handmade
a/n: requested by sayoruene , also PERTAMA KALI NULIS PAKE BAHASA INDONESIA DAN NULIS WRATH, PATIENCE, DAN KIANA MAAF KALO OUT OF CHARACTER IM SOBBING IM SO NERVOUS, also sebagai seseorang yang ngeship wrath x kiana nulis ini agak bikin bingung
-
"Gak, pokoknya kamu ga boleh beli domba."
"Ke-kenapa?"
"Ga boleh aja."
"Ta-tapi kan ini boneka, bu-bukan domba beneran?"
"Pokoknya ga boleh."
"Tapi bonekaku yang lama te-terbakar."
"Ya, aku tau, tapi jangan boneka yang ini."
Itu sepotong percakapan yang terdengar di antara kedua roh besar yang bernama Wrath dan Patience.
Mereka sedang berada di pasar malam yang meriah. Lampu warna-warni menerangi malam yang gelap tak bercahaya bulan. Bianglala yang tinggi memancarkan cahaya terang.
Sementara di bawah bianglala, di stand permainan, berdirilah kedua rival tersebut. Patience sedang menunjuk ke sebuah boneka domba kecil yang mirip dengan wujud kecilnya, namun Wrath terus-terusan menggelengkan kepalanya.
Sang penjaga stand menyadari percakapan mereka berdua, dan ia menghampiri meja depan. "Adik manis mau beli boneka?" tanya si penjual. "Untuk anak perempuan, yang itu bagus," katanya sambil menunjuk boneka kelinci merah muda terang yang lebih tinggi dari pada Patience.
Wrath melemparkan pandangan singkat pada boneka tersebut. "Kalo mau yang itu, beli sendiri." katanya dengan netral.
Akhirnya Patience menyerah dan berjalan ke stand lain, lalu hal yang sama terulang kembali sampai akhirnya Kiana turun dari bianglala.
"Hei, ada apa ini?" tanya Kiana yang melihat kedua rival tersebut bertengkar.
Yah, mereka tidak bertengkar. Patience seharusnya tidak bisa marah ataupun kesal. Lebih tepatnya, mereka sedang berdebat.
Patience yang melihat saint-nya itu langsung menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Saat ceritanya selesai, Kiana melihat Wrath sekilas, dan ia langsung tahu kenapa Wrath tidak mau membelikan Patience boneka baru. (walaupun yang membakar bonekanya Wrath, ide mengganti boneka itu milik Kiana)
"Sebaiknya kita pulang saja," ujar Kiana. "Toh ini sudah malam, dan jika Wrath tidak mau mengganti bonekamu di sini, mungkin ia sudah tahu dimana ia bisa membeli yang lebih bagus."
Patience, karena ia sang kesabaran, menurut dan ikut Wrath serta Kiana pulang. Sesampainya di rumah. Patience langsung menaiki tangga ke kamarnya. Walaupun ia seharusnya tidak bisa marah, ia bisa merasa kecewa.
Kiana menyadari perasaan Patience. Ia keluar rumah untuk mencari Wrath. Ternyata, Wrath sedang berada di kandang kuda.
Ia dengan lembut menyentuh bahu Wrath yang sedang menyikati rambut salah seekor kuda. "Kapan mau dikasih?" tanya Kiana.
Wrath menegang karena terkejut, namun ia segera rileks ketika ia sadar bahwa orang yang mengajaknya bicara adalah Kiana.
"Entahlah," jawab Wrath singkat.
Kiana menghela napas. "Nanti Patience keburu kesal, lho."
"Memangnya ia bisa kesal?"
"Wrath bisa sabar, kan?"
"...Iya, sih."
Kiana tersenyum. "Aku yakin bonekamu itu sudah sempurna. Lagi pula, kalau begini, dosa besar Greed tidak akan bisa melacak barang apa saja yang Wrath beli, kan?"
Ada keheningan selama beberapa menit sampai akhirnya Wrath menjawab Kiana.
"Seharusnya ia tidak bisa."
"Berikan bonekamu pada Patience," kata Kiana lagi.
Wrath meletakkan sikat rambut si kuda di raknya, lalu mengangguk singkat.
Masih tersenyum meyakinkan, Kiana berjalan keluar lewat pintu samping yang menghubungkan kandang kuda ke dapur.
Setelah beberapa lama berpikir, Wrath mengikuti Kiana keluar dari kandang dan masuk ke dalam.
Ia naik dan masuk ke kamar kosong yang dipinjamkan kepadanya, mengambil tas punggungnya yang ia simpan dibawah ranjang, dan mengeluarkan sebuah boneka.
Boneka tersebut jahitannya berantakan, matanya berbeda warna dan ukuran, namun terlihat jelas sekali bahwa boneka itu adalah boneka wujud kecil Patience.
Di tangan Wrath, boneka itu terlihat kecil, namun Kiana sudah meyakinkan Wrath bahwa untuk Patience, boneka tersebut akan pas di pelukannya.
Hanya ada satu bagian yang jahitannya rapi-bagian bulunya. Kiana membantu Wrath menjahitkan wolnya ketika sudah ada 3 jarum jahit yang patah.
Wrath menutup lagi tasnya dan membawa boneka itu bersamanya ke kamar Patience.
Ia mengetuk pintu kayu dengan papan berwarna merah muda pastel bertuliskan Payshie.
"Ma-masuk!" kata Patience dalam suaranya yang lebih tinggi dari biasanya, suara khasnya yang biasa keluar saat ia terkejut.
Wrath membuka pintunya secara perlahan-lahan. Patience mengangkat pandangannya dari buku bacaannya, dan expresinya berubah dari tenang ke terkejut. "Wrath?"
"Ya, aku, em," kata Wrath dengan gugup (walaupun ia tidak terlihat gugup sama sekali) sambil menunjukkan boneka buatannya. "Aku tadi tidak mau membelikanmu boneka karena Greed pernah melacak riwayat pembelianku waktu Kiana baru menemukanku, dan karena yang kubeli itu barang untuk Kiana semua, riwayatnya jadi aneh dan Greed, Gluttony, serta kak Envy jadi berpikir yang aneh-aneh maka aku membuat boneka ini, dibantu Kiana, maaf jahitannya berantakan."
Patience mendengarkan Wrath dengan terkejut, lalu ia tertawa kecil di akhir kalimat Wrath yang panjang. "Wrath tidak harus mengganti, kok," kata Patience, masih tertawa. "Aku cuma sedang bercanda."
"Sudahlah, ambil saja boneka ini," kata Wrath, meletakkan boneka buatannya di ranjang Patience. Ia berbalik dan berjalan ke arah pintu saat suara Patience menghentikannya.
"Terima kasih, Wrath," kata Patience dengan tulus.
Wrath membeku di tengah-tengah membuka pintu. Masih memunggungi rivalnya, ia menjawab.
"...Sama-sama."
Ia keluar dan menutup pintu Patience dengan perlahan.
"Jadi?" tanya Kiana yang sejak tadi sudah menunggu di luar.
"Tanya saja pada Patience."
"Ayolah, ceritakan!"
"Tidak mau."
a/n (2): it is my headcanon that wrath rambles when nervous
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top