Batch 5, Taruhan
Sejak kecil aku memang tidak pernah jago yang namanya olahraga. Karena itulah dari dulu saat pelajaran olahraga aku sering duduk-duduk saja di pinggir lapangan sambil melihat teman-teman ku yang lain bermain. Bukanya aku tidak suka olahraga, aku justru sangat antusias jika ada acara olahraga di tv. Hanya saja mereka tidak ada yang mau mengajaku.
Fisik yang terlampau kurus serta bakat yang di bawah rata-rata menjadi sebab utama aku selalu di kucilkan saat pelajaran olahraga. Kata mereka aku lebih pantas menjadi kutu buku dibandingkan atlet. Dan mau tidak mau aku harus setuju dengan mereka. Sebab fakta telah bicara. Jika dibandingkan dengan nilai mata pelajaran yang lain yang cenderung tinggi, justru nilai mata pelajaran olahraga selalu mengalami remidi.
Sama seperti yang terjadi hari ini. Sementara teman-teman ku yang lain sedang asyik bermain bola, aku hanya duduk menonton di pinggir lapangan. Ironisnya hanya aku sendiri anak laki-laki yang tak ikut main bola. Karena tak ada teman yang dapat diajak ngobrol aku merasa seperti bolang saja alias bocah hilang. Tengok kanan tengok kiri persis orang kurang kerjaan. Tapi semua itu berubah tatkala sebuah bola sepak tiba-tiba mengenai mukaku. Terasa Panas dan perih.
"Buroq kau tak apa kan?" tanya Andis yang berlari menghampiri. Aku mengangguk. Tapi kemudian aku merasakan cairan kental keluar dari hidungku.
"Roq kau mimisan," kata Andis. Aku mengusap hidungku mengunakan telapak tangan. Dan benar aku mimisan. Soalnya ada bercak merah di telapak tanganku. Lalu kepalaku berkunang-kunang. Sampai akhirnya hanya gelap dan sunyi yang aku rasa.
Perlahan aku membuka mata. Dan kudapati diriku tengah berbaring di sebuah tempat tidur. Aku rasa sekarang aku berada di ruang UKS . Darah yang tadi sempat keluar dari hidungku sekarang juga sudah berhenti. Aku bangkit dari tidurku untuk sekedar duduk di ranjang.
"Oh kau sudah rupanya, syukurlah," ucap laki-laki jangkung yang baru saja masuk. Namanya Nizam Ar-Rasyid temanku sebangku.
"Ya begitulah," sahutku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menduduki kursi plastik yang ada di samping ranjang ku. Aku mengangguk.
"Roq aku benar-benar minta maaf, soalnya bola yang aku tendang mengenaimu. Sungguh aku benar-benar tidak sengaja," ucap Nizam sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Tak usah dipikirkan itu bukan masalah besar kok," kataku.
"Terima kasih tapi aku tetap merasa bersalah denganmu. Karena itulah untuk menebus rasa bersalah ku aku akan traktir makan siomay," ucap Nizam.
"Tidak usah repot-repot Zaman," inginku mengucapkan itu tapi Nizam keburu pergi terlebih dahulu.
"Kau tunggu di sini saja biar aku bawa kemari sekalian sama minumnya," katanya sebelum ia pergi tadi. Fiuhhhhh.... Aku menghela nafas panjang. Lalu kembali berbaring di ranjang. Aku baru sadar jika di sini begitu sepi. Karena hanya ada aku seorang. Saat melihat jam di dinding waktu telah menunjukkan pukul 10.15. Itu artinya sekarang ini sudah masuk jam istirahat.
Groookkkk... Zzzzzzz.....
Groookkkk.. zzzzzzz....
Groookkkk... Zzzzzzz....
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti orang mendengkur dari bilik di samping ku. Rupanya aku tidak sendirian di UKS. Ada seseorang yang sepertinya sedang tidur nyenyak di bilik samping kiriku. Aku tidak dapat melihat wajah orang itu karena ada semacam sekat berupa tirai bewarna hijau yang menjadi pemisah antar bilik. Aku bukanlah orang yang mudah penasaran. Jadi kuabaikan saja orang itu. Aku lebih memilih untuk segera kembali ke kelas untuk berganti pakaian.
Namun tatkala aku baru saja turun dari ranjang, masuklah Reina.
"Mau kemana? Kamu kan baru sadar kalau pingsan lagi bisa repot," tanyanya sedikit ketus.
"E... Aku sudah tidak apa-apa kok tenang saja," kataku kaku.
"Oh ya sudah kalau begitu, aku tidak tanggung lho jika kamu pingsan lagi," setelah berkata demikian ia mengabaikan ku dan beralih ke kotak obat-obatan yang ada di sudut ruangan.
"Ka... Kamu sendiri kenapa ada di sini?" tanyaku ganti. Reina tampak menghela nafas kasar.
"Aku sedikit merasa pusing makanya aku mencari obat pereda, jadi kamu jangan geer kalau aku ke sini mau mejengukmu," jawabnya.
Hey.... Aku heran kenapa ia bisa berpikir seperti itu. Padahal aku sama sekali tidak pernah berpikiran demikian. Aku tadi hanya basa basi saja selayaknya seorang teman sekelas. Tapi justru ia menganggap aneh-aneh.
