Prolog
Gadis berseragam SMP itu berjalan dengan semangat menuju rumahnya sehabis penat dengan les Matematika yang sungguh menguras energi. Sepatu putih gadis itu menari di atas aspal yang sedikit basah akibat rintik hujan yang baru saja berhenti dua puluh menit yang lalu. Hari ini sang ayah berjanji akan membeli daging sapi korea. Membayangkan makan malam yang akan ia santap, sudah cukup membuatnya meneguk kelenjar ludah. Gadis itu melangkah riang sambil mendengarkan musik lewat headset yang menempel di telinga.
Di sebelah kiri, sudah terlihat gedung apartemen. Ia mempercepat langkah dan masuk ke area gedung, lalu berdiri di depan lift menunggu giliran naik. Ia menaiki lift menuju lantai empat tempat rumahnya berada. Angka satu berubah menjadi dua, tiga lalu sampailah ia di lantai empat. Lampu lorong menyala otomatis dan mati kembali setelah ia berlalu. Kini ia berdiri tepat di depan pintu rumah, kemudian jemarinya mulai menekan passcode.
"Ayah, ibu, aku pulang." Tidak ada sahutan. Lampu rumahnya juga tidak menyala. Seperti tidak ada orang.
"Ayah ... ibu." Semakin ia masuk ke dalam, semakin ia merasa seperti masuk ke rumah yang salah.
"Auw." Ia meringis kesakitan.
Kakinya tak sengaja menginjak pecahan vas bunga yang berserakan di lantai. Ia berjalan untuk menyalakan lampu ruangan. "Aaaa!" Gadis itu jatuh terduduk di lantai.
Kedua orang tuanya sudah terbujur kaku dan bersimbah darah. Tangannya gemetar namun tetap berusaha mencari ponsel di dalam tas. Lalu seorang pria berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup masker keluar dari kamar ayah dan ibunya.
"Si-siapa anda?"
Pria itu tidak menjawab. Bunyi langkah kaki perlahan mendekatinya yang sedang menatap ketakutan. Lalu pria itu berjongkok di depannya. Gadis itu meneguk air liur dan terdiam tak berkutik.
"Han Sejeong." Ia membaca name tag yang tersemat di seragam sang gadis. "Berapa usiamu?"
"Li-lima belas."
Di balik maskernya, pria itu tersenyum. "Ku beri kau waktu lima belas menit untuk melarikan diri. Jika sampai aku menemukanmu, maka tidak akan ada kesempatan kedua."
Gelapnya malam semakin mencekam dan dingin saat rintik hujan mulai turun kembali. Bangunan di kiri dan kanan menjadi saksi betapa gontainya kakinya berlari. Seseorang memanggil namanya. Ia berlari sambil menoleh ke belakang. Ia tidak tahu sejak kapan luka di kakinya mati rasa, yang ia tahu sekarang hanya melarikan diri sejauh mungkin.
Di saat mencekam seperti ini, bisa-bisanya perutnya masih merasakan lapar. Sebenarnya bukan hanya lapar, dingin dan perih lukanya juga mulai terasa lagi. Mungkin karena energinya yang sudah banyak terkuras. Tapi, ia memilih mengabaikan hal tersebut. Ia terus berlari meski tertatih.
Hingga akhirnya sebuah mobil dari arah kiri menabraknya dengan cepat. Ia bahkan tidak sempat menyadari apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya tiba-tiba melayang dan terhentak keras menyentuh aspal. Pandangannya memudar dan sakit yang seribu kali lebih dahsyat dari goresan luka di telapak kakinya kini mulai menyiksanya perlahan.
Jalanan dingin dan basah akibat rintik itu telah berwarna merah karena darah yang mengalir dari kepalanya.
Tanpa rasa tanggung jawab, mobil yang menabraknya pergi begitu saja. Air matanya mengalir karena sakit yang luar biasa ia rasakan. Tak ada seorang pun yang melihat dan berusaha menyelamatkannya. Di saat seperti ini, ia masih mengingat orang tuanya. Mungkin perasaan sakit seperti inilah yang orang tuanya rasakan sebelum meninggal.
Ya Tuhan. Ku mohon kirimkanlah seseorang. Aku belum ingin mati sebelum menangkap pembunuh ayah dan ibu. Kirimkanlah manusia. Bukan malaikat pencabut nyawa. Ku mohon ... Ku mohon ... aku berjanji akan menjadi anak yang baik jika engkau mengabulkan doaku. Ku mohon. Jangan cabut nyawaku sekarang.
Lalu hentakan alas sepatu pantopel dengan aspal jalan mulai mendekat. Terlihat samar-samar seorang pria berpakaian rapi dengan setelan berwarna coklat tua. Apa mungkin doanya terkabul?
"Kau masih terlalu muda untuk mati," ucap pria itu sambil berjongkok menatapnya.
"Ah-jussi. To-long sa-ya."
"Bukan tugasku untuk menolongmu."
"Kumohon."
"Aku akan melanggar peraturan jika menyelamatkanmu."
"Jjebal. Ahjussi." Jemarinya berhasil menyentuh lengan sang pria. Sebuah ingatan merasuk ke dalam intuisinya. Sang pria sampai terduduk saking terkejutnya.
"Kau ... bagaimana mungkin." Ia tersentak kaget.
"Kumohon," pintanya lagi dengan suara yang semakin melemah.
Pria itu memejamkan matanya sejenak dan menarik napas. "Aku akan menyelamatkanmu."
***
Hallo Yeorobun...
Akhirnya aku kembali lagi menulis cerita fanfiction guys. Kali ini bakal disandingkan dengan Horor/Misteri ya. Karena cerita ini aku buat untuk memenuhi project Jurusan HMT theWWG, yaitu "Ghost Hunters Universe".
Karena ini fanfiction jadi latar yang aku ambil adalah Seoul dan visualnya tentu saja artis/idol korea dong.
Pemeran utama wanita, Han sejeong.

Dan Pemeran utama Pria, Min Doyoung.

Oh iya, kalian juga bisa banget loh mampir ke story project GHU lainnya yang dijamin seru banget.
1. rachmahwahyu - The Red Eyes
2. HygeaGalenica - Ominous Night
3. ScottLehnsherr95 - There's Something Wrong in California
4. oktaehyun - Singularity
5. putriaac - That Voice
Selamat membaca dan semoga cerita ini rampung tepat waktu.
See you ....
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top