AKAD || Kelima
Kata Ainun, ibunya hanya masuk angin beberapa hari yang lalu dan dia sudah sembuh. Lalu pada hari Swara dikabari bahwa ibunya meninggal, waktu itu beliau cuma pamit tidur siang dan meminta Ainun untuk menjaga ayahnya dulu. Namun, siapa sangka itu adalah tidur untuk selamanya.
Dari semua keluarga yang ada, memang Swara lah yang paling terpukul dengan ujian kali ini. Yang bercokol di kepala Swara hanyalah pertemuan terakhirnya dengan Ningrum. Ia berseteru dengan beliau dan pergi begitu saja setelah meminta maaf. Memang mereka masih berhubungan intensif melalui telepon, tapi .... Swara tetap merasa bersalah. Ia benar-benar tidak menyangka ibunya lah yang pergi lebih dulu, padahal ayahnya yang sudah sakit—Goblok! Bukan maksud Swara menyumpahi ayahnya meninggal lebih dulu, tapi jika dinalar kan .... Ahg! Swara tidak tahu lagi.
Bahkan sekarang sudah lewat peringatan hari ke tujuh dari kematian sang ibu. Swara masih saja terus melamun. Pikirannya belum bekerja secara normal untuk kembali menjalani kehidupan kampus.
Terkadang Swara berpikir untuk menuruti kemauan ibunya untuk menikah dengan Sigit. Setidaknya jika memang hidup Ningrum tidak sepanjang bayangan Swara yang bakal bisa membuat beliau melihat kesuksesannya kelak, Ningrum bisa lega sebelum pergi. Tidak dililit perasaan hutang budi dan ayahnya akan ada yang mengurus dengan lebih teliti—tentu saja maksudnya hanya Swara yang begitu sayang pada orang tuanya. Namun, lebih sering Swata membetulkan keputusannya menolak untuk menikah. Lagi pula dia masih muda, kuliah juga belum ada setengah jalan, memulainya pun bukan perkara mudah. Bagaimana mungkin Swara melepasnya? Melepaskan kemerdekaan yang ia raih dengan susah payah? Yang benar saja!
Sehabis menjemur cucian di samping rumah, Swara duduk di atas bongkahan akar pohon yang memang di letakkan di sana sebagai tempat duduk. Ia bertompang dagu mengamati seprai yang warnanya sudah luntur milik orang tuanya. Hampir saja ia menangis lagi karena pikiran bahwa ia gagal membahagiakan orang tua. Betapa ia belum melakukan apa-apa untuk mereka, tapi keadaan mereka sekarang sungguh-sungguh sudah tak memungkinkan.
"Ra, ngapain, Nduk?" Kemunculan sang bibi menarik kembali genangan air mata Swara. Nineng, kakak dari ibunya, tersenyum lembut.
Swara hanya menggeleng dengan senyuman guna menjawab pertanyaan Nineng. Saat melihat Nineng ingin duduk di tanah, Swara segera bangkit dan mempersilahkan beliau duduk di atas akar pohon yang ia duduki sebelumnya.
Nineng mengelus bahu Swara sebelum duduk di sana. Ia memang tahu akhlak Swara terhadap orang tua itu bagus. Ia tahu sekali sopan santun dan sangat menyayangi kedua orang tuanya. Anak ini meskipun yang paling muda, tak pernah enggan atau sungkan untuk mengurus ayahnya yang sudah stroke.
"Besok Mbokde pulang, ya, Ra?"
Kini Swara sudah duduk meluruskan kakinya yang dibalut rok di tanah. "Pakdhe yang jemput?"
"Mas Eko. Pakdhemu udah balik lagi ke Semarang tadi malem."
Swara hanya manggut-manggut. Bibinya ini adalah anggota keluarga yang paling baik menurut Swara. Beliau menginap di rumahnya dari hari pemakaman sang ibu hingga sekarang dan membantu segala urusan.
"Ra ...." Nineng memberikan jeda dalam ucapannya. Dia menunduk, menunggu reaksi Swara. "Kamu inget nggak permintaan terakhir ibukmu apa?"
