Bab 7
Uap penghangat ruangan menyentuh permukaan kulit telapaknya. Udara Seoul semakin dingin dan sudah sewajarnya alat ini dinyalakan untuk memberikan kehangatan. Meskipun hangat, ruangan tempat ia berada sekarang terasa hampa dan sunyi walau sebenarnya ramai.
Doyoung duduk di samping tempat tidur pasien. Tak ada satu hari pun ia lewatkan tanpa duduk menatap wajah Sejeong yang masih terpasang alat bantu pernapasan. Dokter bilang, Sejeong telah melalui masa kritis. Namun sudah lima hari sejak hari operasi dan Sejeong belum sadarkan diri. Tangannya mengepal keras saat membayangkan kejadian perundungan yang dialami Sejeong. Disiram air es dalam cuaca sedingin ini sungguh perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Seandainya menyakiti manusia tidak dilarang dalam organisasinya, sudah dari dulu anak-anak nakal itu mendapatkan ganjaran dari Doyoung.
"Beruntung sekali nona ini mempunyai pacar yang sangat perhatian," ucap seorang ibu yang Doyoung yakini sebagai keluarga dari pasien yang terbaring di ranjang sebelah.
"Hah? Sa-saya bukan pacarnya."
"Ah. Sudahlah tidak usah malu. Wajah kalian tidak mirip jadi tidak mungkin kau kakaknya."
Doyoung terdiam.
"Saya yakin sebentar lagi dia akan sadar. Sabarlah." Ibu itu berpaling dan lanjut menyuapi anaknya.
Doyoung berdiri dan meninggalkan ruangan. "Pacar? Hah? Yang benar saja," ucapnya tepat setelah keluar dari ruangan.
Tanpa Doyoung sadari, dirinya berpapasan dengan Jill, salah satu pimpinan organisasinya. Kali ini Jill merubah gaya pakaiannya menjadi lebih cerah, yaitu coat berwarna coklat dan memakai rambut palsu berwarna hitam untuk menutupi rambut aslinya yang berwarna perak. Tidak lupa kaca mata hitam melengkapi penyamarannya. Ia berjalan dengan anggun melewati Doyoung dan masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya ditempati oleh Doyoung.
Jill berdiri di depan Sejeong. "Kondisinya lumayan parah ternyata." Jill menatap setiap inci tubuh Sejeong. Kepala diperban, mata kiri lebam, luka-luka kecil berupa goresan di wajah dan tangan. Serta betis kanannya yang di gips karena patah.
Jill pikir akan memerlukan waktu lama untuk Sejeong pulih total. Ia tidak bisa membiarkan hal tersebut. Jill duduk di samping Sejeong dan menyentuh telapak tangan Sejeong. Dalam hitungan ketiga, Jill akan bertemu dengannya di alam bawah sadar Sejeong.
***
Sejeong membuka kelopak matanya perlahan. Langit biru langsung menerpa korneanya dan menyilaukan. Suara ombak terdengar dan alas tempat ia berbaring terasa dingin. Sejeong bangkit dari tidurnya dan benar dugaannya, ia berada di pantai.
Pakaian dress putih yang ia kenakan serta suasana sunyi dan damai ini membuat ia bertanya-tanya. Apakah ini alam baqa? Seorang wanita dengan pakaian yang sangat kontras dengan miliknya mulai mendekat. Malaikat kematian? Seperti penggambaran malaikat kematian pada umumnya, wanita itu terlihat sangat cocok dengan pakaian serba hitamnya. Rambutnya pun tidak kalah menarik perhatian. Bukan berwarna hitam, coklat atau blonde, tetapi berwarna perak.
"Siapa kau?" Sejeong terpegun di bawah kebingunan akan ucapannya sendiri. Ia bisa berbicara normal. Masih tidak percaya, Sejeong memulai kalimat baru. "Di mana kita? Alam baqa?" Sejeong merasakan autisias yang besar dalam dirinya. Akhirnya ia bisa berbicara tanpa gagap sedikit pun.
Walaupun ia tahu sekarang bukan saat yang tepat untuknya bergembira, karena bisa saja lima detik kemudian wanita di hadapannya ini membawanya pergi menyebrangi jembatan dunia dan akhirat.
"Namaku Jill ... dan bukan malaikat kematian."
Sejeong memilin bibir di bawah ketidak percayaan. Jika bukan malaikat kematian, siapa wanita ini dan kenapa ia bisa bertemu dengannya. Apakah ini hanya mimpi.
"Ya. Ini hanya mimpi."
Sejeong terperenjat dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kau bisa mendengar suara hatiku?"
