5.Topeng
Kau tersenyum bodoh. Sangat bodoh. Menutupi semua rasa sakit yang kau rasakan, semua rasa bencimu pada dunia teramasuk benci pada dirimu sendiri kau mengenakan topeng sandiwara.
Kau menatap dirimu di pantulan cermin. Semua hal yang kau benci, yang kau sesali, yang tidak bisa kau terima terlintas begitu saja di memorimu.
"Dunia ini kejam, aku membencinya. Aku benci pada diriku sendiri."
Kau yang tidak mau membuka sosok aslimu, kau mengenakan topeng sandiwara.
Pura-pura bahagia tapi tidak bahagia.
Pura-pura tertawa tapi menangis.
Pura-pura mau menerima tapi membencinya.
Pura-pura berteman tapi hanya sebatas kenalan.
Pura-pura kuat tapi sangat rapuh.
Pura-pura semua baik-baik saja tapi tidak baik-baik saja.
"Aku hanya mengikuti permainan hidup ini, semua yang terjadi hanyalah sandiwara. Tidak ada yang benar-benar sungguhan dan tidak ada yang benar-benar bohongan." ucapmu pada dirimu di pantulan cermin.
Setiap hari kau mengenakan topengmu, terlihat selalu bahagia walaupun mereka semua memperolokmu atau menusukmu dari belakang.
Kau ingin jadi bayang-bayang di antara mereka yang menjadi sinar. Kenapa? Apa kau merasa tidak pantas menjadi cahaya?
Setiap kau selesai dengan segala sandiwaramu di depan mereka semua, hanya sebuah ruang persegi yang menjadi teman curhatmu kala telah menjadi dirimu sendiri.
"Aku kesepian di tengah keramaian umat manusia."
"Tidak ada yang bisa membantuku," kau menatap langit kamarmu yang gelap tanpa cahaya, kemudian kau meringkuk tidur di lantai yang dingin.
"tidak ada yang mau membantuku keluar dari kegelapan ini." kau memeluk dirimu sendiri. Tanpa sadar air matamu kembali menetes.
"Aku ingin keluar dari rasa kesepian ini, tapi tidak ada yang mengulurkan tangannya untukku keluar dari kegelapan ini."
"Siapapun..."
"tolong...keluarkan aku dari kegelapan, dan rasa kesepian ini..."
"tolonglah...siapapun." kau memeluk dirimu sendiri dalam dingin dan gelapnya kamarmu.
Kau terus menangis dan menangis.
Kau ingin teriak tapi tidak bisa.
Kau ingin memaki semua yang terjadi tapi tidak bisa.
Kau ingin keluar dari kesepian ini tapi tidak ada yang menolong.
Kau ingin berbagi rasa kesepianmu tapi tidak ada yang bisa di ajak berbagi.
Kau ingin merangkak keluar dari kenyataan pahit ini tapi kau tidak kuat sendiri.
Kau membopong semua masalahmu sendiri yang kelak tidak tahu kapan akan terjauh karena tidak sanggup menahannya.
Kau terus terusan begitu... Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kau terusan di dalam lubang gelap dan sepi itu? Hanya waktu dan terus menunggu, menunggu dan menunggu.
"Tolong aku..."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top