Bab 2
Sudah setahun lamanya Hujan berada di dunia yang sama sekali berbeda dari Central. Selama di dunia ini, dia menyamar sebagai murid di salah satu sekolah yang dikelola langsung oleh Soran. Terdapat banyak cerita yang bisa dia ceritakan di sini. Namun, sebagai elf remaja Hujan tentu saja dipenuhi dengan angan-angan romantic, kisah cinta picisan antar anak sekolahan. Jadi, selama satu tahun dia hanya sibuk mendengarkan gosip dari para gadis tentang orang-orang yang mereka cintai.
Cinta. Kata orang, jatuh cinta itu sejuta rasanya. Bumi seolah berhenti berputar. Begitu pula dengan waktu yang berhenti bergerak.
Itulah yang sekarang Rousenna rasakan, teman sebangku Hujan. Bibirnya yang senantiasa melengkungkan senyuman manis semakin merekah. Auranya yang riang pun terlihat semakin meriah. Andaikata perasaan bisa memunculkan efek empunya, sudah dipastikan ada bunga dan love yang bertebaran di sekitar Rousenna.
"Auramu bisa-bisa membuat kelas kita penuh dengan bunga bermekaran, Rousenna!" Hujan menangkupkan tangan ketika dia melihat Rousenna yang semakin riang setiap harinya. Tentu saja, Rousenna mengabaikan Hujan.
Remaja kelas satu SMA itu mendekati teman sekelasnya yang sedang sibuk bersenandung ria, melantunkan berbagai lagu-lagu jatuh cinta yang berganti setiap waktu. Tanpa sadar senyuman jahil Hujan merekah. Dia melingkarkan tangannya pada pundak kecil Rousenna yang masih sibuk dengan dunianya.
Rousenna seketika itu juga tersentak. Sedari Hujan memanggilnya tadi, Rousenna sama sekali tidak mendengarkan. Dia terlalu larut dalam lamunannya yang penuh dengan hal-hal manis ala percintaan anak muda. Sebuah mimpi kencan di kafe dekat sekolah atau bertukar es krim di taman kota.
"Ah, Hujan. Kamu mengagetkanku. Kenapa kau tidak memanggilku daripada tiba-tiba muncul seperti hantu begini?" tanya Rousenna sedikit kesal, tanpa sadar dialah yang tidak mendengarkan Hujan dari awalnya.
Rousenna yang kala itu tengah menangkupkan wajahnya bangkit. Dia menggeser posisi duduk agar Hujan kini bisa ikut duduk di kursinya. Tidak terlalu banyak, tidak pula terlalu sedikit, cukup bagi dua orang itu bisa duduk bersama untuk sementara.
Dengan senang hati Hujan mengikuti keinginan Rousenna. Dia duduk di samping teman sekelasnya. Ingin Hujan langsung bergosip, tetapi bingung harus memulai dari mana. Hingga hidung remaja itu menangkap aroma manis vanila. Netra Hujan berkelana, kemudian terpaku pada kertas surat kosong dan amplop yang sudah dihias.
"Hei, hari ini kau mendapat surat cinta lagi?" tanya Hujan menggoda.
Rousenna tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepalanya. Dia menutup kedua wajahnya yang mulai bersemu merah dengan kedua tangan. Tingkahnya membuat Hujan semakin penasaran dan ingin menjahilinya.
"Beritahu aku, apa isi suratnya sampai kau semalu itu? Ayo beritahu aku! Aku sangat penasaran sampai rasanya tidak bisa tidur setiap malam!" seru Hujan bersemangat.
Setiap hari dia akan merengek pada Soran untuk melakukan sihrinya mengintip rumah Rousenna. Dia akan girang sendiri melihat Rousenna yang membaca surat-surat dari pengagum rahasia gadis itu, seolah dialah yang mendapatkan surat. Alhasil, Hujan harus tidur menjadi sangat larut karena hobinya ini. Mungkin itulah alasan Hujan dapat menjadi penjelajah di usia yang begitu muda.
"Ha-hanya seperti biasa. Ti-tidak ada yang me-menarik, kok." Rousenna mengalihkan pandangannya dari Hujan. Buru-buru dia mengambil kipas bambu miliknya dan mengipasi wajah yang bersemu merah.
