[🌖] O8. - Sickness

ㅡ Almost, hampir yang tak akan pernah terjadi. ㅡ
"Eghh."
Melengguh kecil ketika kesadarannya penuh, matanya sangat berat untuk dibuka, seperti ada perekat yang menempel di sana. Mata violet Sumire hanya menangkap kain selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dalam gelap, ia bahkan tak mengingat bagaimana tubuhnya bisa tak sadarkan diri karena suhu demamnya yang terlalu tinggi.
Tangannya membuka selimut hangat itu, beranjak duduk bersandar pada penyangga ranjang. Matanya menerawang dalam gelap untuk mencari sesuatu yang bisa menyinari sinar hitam ini, hingga tangan kanannya menarik seutas tali, menyalakan lampu tidurnya yang berdiri di atas nakas.
Ruangan tak sepenuhnya terang, hanya kasur penuh bantal-bantal dan selimut yang tadi sempat ia pakai, selain itu, kamarnya masih terlihat remang.
Lagi-lagi Sumire mengusap mukanya, demamnya sudah turun, tubuhnya masih terasa hangat, tapi tidak sepanas tadi. Kelopak matanya terus mengerjap-erjap menghilangkan rasa kering yang membuatnya susah terbuka.
"Aku tertidur ... atau pingsan?"
Gadis itu bergidik ngeri, ia tak menyadari demam tingginya yang membuat dirinya tak sadarkan diri, ia juga tak menyadari kalau tangisannya membantu demamnya semakin merasuki Sumire.
Gadis violet itu mengelus sweater yang ia pakai saat ini, sedikit menyesal telah mengenakan pakaian ini, padahal tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Harusnya, ia jujur saja pada Akita kalau sedang sakit dan tidak ingin pergi ke luar, atau mungkin menolak ajakan Mitsuki untuk ke kantor Hokage, atau bahkan seharusnya ia memakai pakaian double.
Terlalu ceroboh, pikirnya.
Tangan yang mengelus pakaian tebal itu tiba-tiba saja menemukan sebuah gundukan keras di perut ratanya, dua benda panjang yang tersimpan dalam saku bajunya itu. Sumire mengeluarkan benda hijau itu, memperhatikan dua gulungan yang sempat Katasuke beri tadi.
Bertuliskan rencana dan tembakan laser difusi chakra pada kertas kecil yang tersemat di sana. Ia menggenggam erat kedua gulungan itu, kembali menaruh ke dalam sakunya. Sumire akan membukanya nanti.
Dia kembali mematikan lampu yang memiliki kepala seperti payung itu, menyingkirkan selimut, dan bangun dari ranjangnya. Tirai jendela telah terbuka, kembali menyinari kamarnya yang gelap gulita.
Ia menyisir rambut menjuntai itu dengan tangan kanannya, sembari berjalan menuju dapur dan kembali menyalakan kompor yang terdapati teko air di atasnya.
Kaki telanjangnya kembali berjalan menuju pintu depan apartment-nya, meraih syal ungu tua yang terjatuh di lantai begitu saja, juga merapikan alas kakinya yang tadi gadis itu lempar begitu saja.
Sumire kembali melangkah ke dapur, menyiapkan dedaunan barley tea pada cangkir berwarna putih bening, yang ia harap dapat melelehkan sumbatan di hidungnya.
Jam sudah menunjukan pukul dua siang, sinar matahari tidak juga menghangat apalagi memanas, kali ini udara dingin mengalahkannya. Sejak pagi, gadis itu belum mengisi tubuhnya dengan asupan makanan, tapi Sumire juga tidak kunjung merasakan lapar pada perutnya.
Ia kembali meraih tabung berisi tablet obat yang diminumnya tadi pagi, mengeluarkan satu petak berisi bahan kimia itu, dan meneguknya lagi dengan air putih.
Sumire pikir, mungkin tidak apalah hanya meminum obat, ya ... mungkin sebentar lagi selera makan itu akan muncul, jadi ia hanya memundurkan jam makannya saja.
"Hatchuu."
Gadis itu menuang air yang telah dimasak pada cangkir tembus pandang itu, merubah warnanya ke coklat dengan uap yang terus mengepul.
Gadis violet itu berjalan menuju meja makannya yang minimalis, sedikit mencicipi cairan coklat itu yang terasa tawar dan sedikit pahit, dan menaruhnya ke meja kecil di hadapannya. Kedua tangannya menopang wajah tembamnya, menyandarkan kedua siku itu ke meja.
Ia harus segera membuka kedua gulungan itu, selain karena gulungan pertama yang bertuliskan rencana terlihat sangat penting, misi juga akan dilakukan besok, sehingga ia juga harus cepat mempelajari lebih dalam tentang senjata terkuat desa Kumo itu.
