3. Penjara Emas

A Frozen Flower

Story © zhaErza

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

BAB III

Penjara Emas

Lelah hati dan ragawi, Sakura kini berada di dalam kereta selama berhari-hari dengan hanya diberikan makan dan minuman seadanya. Gadis-gadis yang bersamanya seperti nyaris gila, ingin musnah dari dunia fana, tetapi tidak menemukan jalan selain kehampaan. Mereka sekarang entah dibawa ke mana, ke sarang musuh dan akan segera mendapatkan penyiksaan atau diberlakukan sebagai budak. Dalam tangis, para tahanan hanya menundukkan kepala.

Tidak tahu harus melakukan apa, kelelahan luar biasa membuat Sakura tidak sadarkan diri. Rasa pusing menghampiri karena gemelut hati, kekurangan nutrisi memperparah semua yang terjadi.

Sore kesesokan hari, ia sadarkan diri dan berada di sebuah kamar mewah yang membuat matanya langsung terhenyak. Pakaian yang dikenakan berbahan sutra, menatap sekitar, Sakura merasa bahwa dirinya masih terperangkap di dalam mimpi, atau mungkin inilah yang dinamakan penjara emas.

Beberapa pelayan datang, memberikan makanan dan minuman yang begitu terlihat lezat. Hanya berdiam diri, Sakura memutuskan untuk tidak menyentuh semua yang ada di hadapannya. Ia masih mengutuk orang-orang biadab yang membawa ke tempat ini, teringat akan hal itu membuat Sakura panik bukan main. Kenapa ia berada di ruangan seperti ini? Apakah ia akan ditumbalkan atau semacamnya? Mengingat, tidak mungkin tahanan diperlakukan bak tamu agung dengan kemewahan yang disajikan.

Di tengah kepanikan, ketukan pintu terdengar. Mendapati hal itu, Sakura hanya terkaku dengan tubuh gemetar, dan beberapa saat kemudian seorang gadis masuk diiringi dayang-dayang dan seorang yang ia perkirakan adalah penjaga.

Sang gadis sepertinya adalah putri dari negeri ini, entahlah karena Sakura tidak mau peduli dengan hal itu.

Rambut gelap gadis itu lurus dan panjang, menatap wajahnya membuat kemarahan tercetak jelas di wajah Sakura, sebab wajah itu begitu mirip dengan salah satu dari pasukan bajingan yang teramat ia benci saat ini.

"Nona Sakura," ucap gadis itu, dan membuat Sakura tersentak, bertanya-tanya dari mana mereka tahu namanya.

Bola mata unik yang untuk kedua kali baru Sakura temui, tengah menatapnya dengan pandangan syukur. Namun, alis mata indigo pun mengerut menyaksikan amarah terpendam Sakura.

"Syukurlah, Sakura, kau tidak apa-apa." Telapak tangan sang gadis menyentuh punggung tangan Sakura, untuk menggenggam dan menguatkan, tetapi ia menarik diri. "Ah, tidak apa-apa. Aku adalah Hinata. Aku tidak akan menyakitimu, Sakura." Gadis itu berucap seolah mereka telah saling mengenal dan dekat.

Sama sekali tidak mengindahkan, Sakura masih menatap Hinata dengan mata membesar menahan amarah.

"Kumohon, tinggalkan aku sendiri." Sakura berbisik, ia teramat kebingungan dengan semua yang terjadi.

Apa-apaan semua ini?

Kenapa tiba-tiba dia datang dan mengatakan hal demikian. Padahal dengan teramat kejam, laki-laki biadab dan pasukan itu telah menghancurkan desa dan menyakiti suaminya.

"Kubilang tinggalkan aku sendiri!" teriak Sakura, gadis itu menangis dan meremas rambut yang sekarang pendek di atas bahu.

Menyaksikan hal itu, Hinata bergetar, menatap khawatir atas apa yang terjadi kepada gadis di hadapannya ini. Ingin menjelaskan sesuatu, kemudian salah satu bawahan yang bertugas menjaga sang putri memperingati.

"Mohon ampun, Putri Mahkota Hinata. Namun, kita hanya memiliki sedikit waktu sebelum Pangeran Sasuke datang. Sebaiknya di lain waktu dan atas izin dari Pangeran." Laki-laki yang memakai pakaian pengawal itu menasihati Putri Mahkota sambil bersujud, gadis yang sebentar lagi akan menikah dengan Putra Mahkota dari Kerajaan Uzumaki itu mengangguk mengerti.

