Bab 9

Jill dan Jieun sudah menjelaskan semua kepadanya. Mulai hari ini ia akan tinggal bersama para anggota tim yang lain di rumah besar dan mewah ini. Bahkan kamar yang ia tempati sekarang besarnya dua kali lipat dari keseluruhan rumahnya dulu. Mereka meninggalkan Sejeong sendirian di kamar dan memintanya untuk tidak keluar sampai dipersilahkan.

Sejeong tidak punya pilihan selain menurut. Setelah dua jam menunggu, akhirnya Sejeong dipersilahkan keluar. Semua mata di ruangan itu menatapnya. Ia bingung harus berekspresi seperti apa.

Sejeong memilih duduk di antara tiga pria tampan yang sedang menatapnya. Setelah memperkenalkan dirinya, Jill pergi dan Jieun kembali ke kamarnya. Tersisa Haechan dan Taeyong yang tampak antusias. Hanya doyoung yang terlihat biasa saja. Lebih tepatnya berusaha biasa saja. Dalam hatinya ia sangat terkejut.

"Woah. Saat menyelamatkanmu di hutan, aku tidak menyangka akan menjadi rekan kerjamu," ujar Taeyong.

"Jadi kalian yang menyelamatkanku?"

"Lebih tepatnya Taeyong-hyung dan Doyoung-hyung."

"Kalau diperhatikan, ternyata kau cantik juga. Pantas saja tiga ta—Aaa!" Doyoung menyerang pikiran Taeyong hingga kepalanya terasa sakit.

"Ya! Kau gila? Kenapa kau menyerangku?"

"Kapan aku menyerangmu?"

"Barusan."

"Tidak ada tuh." Doyoung berdiri dan pergi menuju kamarnya.

"Ya! Jangan melarikan diri."

"Harap maklum, mereka memang seperti itu." Haechan berbisik kepada Sejeong. Sejeong tersenyum. Ia merasa tingkah dua pria itu cukup menggemaskan.

"Sepertinya Doyoung-ssi tidak menyukaiku?"

Haechan menganga lalu terkekeh. "Tidak menyukaimu? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"

"Karena cuma dia yang tidak tersenyum saat aku keluar dari kamar."

"Tidak mungkin dia tidak menyukaimu. Mungkin dia hanya terkejut dan tidak tahu harus berekspresi seperti apa, karena—" Haechan membuka grup obrolannya. Doyoung baru saja mengirimkan pesan untuk tidak membahas kejadian tiga tahun yang lalu kepada Sejeong.

"Karena apa?"

"Karena ... karena sifatnya memang seperti itu pada orang yang baru dikenal, haha." Haechan mengganti alasan. Hampir saja Haechan menceritakan semuanya jika saja ia tidak membaca pesan di grup.

"Sejeong-ssi. Nomormu berapa? Aku ingin memasukkanmu ke ruang obrolan."

Sejeong menyebutkan nomornya. "Tapi ponselku rusak. Jadi aku belum bisa bergabung."

"Baiklah. Aku akan menjelaskan aturan apa saja yang ada di organisasi kita."

Sejeong memusatkan perhatiannya kepada Taeyong.

"Yang pertama, dilarang membocorkan informasi keberadaan organisasi kepada siapa pun termasuk keluargamu atau orang terdekatmu."

Peraturan pertama tidak sulit bagi Sejeong karena ia hidup sebatang kara dan tidak punya teman dekat.

"Kedua, dilarang melukai manusia di luar misi."

"Ketiga, dilarang bersimpati kepada target misi."

"Keempat, harus bergerak secara rahasia, jangan menimbulkan kecurigaan warga sipil, jika kebetulan bertemu manusia yang melihat pergerakan unnormal kita, ingatannya harus dihapus."

"Bagaimana cara menghapusnya?"

"Kita semua bisa melakukannya. Kau akan mengerti dengan sendirinya nanti," jawab Taeyong.

Sejeong mengangguk.

"Nanti akan ku beri tahu caranya," ucap Haechan.

"Kelima, diperbolehkan menolak misi tapi dilarang berhenti ditengah-tengah misi."

"Keenam, segera pergi jika ternyata misi yang diterima adalah misi palsu. Dan yang terakhir." Taeyong menjeda kalimatnya.

"Kematian dalam misi bukan tanggung jawab organisasi."

Sejeong lumayan terkejut dengan peraturan terakhir. Ternyata mereka bisa mati juga.

"Ada yang ingin ditanyakan?"

"Aku tidak mengerti dengan misi palsu."

"Selain menjalankan tugas langsung dari langit, kita juga menerima tugas berbayar dari manusia, yaitu jasa ghostbusters."

"Dan biasanya pekerjaan yang ini tidak sulit," sambung Haechan.

"Terkadang ada orang iseng yang menemukan situs organisasi kita di internet dan memberikan misi palsu. Walaupun ini tidak pernah terjadi di tim kita. Kita tetap harus berhati-hati."

Sejeong mengangguk paham. "Ada satu pertanyaan lagi."

"Apa?"

"Peraturan kedua, apakah kita tidak boleh menyakiti semua manusia?"

"Iya, tidak boleh dengan kekuatan super kita."

"Bagaimana jika mereka duluan menyakiti kita?"

Taeyong sedikit paham dengan kekhawatiran yang terpancar di bola mata Sejeong. Ia tahu sedikit masa lalu Sejeong yang kerap menjadi objek perundungan. Salah satu motivasinya bergabung di organisasi pastilah untuk membalas dendam. "Balaslah. Tapi ingat, jangan sampai membunuh. Balaslah dengan setimpal."