Tangan kanannya menggenggam gulungan pertama, dan sebaliknya, gulungan kedua digenggam oleh tangan kiri. Benda itu, sudah ia keluarkan ketika Sumire berada di luar kamar.
Ia menatap bimbang, mana yang harus ia buka duluan?
Sejujurnya, Sumire tentu saja lebih penasaran dengan gulungan pertama, tapi ... entah kenapa, rasanya seperti belum siap untuk menerima kenyataan pahit yang akan terasa ketika gulungan rencana itu terbuka.
Mulutnya kembali menyesap air teh hangat itu, perlahan tapi pasti tangannya membuka gulungan hijau berukuran sedang di hadapannya.
Matanya berkedip mendapati tulisan kanji dengan tinta hitam yang bisa dibilang tak sedikit, dan cukup banyak. Sejujurnya Sumire malas, tetapi ia harus mengatur waktunya dengan baik, karena misi dilakukan esok hari.
Tembakan laser difusi chakra.
Senjata rahasia Desa Kumo, sengaja dirahasiakan dan disembunyikan dengan penjagaan yang ketat. Bahkan sangat jarang dikeluarkan, apalagi digunakan.
Setelah perang dunia shinobi keempat meletus, dan dunia telah damai, tembakan ini semakin jarang digunakan. Bahkan tak banyak yang mengetahui tentang senjata ninja ini.
Terakhir kali diperlihatkan, yaitu belasan tahun lalu, ketika Raikage mengeluarkan tembakan ini setelah dunia sudah damai, digunakan untuk menghancurkan meteorit yang mendekati bumi. Awalnya, Raikage juga berencana untuk memusnahkan bulan dengan tembakan ini, namun berhasil dihentikan.
"Belasan tahun lalu ...." Sumire kembali menopang wajahnya, mengingat sesuatu yang tertinggal. "Aku tahu, itu ketika Hanabi-sensei diculik oleh seorang Otsutsuki, dan Hinata-san juga ikut pergi ke bulan atas dasar ajakan, untuk menyelamatkan Sensei."
Teh barley kembali ia minum. "Aku jadi penasaran bagaimana kabarnya. Bodoh, aku lupa untuk mengunjungi Hanabi-sensei saat aku kembali."
"Jangan-jangan, dia masih melajang?"
Sumire sedikit terkekeh, ia jadi mengingat guru keturunan Hyuga yang menurutnya sangat manis, ia merindukan wanita itu.
Sesuai namanya, tembakan laser difusi chakra akan memfokuskan sinarnya pada target, dan memindahkannya ke dimensi lain. Untuk membantu tembakan ini bekerja, maka diperlukan chakra hingga penuh dengan kapasitas seratus persen. Bantuan dari para shinobi tak pernah absen untuk memberikan chakra mereka hingga kapasitas itu penuh.
Karena kekuatan senjata ini benar-benar hebat, setelah seluruh meteorit di sekeliling bumi telah dihancurkan, Raikage berniat untuk melenyapkan bulan juga, yang saat itu dapat membahayakan keselamatan bumi.
"Hatchuu!"
"Mengganggu saja," ucapnya.
Masih ada beberapa baris yang belum gadis itu baca, berisi tentang beberapa informasi yang boleh diketahui oleh publik. Bagaimanapun juga, informasi detail tetap dirahasiakan, karena tembakan chakra ini bersifat sangat kuat dan tidak boleh sembarang orang menggunakannya.
Apalagi, saat ini tembakan itu dicuri, pastinya sangat meresahkan warga Kumogakure.
Sumire kembali meneguk minumannya hingga kandas, lalu berjalan ke arah dapur untuk menaruh gelas bekas itu ke wastafel.
Ia tidak ada selera untuk makan, tapi jam makan siang sudah lewat dan Sumire belum memakan sesuap pun. Gadis itu tak ingin tubuhnya semakin sakit, tapi ia juga enggan untuk menelan sebuah makanan.
Tok, tok, tok!
"Sumire, buka pintunya!" Seruan dengan suara baritone mengalun di telinganya.
"Eh?"
Mata violetnya mengintip dari bolongan kaca kecil yang ada di pintu apartment-nya, menangkap seseorang di depan sana.
"Eh? M-Mitsuki? Apa yang ingin dia lakukan lagi?"
To be continued ...
Plagiarism is strictly prohibited
Putra Orochimaru = Mitsuki.
Senjata penghancur kepingan bulan = Tembakan laser difusi chakra.
Selanjutnya?

ㅡ Almost, hampir yang tak akan pernah terjadi. ㅡ
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top