"Aku... aku permisi, Sakura. Kita akan bertemu lagi nantinya." Hinata tersenyum tulus, menatap mata Sakura yang masih menyisakan rasa takut, kesedihan dan juga benci. Tidak mengapa, baginya Sakura telah berada di istana ini saja adalah berkah terindah dari sang Dewa.

Putri Mahkota pun berjalan cepat, mencari sang Kakak sepupu yang berasal dari Kerajaan Uchiha ke penjuru istana Hyuuga, pasti sedang berada di ruangan sang Raja dan sedang membicarakan keberhasilan misi atau semacamnya. Membuka pintu, yang berada di sana hanyalah sang Ayahanda, tidak ada tanda-tanda keberadaan dari laki-laki berusia tiga puluh tahun itu.

"Di mana Pangeran Sasuke, Ayahanda?"

"Kenapa kau mencarinya, Putri Mahkota Hinata?"

"Ini tentang Sakura, kenapa dirinya menjadi seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Lelaki berumur paruh baya bernama Hiashi terlihat menghela napas, menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa hal ini seutuhnya akan diserahkan kepada Sasuke. Baik dirinya atau Hinata tidak perlu ikut campur atas apa yang telah dilakukan sepupu jauh Hinata.

Walau telah mendengar penjelasan ayahnya, tetapi hati Hinata tetap gundah. Memikirkan perasaan Sakura, memang gadis it tidak mengetahui apa penyebab dari semua ini. Namun, mereka semua tahu. Lima tahun lalu, semuanya berawal dan membuat mereka benar-benar terpecah belah.

Kini, Sakura telah kembali. Gadis itu pun datang dengan kebencian di hati, Hinata berharap kehadiran Sakura tidak membuat permasalahan semakin pelik antara Kerajaan Hyuuga, Kerajaan Uchiha, dan Kerajaan Sabaku, apalagi setahun belakangan hubungan mereka semua telah membaik karena dirinya akan menikah dengan Uzumaki Naruto yang adalah putra mahkota.

"Sakura." Ia berbisik, bagaimana ikatan takdir ini akan berjalan nantinya. Hinata tidak tahu, yang jelas ia selalu berdoa kepada Dewa agar mereka semua baik-baik saja.

.

.

.

Seorang lelaki masih berada di ruangan pribadi, di atas ranjang dengan selimut tebal, ia akhirnya mengedipkan mata dan menatap langit-langit ruangan. Merasakan dirinya sudah lebih baik setelah beristirahat total selama beberapa hari, Uchiha Sasuke pun membangkitkan tubuh untuk duduk.

Pertarungan dengan Sabaku Gaara membuatnya mengalami beberapa luka cukup fatal, pedang lelaki itu berhasil merobek perut dan membolongi dada kanannya. Beberapa saat mengingat hal tersebut, tiba-tiba teriakan pengawal yang berjaga terdengar, di balik tirai bambu yang berfungsi untuk membatasi privasi sang Pangeran, kini terlihat seorang pengawal yang datang dan langsung bersujud. Sasuke pun mengatakan agar sang hamba menegakkan tubuh dan lekas berbicara.

"Maafkan hamba, Pangeran Sasuke. Namun, Nona Sakura terus saja memberontak dan berteriak-teriak."

Mengembuskan napas, lelaki yang baru saja bangun dari tidur pun menganggukkan kepala. Hal ini memang sudah ia perkirakan, bahwa Sakura tidak akan menyerah begitu saja. Mengambil pakaian dan memakainya, Sasuke lantas berdiri. Ia melihat sang Pengawal yang datang dengan membungkukkan diri sambil menyibakkan tirai bambu dan keluar dari ruangan.

Menuju sebuah kamar yang menjadi tempat Sakura dikurung, dari jarak cukup jauh saja, ia sudah bisa mendengar teriakan dan beberapa barang yang dihancurkan. Berwajah datar, Sasuke lantas menyerukan agar semua yang bertugas jaga untuk pergi dari tempat ini, sebab ia akan membicarakan hal cukup penting.

Ketika pintu dibuka, Sakura langsung menghentikan teriakan, menolehkan kepala dan mendapati kehadiran sang lelaki, kontan saja ia menatap murka sosok yang ia tahu adalah sang pemimpin pasukan tentara.

Sakura berlari, mencoba menerobos Sasuke yang sedang kembali mengunci pintu.

"Menyingkir! Keluarkan aku, Biadab!" Berusaha keras, tetapi semua yang ia lakukan tak berpengaruh.

Menggedor-gedor pintu kembali, Sakura tidak peduli dengan kehadiran lelaki tersebut, sebab prioritas utamanya adalah keluar dari tempat ini.