Berasa otak Swara disambar gledek saat kalimat 'Ibuk mau aku menikah sama Mas Sigit' muncul di dalam kepalanya. Swara menoleh dengan kilat ke arah sang bibi. Dari mana Nineng tahu masalah ini? Dari kakaknya, kah?
"Bapakmu yang bilang ke Mbokdhe. Dia juga pengen kamu segera nikah biar ada yang jaga—"
"Dhe, Swara mau masak dulu, ya?"
Menyentuh tangan Nineng sesaat, Swara langsung minggat dari sana secepatnya. Ia tak mau melanjutkan pembicaraan yang menjurus dengan Nineng. Jika begini, Swara malah makin merasa bersalah pada ibunya dan juga marah pada keinginan gila tersebut. Swara tidak suka perasaan serba salah begini.
Nineng pun cuma diam. Merasa maklum dan tahu diri, bahwa menyuruh Swara menikah seperti keinginan adik iparnya memang bukanlah tugasnya. Lagi pula Swara sudah besar dan ia yakin, anak itu sudah tahu dengan apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya. Swara bukanlah anak yang harus dijaga seperti yang Hiwayat pikirkan.
***
Setelah Nineng pulang dan gagal membujuknya, Swara kembali disidang oleh kakaknya. Mereka mau Swara menikah, dengan siapa saja asal bisa menjaga Swara seperti yang diinginkan Hiwayat. Mereka berpikir itu adalah keinginan terakhir dari kedua orang tua mereka. Namun, Swara tetap bersikeras untuk menolak. Dia belum mau menikah. Dia masih mau kuliah dan bekerja dengan bebas. Dan dia juga tidak terima kalau kakaknya berpikiran bahwa ayahnya sudah menyampaikan keinginan terakhirnya. Swara bersikeras bahwa sang ayah akan panjang umur.
Seelesai menyampaikan putusan final, Swara langsung meninggalkan keempat kakaknya ke dalam kamar. Bukan untuk menangis, melainkan untuk meredam emosinya yang kian memuncak.
Terdengar ketukan pelan dari luar pintu kamar Swara. "Ra, Mbak masuk, ya?"
Tak ada sahutan, maka masuklah Ainun begitu saja ke sana dan langsung menyunggingkan senyum haru. Ia memeluk Swara yang tengah berdiri menghadap ke arah tembok untuk menyembunyikan amarah. Suatu kebiasaan yang sudah Ainun hafal sejak dulu.
"Duh, Rara yang udah gedhe kalau ngambek masih suka nempel ke dinding kayak tokek." Ainun tertawa atas ucapannya sendiri. "Hayuk, duduk. Maafin Mbak sama Mas yang udah keterlaluan maksa-maksa kamu, ya? Udah ngambeknya. Duduk dulu. Mbak mau cerita kalau tahun lalu Mbak juga sempet nonton film Kartini."
Merasakan bahu Swara sudah sedikit mengendur, tidak tegang kaku seperti tadi, Ainun pun menarik Swara duduk di atas tempat tidur. Ainun tahu bagaimana caranya menarik perhatian Swara.
"Itu pertama kalinya Mbak nonton bioskop, Ra. Itu pun harus bawa Baim sama Ida. Repot!"
Nah, 'kan! Ainun ini korban menikah muda. Jadi baru 28 tahun, dia sudah punya dua anak yang nakal-nakal. Mana suaminya pun penghasilannya tidak jelas. Jarak rumahnya dengan rumah orang tua mereka pun lebih dekat daripada jarak rumah Juwaidi, jadi Ainun sering pulang ke sini. Untuk apa? Minta beras, lah, uang, lah, apalah-apalah pokoknya. Hidupnya susah kalau menurut Swara.
Memang, sih, kehidupan keluarga Swara tidak pernah lebih baik dari itu, tapi setidaknya jika dulu Ainun mau berusaha, pasti dia tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Istri yang terkurung di rumah dan bergantung pada suami plus orang tua. Dialah salah satu sebab kenapa Swara anti pada menikah muda dan begitu terobsesi untuk menjadi orang sukses dengan bersekolah hingga ke jenjang yang lebih lanjut lagi.