Hujan tidak percaya. Anak kecil pun tidak akan percaya dengan kata-kata Rousenna setelah melihat langsung reaksi gadis itu. Dengan cepat Hujan mencari-cari surat yang dimaksud di antara tumpukan buku Rousenna. Sedangkan Rousenna yang sedang malu-malu kucing hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kipas.
"Ketemu!" Hujan bersorak begitu menemukan kertas surat yang dimaksud.
Satu kelas refleks melihat ke arah mereka berdua, tetapi Hujan buru-buru mengibaskan tangannya pada mereka, pertanda tidak terjadi apa-apa. Hujan membuka kertas surat berwarna abu-abu di tangannya.
Dengan bergumam, Hujan mulai membaca surat itu. Dia pastikan hanya Rousenna yang kini dapat mendengar suaranya.
"Rousenna, Rousennaku yang manis, rembulan yang menyinari malam-malamku serta mentari yang menerangi siangku, apa kabarmu hari ini? Aku harap selalu baik, tidak peduli apakah itu jiwa maupun ragamu. Rousennaku yang manis, bagaimana rasa kue yang kubelikan kemarin? Apakah itu cocok dengan seleramu? Kuharap kau menyukainya. Namun, kurangilah makan makanan manis. Bukan apa-apa, aku hanya khawatir kau semakin manis setiap waktunya. Yah, walau aku rela diabetes jika itu karena terlalu sering melihat wajah manismu. Untuk sekarang sampai di sini dulu. Kuharap bisa mendapat jawabanmu di istirahat kedua nanti. Dari penggemar rahasiamu, Merah Saga."
Wajah Rousenna semakin memerah ketika mendengar temannya membaca surat cinta tersebut. Hujan berusaha menahan tawa. Dia menyeka air mata karena usahanya itu. Hujan sama sekali tidak menduga isi gombalan yang semakin menjadi-jadi setiap harinya.
"A-aku bingung harus menulis apa untuk balasannya. Aku berencana membeli sesuatu untuk dirinya, tetapi semalam saudaraku melarangku keluar. Sekarang aku tidak enak jika hanya mengucapkan terima kasih. Tidak kuduga dia langsung membuat surat lagi karena menunggu balasanku," ujar Rousenna mencurahkan isi hatinya.
"Hmm, aku setuju. Pasti kau merasa sangat tidak enak hanya membalas suratnya tanpa memberi apa pun. Padahal dia sudah membelikan kue yang beberapa hari ini selalu kau rengekkan. Belum lagi dengan hadiah-hadiah lain yang pernah dia berikan padamu. Bagaimana jika begini? Kau ajak dia ketemuan sepulang sekolah? Apakah kau tidak penasaran siapa Merah Saga ini? Dia sudah menulis surat untukmu sejak masa orientasi, mengatakan dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama," saran Hujan.
Rousenna tersenyum cerah. Dia langsung menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Hujan. Jika ditanya, tentu saja Rousenna sangat penasaran. Akan tetapi, dia selalu menahan diri selama beberapa bulan ini karena tidak berani mengajak penggemar rahasianya bertemu.
Remaja itu mengambil pulpen, kemudian mulai menorehkan kata-kata di atas kertas surat yang telah penuh hiasan. Hujan yang tidak ingin mengganggu temannya memilih pergi dari sana. Toh dengan Rousenna yang sangat tenggelam dalam suratnya, tidak mungkin bisa diganggu sekarang.
Ingin dia tetap menunggu, tetapi Rousenna tahu tidak ada gunanya. Orang yang mengirimi dia surat selalu memastikan Rousenna tidak ada ketika dia mengambil surat itu. Jadi lebih baik Rousenna sekarang ke kelas Rowan di tingkat tiga untuk mengabari saudaranya sesuatu.
"Kau menyuruhku pulang duluan?" Rowan mengernyit mendengar permintaan aneh sang adik. "Kenapa aku harus pulang lebih dulu?" tanyanya lebih lanjut.
"E-eh, a-anu, i-itu, a-adikmu hari ini ada urusan sekolah dengan teman. Po-Pokoknya jangan salahkan Rousenna kalau Kakak harus menunggu terlalu lama!" selesai berkata seperti itu, Rousenna buru-buru kembali ke kelas, meninggalkan Rowan yang dipenuhi tanda tanya.
****
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top