.
.
.

〔 ❁ -; ᴀ ᴅ ᴅ ɪ ᴄ ᴛ ᴇ ᴅ〕

.
.
.

Satu kata untuk Daniel: mengerikan. Bukan secara harfiah tentunya. Daniel itu tampan, kaya, dan penuh dominasi; Seongwoo tau itu.

Tapi, bagaimana tanggapan orang di luar sana ketika melihat play room milik Daniel?

Gila.

Sebenarnya, ini tidak tampak seperti play room yang seperti itu. Ruang itu dicat putih, dengan keramik putih, dan ranjang single yang biasanya ada di unit gawat darurat rumah sakit. Bahkan, bau obat-obatan dan AC yang disetel begitu dingin benar-benar mengingatkan Seongwoo pada rumah sakit. Di sisi kiri, lemari kaca berdiri kokoh dan tertutup rapat. Seongwoo belum sempat melihat apa isi dari lemari itu, karena Daniel sudah lebih dulu menariknya menjauh.

Daniel memposisikan Seongwoo untuk duduk di ranjang rumah sakit itu. Kemudian, pria 34 tahun itu menekan pundak Seongwoo, meminta pada Seongwoo untuk menidurkan dirinya di ranjang.

Seongwoo hanya mengerjap. Dengan begitu patuhnya, atau juga karena pengaruh dari Daniel yang menatapnya tajam dan dalam, Seongwoo merebahkan punggungnya.

"Apa sebaiknya aku membiusmu, hm?"

Membius?

Seongwoo menggigil. Berbagai perkiraan dan kemungkinan bermunculan satu persatu dalam kepalanya. "Apa maksudmu?" ujarnya dengan nada rendah dan ragu.

Daniel mengangkat alisnya. "Aku rasa kau cukup kuat menahannya."

Seongwoo mengernyitkan alisnya, meminta Daniel untuk menjelaskan lebih lanjut. Bukannya menjawab, pria Kang itu berputar, dan berjalan menuju lemari kaca, meninggalkan Seongwoo yang memandang penuh keheranan.

"Para pemberontak sering kemari," Daniel berucap dengan mata yang terfokus mengambil beberapa barang dari lemari kaca. "Tapi tidak di kasur itu. Kasur itu, tidak ada yang boleh menyentuhnya, selain milikku."

Seongwoo mengerjap tak mengerti, namun Daniel menjawabnya dengan penuturan lain.

"Para pengkhianat yang berpikir mereka bisa membodohi seorang Kang Daniel."

Seongwoo menjauhkan tatapannya dari punggung Daniel. Entah, ia hanya merasa terlalu malu saat Daniel mengatakan secara tidak langsung bahwa Seongwoo milik Daniel. Kedua pipinya menghangat tanpa alasan yang lebih spesifik.

Daniel berbalik dengan, entah, Seongwoo tak mengerti namanya. Yang jelas, apa yang Daniel bawa di tangannya adalah sesuatu yang berhubungan dengan kedokteran. Seongwoo sering melihatnya, tempat seperti ginjal yang berfungsi untuk membawa alat-alat medis seperti pisau bedah, atau pinset, atau-

-tunggu.

Tidak mungkin, 'kan?

"Apa- yang kau bawa?"

Daniel tersenyum. "Menurutmu, dear?"

Apapun itu, apapun yang berhubungan dengan Daniel, terlebih senyumnya, Seongwoo yakin bukanlah sesuatu yang baik.

"K-kau akan memasang- piercing?"

"Exactly."

"Seriously?" Seongwoo tergagap. "M-maksudku- ini terlalu berisiko-"

Daniel tertawa. Ia meletakkan apa yang ia bawa di troli -yang biasanya Seongwoo lihat di rumah sakit untuk membawa makanan pada pasien- yang terletak di sisi kanan kepalanya, berdekatan dengan ranjang dimana ia berbaring.

"Aku lulusan kedokteran. Soal bedah, bukan masalah," Daniel menekan pundak Seongwoo untuk tetap berbaring. "Selama kau tidak melakukan banyak gerakan."

"Di- dimana kau akan- me-masangnya?"

Daniel mengacak surai Seongwoo. "Up to you, dear. Mulai dari pundak hingga selangkangan. Pilihlah."

Gila!

Seongwoo melotot ketakutan. Bibirnya bergetar, hendak mengucap penolakan, namun Daniel sudah menatapnya tajam. Tekanan di pundaknya bertambah kuat; Daniel tidak main-main.

"Apa- se-setidaknya berikan aku pilihan lebih baik-"

"Penismu?" tanya Daniel dengan nada datar. Seongwoo jelas bergidik mendengarnya. "Atau salah satu dari dua nipplemu itu?"

Seongwoo menggeleng kuat. Telapaknya mencoba menahan gerak tangan Daniel di ayas tubuhnya dengan cara mencengkram pergelangannya. Di sela usahanya, Seongwoo menatap balik pada manik Daniel; memberikan tatapan sendu dan memohon.

"P-pusarku."

