09
Aku berbohong saat aku sedang berbohong.
Aliand Rama Fairuz
-ar-
-----
Ali mendorong trolinya, dia bernapas lega telah sampai dengan selamat ke Indonesia. Ali mencoba menetralkan pikirannya, saat dia kembali memikirkan penyakitnya. Haruskah dia jujur, jujur dengan menyakiti atau membahagiakan orang lain dengan kebohongan. Ayu terus meyakinkan putranya untuk memutuskan keputusan yang terbaik, Ayu tidak ingin rumah tangga putranya menerima masalah hanya karena kebohongan.
"Li," panggil Ayu dengan tatapan mengisyaratkan bahwa putranya harus yakin dengan keputusan yang sudah diambilnya.
Ali menghembuskan napasnya, "insyaAllah Mah," Ali tersenyum yakin.
"Yasudah ayo, mobilnya sudah ada." Ali menyeret kopernya kebelakang mobil, memasukkannya pada bagasi mobil yang dibantu oleh supirnya. Sebelumnya Ayu sudah menghubungi salah satu supirnya untuk menjemput di bandara tanpa sepengetahuan Prilly, Ayu yakin Prilly tidak akan menyadari hilangnya satu supir di rumah. Karena mengingat begitu banyak pelayan, supir dan pegawai lainnya di mansion keluarganya.
Ditengah perjalanan hujan mulai turun membasahi ibu kota, sesekali Ali tersenyum melihatnya. Dia ingat saat pertama kali istrinya menari-nari dibawah rintikan hujan yang deras. Membuat dirinya sadar bahwa istrinya memang menyukai hujan, saat setelah masa itu datang membuat hidupnya berubah. Maka untuk pertama kalinya Prilly kembali menyukai hujan.
Sempat berpikir mungkin sekarang bisa saja istrinya melakukan kesenangannya itu, namun mengingat dirinya belum memberi kabar kembali pada istrinya Ali yakin istrinya sedang duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Prilly memang menyukai hujan, namun kekesalannya akan menghilangkan kebiasaannya.
Ali begitu yakin istrinya sedang kesal, karena dirinya memutuskan kontak begitu saja. Ali terperanjat dari lamunannya, saat Mamanya memberitahu bahwa sudah sampai di mansionnya.
Para pelayan menyambut kedatangannya dan membantu membawakan semua barang-barang yang Ayu dan Ali bawa, Ali melangkahkan kakinya pada teras rumah. Sebelumnya Ali menghelakan napasnya, "bismillah...."
"Assalamu'alaikum?" salam Ali dan Ayu saat memasuki mansionnya.
Hening. Tak ada jawaban.
Namun terdengar suara teriakkan atau gumaman yang nyaris terdengar sangat kencang, membuat Ali menatap Mamanya. Dengan cepat Ali mencari sumber suara itu, Ali mengerutkan keningnya saat menemukan istrinya yang sedang memejamkan matanya namun terlihat tidak nyaman dengan pejaman matanya. Wajahnya berkeringat, beberapa kali dia memanggil nama Ali.
"Sayang bangun," Ali mencoba membangunkan istrinya saat dia tahu bahwa Prilly mungkin bermimpi buruk.
Hanya sebuah gelengan yang didapatkan, Prilly tak kunjung bangun.
"Aliiiii---" Prilly terbangun dengan napas terengah-engah, seperkian detik Prilly menangis. Ali semakin bingung, sebenarnya kenapa istrinya ini. Pikirnya.
"Sayang," panggilnya lagi membuat Prilly menoleh, menatap kaget pada suaminya. Meraba wajahnya, lalu memeluknya erat. Membuat Ali hampir saja terjatuh ke belakang, jika saja pertahanannya tidak kuat.
Prilly sesegukkan dalam pelukannya, "sayang, kenapa?" Prilly menggeleng, "aku takut...."
Ali menatap Mamanya, Ayu mengisyaratkan untuk membawanya ke kamar. "Jangan tanya dulu, biarin dia tenang dulu." Ali mengangguk, lalu membawa Prilly ke kamarnya dalam keadaan masih memeluk dirinya.
Ali membawa Prilly untuk duduk di sofa dekat balkon kamarnya, agar udara bisa sedikit mengurangi ketakutan istrinya. Ali mengusap wajah istrinya, menghapus air mata Prilly yang masih tersisa.
Kembali Ali memeluk istrinya dan mencium kepalanya, "sayang... Kamu ini kenapa? Hmm....." Prilly mempererat pelukannya tidak berniat menjawab pertanyaan suaminya.
Prilly merenggangkan pelukannya, menatap lama pada suaminya. Selanjutnya hanya gelengan yang Prilly berikan, "kamu---" Prilly kembali terdiam.
"Kenapa sayang?"
"Kamu kenapa gak kasih tau aku kalau mau pulang?" Ali tersenyum, mengusap rambut istrinya. "Maaf yah, saya mau bikin kamu terkejut."
"Aku rindu...." Prilly kembali memeluk Ali, suaminya hanya terkekeh kecil saat istrinya sedang rindu pasti seperti ini.
