat. "Zac menangis di sampingku sambil terus menggenggam tanganku. Rika chan telah menceritakan semuanya padaku dan aku juga mencintai Zac."

Zac menggigit bibirnya sesaat, jantungnya berdebar ketika Alsou berada di dekatnya seperti sekarang. Ia masih terkejut dengan kehadiran yang secara mendadak ini dan hal tersebut membuatnya kembali teringat, mengenai hal-hal yang pernah mereka lalui ketika Alsou masih menjadi seekor Nekomata di apartemen ini.

Wajahnya merah padam di dalam pelukan Alsou.

"Apa ...." Zac terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

Alsou melepaskan pelukannya dan menatap Zac. Ia selalu merasa senang ketika melihat wajah Zac yang merah padam. "Aku akan tinggal di sini bersama Zac."

"Huh?! Berdua? Hanya kau dan aku?" Zac mundur beberapa langkah jantungnya berdetak semakin kencang karena seketika pikiran kotor meracuni otaknya.

Ia menggeleng cepat.

"Err ... kau tahu tidak baik bagiku jika kita bersama, maksudku tinggal berdua dalam satu atap. K-kau tahu, a-aku laki-laki dan tidak mungkin aku bisa bertahan tanpa melakukan hal aneh bersama gadis yang kucintai."

Alsou tertawa terbahak-bahak mendengar keterkejutan Zac yang membuatnya dirinya panik bahkan sedikit terdengar gagap.

"Alsou, kau bisa tinggal bersama Hanna dan—"

Alsou mendekat lalu dengan sigap menutup bibir Zac dengan tangannya dan mencium tangannya sendiri di bibir Zac.

"Mari menikah. Ibu dan yang lainnya akan datang beberapa hari lagi." Alsou tersenyum lagi.

"Huh?!" Zac terperanjat kaget.

"Kita bisa membuat bayi, setelah itu." Alsou memegang wajah Zac dengan kedua tangannya lalu mencium hidung mancung Zac.

"Wajah Zac kembali memerah. Apa Zac masih merasa malu denganku?"

"Ini kejutan luar biasa, Alsou. A-aku ..."

"Sudah diputuskan kita akan menikah. Aku tahu betapa Zac menderita untuk tinggal sendiri di sini. Zac akan menerimanya, 'kan?"

Pemuda itu mengangguk lalu memeluk Alsou dengan sangat erat. "Mengapa malah kau yang melamarku?"

Alsou menengadahkan kepalanya dan menatap Zac. "Karena Zac tidak pernah berani untuk menciumku. Zac selalu merasa gugup dan malu."

"Baka." Pemuda itu tertawa mendengar jawaban tersebut dan beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk mencium Alsou untuk yang pertama kalinya.

Hal yang harus Zac buktikan bahwa dirinya adalah seorang yang gentle. Perkataan Alsou membuatnya kembali berpikir bahwa ia hanya bisa mencium gadis ini dan hal itu karena dia sangat mencintainya.

"Mari kita menikah, Alsou."

_____________
TBH ane bingung buat extra part, tapi semoga lu pada suka ye. 😅😅😅

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top