Daniel menarik sudut bibirnya. "Not bad," tuturnya seraya menyingkap pakaian yang menutupi tubuh Seongwoo.

Daniel mulai menggerakkan tangannya menuju benda keperakan di dekat kepala Seongwoo. Beberapa detik ia lalui untuk menentukan mana yang lebih dulu melukai epidermis pucat Seongwoo.

"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku- aku tidak mengerti."

"Kau milikku," Daniel meraih salah satu alat medis, kemudian kembali menatap Seongwoo. "Aku harus memberi tanda bahwa kau milikku. Hanya milikku, seluruhnya."

"Kau memperlakukanku seperti mainanmu-"

"You aren't my sextoy, Seongwoo!" nada bicara Daniel mengeras, mengakibatkan gema di ruang serba putih itu. "Kau bukan mainanku. Aku bukan menginginkan tubuhmu sebagai penyalur sex. Aku ingin tubuhmu, juga jiwamu, hatimu, otakmu, segalanya. Kau tidak akan memiliki hak atas dirimu saat kau menjadi milikku sepenuhnya."

"Sepenuhnya?" Seongwoo tertawa masam menanggapi pernyataan Daniel. "Jadi, ini bukan apa-apa? Kau sudah menghancurkan diriku, asal kau tau. Kau bahkan tak punya alasan spesifik untuk mengatakan bahwa kau adalah milik- Akh!"

Bau anyir, atau juga besi berkarat, menyeruak memenuhi ruangan itu. Seongwoo meremat lengan Daniel hingga buku jarinya memutih. Erangan tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak, juga air mata yang menetes dari sudut mata Seongwoo.

"Ck, bad kitten."

Seongwoo menepuk lengan Daniel berulang, berharap dengan apa yang ia lakukan, rasa sakit di abdomen ratanya bisa berkurang.

Daniel sendiri tidak menanggapi Seongwoo yang mulai menarik nafas pendek-pendek. Ia melakukan segalanya dengan tenang, seakan ia memang sering melakukan atau melihat hal semacam ini. Meski Seongwoo melakukan banyak gerakan, seperti gemetar atau mencoba meringkuk, Daniel tetap diam dan memasang piercing yang sudah ia siapkan di tangannya pada pusar Seongwoo.

Seongwoo bisa merasakan rasa aneh yang memasuki dirinya, tepatnya kulitnya. Saat Daniel mencoba menggerakkan piercing bulat di pusarnya, Seongwoo dapat merasakan dengan jelas sesuatu yang bergerak dan menggesek bagian dalam kulitnya.

Seongwoo tetap memejamkan matanya erat dan mencengkram lengan Daniel. Meski pria Kang itu sudah mengusap darahnya, menepuk bagian luka yang ia buat perlahan, Seongwoo terus terisak pelan.

"Berhentilah menangis."

"S-sakit-"

Daniel mengecup kening Seongwoo lembut, bermaksud menenangkan pria yang terbaring di ranjang itu. Cukup berhasil cara yang ia lakukan, terbukti dari isakan Seongwoo yang semakin lama semakin tak terdengar lagi.

Daniel tertawa. "Setidaknya, jika orang mencoba memperkosamu, mereka akan mengerti bahwa kau sudah dimiliki oleh seseorang."

"Memangnya, kau mengizinkanku pergi?" Seongwoo mengerucutkan bibirnya secara refleks. Ia jelas tidak sadar, apa yang ia lakukan terlampau... menggoda Daniel?

Daniel mengerang. Setengah mencampurkan emosinya, ia meletakkan kembali barang-barang medis yang ia genggam. Seongwoo tersentak mendengar bagaimana barang-barang yang Daniel letakkan berdentingan satu sama lain.

"A-aku melakukan sesuatu yang- salah?"

Daniel berhenti membanting barang-barang. Ia mendongak, menatap pada Seongwoo tepat di manik hitam sang pria.

"Jangan membuatku kehilangan kendali, karena aku tidak ingin merusakmu," Daniel berhenti sejenak. "Aku ingin kau yang memintaku untuk merusakmu."

Seongwoo mengerjap.

Daniel kembali menyibukkan diri merapihkan barang-barangnya, mencoba menahan gejolak menyakitkan yang melilit perutnya, dan juga penisnya.

Tidak, tidak sekarang.

"Dan-," Daniel membuka suara tanpa menoleh pada Seongwoo. "Jika kau bertanya alasan spesifikku untuk menjadikanmu milikku, aku tidak bisa menjawabnya. Aku- hanya ingin? Entahlah."

Sekali lagi, Seongwoo mengerjap.

.
.
.

* . · . ✧ ˚ ✦ . · . *
To be continue
* . · . ✧ ˚ ✦ . · . *
.
.
.
.
.
.
.
.


a/n: MYANE YEOROBUN TELAT. Kemaren lagi belajar bareng, pulang pulang ketiduran;____; pendek pula ini hxzz...

FINALLY JBJ DEBUT!!!! Aku lemah sama semuanya;") Hyunbin ngerapnya.. oh demn;"))

XOXO,
Jinny Seo [JY]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top