"Tapi seru, Ra. Filmnya juga bagus." Meski Swara tidak merespons, Ainun tahu dia mendengarkan. Satu watak yang hampir dilupakan Swara tentang Ainun adalah kelembutan kakaknya itu. "Dari sana Mbak juga tahu, Ra, kenapa kamu sampai ngefans banget sama beliau. Dia memang hebat, Ra."
Ainun meraih tangan Swara untuk ia genggam. "Sekarang Mbak tanya, apa pernah Kartini mengabaikan orang tuanya? Dia sayang banget sama ibunya Ngasirah yang diperlakukan tidak adil karena bukan berasal dari keluarga ningrat, dia diperlakukan seperti pelayan. Dari sini Kartini mulai tahu ketidakadilan yang diterima buat wanita pribumi, Ra.
"Kartini juga sayang banget sama bapaknya. Jadi sewaktu Kartini mau dapat beasiswa buat sekolah ke Batavia, bapaknya nyuruh Kartini menikah, tapi mengizinkan Kartini jadi guru di Jepara. Kartini mau, Ra. Karena apa? Karena tahu kalau bapaknya itu pasti melakukan yang terbaik untuknya.
"Suami Kartini pun pengertian, Ra. Adipati Djojodiningrat bantu Kartini buat membangun sekolah khusus wanita pertama di Jepara. Segalanya kalau bisa dilihat dari sisi lain, pasti ada baiknya."
Swara mengembuskan napas kasar. Pada akhirnya Ainun kembali mengungkit mengenai pernikahan. Swara lelah!
"Mbak cuma mau kamu tahu, kalau Pak'e, Mak'e, Mas, sama Mbak, pengin kamu nikah itu benar-benar bertujuan baik dan peduli sama kamu. Maaf, juga karena maksa banget, Ra. Karena kamu tahu kan Pak'e sekarang gimana? Biar Pak'e lega, Ra.
"Kita ambil contoh dari Kartini. Dia ambil keputusan bijak dengan menikah sama Raden Rembang. Selain membahagiakan orang tuanya karena dia bisa menikah dengan seorang Bupati Rembang, Kartini juga bisa jadi guru dan mendirikan sekolah. Dan perjuangan yang digadang-gadang seluruh negeri, Kartini menuangkannya dalam surat. Bukan dengan cara membelot atau mengangkat senjata. Dia pakai cara anggun."
Swara ingin menjerit sekeras-kerasnya disindir dengan menggunakan idola sebagai senjata. Hati Swara memang membenarkan ucapan Ainun, tapi pikirannya menolak mentah-mentah cara tersebut. Namun, kembali ia mengingat ayahnya yang terbaring tak berdaya di kasur.
"Apa harus menikah, Mbak? Swara bisa jaga diri—oke, jikalau Swara mau menikah, tapi sama siapa? Siapa lelaki yang benar-benar bisa menjamin keamanan Swara, Mbak, seperti maunya Bapak? Swara nggak mau menikah hanya karena disuruh begini. Swara juga mau kalau punya suami itu sudah jelas mau bertanggung jawab sebagai seorang suami. Bertanggung jawab sepenuhnya, Mbak!"
"Sigit kan ada."
Ya Tuhan! Langsung terbayang sosok tinggi, besar, dan hitam dari Sigit. Sosok yang pernah Swara juluki Hulk versi Jawa dengan tampang yang sedikit lebih menarik karena tubuhnya tidak sekekar tokoh fiksi tersebut. Jadi bisa dibilang Sigit itu gemuk, tapi tertolong oleh tinggi badannya. Bukan cuma itu yang menjadi tekanan Swara untuk menerima Sigit, tapi juga status mereka yang beda jauh.
"Emangnya Mas Sigit mau sama aku, Mbak?" Swara bertanya dengan putus asa.
"Kenapa nggak?" Mata Ainun membulat dengan geli.
Jika dipikir, kalau Swara mau, mungkin dia-lah satu-satunya yang bisa menerima teman SD Ainun itu. Namun, Ainun merasa yakin untuk menitipkan adiknya pada Sigit tentu dengan alasan yang sudah pasti juga. Biarpun Sigit bukan lelaki berparas menarik, tapi Ainun tahu Sigit adalah pria yang baik. Hanya saja belum ada wanita yang terbuka mata dan hatinya untuk menerima pria itu sebagai pendamping hidup.
[.]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top