Bab 8
Menatap langit-langit ruangan bukanlah hal baru baginya. Ia terbiasa menatap setidaknya sepuluh menit setiap bangun tidur di pagi hari. Jika orang kebanyakan berpikir hal positif sebelum memulai hari. Sejeong akan berpikir, hal buruk apa lagi yang akan ia dapatkan hari ini, dan bagaimana cara melewatinya. Sejeong ingin bangun namun rasa sakit langsung menyerang sekujur tubuhnya. Ia pun baru tersadar bahwa tepat di atas mulut dan hidungnya terpasang sebuah alat bantu pernapasan yang menempel embun setiap ia membuang napas.
Ia melihat ada seorang ibu yang sedang menonton televisi di seberang tempat tidurnya. Sejeong membuat suara yang sangat kecil. Ibu itu tidak mendengar karena suara televisi lebih keras dibandingkan suaranya yang lebih cocok disebut sebagai desahan. Akhirnya, Sejeong pasrah.
Ibu tersebut membuka botol minum, lalu tutupnya menggelinding ke arah ranjang Sejeong. Ia berjalan untuk mengambil lalu situasi ini dijadikan kesempatan bagi Sejeong untuk kembali bersuara. Ibu tersebut terdiam lalu berdiri dan melihat ke arah Sejeong. Ia membelalak terkejut. Sejeong telah sadarkan diri. Tanpa tunda lagi, ibu tersebut memanggil dokter dan suster.
Doyoung berjalan dengan sebuket bunga gardenia di tangannya. Warna putih gardenia terasa hidup dengan sedikit sentuhan warna biru keunguan oleh beberapa tangkai blue salvia. Ia tidak berniat membeli bunga. Kebetulan saja berlalu di depan toko bunga, dan ia rasa ruangan Sejeong akan terasa lebih indah jika dihiasi dengan beberapa bunga.
Doyoung melihat dokter dan perawat bergegas masuk ke dalam ruangan Sejeong. Doyoung pun mempercepat langkahnya karena khawatir jika saja Sejeong yang menjadi tujuan dokter tersebut.
Dugaannya benar, dokter tersebut berdiri di samping ranjang Sejeong. Doyoung tidak bisa melihat wajah gadis itu, karena tertutup oleh tubuh sang dokter. Ia pun masuk untuk mengetahui situasi yang sedang terjadi.
Dokter tersebut memeriksa pupilnya dan meminta Sejeong menyebutkan angka yang jari dokter tersebut tunjukkan. Sejeong bersuara sangat kecil. Namun jawabannya tetap benar.
Sejeong menatap ke arah Doyoung. Ia langsung membalikkan tubuh dan keluar dari ruangan. Doyoung tidak tahu apa yang barusan ia lakukan. Ia tidak mengerti kenapa dirinya menghindar. Bukankah ini keinginannya? Melihat Sejeong sadarkan diri kembali. Doyoung menatap rangkaian bunga yang masih ia pegangi sejak tadi. Ia ingin memberikannya, namun kalimat apa yang akan Doyoung ucapkan? Dia bukan siapa-siapanya Sejeong. Hanya orang asing.
***
Sejeong baru saja kembali dari pemeriksaan kondisi kepalanya. Seorang suster mendorong kursi roda lalu membantunya merebahkan diri kembali ke atas tempat tidur. Ada yang sedikit berbeda. Di atas nakasnya berada sebuah rangkaian bunga yang cantik.
"Wah sepertinya pacarmu yang mengirimkan ini. Sayang sekali dia tidak bisa datang di hari kau sadarkan diri," ungkap suster tersebut.
"Pa-car?"
"Iya. Kau beruntung. Pacarmu sangat tampan dan juga perhatian. Dia selalu menjengukmu setiap hari. Pagi tadi dia juga sempat berada di sini."
Sejeong tidak mengerti apa yang suster ini katakan. Bagaimana mungkin suster ini tahu wajah pacarnya sedangkan dirinya sendiri tidak.
Apakah ini salah satu dari keuntungan bergabung dalam organisasi?
Sejeong teringat akan mimpinya. Seorang wanita menawarkannya sebuah pekerjaan rahasia. Keuntungan yang ia dapatkan jika bergabung cukup menjanjikan. Hidupnya akan terjamin selamanya, tidak akan kekurangan uang lagi. Penyakit afasianya akan menghilang begitu juga cedera yang ia alami sekarang. Meskipun tidak langsung hilang, proses penyembuhannya akan lebih cepat. Hal ini dikarenakan kemampuan fisiknya akan meningkat tiga kali lipat dari manusia biasa.