"Aku akan mengatakan beberapa hal," ucapan Sasuke terhenti karena sedari tadi Sakura berteriak, lelaki itu tidak tahu bagaimana bisa pita suara tersebut masih bekerja setelah mengeluarkan umpatan begitu keras.

"Dengar—"

"Berengsek! Keluarkan aku, aku akan membakar kalian semua hidup-hidup, SIALAN!"

Masih tidak mendapatkan reaksi dari luar sana, Sakura berteriak lagi. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya berbalik karena Sasuke mencengkeram lengan atas Sakura dan menarik mendekat agar ia menghadap wajah sang pangeran.

Sakura tersentak, terbelalak sebentar karena Sasuke mendesak tubuhnya, kemudian kemarahan membara-bara kembali menguasai diri.

"Lepaskan aku! Jangan seenaknya menyentuhku!"

Sakura berontak, menampar pipi sepucat salju sang lelaki.

Walau Sasuke tidak terlihat mengeluarkan ekspresi, tetapi ini adalah kali pertama sang Pangeran dari Kerajaan Uchiha mendapatkan tamparan di pipi, dan semua itu disebabkan oleh seorang gadis yang berdiri tepat dihadapannya. Padahal sudah pasti tidak ada yang berani berbuat seperti ini kepada Sasuke, mereka semua begitu hormat dan takut kepada sisoknya.

Merasakan cengkeraman lelaki itu terlepas, Sakura mengambil kesempatan dan berjalan menjauh, mendekati jendela dan sekali lagi mencoba membuka dengan sesuatu, walau mungkin semua itu tidaklah berguna.

Menolehkan kepala, Sasuke menatap dingin Sakura karena gadis itu benar-benar tidak memedulikan dirinya.

"Dengar! Aku ke tempat ini karena akan menjelaskan sesuatu kepadamu."

Suara gedoran dan barang-barang yang dihancurkan masih mendominasi, Sakura berusaha melemparkan vas bunga untuk menghancurkan jendela, tetapi setelah melakukan itu tidak ada yang berhasil juga. Ia tidak tahu sekuat apa bangunan ini, hingga begitu sulit untuk diterobos.

Mencari sesuatu, Sakura membalikkan tubuh. Namun, bola mata gadis itu terbelalak, dan tubuhnya langsung bergetar ketika ia melihat mata pedang melayang dan menancap tepat di dinding di samping kepala Sakura. Nyaris saja, satu senti lebih dekat, maka habislah ia. Sakura jatuh merosot, pucat pasi, dan merasakan tubuhnya sendiri menggigil.

Suara langkah terdengar, setelah berdiri di hadapan Sakura yang terduduk lemas, Sasuke menjongkokkan tubuh dengan menaruh sebelah lutut sebagai tumpuan. Rambutnya yang panjang dan hitam kini tergerai hingga menyentuh lantai.

"Apa kau benar-benar mengabaikanku?" sang lelaki menatap Sakura yang kini menundukkan kepala, ketika sadar dari rasa ketakutannya, gadis itu pun langsung memiringkan kepala seolah menghindari tatapan Sasuke.

Tercekat, Sakura langsung menatap wajah dingin rupawan itu dengan mata yang membeliak marah karena terpaksa. Kulit kepalanya teramat sakit karena sekarang lengan Sasuke tengah menjambak rambut merah muda dan menegakkan kepala Sakura sehingga mereka saling bertatapan.

"Tidakkah begini lebih baik?"

Masih tidak ada jawaban, Sasuke sekarang menatap intens wajah Sakura yang terlihat memandangnya dengan sorot begitu membenci, seolah ia adalah makhluk paling hina di negeri ini. Tersenyum tipis, Sasuke pun kembali menyuarakan pemikiran.

"Akulah yang telah membunuh Sabaku no Gaara," lelaki itu menikmati raut wajah Sakura yang campur aduk antara sedih, murka, hancur, dan begitu sulit ia deskripsikan. Kembali tersenyum tipis, Sasuke melanjutkan perkataannya, "ya, akulah yang telah menghancurkan kepala suamimu dan mengirimnya ke alam baka. Semua itu setimpal dengan pengorbanan nyawa penduduk desa."

Sontak Sakura langsung meludahi wajah Uchiha Sasuke.

.

.

.

Bersambung

Halooo semuaaaa.

A Frozen Flower sudah lanjut nih yang versi sasusaku, jangan lupa berikan vote dan komentar ya agar saya lebih semangat untuk mengedit. Kesel banget tulisan tahun 2018 eh, banyak banget dekspiri yang jelek huhu. Tapi gak kuat ngedit semuanya. 

Ok, sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Salam sayang dari istri Itachi,
zhaErza

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top