AKAD || Pertama
Sepasang tangan mengeluarkan lusinan piring dari alat pengering. Diiringi suara dentingan, ia menumpuknya dengan cekatan di atas troli dan mendorong troli tersebut menuju site piring di dalam dapur. Langkahnya mantap, tapi tidak terburu.
"Swara!"
Suara bariton menggema, menghentikan langkah wanita dengan seragam putih dan celemek yang masih melekat di tubuhnya itu. Ia menoleh, sekedar mencari tahu siapa gerangan yang masih berkeliaran di dapur restoran tempatnya bekerja sebagai pembantu asisten dapur sekarang ini. Biasanya para koki langsung minggat dari tempat—yang kalau sedang beroperasi seperti neraka ini—setelah pelanggan terakhir hengkang pula dari tempat duduknya.
Memiringkan kepala, Swara kesal karena telah membuang waktu beberapa detik. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini karena dia masih ada tugas kelompok dengan temannya. Ya, jam sepuluh malam setelah dia selesai bekerja, Swara baru bisa mengerjakan tugas kuliah.
Susahnya harus membagi waktu untuk kuliah dan bekerja seperti ini. Namun, apa boleh buat, Swara memang tidak seberuntung teman-teman kuliahnya yang tinggal menadahkan tangan bila ada keperluan biaya kuliah atau malah hanya untuk sekedar nongkrong berjam-jam di mall.
Swara sadar bahwa ia memang hanya anak kampung yang punya cita-cita terlalu tinggi. Sudah sering ia mendapat nasehat, "Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, nanti jatuhnya sakit," tapi nasehat itu hanya masuk telinga kiri dan langsung ditendang oleh penghuni koklea lantas kabur lewat telinga kanan.
Jika mengingat perjuangannya dulu mengumpulkan uang hingga pulang tengah malam, atau kadang malah sampai pagi, saat bekerja di garment Solo selama dua tahun agar bisa memiliki biaya hidup untuk kuliah di universitas sehebat UI, Swara tidak akan mengeluh kalau cuma membantu para koki di dapur untuk mengambil ini dan itu. Dengan gaji yang lumayan, Swara juga tidak keberatan mendapat tugas tambahan mencuci piring dan membuang sampah. Jam kerja yang bisa disesuaikan dengan jadwal mata kuliah, membuat Swara dan tiga orang lain sepertinya makin betah di sini. Jadi pekerjaan Swara di restoran itu bisa digilir. Mereka bekerja dengan hitungan bayaran perjam.
"Ra! Kalau dipanggil nyahut napa, sih? Punya mulut nggak?"
Swara sedikit terlonjak mendapati Gary telah berkacak pinggang tak jauh darinya. Melihat ransel telah tersampir di bahu, sepertinya pria itu sudah siap untuk pulang. Lantas buat apa sekarang dia ada di sini dan mengomel tak jelas di depan Swara?
"Apa, tho, Mas?" Swara kembali melanjutkan pekerjaan. Lamunannya telah buyar. Tidak ada bersambung jika koki senior ini telah bercuap-cuap. Dia selalu minta perhatian lebih. Pada siapa pun! Bukan cuma pada Swara yang masih muda. Perjaka tua, ya, begitu.
"Pulang bareng gue, mau nggak?" Gayanya menawari seperti petugas bank plecit. Mau tidak mau, ya, harus mau.
Selesai dengan para piring, baru Swara menghadap pria yang tingginya sudah seperti pohon kelapa itu. "Tumben nawarin."
"Mau apa kagak, elah? Kagak usah ke-ge-er-an, terus pamer ke anak staf waiters. Gue tadi balik ke sini ngambil handphone yang ketinggalan." Gary langsung menjelaskan tanpa diminta saat ditatap dengan tajam. Ia tahu Swara menganggap dirinya sebagai hidung belang, jadi akan mencurigakan kalau dia sampai menawari boncengan sakral motor Ninja-nya.
"Nggak, Mas. Makasih. Aku sudah dijemput temanku, kok."
Harga diri Gary tercoreng mendengar penolakan yang meluncur dengan mulus dari mulut Swara. "Laki apa cewek?"
