Bab 10

Mereka tiba di depan sebuah Universitas. Tak jauh dari posisi mereka sekarang terdapat sebuah gedung bertuliskan asrama putri. Mereka berjalan perlahan melewati pos satpam. Pak satpam terlihat sedang tertidur. Karena ini asrama putri, Doyoung dan Taeyong tentu tidak bisa masuk lewat pintu depan. Mereka berdua mengambil ancang-ancang dan melompat dengan tinggi sampai ke balkon lantai dua.

Sejeong menganga takjub. 

Taeyong memberi intruksi kepada Sejeong untuk melompat juga. Namun, Sejeong tidak yakin dirinya bisa. Ia menggeleng dan memilih lewat pintu saja. Sejeong baru sadar bahwa dia tidak punya kartu akses untuk masuk.

"Apa aku harus melompat juga?"

Lalu seorang gadis tiba dan membuka pintu. Sejeong mengikutinya di belakang. Setelah itu menaiki lift bersama gadis yang ia ikuti. Sejeong bersikap senormal mungkin. Ia ingat peraturan untuk berhati-hati dalam misi agar tidak ketahuan oleh orang lain.

Sejeong tiba di lantai delapan. Doyoung dan Taeyong sudah tiba di kamar target. Sejeong pun bergegas menyusul.

"Di mana target kita?"

"Dia sudah tidak ada sejak kami datang. Haechan juga tidak bisa melacaknya."

"Dia sempat masuk ke kamarnya lalu." Doyoung bergegas keluar dan berlari menuju lift." Sejeong dan Taeyong menyusulnya.

"Apa yang ia lakukan?" tanya Sejeong kepada Taeyong.

"Melihat masa lalu."

"Dia naik ke lantai 10," ungkap Doyoung setelah menyentuh sisi tombol lift.

Sebuah peristiwa kembali terlihat di visi Sejeong. Seorang wanita mencekik wanita lainnya.

"Dia tidak sendiri. Ada wanita lain yang nyawanya akan terancam." Sejeong berucap.

Mereka bertiga pun bergegas naik ke lantai sepuluh. Taeyong mempercepat jalannya lift hingga dalam sekejab mereka telah tiba di lantai sepuluh.

"Mereka di rooftop," ucap Sejeong. Mereka pun berlari menuju tangga rooftop.

Jieun terus memantau lewat pikirannya. "Dia lumayan juga," ucapnya merujuk pada kemampuan Sejeong.

Mereka tiba di rooftop. "Haesu-ssi." Taeyong berteriak memanggil nama wanita itu. Tidak ada respon. Taeyong menggunakan kemampuan psikokinesisnya untuk melemparkan sebuah kayu ke arah mereka. Akhirnya cekikan Haesu lepas dari wanita tersebut.

Sejeong terkejut karena gadis yang menerima cekikan tadi adalah gadis yang bersama dengannya di dalam lift.

Haha. Si pecundang Haesu itu memang tidak tahu diri. Merasa paling cantik padahal hanya dempul make up. Wajah aslinya sangat mengerikan.

Sejeong teringat ucapan gadis itu saat bertelepon di dalam lift.

"Siapa kalian?" teriak Haesu.

Mona, wanita yang menerima cekikan terbatuk-batuk dan menghindar. "Dasar wanita gila." Haesu kembali melihat ke arah Mona. Ia pun bergerak ingin menangkap Mona kembali. Mona berlari dan berlindung di belakang tubuh Sejeong. Doyoung menghadang Haesu yang mendekat ke arah Sejeong.

"Siapa kalian? Jangan ikut campur urusanku!"

Haesu ingin melayangkan pukulan namun di tahan oleh Doyoung. "Kami adalah orang-orang yang akan mengirimmu kembali ke alam baqa." Lalu mendorong tubuh Haesu.

"Karena kau bukan roh jahat, kami beri pililhan, keluar sendiri dari tubuh gadis ini, atau pedangku yang akan memaksamu keluar dan tentunya akan sangat sakit." Taeyong memberi pilihan.

Haesu berdiri. Lalu tertawa menyeramkan. "Bukan roh jahat? Haha kalian lucu sekali."

Haesu menunjukkan gelagat aneh. Aura hitam keluar dari tubuhnya. Bola matanya menghitam penuh. Lalu Haesu melesat dengan cepat ke arah Sejeong. Sejeong berteriak karena Haesu berpindah tepat dihadapannya. Dalam sekejab, Doyoung melemparkan pukulannya ke wajah Haesu hingga terdorong ke belakang. Mereka pun terlibat perkelahian.

"Sejeong. Lindungi gadis itu, biar kami yang mengurusnya." Doyoung berteriak.

"I-iya." Sejeong benar-benar terkejut dan takut. Mona bahkan telah pingsan sejak aksi teleportasi tiba-tiba Haesu tadi. Ia tidak menyangka misi level C bisa berubah menjadi level B. Kini mereka harus menangkap roh jahat bukan roh biasa.