"Saya lebih rindu...."
Sebenarnya Prilly masih merasa tidak nyaman, pikirannya masih tentang mimpi itu. Sikapnya sekarang hanya untuk menutupi kegelisahannya saja, agar Ali tidak lagi bertanya lebih detail.
"Oh iya, Adit mana sayang?" tanya Ali.
"Tadi sih tidur, sekarang mungkin udah bangun." Ali mengangguk mengerti, "yaudah saya mau liat dulu, kamu mau ikut?" Prilly mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.
Saat sampai di depan pintu kamar putranya, Ali membuka handel pintu dengan sangat pelan. Mencoba mengintip keadaan didalam, lalu pintu terbuka membuat Ali sedikit terkejut. "Astagfirullah...."
"Papaaa, I miss you so much." Teriak Adit dari balik pintu yang membuat Ali sedikit kaget, tak lama Ali menggendong jagoan kecilnya. "I miss you to Boy."
Prilly berdecak, "baiklah-baik kalau kalian sedang melepas rindu, kalau begitu aku pergi ke kamar." Ali meraih tangan Prilly sebelum langkah kakinya meninggalkan dirinya.
Prilly mengerutkan keningnya, "ada apa?"
"Kenapa pergi? Marah?" Prilly terkekeh membuat Ali dan Adit menatapnya serius, "apaan sih, marah kenapa coba. Aku mau beres-beres baju kamu, mungkin ada pakaian kotor." ucap Prilly dengan langkahnya meninggalkan kedua pria yang sedang menatapnya sampai Prilly benar-benar hilang di balik pintu kamarnya.
"Mau es krim?" dengan respont cepat, Adit menganggukan kepalanya dengan senyum mengambang dari bibirnya.
"Oke, let's go...."
Prilly tersenyum dibalik pintu kamarnya, melihat suaminya menawarkan jajanan kesukaan Adit yang membuat dia senang. Prilly kembali memasuki kamarnya saat dirasa Ali sudah meninggalkan rumahnya.
Pandangannya kembali kosong, memikirkan semua yang terjadi dalam mimpinya. Prilly terus saja berucap bahwa itu hanya bunga tidur, bahwa sebelum dia tidur dirinya sedang merasa cemas dan lelah. Sebab itu mungkin dia mimpi buruk, iya hanya sebab itu. Pikirnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya tetap merasa tidak tenang, kembali air mata itu lolos dari matanya. Prilly tidak bisa diam dengan posisinya, otaknya terus berputar dalam ketakutan. Masa lalunya kambali berputar, seakan-akan kembali terulang hal-hal buruk padanya dulu. Kenapa, kata itu terlintas dalam pikirannya. Kenapa harus seperti ini? Kenapa dia harus sakit? Kenapa kejadian ini seperti terulang? Kenapa aku tidak bisa bahagia? Kenapa? Pikirannya terus bertanya-tanya tentang semua ini. Rasanya ini nyata, mimpi itu seperti sebuah pesan. Apa mungkin, apa mungkin Ali mengidap penyakit itu? Pikirnya.
Prilly meringis, kepalanya terasa pusing. Apa yang dia lihat seakan berputar, tangannya meremas rambutnya. Tubuhnya seperti diombang-ambing, matanya mulai mengabur. Saat itu semuanya gelap, Prilly tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Terakhir yang dia dengar suara Ali memangil namanya. "PRILLY...."
***
Ali melupakan sesuatu, bahwa ada satu berkas yang ia harus sembunyikan. Jangan sampai Prilly melihatnya, pikirnya.
Saat Ali memasuki kamarnya, dia melihat istrinya memegang kepalanya. Terlihat guratan dalam wajahnya, seperti menahan sesuatu. Saat Ali ingin menghampirinya lebih dekat, tiba-tiba saja Prilly seperti kehilangan keseimbangannya. "PRILLY...." Ali menangkapnya sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh pada lantai.
Ali menepuk-nepuk pipi istrinya, "sayang, bangun sayang. Kamu kenapa? Mama... Mah...." teriaknya membuat Ayu dengan cepat memasuki kamarnya.
"Ada apa Li? Astagfirullah... Prilly kenapa Li?"
Ali menggeleng cemas, "Ali gak tau Mah."
"Mama telepon dokter," Ali mengangguk, pikirannya sudah tidak jernih. Otaknya hanya memutar nama Prilly, keadaanya membuatnya begitu cemas.
Satu jam sudah Prilly tertidur, dia masih belum sadar dari pingsannya. Satu jam yang lalu dokter datang, dan menjelaskan bahwa Prilly hanya kelelahan dan banyak pikiran. Jadi Prilly hanya butuh istirahat saja. Ali masih setia menunggu Prilly sadar, bahkan genggaman tangannya tidak pernah lepas sedari tadi. Ali mengerutkan keningnya, saat dirasa tangan Prilly seperti bergerak. "Euugghh," Ali tersenyum saat menyadari bahwa istrinya sudah sadar.
