Bab 11
Sejeong masih bergerak dalam waktu yang berhenti. Ia telah berusaha menggerak-gerakkan tubuh Taeyong dan Doyoung. Namun tidak membuahkan hasil. Mereka masih berdiri seperti patung. Sejeong terdiam sesaat. Ia mulai memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa ia lakukan agar waktu kembali bergerak.
"Bergerak!" Sejeong berteriak sambil menengadahkan kedua tangan ke atas. Sayangnya, tidak terjadi apa-apa. Berkali-kali Sejeong melakukan hal yang sama. Lalu ia teringat ucapan Haechan saat kelas meditasi.
"Saat bakat alamimu keluar, biasanya kau tidak mengenalinya untuk pertama kali. Kau akan mengira itu hanyalah fenomena asing yang tidak disengaja. Bakat alami sama seperti kita. Ia tidak akan menurut jika kita belum mengenalinya sebagai bagian dari diri kita."
"Apa ini bakat alamiku? Menghentikan waktu? Apa mungkin aku memiliki dua bakat alami?"
Sejeong menarik napas panjang dan menghembuskannya. Ia mulai memusatkan fokus dan memejamkan mata. "Jika kau bagian dari diriku, ku mohon bergeraklah kembali."
Sejeong membuka matanya perlahan. Lalu kembang api di langit malam kembali berdentum. Suara bising jalan raya mulai terdengar dan dua orang rekannya kembali bergerak.
"Andwaee—hah?" Taeyong terkejut saat melihat Haesu telah terduduk dengan tangan yang terikat. Doyoung juga sama terkejutnya. Hanya saja ia tidak bersuara namun langsung mendekat.
Haesu yang terikat pun memberontak. Mona ketakutan dan menghindar.
"Apa yang terjadi? Sedetik yang lalu aku melihat ia meloncat. Kenapa sekarang begini?" Doyoung bertanya.
"Iya, apa yang terjadi. Apa penglihatanku salah?" Taeyong ikut bertanya.
"Akan ku jelaskan nanti. Sekarang kita selesaikan dulu misi ini."
"Baiklah. Kau berhutang penjelasan dengan kami." Taeyong mengeluarkan pedangnya dan berniat melayangkan ke tubuh Haesu."
"Tunggu." Sejeong menahan.
"Kenapa lagi?"
"Apakah tidak ada cara selain menebasnya? Bukankah tadi dia hanya roh biasa?"
"Tidak ada roh jahat yang bisa kembali menjadi roh biasa. Roh ini sudah terlalu lama di bumi dan sialnya ia menemukan inang yang tepat sehingga berubah menjadi roh jahat."
"Tapi—"
"Peraturan nomor tiga. Dilarang bersimpati kepada target misi." Doyoung menghentikan suara Sejeong.
Sejeong melepaskan genggamannya pada lengan Taeyong. Pedang di tangan Taeyong pun melanjutkan aksinya. Dalam sekali tebas, roh jahat yang merasuk tertarik keluar dan lenyap terbakar lalu menjadi serpihan abu yang hilang di sapu udara.
Doyoung berjalan ke arah Mona yang menatap semua adegan penuh dengan binar ketakutan. "Kau telah melihat banyak hal." Doyoung memposisikan tangannya di depan wajah Haesu. "Mianhae. Ingatanmu harus di hapus."
***
Sejeong duduk di sofa tunggal yang menghadap langsung ke arah sofa tunggal lainnya. Di atas sofa itu, Jieun duduk dengan pesona menawan dan kuat secara bersamaan. Di sisi kirinya ada Taeyong dan Haechan yang memperhatikannya penuh tanya. Pun di sisi kanannya ada Doyoung yang ikut menatap dengan tangan bersedekap dan kaki menyilang.
"Sekarang ... jelaskanlah apa yang terjadi." Jieun sempat menjeda kalimatnya. Memberikan kesempatan untuk Sejeong mendongakkan kepala untuk menatap wajah bos besarnya yang cantik itu.
"Aku ... a-aku."
"Apa kau terkena afasia lagi?" tanya Jieun.
Sejeong menggeleng. "Aku ... sepertinya ... punya dua bakat alami."
"Apa? Dua?" Haechan terkejut. "Kalau begitu kau sama seperti Taeyong-hyung dan Doyoung-hyung?"
"Tenanglah!" Jieun menegaskan.
"Baik." Haechan langsung terdiam.
"Apa saja bakat alami yang sudah kau sadari?"
"Melihat masa depan dan menghentikan waktu."
"Apa?" kali ini Taeyong yang terkejut. "Kau sungguh menghentikan waktu?"
"Jadi maksudmu saat waktu berhenti, kau menangkap target dan mengikatnya. Begitu?" Doyoung menyimpulkan.
Sejeong mengangguk.
"Daebak." Haechan tercengang. "Noona, bukankah bakatnya ini sangat berguna? Kita bisa dengan mudah menangkap roh jika menghentikan waktu." Haechan berbicara kepada Jieun.
