O7 | lacuna, sunhak.

-a blank space ; a missing part

Menghela nafas berat, Sunwoo mengubah posisi badannya menjadi duduk di tepi kasur. Tangannya bergerak meremat kaus yang menutupi badannya itu dengan erat, perasaan itu datang lagi kepadanya malam ini.

Perasaan hampa dan kosong karena ditinggal oleh seseorang yang sangat berarti di dalam hidup Sunwoo. Perlahan pandangannya memburam, mengaburkan penglihatannya akan suasana kamar remangnya. Sunwoo menangis dalam kesunyian di tengah malam, seorang diri.

Kedua bahu pemuda itu bergetar, hatinya benar-benar hampa mengingat bagaimana ia pergi meninggalkannya. Sunwoo memilih menutup kembali tubuhnya di balik selimut, meringkuk dengan kedua belah bibir tebalnya terus menerus mengeluarkan isakkan kecil.

"Haknyeon..."

Sudah dua tahun, dan Sunwoo masih bisa ingat dengan jelas bagaimana tubuh kekasihnya itu mendorongnya untuk keluar dari mobil dan membiarkan dirinya yang menjadi korban dalam kecelakaan beruntun.

Waktu itu keduanya berniat untuk berlibur ke pinggir kota, memesan villa agar mereka bisa menikmati waktu berdua tanpa adanya gangguan apa pun. Karena perjalanan jauh, Haknyeon menyarankan supaya mereka bergantian menyupir.

Sunwoo tentu saja menolak tegas, ia tidak mau membuat yang lebih tua kelelahan. Tapi namanya Haknyeon, tidak mungkin menyerah begitu saja. Membuat Sunwoo akhirnya luluh mau tidak mau, karena bagaimanapun Haknyeon selalu mengancam akan memutuskannya sekarang juga.

Padahal ia tahu, Haknyeon tidak akan melakukan hal bodoh tersebut karena masih terlalu sayang pada pemuda bersurai merah tersebut.

"Nah, di dekat tol gantian, ya, Sayang." Haknyeon berujar manis, tangannya meremat jemari Sunwoo yang tengah menggenggamnya.

Sunwoo hanya mengangguk, sedang kehabisan bahan untuk membantah kekasih keras kepalanya itu. Mendekati gerbang tol, Sunwoo menepikan mobil sedannya dan dengan cepat Haknyeon meloncat dari kursi penumpang ke kursi pengemudi.

"Pelan-pelan, ya, aku gak mau mati muda," peringat Sunwoo sembari menepuk pucuk kepala Haknyeon.

Haknyeon langsung memberinya gestur hormat layaknya seorang anak sekolah yang tengah mengikuti upacara bendera. Sunwoo terkekeh, merasa gemas melihat raut wajah serta kelakuan kekasihnya itu.

"Sunwoo, ini ambil jalur yang mana?" Haknyeon bertanya, matanya menelusuri papan bertuliskan daerah-daerah yang cukup asing baginya.

Pemuda Kim itu segera mencondongkan tubuhnya, mencoba membaca papan tersebut sampi jari telunjuknya menunjuk ke salah satu arah. "Ikuti yang itu aja, mungkin di depan nanti baru ada tulisannya."

Haknyeon mengangguk patuh, kemudian ia mulai sedikit menaikkan kecepatan laju mobilnya melihat matahari kian naik. Pemuda Ju itu tidak suka berpanas-panasan, apalagi jika sedang berada di tengah jalan tol seperti ini.

"Sayang, pelan-pelan. Jangan melamun juga," tegur Sunwoo sembari menepuk bahu Haknyeon lembut.

Haknyeon tersentak, ternyata tanpa sadar ia melamun akibat memikirkan bagaimana ia akan kepanasan selama perjalanan. Lantas pemuda bersurai hitam itu semakin menaikkan kecepatan laju mobil, melupakan teguran dari Sunwoo barusan.

Sunwoo sendiri cukup terkejut begitu tanpa bicara, kekasihnya itu semakin menginjak dalam gas dan membuatnya berpegangan erat pada gagang yang terpasang di atas pintu mobil. Ia berusaha menegur agar Haknyeon segera menurunkan kecepatan, tapi seakan menulikan pendengaran, Haknyeon malah makin menginjak gas.

