05A ♡ Saba - Satria
🌻🌻
♡♡--------------------------------
from the bitterness of disease man learns the sweetness of health
--------------------------------♡♡
🌻🌻
ICU, bukan hanya orang awan bahkan sekelas dokter atau paramedis ketika anggota keluarganya diputuskan harus menjadi penghuni ruangan sebagai pasien akan memiliki perasaan yang sama. Apalagi selain dari kata-kata kritis atau pasien dalam pengawasan ketat. Karena ruangan ini memang diperuntukkan bagi pasien berkebutuhan untuk diawasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Air mata dan doa, dua hal yang sepertinya selalu bersinergi dan terbaca jelas dari mimik muka seluruh keluarga yang duduk menunggu di selasar ruang tunggu ICU. Tatapan mata kosong, komat-kamit bibir menyenandungkan keagungan Allah, atau gerakan tangan menghitung ruas demi ruas jari sebagai tanda bahwa hati, bibir dan seluruh tubuh rela berbagi demi kesembuhan keluarga yang sedang berjuang untuk hidup di dalam ICU.
Langkah tergopoh, Satria bersama dua orang tuanya. Menyusur lorong rumah sakit hingga sampai di depan ruangan yang menunjukkan keluarganya yang lain sudah berdiri dengan segala keresahan yang nampak di ujung mata.
"Bang, bagaimana dengan Saba? Apa yang terjadi?" Suara Renata menjadi awal dari pebincangan dua bersaudara yang sama khawatirnya atas nasib seseorang.
"Anemia aplastik yang menyebabkan Saba tervonis trombositopenia. Kondisinya menurun drastis dan parahnya aku terlalu abai untuk menyadari perubahan pada putriku. Abang berharap banyak ke kamu Rena karena Saba memiliki kecocokan darah denganmu, dan semoga kondisimu memungkinkan untuk melakukan transfusi kepadanya." Terlalu lama jika Hauzan harus menjelaskan kepada keluarganya Saba mengapa yang jelas setelah Saba mengalami epistaksis atau mimisan menjelang sore semua terbuka secara gamblang dan Hauzan menyadari, ketertutupan putrinya akhir-akhir ini seolah memberikan jarak untuknya bisa mengerti dan memahami apa yang sedang terjadi pada Saba.
Hauzan hanya berpikir bahwa Saba hanya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan. Tanpa dia ketahui bahwa tubuh dari anaknya itu juga sedang meradang sama seperti hatinya yang membutuhkan obat, tubuhnya juga seiring melemah tanpa disadari oleh semuanya.
Satria mengembuskan napasnya perlahan, setidaknya pikiran kotor yang menggelayung sedari kabar diterima bahwa Saba berada di ICU dan membutuhkan transfusi darah tidak benar-benar terjadi. Kini dia duduk di samping budhenya sementara umi, abi dan pakdhenya menemui perawat untuk melakukan pengecekan dan transfusi darah segera.
"Budhe, yang sabar ya. Maafkan Satria jika karena Satria, kak Saba jadi menderita penyakit ini."
Nuha mengusap punggung tangan keponakannya. Tidak ada yang patut disalahkan, Saba sakit bukan karena siapa namun karena tubuhnya drop, bisa jadi karena tetlalu banyak pikiran yang salah satunya adalah permasalahan hatinya kepada Satria. Namun demikian bukan berarti Nuha menyalahkan Satria yang bersikap demikian kepada Saba. Nuha sangat tahu, keponakannya ini sangat menyayangi Saba.
"Kamu jangan merasa bersalah seperti ini Sat. Saba memang sedang drop, dan parahnya kali ini dia butuh transfusi darah. Mungkin juga karena keabaian budhe dan pakdhe, karena kami berpikir bahwa Saba hanya membutuhkan waktu untuk sendiri sementara waktu. Ternyata, tubuhnya juga memberikan reaksi."
"Budhe__" Satria menatap Nuha lekat sambil menggenggam tangan kakak ipar uminya. "Kalau untuk menyembuhkan kak Saba harus dengan menyenangkan hatinya, Satria ikhlas melakukan apa pun."
"Satria__, kamu ini bicara apa?"
"Satria bersedia jika harus menikah dengan kak Saba suatu saat nanti. Hanya saja Satria tetap butuh bantuan pakdhe dan budhe untuk menjaga kak Saba selama Satria harus terbang dan mungkin tidak bisa pulang setiap harinya. Maaf Budhe, ini hanya ungkapan yang ada dalam hati Satria saja. Semoga dengan begini kak Saba bisa segera pulih."
Nuha mendesah, sepertinya memang belum pas waktunya membicarakan hal serius semacam ini ketika putrinya sedang berjuang di dalam ICU. "Nanti kita bicarakan bersama semuanya ya Sat. Terus terang budhe masih bingung, pakdhemu juga tidak bilang apa-apa tentang penyakit yang kini sedang menimpa kak Saba, mungkin saking paniknya. Kita berdoa bersama saja, semoga tidak terjadi sesuatu hal yang tidka baik pada kak Saba."
"Iya Budhe, aamiin. Satria juga tidak pernah tenang kalau kak Saba sakit seperti ini."
Suasana kembali hening, beberapa kali Nuha dan Satria hanya bisa memandang jarum jam yang berdetak, memunggu kabar dari orang tercinta mereka atau setidaknya dari paramedis yang menangani Saba. Hingga langkah milik abi Satria terlihat, baru Nuha berdiri dan bertanya bagaimana hasilnya.
"Bagaimana Dik Azhar, mas Hauzan dan dik Rena bisa mengusahakan darah untuk transfusi Saba?"
"Alhamdulillah bisa, Kak. Kita berdoa yang terbaik untuk Saba."
"Aamiin, Bi. Kak Saba__?"
"Semoga darah umi bisa menolongnya."
Masih dalam mode berdebar, Saba berjuang di ICU, Hauzan dan Renata masih bersiap untuk pengambilan darah sedangkan Nuha, Satria dan Azhar tak hentinya merapalkan doa di selasar ICU untuk kesembuhan Saba.
🌻🌻
to be continued__
Jadikan Alqur'an sebagai bacaan utama
Makne Hawwaiz
Blitar, 31 Desember 2021
Karena aku mendadak ada PR segini dulu ya gaes, nanti aku lanjutin..yang penting kalian ga lupa sama Saba dan Satria.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top