Jill tersenyum. "Ya, dan sekarang kita berada di alam bawah sadarmu. Bukan di alam baqa. Kau belum boleh mati."
"Belum boleh? Kenapa?"
"Bukankah kau memiliki tujuan untuk hidup saat dirimu sekarat tiga tahun lalu?"
Sejeong terdiam. Ia ingat dengan jelas tujuan hidupnya itu. Namun, mengingat bagaimana kondisi dirinya yang sekarang, sangat tidak mungkin hal itu dapat terwujud.
Menangkap pembunuh?
Jangan mengada-ngada.
Melawan Hyekyung yang setiap hari merundungku saja tidak bisa. Harapan yang sia-sia. Mustahil. Kebohongan yang nyata.
"Tidak mustahil jika kau bergabung denganku."
"Bergabung denganmu?" Sejeong menatap penuh tanya. "Bergabung dalam apa?"
"Organisasi pembasmi roh jahat, hantu dan sejenisnya."
Sejeong terdiam. Lalu terkekeh geli. "Sepertinya benar ini semua memang cuma mimpi."
Jill memiringkan kepalanya. "Kenapa kau beranggapan begitu?"
"Ya mana mungkin ada organisasi semacam itu. Lagi pula aku hanyalah gadis lemah, yang berbicara saja kesusahan. Mana mungkin bisa melawan roh jahat."
"Respon yang wajar, mengingat betapa rahasia dan tertutupnya organisasi kami." Jill melangkah ke depan untuk mendekat ke arah Sejeong. Lengannya menjentik tepat di depan telinga kanan Sejeong lalu sebuah layar hologram terpampang di udara. Cuplikan kejadian bermunculan. Sebuah sejarah panjang kehidupan manusia dari masa ke masa.
"Dunia yang kita tempati bukanlah satu-satu milik kita. Ada banyak makhluk lain selain manusia yang ikut tinggal. Sebagian dapat berbaur dan beradaptasi dengan manusia dan sebagiannya lagi memiliki sifat serakah dan ingin mengambil alih dunia." Saat Jill bermonolog menjelaskan kepada Sejeong, layar di hadapannya menunjukkan gambar-gambar menyeramkan seperti vampire, monster, pengihir, pemuja setan, pembunuhan dan sebagainya.
"Keluarga William Brocker, sang kesatria putih yang diutus dari langit untuk membasmi para entitas jahat di muka bumi ini adalah pencetus organisasi kita yang sekarang dikenal sebagai organisasi Brocker Brotherhood."
"Aku masih tidak percaya. Di era modern seperti ini, mana ada lagi hal-hal seperti itu. Vampire, monster, penyihir, pemuja setan? Itu hanya mitos."
"Mereka ada. Dan hidup berdampingan dengan kita. Karena manusia dan zaman semakin berkembang, mereka pun tak lepas dari perkembangan itu juga."
"Maksudnya?"
"Mereka tidak lagi menunjukkan wujud aslinya. Tetapi meminjam tubuh manusia sebagai inangnya. Masyarakat korea biasa menyebut mereka sebagai roh jahat."
"Lalu bagaimana caranya membedakan mana manusia dan mana roh jahat?"
"Kau akan tahu setelah bergabung."
"Hubungannya dengan menangkap pembunuh orang tuaku apa?"
Jill tersenyum. "Manusia yang kerasukan roh jahat akan memiliki rasa haus yang besar. Haus itu hanya bisa hilang setelah mereka membunuh."
"Jadi, maksudmu, bisa saja orang tuaku dibunuh oleh roh jahat?"
Jill mengangguk.
"Bagaimana bisa, memangnya ada perbedaan antara mati biasa dengan mati dibunuh roh jahat."
"Ada ... setiap jiwa yang mati di tangan roh jahat, tidak akan naik ke langit dan terkurung di dalam tubuh roh jahat tersebut."
Sejeong terdiam.
Jill berlalu di samping Sejeong. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi sepertinya kau tidak akan bergabung jika tanpa motivasi yang kuat." Jill kembali menghadap Sejeong yang kini tengah menunggu lanjutan kalimatnya. "Jiwa orang tuamu tidak pernah naik ke langit."
Sejeong tersentak. Bola matanya sedikit berair. Antara percaya dan tidak. Jika semua itu benar, itu artinya sia-sia doa yang selama ini ia panjatkan ke langit untuk orang tuanya. Sia-sia segala rindu dan harapan bahwa orang tuanya tetap memperhatikan dirinya dari atas. Semua hanya kebodohan yang membuang-buang waktu. Air matanya pun gugur, mengalir di sebelah pipi kirinya.
"Jadi bagaimana? Apakah kau ingin bergabung?"
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top