Bab 15
Sejeong dan Hyekyung dipanggil ke kantor guru. Kini mereka berdiri bersisian menghadap Yonggi, wali kelas mereka. Yonggi menatap mereka. "Jadi siapa yang menyerang duluan?"
Mereka saling tunjuk. Sejeong terkekeh tidak percaya. Yonggi hanya menarik napas jengah. "Jadi siapa yang benar?"
"Apa bapak tidak lihat siapa yang lebih banyak terluka di sini?" Hyekyung menunjukkan wajahnya yang babak belur.
"Lebih banyak terluka bukan berarti menutup kemungkinan sebagai penyerang pertama."
Hyekyung terkekeh. "Hah! Apa kau sedang pamer karena sekarang bisa bicara dengan benar?"
"Sudah-sudah." Yonggi menenangkan.
"Hyekyung. Bapak tahu kau yang menyerang Sejeong duluan." Yonggi berpaling menatap Sejeong.
"Jadi bagaimana Sejeong, apa kau ingin berdamai."
"Tidak bisa!" Seorang wanita datang.
"Eomma." Hyekyung memanggil dengan nada manja.
Yonggi terkejut melihat orang tua Hyekyung datang padahal ia tidak memanggilnya. "Ah, maaf ibu—"
"Pak Yonggi! Kenapa anda tidak menghubungi saya segera. Apakah saya harus mendengar dari orang lain dulu? Anak saya terluka parah seperti ini dan anda menawarkan untuk mereka berdamai? Tidak akan saya terima."
"Tapi bu. Anak ibu yang menyerang Sejeong duluan."
"Kau gila? Mana mungkin anakku menyerangnya."
Yonggi tidak bisa berkata-kata lagi.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya anak sialan ini harus di bawa ke komite kekerasan sekolah."
***
Sejeong pulang ke rumah dengan tidak bersemangat. Ia merasa telah melakukan hal yang salah di hari pertamanya bersekolah lagi. Mengingat masa lalunya yang sering mendapatkan perundungan lalu tiba-tiba bergerak melawan, pastinya bukanlah hal yang bisa diterima dengan ikhlas oleh Hyekyung. Harga dirinya pasti sangat terjatuh tadi. Terlebih Sejeong memukulinya dengan membabi buta.
Ia juga tidak mengerti hasrat apa yang membawanya sampai seperti itu. Bahkan gelang pemberian Doyoung tidak membantunya tenang sama sekali. Ia merasa seperti ada aliran listrik yang menyetrum kepalanya dan mendidih seketika.
Kini, setelah perbuatan yang ia lakukan, ia harus bersiap menerima konsekuensinya. Di tahun terakhirnya bersekolah, tepatnya di hari pertama tahun ketiga, ia akan menghadap komite sekolah atas kasus kekerasan siswa.
Haha. Lucu sekali bukan. Dua tahun menerima perundungan, tidak ada seorang pun yang menolongnya. Dan kini saat ia melawan, dengan sangat cepat musuh menyerang balik.
Apakah ini masih bisa dikatakan adil?
Sejeong menatap pantulan dirinya di depan cermin. Luka kecil di sudut bibirnya sungguh tidak sepadan dengan lebam di sebelah mata, pipi dan bibir Hyekyung. Sejeong kembali membayangkan wajah Hyekyung yang kesakitan.
Itu belum seberapa dengan rasa sakitku malam itu.
Seketika bahu kiri Sejeong terasa terbakar dan perih. Ia memiliki bekas luka dari kecelakaan tiga tahun yang lalu. Semenjak malam ia jatuh ke jurang, lukanya itu sering terasa perih tanpa sebab. Terkadang lukanya tersebut akan terasa membakar. Sejeong juga tidak tahu kenapa.
"Sejeong?"
Sejeong menoleh ke belakang.
"Detektif Park."
"Ternyata benar kau. Kupikir tadi aku salah lihat."
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Astaga." Sera menutup mulutnya dengan tangan. "Kau sudah tidak gagap lagi."
Sejeong tersenyum. "Iya."
"Apa ada hal baik yang terjadi?"
"Iya. Banyak."
"Bagaimana kalau kita makan sambil berbincang-bincang. Mumpung aku sedang free. Setuju?"