"Selain semua keuntungan itu, ada satu hal yang hanya akan dimiliki olehmu. Bakat alami. Saat kau memutuskan bergabung. Bakat alamimu akan muncul dengan sendirinya, bisa cepat bisa juga lambat. Tergantung seberapa besar bakat alamimu."
"Aku? Memiliki bakat alami?"
"Ya. Aku bisa melihat dari auramu. Warnanya cukup unik dan sangat besar. Sepertinya bakat alamimu lebih dari satu."
Sejeong ingin meluruskan kesalahpahaman tentang pria yang dianggap sebagai pacarnya itu. Namun, Sejeong terlalu lelah untuk merangkai sebuah kalimat. Jadi ... biarlah. Lagi pula ia juga penasaran dengan wujud pria yang mengaku sebagai kekasihnya itu.
***
"Akhirnya, masyarakat bisa bernapas lega karena kepolisian kota Seocho telah mengamankan tersangka pembunuhan dan pemerkosaan tiga wanita yang telah terjadi di kota Seocho beberapa minggu terakhir. Tersangka ditemukan oleh seorang warga di hutan daerah sinwon-dong. Detektif juga telah menemukan senjata yang digunakan tersangka untuk membunuh korban terakhirnya dan—"
Jill mematikan televisi sehingga Haechan dan Taeyong tidak bisa menonton kelanjutan berita tersebut.
"Sajangnim, kami sedang menonton berita penangkapan mantan manusia inang," ucap Haechan polos.
"Itu tidak penting sekarang."
"Hyung. Apa dia selalu seperti itu, datang seenaknya dan bersikap seenaknya," bisik Haechan kepada Taeyong.
"Dia bisa lebih parah dari itu." Taeyong mengangguk. "Kau belum mengenalnya?"
"Belum terlalu. Aku baru bertemu denganya dua kali. Saat dia merekrutku dan sekarang."
"Ah, iya." Taeyong mengangguk paham.
Doyoung baru saja datang entah dari mana. Ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Saat melihat Jill, ia memberi salam dengan sedikit membungkuk. "Maaf aku terlambat," ucapnya lalu ikut duduk di sofa.
Jieun bersedekap dan mempersilahkan Jill untuk membuka rapat segera.
"Baiklah. Aku tidak akan berbasa-basi. Kalian akan segera bertemu rekan baru."
"Hoah! Finally!" Haechan takjub.
"Perempuan? Laki-laki?" tanya Taeyong.
"Gadis." Jill menjawab.
"Assa!" Taeyong bersorak.
"Aigoo. Aigoo." Jieun menggeleng melihat euphoria Taeyong.
"Kalian semua sudah mengenalnya."
"Mwo?" Haechan terkejut.
Jill memanggil seseorang untuk masuk. Semua mata tertuju kepada pintu kamar tak berpenghuni di sudut tangga.
***
Dua jam sebelumnya
Sejeong merapikan pakaiannya karena hari ini dia dipersilahkan pulang. Betisnya masih berbalut gips. Namun, ia bisa merasakan bahwa tidak ada rasa sakit lagi di kaki kanannya. Rasa sakit akibat tulang rusuk yang patah pun benar-benar tidak terasa lagi. Kini, ia percaya bahwa mimpinya bukan sekedar mimpi.
"Wow. Apa kau manusia super?" Hyekyung bersandar di sisi pintu sambil bersedekap dan menatapnya penuh ejek. Sejeong tidak pernah berharap dijenguk oleh Hyekyung. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau sedang marah?" Hyekyung masuk dan mendekat ke arah Sejeong.
Sejeong tidak bersuara.
Hyekyung duduk di atas ranjang dan melihat pakaian yang belum sempat Sejeong masukkan ke dalam tas. "Woah, kau punya mantel mahal juga? Dapat uang dari mana? Omo! Apa kau menggunakan uang beasiswa yang diberikan ayahku?" Hyekyung membuat ekspresi terkejut yang menjengkelkan.
Sejeong masih tidak bersuara. Ia mengambil mantel yang Hyekyung pegang lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia juga tidak tahu siapa yang mengirimkannya semua pakaian ganti selama berada di rumah sakit.
"Bagaimanapun, selamat karena kau tidak mati. Yah, walaupun sebenarnya aku berharap kau mati." Hyekyung terkekeh.
