๐‘บ๐’†๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘จ๐’“๐’›๐’‚๐’’ ๐‘ซ๐’Š๐’›๐’‰๐’˜๐’‚๐’“

------------------------
ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan tokoh, tempat ataupun cerita itu hanya kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan
.
.
.
๐“ข๐“ฎ๐“ต๐“ช๐“ถ๐“ช๐“ฝ ๐“ถ๐“ฎ๐“ถ๐“ซ๐“ช๐“ฌ๐“ช
------------------------

Tidak ada istilah pacaran dalam Islam, iya Islam, kepercayaan yang sedari lahir telah diyakini Zaqi sebagai satu-satunya jalan untuknya bertemu dengan Allah, Tuhan, serta surga yang telah Dia janjikan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa.

Percaya atau tidak, meski Zaqi bukan seorang anak ustaz terlebih anak seorang kiai namun ayah dan ibu Zaqi mendidiknyq dengan ajaran agama yang memang telah mereka yakini menjadi satu-satunya haq Allah atas hamba-Nya yang menghendaki mencium wanginya surga. Hingga pada suatu masa dia memutuskan untuk mengisi sebuah formulir untuk bisa menimba ilmu di negeri di mana agamanya bermuara, Madinah Al-Munawaroh.

Arzaq Dizhwar, kedua orang tuanya memberian nama sebagai lingkaran doa yang selalu dikumandangkan setiap waktu. Terlahir sebagai anak sulung dengan dua adik membuat Zaqi bertekad harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi mereka.

"Bang, yakin mau berangkat ke Madinah?" Suara Naura, adik bungsu yang selalu manja kepada Zaqi. Dia masih baru masuk aliyah. "Nanti kalau aku kesulitan belajar aku bertanya kepada siapa, Bang?"

MasyaAllah, gadis cantik itu seolah lupa kalau mereka terlahir 3 bersaudara, selain Zaqi dan Naura tentu masih ada Oomar Fravash, adik lelaki Zaqi yang juga menjadi kakak Naura. "Ada Bang Oomar, kan?"

"Ah nggak seru, Bang Oomar terlalu serius. Kalau aku nggak paham-paham nanti Bang Oomar nggak mau ngajari lagi. Kan aku jadi takut." Zaqi tertawa lirih melihat ekspresi yang ada di wajah Naura. Bibir manyun dan wajah tak bergairah itu menandakan bahwa adik kecilnya memang enggan ditinggal pergi jauh.

"Iya nanti Bang Zaqi bilang ke Bang Oomar untuk lebih sabar lagi sama adik cantik ini." Zaqi mencubit kedua pipi adiknya.

"Ah, pokoknya aku bakalan kangen banget sama Bang Zaqi." Naura Az Zahhir, mengerti bahwa dia satu-satunya anak perempuan sekaligus putri bungsu membuatnya selalu meminta perhatian lebih kepada seluruh anggota keluarga.

Oomar memang memiliki sifat yang tegas, jiwa kepemimpinannya begitu kentara dengan banyaknya kegiatan ekstra yang diikuti di sekolah. Bahkan karena auranya begitu kuat sebagai seorang pemimpin, teman-teman memberikan mandat sebagai ketua OSIS di sekolah mereka. Karena usia Zaqi dan Oomar hanya selisih satu tahun sehingga mereka hanya berbeda satu tingkat.

Berbeda dari Oomar yang selalu aktif, mudah bergaul, dekat dengan banyak guru di sekolah bahkan dia begitu digilai banyak gadis yang ingin merebut perhatiannya. Sedikit dari mereka yang mengetahui bahkan melirik keberadaan Zaqi atau sekedar tahu bahwa mereka berdua bersaudara. Zaqi tidak seaktif Oomar bahkan bisa dikatakan dia hanya dikenal antero sekolah saat pembagian rapor saja ketika namanya terpanggil sebagai salah satu murid yang masuk dalam penerima rangking paralel setingkat. Selebihnya mereka memang tidak mengenal Zaqi.

Zaqi menikmati dengan sifat introvertnya. Namun, sebagaimana remaja pria yang lain, dia pun juga memiliki ingin, ingin mengenal lawan jenis lebih lanjut meski kini sangatlah belum pantas untuk mengatakan hal itu. Bukankah sudah jelas dikatakan bahwa Islam tidak mengenal apa yang tersebut dalam istilah pacaran, no way.

Calla Vyandhinashini, jika hanya menyebutkan namanya saja yakinlah bahwa semua orang pasti menyangka dia bukanlah seorang muslimah. Nyatanya semua itu salah. Calla, siswa seangkatan Oomar ini justru mengenakan pakaian yang berbeda dengan teman-temannya yang lain. Jilbab yang dikenakannya pun tergolong jilbab model lama yang tidak modis, lebar, sangat menutup dan sebagian wajahnya tertutup oleh masker yang sering dia pakai setiap hari seolah ingin menutup apa yang nampak di wajahnya.

