Prolog

Jejeran art berbahan kawat tembaga terpajang indah di rak yang menjadi penyekat di ruang kerja Kale. Gadis berusia 27 tahun itu tengah memeriksa beberapa desain art yang akan ditampilkan di pameran akhir tahun nanti. Kalesha Pratista lebih lengkapnya. Seorang gadis hitam manis di hadapannya sedang menunggu hasil dari desain yang tengah Kale periksa. 

"Sudut sikunya jangan terlalu lancip. Lebih fleksibel lagi. Karena nanti tim produksi akan membuat sesuai desain. Dimensinya yang kecil, jadi kamu nggak perlu membuat semua serba detail. Nanti hanya akan menyulitkan tim produksi. Oke, Maria?"

"Baik, mengerti, Miss. Ini Art Dragon pesanan PT Gemilang Perkasa untuk merchandise anniversary, Miss," tutur Maria, salah satu desainer didikannya. Gadis ini sudah ikut Kale dari awal ia memutuskan untuk mendirikan Galeri K-Art miliknya empat tahun silam. Dan kini sudah resmi mengambil alih kepemilikan ruko berlantai empat ini untuk Galeri kebanggaannya. 

"Oke. Setelah ini selesai kamu revisi desain, segera kirim ke tim produksi. Terima kasih, Maria."

"Baik, Miss. Segera saya revisi."

Gadis itu segera beranjak kembali ke meja kerjanya. Kale sendiri kembali sibuk pada setumpuk pekerjaannya, sebelum ia harus menerima tamu dari PT Brilliant Sasongko yang ingin memesan Art untuk logo anak perusahaan yang bergerak di bidang IT. Semua orang tahu bahwa PT Brilliant Sasongko adalah perusahaan yang bergerak di bidang property dan developer. Melenceng jauh memang. Namun kabarnya, perusahaan IT itu didirikan oleh sang putra semata wayang. Dan untuk sementara waktu, bendera perusahaan masih berkibar di bawah naungan PT Brilliant Sasongko.

Tepat ketika ia selesai menyimpan data di komputernya, Dewi, sang asisten masuk ke ruangannya memberitahu bahwa tamu yang ditunggu sudah tiba. Dan kali ini, Dewi memberitahu bahwa yang datang bukan dari PT Brilliant Sasongko, melainkan CEO anak perusahaannya langsung. Kening Kale mengkerut untuk sesaat. Kemudian ia kembali menepis pertanyaan yang muncul.

"Orangnya langsung?"

"Iya, Miss. Tapi saya belum bertemu. Karena yang turun dan bertemu dengan saya asistennya."

"Oke. Konfirmasi, saya akan turun segera. Antar ke tempat biasa ya, Dewi?"

"Baik, Miss."

Kale menggelengkan kepala singkat begitu Dewi menghilang dari pandangannya. Sejenak ia merapikan berkas dan mengambil satu map yang berisikan sampel desain referensi logo perusahaan yang pernah ia tangani. Barangkali tamu tersebut membutuhkan referensi. 

Blouse sifon lilac tanpa lengan dengan setelan celana panjang skinny fit putih membalut tubuh Kale dengan sempurna yang kini tengah menuju ke ruang yang biasa ia gunakan untuk bertemu dengan clien ataupun kolega. Kali ini ia meninggalkan blazernya di ruangannya. Kaki jenjangnya beralas heels spaghetti melangkah anggun penuh percaya diri. 

"Sudah di dalam, Miss. Silakan," ucap Dewi sopan, membukakan pintu untuk Kale. Kale mengangguk lantas memasuki ruangan itu. 

Ia mendapati punggung seseorang tengah berdiri mengamati jejeran art pada rak dinding. Sang asisten berdiri tidak jauh darinya. Kale menarik napas sebelum membuka mulut untuk menyapanya. 

"Selamat siang, selamat datang di Galeri kami," ucap Kale dengan sopan. 

Laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitam potongan rapi tanpa gel hair, segera membalikkan tubuh. Pun sama dengan asistennya. Kale yang semula memasang senyum ramah mendadak terdiam pias. Sementara laki-laki itu menghampiri Kale dengan seulas senyum yang sulit diartikan. Pahatan wajah tampan dengan hidung mancung sempurna di bawah sepasang alis tebal dan rapi, kini semakin terlihat jelas di mata Kale. 