"Reina kamu di sini rupanya," kini seorang laki-laki yang memiliki perawakan tinggi serta wajah tampan bag pemain sinetron yang aku lupa namanya masuk. Aku tidak tahu siapa laki-laki itu. Tapi yang jelas ia ke sini mencari Reina bukan aku.
Reina yang tadi sibuk mencari obat di kotak obat menghentikan aktivitas nya sejenak lalu berbalik menghadap laki-laki yang baru saja datang.
"Kak Nando cukup jangan ikuti aku lagi," kata Reina pada laki-laki yang ternyata bernama Nando itu.
"Maaf Reina aku tidak bisa sampai kamu menerima cintaku," sahut Nando santai.
Reina menghela nafas kasar.
"Sudah kubilang berapa kali Kak kalau aku tidak bisa menerima Kakak, mending Kakak cari yang lain yang lebih cantik dan baik dari aku," kata Reina panjang lebar.
"Aku juga sudah bilang kalau aku tidak akan menyerahkan untuk mendapatkan mu," balas Nando tak mau kalah.
Eh... Melihat mereka berdua rasanya aku seperti sedang menonton sinetron secara live. Penuh drama dan air mata. Bukan, tidak ada air mata cuma drama.
"Kalau aku bilang aku sudah punya pacar, apa Kakak masih tidak mau menyerah?" tanya Reina bernada sarkas. Nando tersenyum miring.
"Oh sungguh? Aku tidak percaya, memangnya siapa laki-laki beruntung itu? Aku ingin sekali bertemu dengannya," kata Nando bernada mengejek.
Nampaknya kata-kata Nando barusan benar-benar telak. Reina terlihat begitu kebingungan. Bahkan sepatah katapun belum keluar dari mulut Reina lagi.
"Reina, Reina kamu tidak bisa membohongiku aku tahu jika kamu tidak punya pacar," ucap Nando sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
"Aku tidak bohong kok, aku punya pacar," kukuh Reina.
"Terus mana dia? Aku ingin bertemu dengannya," tantang Nando. Reina terlihat semakin kebingungan. Keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori kulitnya.
"Bukanya Kakak sudah bertemu dengannya di ruangan ini," jawab Reina kemudian. Nando menautkan kedua alisnya.
"Maksudmu? Jangan-jangan. ..," bukanya meneruskan kalimatnya, Nando justru menoleh ke arahku yang masih setia berdiri di samping ranjang sambil menonton drama mereka tadi. Nando memiringkan bibirnya.
"Kau pasti bohong, tidak mungkin dia pacarmu," kata Nando setelah kembali menoleh ke Reina.
"Aku tidak bohong kok, dia memang pacarku," tegas Reina sambil mengarahkan pandangan serta telunjuknya padaku.
Hah.......!? tunggu dulu apa artinya itu tadi. Kenapa Reina mengaku-ngaku kalau dia pacarku. Aku paham kalau ia tidak mau dengan laki-laki yang ia panggil Kak Nando itu. Tapi tidak perlu menyeret namaku juga. Aku di sini cuma penonton serta tidak ada niat untuk ikut ke drama mereka berdua.
Tapi sepertinya Nando telah termakan omongan Reina. Mukanya yang sedari tadi terlihat tenang kini berubah jadi sangar. Kemudian ia berjalan mendekatiku. Aku menelan ludah kasar. Ini gawat.
"Tidak masalah aku tinggal memintanya untuk memutuskan mu," ucap Nando sambil menarik kerah bajuku.
"Cepat putuskan Reina sekarang juga!" titahnya.
Putus? Pacaran saja tidak. Ingin aku mengatakan itu sekaligus meluruskan permasalahan ini. Tapi entah kenapa setiap keadaan seperti ini lidahku selalu kelu.
"Cepat putuskan Reina!" titahnya lagi.
"E.....to... Em.... Anu..... Itu....," aku justru meracau tidak jelas.
Reina sepertinya juga tidak menduga reaksi Nando akan seperti ini. Mukanya terlihat begitu panik.
"Kak Nando sudah cukup Kak hentikan!" bentak Reina. Namun sama sekali tidak digubris oleh Nando.
"Sudah Kak hentikan!" bentak Reina lagi kali ini sambil menarik salah satu lengan Nando yang mengunci kerahku. Sayangnya itu percuma saja Nando sama sekali tak bergeming.
"Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum ia memutuskan mu," kukuh Nando.
"Aku dan Reina tidak ada hubungan apa-apa jadi kenapa harus putus," sumpah aku ingin sekali mengatakan itu jika saja lidahku tidak begitu kaku karena takut.
Sreeeeeet...... Tiba-tiba tirai hijau yang ada di samping biliku terbuka. Dan menampakkan sosok penghuni bilik sebelah.
"Yo, kalian berisik sekali sampai menganggu tidurku," kata orang itu.
"Sena kenapa kau ada di sini?" tanya Nando pada orang itu yang tak lain adalah Kak Sena.
"Kau tak perlu tahu alasan ku di sini," jawab kak Sena santai.
"Aku mendengar semua lho permasalahan kalian. Jadi kalau boleh usul bagaimana kalau kalian selesaikan dengan balapan," lanjut Kak Sena.
********----
Finish time
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top