Banyak yang lebih cantik daripadanya, jelas. Namun terkadang cinta itu menyapa hati tanpa permisi. Aku mengenalnya saat kami terlibat dalam satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kami ternyata sama-sama menyukai fotografi dan di sinilah kami pada akhirnya berada. Sekretariat fotografi, mengadakan rapat guna persiapan kegiatan dies natalis sekolah. Dari peristiwa itu ribuan doa bahkan dengan sangat tidak sopannya aku menyelipkan namanya untuk kusebut dalam bait-bait doa yang ingin aku langitkan ke genggamannya.

"Selamat Bang Zaqi atas beasiswa prestasi ke Madinah. Semoga mendapatkan ilmu yang manfaat, istiqomah dalam menebar kebaikan dan tentunya bisa membagi apa yang telah didapatkan di sana sebagai tambahan ilmu untuk kami yang ada di sini."

"Aamiin," isyarat mata. Aku melihatnya sekilas ada binar bahagia yang nampak diatas sebuah ketidakrelaan saat aku mengucapkan selamat tinggal dan rasa terima kasihku telah menjadi keluarga fotografer di sekolah yang telah menempaku menjadi aku yang sekarang. "Semoga nanti kita diberikan kesempatan untuk bisa tetap bersilaturahmi."

Orang bilang wanita paling jago untuk menyembunyikan apa yang diinginkan di dalam hati. Namun mengapa seolah hatiku mengartikan yang lain saat dia mengucapkan kata terakhirnya sebelum kami benar-benar berpisah.

"Aku akan menunggu, Bang Zaqi."

Aku bukanlah pria yang sempurna. Bukan pria yang memiliki ketampanan sebagaimana nabi Yusuf alaihissalam, bukan pria penyabar sebagaimana nabi Ayub alaihissalam, bukan pria segagah nabi Ibrahim alaihissalam, terlebih aku bukanlah pria semulia nabi Muhammad sallallahualaihiwasallam. Aku hanya pria di akhir zaman yang berjanji untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih sabar lagi dan lebih dalam lagi mengenal dan memuliakan agamaku sebagai bukti taqwaku sebagai hamba-Nya.

'Aku akan menunggu,' tiga kata yang terangkum dalam satu kalimat dan terucap dari bibir Calla itu seolah menjadi cambuk bahwa aku memang harus memantaskan diriku bisa menemui orang tuanya untuk memintanya, menjadi imamnya, menjadikan dia sebagai pelengkap imanku serta melengkapkan separuh agamaku.

"Bang, Bang Zaqi kok melamun sih! Sebel deh dikacangin. Sedari tadi ngomong eh nggak taunya abang malah bengong senyam-senyum sendiri. Kirain notice apa yang adek ucapin ternyata. Dahlah, bete!" Astaghfirullah, aku baru tersadar bahwa kini aku sedang bersama si bungsu yang sedang manja kepadaku. Dia memang telah pergi setelah mode ngambeknya kepadaku barusan namun aku hanya bisa bergumam dan menggelengkan kepala. "Abangmu sedang jatuh cinta, Naura."

Kini aku sendiri di dalam kamar yang pastinya akan aku tinggalkan lama selama aku menimba ilmu di bumi Rasulullah. Melihat beberapa lembar foto yang teah aku arsipkan selama aku menjadi fotografer event sekolahku, beberapa diantaranya nampak foto Calla yang sedang berkegiatan. Aku menyimpannya dengan rapi dalam amplop yang akan ku bawa ke Madinah serta.

Allah, izinkanlah aku memintanya dalam setiap sujud munajahku kepada-Mu. Sebagaimana yang telah Engkau janjikan diantara tanda-tanda kuasaMu ialah Engkau menciptakan manusia berpasang-pasangan dari kesamaan jenis supaya kami menjadi lebih tentram dan menjadikannya diantara kami rasa penuh kasih sayang.

----------------------------------------๐Ÿšฒ๐Ÿšฒ

Blitar, 21 November 2021

Jangan berkata kok sedikit, karena ini memang proyek meminimalkan kata. Menantang diri sendiri untuk tidak banyak bicara. ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ
Namun pesan tersampai dengan sempurna, Can I?
Hopely bisa menjadi penghibur di waktu luang pembaca semuanya.

Tunggu lanjutannya ya
Jangan lupa simpan di perpustakaan โœŒ๏ธโœŒ๏ธ

See you next chapter.

Bแบกn ฤ‘ang ฤ‘แปc truyแป‡n trรชn: AzTruyen.Top