Dua lawan satu. Tapi Haesu tidak terlihat kewalahan. Aura hitam yang mengelilingi tubuhnya terasa sangat kuat. Doyoung menangkis pukulan Haesu dan melihat kejadian beberapa jam yang lalu, ternyata Haesu telah membunuh dua orang sekaligus dengan racun yang ia masukkan ke dalam kopi. Pantas saja levelnya berubah dari C menjadi B.

"Kau hebat juga. Dapat menyembunyikan aura roh jahatmu."

Haesu berteriak sangat keras sampai Doyoung dan Taeyong terlempar ke belakang. Suaranya sangat memekikkan telinga. Lalu saat semuanya sedang lengah, Haesu menarik tubuh Mona dan menyanderanya. Ia kembali mencekik. Mona tersadar karena kesulitan bernapas.

"Hentikan, Haesu!" teriak Sejeong. Haesu menoleh ke arahnya. "Aku mengerti perasaanmu yang terluka."

"Pembohong! Tidak ada yang mengerti perasaanku."

"Aku tidak berbohong. Aku sangat tahu betapa besarnya rasa ingin membunuhmu setiap kali melihat wajahnya. Mungkin seribu kali sehari kau memikirkan cara membunuhnya."

Haesu semakin kuat mencekik Mona.

"Ironisnya mereka yang melukai tidak akan mengerti bahwa setiap ucapan dan tindakan yang mereka anggap bercanda ternyata menyiksa. Tapi ... kau tetap tidak boleh membunuhnya. Karena jika kau membunuhnya, kau yang rugi."

Haesu melonggarkan cekikannya. Mona langsung terduduk dan terbatuk-batuk.

"Kau boleh membalasnya tapi jangan membunuhnya. Percayalah padaku, maka kau akan menjadi lebih baik." Sejeong mengulurkan tangannya.

"Apa yang dia lakukan?" Doyoung ingin mendatangi Sejeong karena khawatir.

"Tunggu." Taeyong menahan tubuh Doyoung dengan sebelah tangannya. "Lihatlah, aura hitamnya semakin menipis."

"Kemarilah." Sejeong memanggilnya dengan lembut.

Tinggal selangkah lagi Haesu akan sampai menggapai tangan Sejeong. 

Lalu suara batuk Mona mengalihkannya. Bola matanya kembali menghitam dan melesat dengan cepat menarik tubuh Mona dan membawakan ke pinggir rooftop. Haesu membawa tubuh Mona untuk melompat bersama.

"Tidak!" Sejeong berteriak.

Hening kembali datang. 

Hiruk pikuk lalu lintas di bawah sana tidak lagi terdengar. Kembang api yang baru saja dilepaskan ke langit berhenti sempurna dalam bentuk yang memekar. Waktu kembali terhenti.

Sejeong melihat Taeyong dan Doyoung tidak bergerak. Haesu dan Mona juga mengambang di udara. Sejeong benar-benar tidak mengerti kenapa waktu berhenti lagi dan hanya dia yang bergerak. Sejeong ingat peristiwa ini. Kejadian ini mirip seperti bayangan yang ia lihat saat bertabrakan dengan Haesu sore tadi.

Sejeong berlari ke arah Haesu. Ia berusaha menarik tubuh Haesu dan Mona kembali ke rooftop. Setelah berhasil menurunkan mereka. Sejeong mengikat tangan dan kaki Haesu dengan simpul berwarna biru. Sebuah keahlian setiap anggota yang mirip seperti sihir menurutnya.

***

Jieun terkejut. Ia melihat sekelilingnya. Haechan tidak bergerak, jam pasir di atas mejanya juga tidak menjatuhkan pasirnya lagi. Jarum di dalam jam klasik yang tersandar di sisi ruangan juga tidak bergerak.

"Daebak." Jieun terkagum. Jieun teringat percakapannya dengan Jill tempo hari.

"Jadi apa alasanmu merekrutnya. Bukankah dia hanya gadis lemah."

"Dia memang lemah. Sangat lemah."

"Hah?"

"Karena dia sangat lemah, aku jadi tidak menyadari kekuatannya. Aura manusianya yang lemah terlalu besar hingga menutupi aura spesialnya."

"Aku tidak mengerti."

"Jika saja kepribadiannya bukan gadis yang lemah. Aku pasti telah menemukannya sejak dulu."

"Jadi, seberapa kuat sebenarnya aura yang kau lihat itu?"

"Sangat kuat dan warnanya pun unik. Ada tiga warna yang bergabung menjadi satu. Aku yakin dia bisa menjadi lebih kuat dari Doyoung dan Taeyong."

Jieun ingin meneguk kopinya. Namun air di dalam gelasnya tidak bergerak. Seperti beku. "Haiss." Jieun kesal dan meletakkan kembali gelasnya.

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top