Prolog

[SUDAH DIREVISI]

*

She is the girl who is always smile and loves to laugh

If you are feeling down, she will always beside you and give you her shoulder to cry on.

She is the one who always says sorry without realizing that it is not even her fault.

She is afraid of love because she has already lost so much in the name of love.

But guess what? She will never let you know

Hannah Holmes tertawa lepas sambil sesekali memegang perutnya. Jangan lupakan kedua tangan yang saling bertepuk beberapa kali ketika Jonathan James Poole itu kembali menampilkan wajah konyol dengan rambut pirangnya yang berantakan yang sanggup membuat siapa saja tertawa, termasuk Hannah.

Di samping gadis itu, duduk pula lelaki berambut coklat dengan mata birunya-Louis Wright, ikut tertawa lepas dengan kaki yang tidak bisa diam hampir membuat makanan di atas meja jatuh. Tidak jauh darinya, Thalia Kelley, perempuan berambut pirang duduk di kursi rodanya. Dengan kekurangan fisik yang ia miliki, gadis itu masih saja tertawa lepas tidak peduli dengan tatapan orang lain akan dirinya, ia sama sekali tidak kekurangan cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Pun dari ketiga orang konyol yang kini sedang ikut tertawa bersamanya.

Tawa Hannah mendadak berhenti ketika ponselnya bergetar, pelan gadis itu mengambil benda kotak dari kantung celana jeansnya. Membuka kunci dan mencoba untuk menormalkan detak jantung dan wajahnya agar terlihat baik-baik saja, seperti tidak terjadi apa-apa.

"Aku ke toilet dulu." Hannah bangkit, ketiga temannya itu mengangguk dan membiarkan Hannah pergi, seolah bahwa gadis itu tidak memiliki tujuan lain karena memang semuanya terlihat normal. Setidaknya itulah penglihatan dari James, Louis, dan Thalia.

Hannah membuka pintu toilet. Tidak seperti orang lain yang segera memasuki bilik dan menuntaskan urusannya. Gadis itu justru berdiri di depan westafel dengan kedua tangan bergetar yang menggenggam erat pinggiran wastafel itu. Ia menaruh asal ponselnya kemudian membuka keran dan membasuh wajahnya kasar.

Detik selanjutnya ia menatap cermin di depannya. Dengan rambut bagian depan yang basah, Hannah mengambil ikat rambut dan mengikat asal rambut pirangnya itu. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar. Sekejap saja tawa lepas dan senyum lebar yang dibawanya dari luar mendadak hilang ketika ia memasuki toilet. Ketika ia sudah memastikan bahwa tidak ada siapapun yang berada di dalam toilet perempuan ini. Ketika hanya ada ia dan pantulan dirinya di depan cermin. Baru ia bisa melepas topeng sialan yang selama ini ia gunakan.

Ia mengambil kasar ponsel yang tadi dilepasnya. Membuka kembali dan membaca ulang pesan yang dikirimkan Harry, kakaknya. Oh, apakah lelaki yang mengirim pesan seperti itu masih bisa dipanggil kakak?

Kemana saja! Sudah ku bilang celana biruku jangan di cuci! Bodoh sekali! Otakmu dimana, huh?! Jangan berani mengabaikan pesanku!

Hannah mengetik balasan untuk kakaknya itu. Berdalih dengan berbagai alasan bahwa itu bukan kesalahannya dan ia sama sekali tidak tahu menahu celana biru yang dipakai Harry itu belum kotor. Dalam hati ia tidak berhenti merapalkan doa bahwa Harry akan memaafkanya dan melupakan masalah kecil tentang celana biru ini.

Usai membalas pesan Harry, Hannah berjalan keluar dari toilet. Sebelum itu ia bahkan mengatur dulu ekspresi wajahnya, pun dengan sorot mata dan bibirnya. Memastikan bahwa kondisinya saat ini sudah terlihat baik-baik saja.

Ia berjalan ketika tiga orang yang duduk tak jauh di hadapannya melambaikan tangan dan memberi tahu makanan pesanan mereka datang. Hannah melangkahkan kakinya dengan mengangguk serta tersenyum dan mata yang berbinar. Sementara tiga orang di hadapannya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu.

"Kenapa rambutmu basah, kau habis cuci muka, ya?" Thalia bertanya.

"Tadi aku menabrak orang dan tanganku kena saus, kemudian tidak sengaja menyentuh muka dan wajahku kotor."

Selesai. Hanya alasan singkat itu Thalia, James, dan Louis percaya saja tanpa menaruh curiga sedikit pun. Hannah benar-benar mengemasnya dengan sangat baik sehingga semuanya tetap terlihat normal. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Orang-orang benci dengan siapapun yang bermuka dua. Tapi bagaimana ini? Bermuka dua adalah rutinitas yang selalu Hannah lakukan. Diam-diam Hannah menarik sudut bibirnya, tersenyum puas dalam hati dan bersyukur bahwa tidak ada yang tahu apa yang disembunyikannya. 

*

 Jadi, dulunya ini adalah fanfiction-nya One Direction. Tapi, lambat laun karena sudah terbit aku revisi keseluruhan naskahnya. Biar kalian nggak bingung (terutama pembaca lamaku). Nama-nama tokoh di bawah ini adalah nama yang aku ganti yaa.

Nama sekarang - Nama dulu

Hannah Holmes - You

Harry Holmes - Harry Styles

Thalia Kelley - Chloe Moretz

Louis Wright - Louis Tomlonson

James Jonathan Poole - Niall Horan

Zain Kim - Zayn Malik

Miles Gibson - Liam Payne

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top