"Cewek, lah, Mas."
"Nah, bahaya, tuh. Pulang malem-malem berdua, tapi masih sama cewek juga. Kalo ada begal nanti gimana?"
Swara menghela napas jengah. "Bareng sama Mas Gary justru lebih bahaya. Apalagi di dapur restoran yang udah nggak ada orang begini. Daripada ngobrol nggak perlu, mending aku pulang, Mas. Wes, minggiro!"
Meski Gary tetap tegap di tempat, Swara tetap enyah dengan melewati secuil celah pintu yang tersisa. Meninggalkan Gary dengan raut wajah kesal tak terkira. Swara itu sulit sekali ditaklukkan. Padahal biasanya, anak-anak muda macam Swara kalau sudah dikasih senyum langsung ngefans padanya, tapi ini boro-boro ngefans, melirik saja sudah syukur. Itu pun setelah dibentak-bentak.
***
Selesai membuang sampah, Swara sudah mendapati Freya menunggu di pintu belakang restoran bersama motornya. Soal Gary jangan ditanya, pasti orang itu sudah pergi lebih dulu.
"Uhhhmmm, maaf, yho," Swara berujar sambil menerima uluran helm dari Freya dengan wajah melas.
"Nggak pa-pa lagi. Santai aja. Eh, by the way, lo tiap hari pulang semalem ini?"
Swara hanya meringis dan segera naik ke atas boncengan motor matic Freya. Dia memang sudah berjanji untuk menjemput Swara.
"Ya, gimana lagi. Kelasku pagi semua."
"Ya, ampun, Ra. Sendiri gini, emang lo nggak takut?" Freya bicara dengan nada yang lebih tinggi agar suaranya tidak kabur dibawa angin setelah motornya melaju.
"Takut apa? Di sini terang, coba di Solo, daerah rumahku kan masih desa begitu, keluar malem masih gelap semua."
"Kalo lo pulang malam gini sendirian, mending telpon gue aja. Ntar gue jemput."
"Apa, tho, Ya? Nggak usah."
"Beneran, nih. Bayarannya lo bantu gue ngerjain tugas atau bantu gue biar paham sama penjelasan matkul dari Pak Yosef, gimana?"
Swara menimang dalam hati. Mau langsung bilang iya, dia sungkan. Menjemput tiap malam itu pasti merepotkan. Lagi pula, dia sendiri sudah keteteran mengurusi kuliahnya sendiri, masa mau membantu orang lain juga. Kalau sudah pasti sanggup, pasti Swara akan menerimanya, tapi kalau belum yakin, mana berani Swara bilang iya. Jadi wanita itu hanya menanggapi tawaran Freya dengan tawa belaka. Lagipula Swara telah terbiasa pulang malam sendirian, meskipun anak rantau. Asal banyak-banyak berdoa, pasti dirinya akan dilindungi oleh Tuhan.
***
Terbiasa bangun pagi, Swara telah mulai beraktivitas di kontrakan Freya sejak subuh tadi. Ia sudah mandi dan meminjam baju ganti dari Freya. Bahkan ia telah menyiapkan sarapan seadaanya berupa nasi goreng super pedas dan telur ceplok untuk mereka berdua.
Meski keduanya telah lembur mengerjakan tugas kelompok yang akan dipresentasikan siang nanti, tapi kewajiban sebagai mahasiswa tetap membuat mereka terbangun dengan semangat empat lima. Kampus telah menanti mereka meskipun jarum jam baru menunjuk angka enam.
Swara sudah keluar lebih dulu dari kontrakan Freya. Ia memilih memakai sepatunya di teras. Duduk sambil mengamati keadaan sekitar yang cukup ruwet. Jemuran di mana-mana, sampah menumpuk, pot tanaman yang tidak teratur, dan bongkahan batu yang berserakan. Meski begitu, letak kontrakan yang masuk ke dalam gang membuat keadaan masih tetap terasa lebih tenang. Beda dengan kos Swara yang isinya wanita semua dan berada di pinggir jalan besar, setiap saat pasti ramai seperti pasar.