"Oh, ternyata benar kamu. Halo, Kale. Long time no see," ucap laki-laki itu ketika berdiri tepat di depan Kale. 

Suaranya membuat Kale tanpa sadar menggenggam erat map di tangannya. Gadis itu menelan ludah susah payah. Sialnya, mengapa ia melupakan dan tidak mencari tahu sebelumnya mengenai PT Brilliant Sasongko? Ia tidak menaruh curiga sedikitpun. Wajar, Kale hanya tahu bahwa CEO dari Brilliant Sasongko adalah Bapak Indra Gunawan. Dan ia tidak tahu sedetail apa PT tersebut. Ia hanya mengenal Pak Indra sebagai sosok yang baik. 

"Ya, Long time no see," ucap Kale terbata. 

"You look very nice. Oya, kamu nggak mau nanya kabar aku?"

Laki-laki itu tertawa lirih. Ia menarik kursi kemudian duduk tanpa memutus tatapannya pada Kale. Dalam diam Kale menarik napas panjang, mengendalikan diri agar tetap terlihat baik-baik saja. Ia lantas memberanikan diri untuk melangkahkan kaki, mengambil tempat duduk berhadapan dengan laki-laki itu. 

"Maaf, di dalam agenda saya hari ini, akan ada tamu dari PT Brilliant Sasongko. Saya kira Bapak Indra Gunawan yang akan saya temui," ujar Kale dengan wajah serius, menutupi rasa syok di dalam dirinya. 

Laki-laki itu kembali tertawa, "Indra Gunawan. Oke, dia karyawan terbaik dari perusahaan milik Bapak Rowi Parves."

Oh?! Rowi Parves. Kale tersenyum tipis. Kalau saja ia tahu, mungkin ia tidak akan mengambil waktunya untuk seorang laki-laki ini. Iya, Kaffa Parves. Bagaimana bisa kali ini ia bertemu dengan laki-laki yang sengaja ia hindari sejak beberapa tahun silam? 

Kale seperti kehilangan napas. Terus terang saja masih tidak percaya dengan apa yang sedang ia hadapi kali ini. 

"Oke, baik. Maafkan kekurangan kami dalam mendapatkan informasi."

"Can you call me Kaffa? Say my name, Kaffa. Kaffa. Nggak mungkin kamu lupa gitu aja, kan?" 

Laki-laki itu menjulurkan tubuhnya, menghapus jarak dan berbisik padanya. Sementara sang asisten menunggu di luar sejak laki-laki itu membalikkan badan dan menemukan sesosok Kalesha Pratista. Kale menahan napas seketika. Ia hanya menatap Kaffa tanpa ekspresi. Hanya itu yang bisa ia lakukan kali ini di tengah kekacauan di dalam dirinya. 

"Kaf-fa, ada yang bisa saya bantu?" Susah payah Kale mengeluarkan suara. Rasanya tenggorokannya mengering dalam sekejap. 

"Desain logo, akan dikirim via email setelah ini. Selebihnya, jangan bersikap kaku di depan aku. Hari ini, cukup sampai di sini dulu. Kale, why don't you ask me, why am I looking for you?"

"Kaffa…"

"Biar jadi pertanyaan yang harus kamu cari sendiri jawabannya," ucap Kaffa kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan Kale yang masih belum mempercayai apa yang sedang ia hadapi, "Oya, sejauh apa kamu menghindar, seorang Kaffa Parves pasti akan menemukan. Kale."

Ia menoleh memberikan sebentuk seringaian sebelum ia membuka pintu untuk melangkah pergi. Dalam diam, Kale hanya mampu menggigit bibir. Setelah pintu itu tertutup dan menyisakan ia seorang diri, Kale segera mengambil napas banyak-banyak. Tubuhnya lunglai melepaskan gemetar yang sejak tadi ia tahan. 

Long time no see, katanya? 

***
Tbc

Hai, prolog di awal maret. Tapi enggak tahu nantinya akan gimana. Semoga bisa sampai epilognya. 😂😂

03 Maret 2022
Salam,
S Andi

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top