Ali mengusap kepala Prilly, "alhamdulillah kamu udah sadar, saya khawatir." Ujarnya sembari mencium kening Prilly.
"Ali...." Panggilnya purau bahkan seperti bisikan.
"Iya Prill, saya disini." Prilly mempererat tangannya yang masih dalam genggaman suaminya. "Jangan pergi!"
Ali menggeleng, "saya gak akan pergi."
Prilly menatap Ali, "aku takut," ujarnya.
"Gak perlu takut, saya selalu ada di samping kamu." Ujar Ali meyakinkan istrinya bahwa dia akan selalu ada untuknya.
"Pusing gak?" tanya Ali khawatir. Prilly menggeleng pelan, "aku takut," lagi-lagi Prilly mengatakan kata itu, membuat Ali menatapnya bingung. Apa maksudnya, kenapa Prilly mengatakan takut berulang kali. Takut kenapa? Apa yang dia takuti? Pikir Ali.
"Takut kenapa Mydear, hmm?" tanya Ali penasaran.
"Kamu gak akan ninggalin aku kan?" tanya Prilly membuat Ali semakin bingung, Ali merasa semua ucapan istrinya sangat ambigu. Kenapa dia mengatakan takut dan bertanya seolah-olah dirinya akan pergi, apa maksudnya? Pikir Ali kembali.
Ali tersenyum menggeleng, "gak akan, saya gak akan pergi Prilly."
Prilly mengubah posisinya menjadi duduk, seperkian detik Prilly kembali menangis. Ali kembali memeluk istrinya, menenangkannya kembali. "Syuuut, jangan nangis lagi. Saya gak akan pergi Prilly, kenapa kamu nangis?"
Prilly mempererat kaitan tangannya pada Ali, "aku...aku aku bermimpi buruk Ali...." Ujarnya terbata-bata.
"Mimpi apa Mydear? Katakan!" tanya Ali yang masih menenangkan istrinya.
"Kamu ninggalin aku."
"Saya?" Prilly mengangguk.
"Kepergian kamu sama halnya dia pergi dari kehidupan aku untuk selama-lamanya," ujar Prilly melepaskan pelukannya, dan kembali menatap mata suaminya.
"Kamu taukan masa lalu aku, kamu tau masalah aku semuanya. Tapi apa aku gak boleh tau tentang kamu sedikit pun? Apa yang kamu sembunyiin dari aku Li? Tolong jawab jujur!" pinta Prilly.
Ali bergeming.
Cukup lama dalam diam, Ali memikirkan semua ucapan istrinya. Kenapa Prilly tiba-tiba berkata seperti itu, pikirnya. Bahkan sekarang Ali masih belum mempunyai jawaban yang cocok untuk pertanyaan istrinya. "Ali kenapa diam?" tanya Prilly membuyarkan lamunan Ali.
"Saya...saya tidak menyembunyikan apa pun dari kamu Prilly," jawab Ali bergetar, karena dirinya mengatakan yang seharusnya bukan dia katakan.
"Kamu mau tau semua cerita mimpiku? Alasan kamu pergi, dan semuanya." Ali menganggukkan kepalanya ragu.
Prilly menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, "kamu, kamu pergi karena kamu meninggal," Ali menatap Prilly, "dan kamu meninggal karena kamu---" cukup lama Prilly menjeda, membuat Ali sangat ingin mengetahui kelanjutannya, "karena kamu mengidap penyakit jantung."
Deg.
Jantung Ali terasa berhenti mendengarnya, kenapa mimpi istrinya sangat nyata. Apa harus ia jujur sekarang, apa kejujurannya tidak akan membuat perasaan istrinya lebih hancur.
Prilly mengerutkan keningnya, kentara sekali suaminya terlihat terkejut dengan ucapannya. Jika mimpinya hanya sebuah kebohongan, kenapa Ali harus terkejut seperti itu. Pikirnya.
"Ali, kenapa?" tanya Prilly membuat Ali semakin tidak bisa menatapnya.
"Iya benar," ujar Ali membuat Prilly tak mengerti. "Benar apa?"
"Benar kalau saya memang mengidap penyakit jantung."
Deg.
Prilly membulatkan matanya tak percaya, apa maskdunya. Benar? Mimpinya benar?
-----
Hayoh, gimana tuh Prilly udah tau?
Tbc
Yo yo aku kembali dengan cerita khayalanku 😂 baiklah untuk kesekian kalinya maaf atas keterlambatan update cerita ini teman-teman 😘 oke gak usah banyak ngomong, gimana part kali ini? Komen di bawah, please! Maaf jika kurang memuaskan 🙏❤
Mohon maaf setelah ini mungkin aku hiatus dulu, dikarenakan aku benar-benar sedang disibukkan dengan ujian-ujian sekolah. Jika ada waktu senggang, pasti aku bakal next 😉 Minta doanya supaya diperlancar semua ujian aku dan cepet lulus sekolah, aamiin 😇 Terimakasih 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak, vote, coment, saran dan kritik diterima.
Jika typo boleh dibenarkan dalam komentar, selamat menunggu part selanjutnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top