Jieun masih bungkam. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku belum percaya. Coba sekarang kau tunjukkan lagi?" Taeyong meminta pembuktian dari Sejeong.
"Tidak bisa." Jieun bersuara. Semua menoleh ke arahnya. "Kau tidak bisa menggunakannya sesuai keinginanmu, benar begitu?"
Sejeong mengangguk. "Aku sudah mencobanya lagi tadi. Tapi tidak berhasil. Aku tidak tahu kenapa."
"Mungkin karena masih baru dan kau belum menguasainya." Haechan berargumen.
"Bukan karena itu saja." Jieun menyanggah. "Kekuatanmu sangat krusial. Saat kau menghentikan waktu, bukan hanya tempat kau berada yang berhenti. Tapi seluruh dunia. Itulah sebabnya kau tidak bisa menghentikan waktu dengan mudah."
"Ah. Begitu rupanya." Haechan mengangguk paham.
Sejeong bingung. "Hm, tapi ... bagaimana kau tahu di tempat lain ikut berhenti?"
Jieun tersenyum. "Bukan hanya kau yang bergerak saat waktu berhenti."
Sejeong terdiam paham.
***
Seorang warga yang sedang memancing di danau kesusahan lantaran benang pancingnya tersangkut sesuatu. Tiga orang lelaki dewasa dalam satu perahu kecil itu berusaha menarik pancingannya. Semua berteriak. Mereka baru saja menemukan mayat.
Park Sera bersama rekannya berangkat menuju danau. Mereka tiba tepat saat mayat berhasil di keluarkan dari danau oleh kepolisian setempat. Sera mendekat ke arah tandu tempat mayat laki-laki itu direbahkan. Kondisinya telah membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
"Detektif Park, coba lihat ini," Yeonho memanggilnya. Ia menunjukkan tanda aneh di kedua lengan mayat.
"Pentagram? coba balik tubuhnya?"
Sera terkejut saat melihat tanda pentagram atau simbol bintang sudut lima dalam bentuk terbalik juga terdapat di punggungnya.
"Mungkinkah ini ...." Detektif Yeonho menggantung kalimatnya.
"Pembunuhan berantai pentagram." Sera menyambung kalimat Yeonho.
***
"Tiga orang warga yang sedang memancing tidak sengaja menemukan mayat di danau wonji-dong pukul 8 pagi tadi. Kondisi mayat telah membusuk dan sulit dikenali serta tidak ada barang-barang mayat yang bisa menunjukkan identitasnya. Pihak forensik telah membawa mayat untuk dilakukan proses autopsi ...."
Jieun tidak lagi mendengarkan suara reporter yang sedang melaporkan berita. Pandangannya tidak sengaja menemukan simbol yang tidak asing di lengan mayat tersebut. Hanya sekilas, namun Jieun yakin bahwa ia tidak salah lihat. Jieun langsung menghubungi Haechan yang sedang berada di luar bersama Sejeong untuk segera kembali ke rumah.
Lima belas menit kemudian, Haechan dan Sejeong tiba. "Ada apa, Noona?"
"Cepat carikan video rekaman berita penemuan mayat di danau wonji-dong."
"Memangnya kenapa?"
"Cepat carikan saja! Tidak usah banyak tanya!" Jieun berteriak lagi.
Sejeong baru saja kembali dari dapur dan langsung tersentak kaget. Sudah lebih sebulan Sejeong tinggal di rumah ini. Tapi dia belum terbiasa juga dengan sikap bar-bar orang-orang di sini. Terutama dengan temperamen Jieun. Ia bisa tiba-tiba berteriak dan marah-marah. Sejeong terbiasa hidup dalam sunyi dan sepi selama ini, sehingga butuh waktu lama untuk terbiasa dengan keramaian.
"Ini." Haechan menyerahkan laptopnya kepada Jieun. Wanita itu langsung duduk di meja kerjanya dan memutar video berita tersebut.
Jieun menjeda video untuk memastikan sebuah gambar yang ia lihat sebelumnya. "Benar. Aku tidak salah lihat."
Haechan penasaran dan ikut menonton. Bola matanya melebar. "Noona, apakah itu pentagram?"
"Hm.
"Apakah tanda itu bukan tanda yang baik?" Sejeong bertanya dengan hati-hati.
"Itu adalah tanda iblis," jawab Haechan.
"Iblis? Puncak tertinggi dari roh jahat?"
Jieun memukul meja tiba-tiba. Sejeong dan Haechan sampai tersentak. "Iblis sialan. Kali ini kau tidak akan selamat!"
Sejeong terkejut saat melihat darah mengalir dari tangan Jieun. Pena yang Jieun pegang patah karena tekanan yang terlalu kuat dari tangan Jieun. Sejeong merasa ada yang berbeda dari emosi Jieun kali ini. Ini bukanlah emosi yang biasa Jieun tunjukkan sehari-hari. Emosi kali ini lebih condong kepada kebencian, dendam dan keputusasaan.
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top