Sejeong meradang dalam hati. Bagaimana mungkin seorang manusia mengharapkan kematian manusia lainnya. Hyekyung benar-benar keterlaluan.
"Kenapa? Kau marah? Apa terjatuh membuat kepalamu rusak dan berani melotot dihadapanku seperti ini?"
Sejeong tetap menatap Hyekyung tajam.
"Kau," Hyekyung mendorong bahu Sejeong dengan jarinya, "itu hanya sampah. Jadi sudah sewajarnya kudorong ke jurang." Hyekyung menarik sebelah sudut bibirnya.
"Kau tahu. Percuma saja marah padaku. Karena tidak ada bukti yang bisa menjeratku. Kalaupun kau mati malam itu dan sidik jariku ditemukan di mayatmu. Ayahku pasti akan suka rela membereskannya. Karena apa? Karena aku adalah anaknya."
Hyekyung menarik keluar mantel yang ia pegang tadi. "Aku ambil ini. Sebagai permintaan maafmu karena telah melototiku." Hyekyung beranjak.
Sejeong menahan lengannya dan menarik kembali barang miliknya yang Hyekyung ambil. "Kalau aku sampah. Maka kau lebih buruk dari sampah."
Hyekyung membelalak. Ia terkejut karena baru saja Sejeong berbicara tanpa tergagap-gagap. "Beraninya kau." Hyekyung melayangkan tangannya untuk menampar Sejeong.
Sejeong pun spontan menunduk. Namun, tidak terjadi apa-apa. Telapak Hyekyung tidak menyentuh pipinya.
"Siapa kau!" Hyekyung berteriak.
"Aigoo. Aigoo." Jieun menggelengkan kepala sambil menahan lengan Hyekyung.
"Jangan ikut campur. Lepaskan!"
Jieun semakin kuat menggenggam lengan Hyekyung. "Ya! Anak sekolahan. Masih kecil sudah berlagak preman. Tidak pernah membaca aturan rumah sakit untuk tidak membuat keributan?"
"Sialan!"
"Oho! Beraninya mengumpat di depan orang yang lebih tua! Apa wajahku kelewat awet muda, sampai kau berani seperti itu?"
"Haissh!"
Jieun menghempaskan lengan Hyekyung hingga tubuh Hyekyung terjatuh ke belakang. Jieun membungkukkan tubuhnya di depan Hyekyung. "Hei. Bocah. Tolong kau ingat baik-baik. Mulai hari ini gadis itu tidak akan menerima sepeser pun uang dari ayahmu lagi. Karena mulai sekarang dia adalah keluargaku."
Sejeong terkejut. Wanita cantik dengan barang-barang modis dan mahal yang melekat di tubuhnya itu mengangkat dirinya sebagai keluarga? Apa mungkin?
Jieun kembali berdiri tegak. "Sejeong-ah. Ayo pulang. Mobil sport ku tidak cocok berlama-lama di parkiran rumah sakit ini."
"Ah? I-iya."
Sejeong berjalan menyusul Jieun dan melewati tubuh Hyekyung yang masih terduduk di lantai. Sebenarnya Sejeong tidak mengenal wanita ini. Namun, situasi ini sedang bagus. Bagus untuk menjatuhkan harga diri Hyekyung. Jadi, Sejeong memilih untuk mengikuti wanita cantik di depannya tersebut.
***
Sejeong membuka pintu kamarnya perlahan setelah mendengar panggilan Jill. Ia cukup merasa gugup dan khawatir akan ekspresi orang-orang yang sedang menunggunya di luar. Kendati perasaannya sangat tidak nyaman dan khawatir, Sejeong tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan menerimanya.
Dan ... setelah ia melangkah, beberapa padang mata menyambutnya. Jieun si wanita cantik yang menjemputnya di rumah sakit tersenyum menatapnya. Pria tampan bak karakter kartun tampak terkejut namun tersenyum setelahnya. Pria berwajah manis dan yang terlihat paling muda juga menyambutnya dengan hangat bahkan sampai bertepuk tangan. Hanya satu orang yang tidak tersenyum sama sekali.
Pria bermantel coklat dengan wajah putih itu hanya menatapnya lurus tanpa ekspresi. Sekilas ekpresinya tampak terkejut dengan mulut yang sedikit menganga dan bola mata yang melebar. Iya, hanya sekilas. Ekpresinya yang berbeda dari yang lain itu sukses membuat Sejeong tidak enak hati.
"Apa dia tidak menyukaiku?"
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top