"Setuju."
Sejeong pergi bersama Sera. Mereka terlihat akrab padahal baru dua kali bertemu. Sejeong merasa Park Sera orang yang baik. Sejeong merasa nyaman berada di dekatnya. Ia pun menceritakan bahwa kini Sejeong telah diadopsi dan pindah rumah.
Mereka memesan kopi di cafe dekat rumah Sejeong dan mulai berbincang-bincang.
"Sepertinya keluarga barumu sangat baik."
Sejeong mengangguk antusias. Lalu mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan beberapa foto yang ia ambil bersama orang-orang di rumahnya. Foto pertama memperlihatkan Haechan yang sedang melahap roti dengan mulut yang menganga lebar. Foto kedua ada selca Sejeong dan Jieun dipinggir kolam. Foto keempat terlihat Taeyong yang sedang terkejut karena di dorong oleh Haechan di pinggir kolam. Wajahnya tak terlihat jelas namun Sera merasa sedikit familiar. Terakhir adalah foto Doyoung yang sedang membaca buku di kursi ayunan.
"Tunggu, mereka semua adalah keluarga yang kau maksud?" Sera membelalak setelah melihat foto terakhir.
"Iya. Mereka tampan dan cantik, bukan?"
Sera sangat terkejut. Apa semua ini hanya kebetulan? Atau mungkin ... "Sejeong-ah. Apakah ... tiga tahun lalu kau mengalami semacam kecelakaan?"
"Iya. Bagaimana Detektif Park bisa tahu?" Sejeong tampak bingung.
"Astaga! Tidak kusangka dugaanku benar."
Sejeong semakin terlihat bingung.
"Tunggu! Kau tidak ingat mereka? Apa mereka belum memberitahumu?"
Sejeong menggelangkan kepala.
Apa mungkin mereka menghapus ingatannya juga tiga tahun lalu? pikir Sera.
Tiba-tiba ponsel Sera berbunyi. Sebuah panggilan dari juniornya di kantor. Sera pun berpamitan kepada Sejeong tanpa sempat menjelaskan apapun. Sejeong sangat penasaran sebenarnya, namun ia tidak bisa memaksa Sera untuk menceritakannya sekarang.
***
Detektif Park memimpin rapat timnya. Kali ini kasus yang ia bahas adalah penemuan mayat di danau wonji-dong. Hasil autopsi telah keluar. Identitas korban pun telah ditemukan. Ia adalah Junsu, pegawai bar yang dikabarkan telah menghilang selama sebulan. Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban ditikam dengan benda tajam di perutnya sebanyak tiga tusukan. Lalu kedua tempurung lututnya pecah. Tulang lehernya pun patah seperti dihantam benda tumpul yang berat. Tempurung kepala bagian kirinya juga hancur. Dari tanda-tanda tersebut, dapat disimpulkan tersangka menyiksa korban dengan benda tumpul sangat keji sebelum membunuh.
"Jadi kau menganggap kasus ini mirip dengan pembunuhan berantai tiga tahun yang lalu?" tanya Inspektur Jung, atasannya.
"Iya."
"Apa kau yakin? Bisa saja itu hanya ulah orang gila yang mencoba menirunya."
Detektif Park menunjukkan gambar simbol pentagram yang ada di tubuh lima korban di tiga tahun yang lalu, kemudian gambar pentagram di lengan Junsu.
"Benar. Orang lain mungkin bisa meniru simbol ini. Namun, apakah mungkin sedetail ini? Bukankah kita tidak pernah membocorkan ke media dengan jelas gambarnya seperti apa? Kita hanya menyebutkan bentuknya pentagram."
Inspektur Jung terdiam. Wajah pimpinannya itu terlihat menerima logika yang ia paparkan. Begitu juga dengan rekan kerjanya yang lain.
***
Sejeong berjalan menuju area kolam renang. Ia ingin duduk sambil menatap tenangnya air. Lagi pula tidak ada misi malam ini. Semua misi telah dikerjakan oleh Doyoung dan Taeyong. Dia tidak diikut sertakan semenjak kembali bersekolah. Ia merebahkan diri di gazebo. "Huh? Apa yang harus ku lakukan dengan surat ini?" Sudah dua hari surat pemberitahuan rapat komite sampai ke tangannya. Namun, ia belum berani menyerahkan kepada walinya yaitu Jieun.