Semalam, lagi-lagi Freya menawarkan diri untuk menjemput Swara. Apalagi setelah tahu Swara hanya tinggal di kamar kos, teman yang baru ia kenal dekat setelah memasuki semester dua itu langsung menawari Swara untuk tinggal bersama di kontrakannya ini. Biar dia ada teman bayar sewa. Namun, uang bayar sewa kontakan ini, biarpun dibagi dua dengan Freya, tetap saja lebih mahal dari harga sewa kamar kosnya. Padahal Swara harus lebih giat lagi mengumpulkan uang agar ia tidak kekurangan biaya hidup.
Mendengar pintu dari tetangga sebelah dibuka, Swara menoleh. Matanya sontak melebar karena mendapati sesosok manusia dengan kolor ijo, ralat, dia hanya memakai kolor motif Keropi dan sedang merentangkan tangan. Melakukan peregangan otot singkat sambil memamerkan bulu ketiak. Pria tetangga Freya menguap lebar sekali.
Pandangan mereka pun bertemu.
Hening. Hanya sembilu yang menyayat kedamaian di sana.
"AAAAAAAAAAAAAAKKKKKGGRRR!"
Sembilu pun patah dan Swara harus menutup telinga untuk melindungi gendang telinganya. Pria gila di depannya berteriak seperti wanita yang kehilangan keperawanan.
Segara saja Freya dan beberapa tetangga lain muncul dari balik pintu masing-masing. Menatap ganjil ke arah Ali yang berdiri dengan kedua tangan menutupi puting dada.
"Bangke, berisik banget, sih, lo!" teriak Freya jengkel. Dia kira tadi terjadi apa-apa pada Swara sampai ada suara ribut.
"Heh!" Tak kalah sengit Ali berteriak. Kini bahkan ia menuding Swara dengan congkaknya, hilang sudah urat malunya. "Sejak kapan ada cewek cakep di kontrakan kita?"
Swara berjengit mendengar pertanyaan bernada ancaman konyol itu.
"Sampah lo, Li! Masuk sono, gih! Sepet gue liat bulu ketek asem lo!" Freya kembali menyalak. Beberapa orang lain yang tadi ikut keluar karena penasaran juga ikut menyumpahi Ali dan baru setelah itu mereka kembali ke kandang masing-masing. Swara hanya berperan sebagai penonton saja di sana.
"Pertanyaan gue tadi belom lu jawab, Pret!"
Freya telah berhasil mengeluarkan motornya. "Lah, ada orangnya, ngapain nanya gue."
Ali melirik Swara yang mulai sibuk dengan ponselnya. "Kayaknya dia nggak tertarik gitu ama gue, Pret. Temen lu, yak?"
"Pacar gue!"
Ali membuka lebar mulutnya, berniat untuk kembali menyalak. Namun, hanya sesaat saja. Setelahnya ia jadi termenung. Freya pun tergelak melihatnya.
"Gila! Gitu langsung percaya aja, makanya ditipu cewek mulu lo!"
"Najis!"
"Najisan juga lo. Depan cewek juga, malah bugil!"
"Bugil mata lu soak!"
"Sut! Berisik! Masih pagi juga." Akhirnya Swara membuka suara dan keduanya langsung mengulum bibir. "Nggak malu apa sama tetangga? Saya Iswara temennya Freya, Mas. Semalem nginep soalnya ngerjain tugas." Swara memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan, tapi dia sudah berdiri. Siap berangkat.
Ali ber-oh ria. "Nama gue Ali Hamzah, cowok paling ganteng sekontrakan Bu Bhianca."
"Sampah!" cela Freya.
Tak mau perkenalan mereka berlanjut lagi, Freya segera menyeret Swara untuk berangkat ke kampus.
Dan saat mereka disibukkan oleh persiapan presentasi kelompok, Swara tidak sadar ponsel yang berada di bawah bukunya terus menyala karena sedang dalam mode diam. Menampilkan panggilan dari kontak bernama 'Bapak dan Ibuk'. Baru setelah ia selesai presentasi dan mengecek ponsel tersebut, sebuah pesan yang langsung muncul di layar, sukses membuat tangan Swara berkeringat dingin.
[.]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top