***

Sejeong memanfaatkan waktu liburnya untuk berlatih menjadi anggota brocker brotherhoods. Beragam latihan fisik ia lakukan untuk melatih tubuhnya dalam medan pertarungan. Tidak hanya itu, ia juga melatih fokusnya untuk menemukan bakat alaminya. Taeyong dan Haechan bergantian memberinya kelas pelatihan. Sebelum bekalnya siap, Sejeong tidak akan turun menjalankan misi.

Hari ini Sejeong keluar rumah untuk pertama kalinya setelah seminggu lebih. Ia pergi untuk membeli ponsel baru dan ditemani oleh Doyoung. Tidak ada interaksi yang terjadi, mereka lebih banyak diam dibandingkan berbicara.

Sejeong akui, di antara tiga pria dalam timnya, hanya Doyoung yang masih sangat jauh dari kata akrab. Doyoung tidak pernah melatihnya atau bahkan berbincang-bincang dengannya. Seperti ada benteng yang membatasi dirinya dengan Doyoung.

"Pilihlah." Doyoung menyuruh Sejeong memilih. Sejeong tidak perlu waktu lama untuk memilih ponsel mana yang akan ia beli. Ia pun menunjuk salah satu ponsel terbaru. Petugas toko mengajak mereka ke meja kasir.

Setelah membeli ponsel, Sejeong di ajak makan roti sandwich dan minum kopi. Sebenarnya bukan Doyoung yang mengajak, tapi perutnya Sejeong yang memberi kode bahwa sedang lapar, sehingga mau tidak mau Doyoung membawanya kemari.

"Doyoung-ssi."

"Iya."

"Apa kau pernah menjengukku saat aku terbaring di rumah sakit?"

"Tidak."

Doyoung-hyung selalu menjengukmu saat di rumah sakit. Sejeong teringat ucapan Haechan padanya beberapa hari yang lalu. Pembohong! Sejeong mengumpat dalam hati.

"Kenapa?"

"Ah. Tidak apa-apa."

"Cepat habiskan makanmu, karena kita tidak tahu kapan misi akan datang."

"Baiklah." Sejeong melahap sandwichnya. Sejeong tersedak namun Doyoung terlihat biasa saja. Bahkan ia tidak mempedulikan Sejeong.

Ia sibuk dengan ponselnya sendiri. Hah? Jadi ini pacar yang dibilang tampan dan perhatian? Sejeong teringat ucapan keluarga pasien dan suster di rumah sakit. Kalau tampan sih iya, tapi perhatian, nol besar.

Sejeong berdiri untuk pergi ke toilet dan tanpa di sengaja, saat ia berpaling, seorang wanita menabrak tubuhnya dan terjatuh.

"Astaga!" Sejeong berusaha menolong wanita itu berdiri dengan mengulurkan tangan. "Maaf. Saya tidak sengaja, anda baik-baik saja?" tanya Sejeong. Saat tangan wanita itu menggapai lengannya, sebuah bayangan menyerang pikirannya. Sejeong melihat sebuah adegan di mana wanita di hadapannya inilah si pemeran utama. Ia tidak tahu sekilas peristiwa yang ia lihat adalah masa lalu atau masa depan.

***

Sejeong dan Doyoung keluar dari cafe. Sejeong berjalan di belakang Doyoung sampai mereka masuk ke dalam mobil. Sejeong masih memikirkan hal tak biasa yang ia alami tadi.

"Doyoung-ssi. Apakah menjadi anggota organisasi membuat kita mampu melihat masa lalu atau masa depan?"

"Tidak. Itu adalah bakat alami. Kenapa? Apa kau melihat sesuatu?"

"Iya. Aku melihat adegan asing wanita yang ku tabrak di cafe tadi. Aku tidak tahu itu masa lalu atau masa depan."

Doyoung menyentuh tangan Sejeong. Sejeong mendelik karena sikap tiba-tiba Doyoung. "Apa kau pernah bertemu wanita tadi?"

Sejeong menggeleng.

"Sepertinya kau telah menemukan bakat alamimu."

Ponsel Doyoung bergetar. Sebuah misi baru telah dikirimkan oleh Jieun.

"Wanita yang kau tabrak tadi adalah target kita selanjutnya." Doyoung menggantung kalimatnya. Sejeong pun memiringkan kepala sambil menatap dalam kebingungan. "Karena dalam visimu, aku melihat tim kita sedang mengejarnya."

Sejeong membelalak. "Apa aku boleh ikut dalam misi?"

"Ini misi pertamamu."

Sejeong mengedipkan matanya. Entah bagaimana mendeskripsikan perasaannya sekarang. jantungnya berdegup kencang saat mendengar ini misi pertamanya.

Haechan menelepon.

"Aku telah melacak posisinya. Dia sedang berada di dalam bus tidak jauh dari posisi Doyoung-hyung."

"Haechan-ssi. Bisa kau jelaskan misi kali ini seperti apa?" Sejeong bertanya.

"Misi kita menangkap roh biasa yang menganggu para mahasiswi di asmara mahasiswi."

"Berarti misi kali ini misi level C?"

"Iya. Karena itu Jieun-noona mengizinkanmu ikut serta. Fighting Sejeong-ah." Haechan mengakhiri teleponnya.

Sejeong merasakan degup jantung yang mulai memburu lagi. Meski pun misi kali ini misi level C, ia tetap merasa gugup. Doyoung melihat kegugupan Sejeong. Terlihat jelas di wajahnya.

"Tenanglah. Kau tidak sendiri."

Sejeong tersenyum ketir.

"Belum terlambat untuk mundur dari misi. Ingat peraturan nomor lima."

Sejeong menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Aku tidak akan menolak misi pertamaku."

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top