"Kenapa hidupku sial sekali?" Sejeong bertanya pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sejenak sambil menikmati udara malam.
Kau tahu, hidup terkadang memang terasa berat bagi sebagian orang dan mudah bagi sebagian yang lainnya. Namun, tetap saja hidup jauh lebih baik dari pada mati. Selama kau hidup, kau masih bisa mengubah nasibmu.
Sejeong teringat kalimat yang diucapkan orang asing yang baru-baru ini ia kenali. Ya, orang itu adalah Doyoung. Sudah lama sekali. Tapi sejeong masih ingat tiap kata yang diucapkan.
Tunggu.
Sejeong menggali ingatannya kembali. Sekilas ingatan berputar di kepalanya. Warna pakaian pria itu mulai terlihat. Wajahnya juga. Wajahnya ... Doyoung-oppa?
Tidak mungkin pria tiga tahun yang lalu juga Doyoung-oppa.
Sejeong langsung bangun dari tidurnya. "Ah. Tidak mungkin. Pasti hanya halusinasiku saja. Lagi pula aku tidak ingat dengan jelas." Sejeong mengangkat surat di tangannya. Lalu seseorang merebut dengan cepat. Sejeong tidak sempat menghindar. Ia terkejut bukan karena perampasan illegal yang baru saja terjadi. Tapi karena sosok pria yang sedang berdiri dihadapannya ini adalah pria yang baru saja ia pikirkan.
Doyoung merampas suratnya dan langsung terbayang sejarah surat ini berasal. "Kau dipanggil komite kekerasan sekolah?" tanya Doyoung dengan raut sangat terkejut.
Sejeong tidak menjawab, ia hanya menunduk.
"Luar biasa. Apa yang kau lakukan?"
Sejeong mengangkat bahunya. Doyoung langsung duduk di samping dan memegang tangannya. Kini, tanpa berbicara pun Doyoung telah mengetahui semuanya. "Ah pantas saja aku merasa sedikit terpanggil hari itu, sepertinya energiku di gelangmu yang memberi sinyal."
"Oppa! Kau ini curang sekali." Sejeong tidak terima karena ingatannya dibaca tanpa izin.
"Mentang-mentang sudah punya kekuatan, kau jadi berani berkelahi. Apa kau lupa peraturan nomor dua?"
"Dilarang melukai manusia. Tentu saja aku ingat."
"Kalau begitu kenapa kau memukulnya."
"Dia yang mulai duluan. Aku hanya membalasnya dengan setimpal."
"Setimpal apanya? Dia terlihat jauh lebih parah."
"Ya! luka-lukanya itu untuk membayar dua tahun lukaku yang dia berikan. Bahkan kalau dipikir-pikir lagi rasanya itu masih kurang setimpal."
"Ya! Kau ini."
"Wae?"
"Good job." Taeyong datang dan langsung menyambar obrolan. "Sudah ku duga kau akan melakukannya." Taeyong mengusap puncak kepala Sejeong dan tersenyum manis. Sejeong balas tersenyum.
Doyoung tidak senang melihat situasi ini. "Jangan bilang kau yang menyarankannya seperti itu?" tuduh Doyoung.
"Iya. Aku yang menyarankannya." Taeyong menjulurkan lidah.
Doyoung memicingkan sorotnya. "Kau ini."
"Kenapa? Apa aku salah? Toh dia tidak sampai membunuh."
Sejeong menyadari aura pertempuran yang akan terjadi sebentar lagi. Dua makhluk di depannya ini sudah terkenal dengan sikap seperti tom and jerry.
Aura panas di sebelah kanan Sejeong dan Aura dingin di sebelah kiri Sejeong.
Api dan angin. Mereka telah menunjukkan kekuatan masing-masing.
Ia pun segera menghentikan sebelum di mulai. "Sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi. Aku sudah cukup lelah memikirkan surat ini." Sejeong beranjak pergi meninggalkan Doyoung dan Taeyong. Tepat saat dirinya masuk kembali ke dalam rumah. Jieun memanggilnya.
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top