"Juhaknyeon!" Sunwoo meninggikan suaranya. "Perlahan saja! Kau mau kita mati muda, huh?!"

Haknyeon tersentak kembali, lalu ia mulai menghentikan dorongan pada gas dan beralih menekan rem. Namun kepanikan langsung menyerbunya begitu dirasakan remnya tidak berfungsi. Sementara dari arah berlawanan sebuah truk yang mengangkut beberapa mobil di belakangnya mulai keluar jalur, menuju ke arah mobil mereka dengan kecepatan di atas rata-rata.

"Haknyeon!" Sunwoo berseru, tentu ia lihat truk besar itu tengah menuju ke arah mobilnya.

Haknyeon cepat-cepat menekan seatbelt milik Sunwoo, melepasnya dan membuka kunci pada pintu mobil. Dalam keadaan sudah dekat begini, ia tidak bisa banting stir karena terlalu beresiko. Tangan Haknyeon beralih pada seatbelt miliknya, tapi akibat panik ia tidak bisa membukanya.

Lantas tanpa berkata apapun, tangan pemuda Ju itu membuka pintu di kursi penumpang, mendorong Sunwoo keluar dari mobil meninggalkan Haknyeon yang terjebak dan berakhir mobil sedan itu menghantam bagian wajah truk dengan sangat keras. Hingga meremukkan seluruh bagian badan mobil.

Tubuh Sunwoo menggelinding ke pinggir jalan tol, kepalanya sempat terantuk pembatas jalan sebelum pada akhirnya ia kehilangan kesadaran dengan darah segar memenuhi keningnya.





















"HAKNYEON!"

Nafas Sunwoo tersengal, peluh sebesar biji jagung pun sudah memenuhi keningnya yang tak tertutupi oleh poni. Tangannya bergerak meremat dadanya, sesak itu datang kembali padanya. Padahal ia sudah mencoba mengikhlaskan kepergian Haknyeon, tapi rasa sesak itu terus saja menghantuinya.

Cklek.

"Sunwoo?"

Kepala Sunwoo tertoleh, mendapati sosok bersurai blonde tengah menyembulkan kepalanya. "Eric? Ah, maafkan aku membangunkanmu."

Eric membuka pintu kamar Sunwoo lebih lebar. "Nggak apa-apa, kebetulan Eric tadi kebangun gara-gara haus. By the way, Sunwoo baik-baik saja? Mau Eric panggilkan kak Hyunjae?"

"Tidak. Tidak usah, pasti kak Hyunjae sudah tidur di kamarnya dengan Hwall," balas Sunwoo serak. "Udah kamu tidur lagi aja, biar besok tante nggak kesusahan bangunin kamu."

Eric mengangguk, namun ia tiba-tiba malah melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mendekati Sunwoo yang terduduk di kasur, kemudian memeluk tubuh saudarannya itu dengan erat.

"Sunwoo pasti kangen sama kak Haknyeon, ya?" Suara Eric memelan. "Besok Eric temenin ke tempat peristirahatannya, gimana? Lagipula Sunwoo udah hampir satu tahun gak berkunjung 'kan?"

Mendengarnya, pemuda Kim itu mengulum senyum tipis, tangannya bergerak untuk membalas pelukan Eric. Eric mengusap punggung Sunwoo, menepuk-nepuknya sesekali.

"Udah jangan nangis, cengen banget," ejek Eric tiba-tiba. "Eric ditinggal kak Juyeon nikah duluan aja gak nangis terus kayak Sunwoo."

Langsung saja pemuda Sohn itu mendapat pukulan di lengannya. "Beda, ya, Ric. Aku ditinggal mati, gak bisa ketemu mau kapan pun juga. Kalau kamu 'kan cuman ditinggal nikah!" Bibir tebal Sunwoo mengerucut, membuat Eric malah terkekeh geli.

"Iya, iya. Maafin Eric. Udah, ya, sekarang tidur lagi. Besok pagi baru Sunwoo bisa ketemu lagi sama kak Haknyeon," ujar Eric, melepaskan pelukannya.

Sunwoo menarik kedua sudut bibirnya. "Siap, sepupuku."



***
30 Juni, 2020

hm . . . . agak gak nyambung sama judulnya ya. . .

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top