๐‘บ๐’†๐’Œ๐’–๐’‚๐’• ๐‘น๐’Š๐’๐’…๐’–, ๐‘บ๐’†๐’‰๐’†๐’ƒ๐’‚๐’• ๐‘ซ๐’โœ๐’‚

------------------------
แดฎแตƒแถœแตƒ แตแต˜หขสฐแตƒแถ โฟสธแตƒ แตˆแต˜หกแต˜ แต‡แตƒสณแต˜ แต‡แตƒแถœแตƒ แต‚แดพ
.
.
๐“ข๐“ฎ๐“ต๐“ช๐“ถ๐“ช๐“ฝ ๐“ถ๐“ฎ๐“ถ๐“ซ๐“ช๐“ฌ๐“ช
------------------------

Ketahuilah bahwa setiap ingin itu akan membawa reaksi yang luar biasa untuk bisa memperolehnya. Sebagaimana jalan rezeki yang telah ditentukan Allah diterima hambanya melalui 3 cara. Rezeki karena dicari, rezeki karena diberi Allah dan rezeki karena pernah memberi kepada sesama.

Mendalami ilmu agama, sebagai seorang mahasiswa sekaligus menikmati menjadi seorang santri. Masyaallah, nikmat mana yang bisa didustakan ketika memiliki kesempatan menjadi seorang muthawif salah satu travel umrah dan haji. Allah memberikan rezeki luar biasa kepadaku. Rasanya hidup di Madinah ini bak hidup dalam surga dunia. Menikmatinya setiap detik dengan bercengkerama dengan lantunan khalam-khalam Illahi. Lalu bagaimana dengan surga yang sesungguhnya? Tidak akan pernah mampu akal manusia menaksirkannya.

"Zaqi, hal anta mutafarigh hadha alasbue." -- Zaqi, adakah engkau libur minggu ini? --

"Na'am, ma hadha?"

"Muthawif untuk jamaah umrah dari Indonesia, yajib 'an yuejibak huq?" -- kamu pasti menyukainya kan? --

"Haqaa?"

"Na'am." Inilah kesempatan yang selalu aku tunggu-tunggu, liburan semester ini membuatku menjadi pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Pengalaman yang tidak akan mungkin bisa aku peroleh apabila aku tidak diterima di sebuah universitas tertua di kota Rasulullah ini.

Membersamai perjalanan para jamaah umroh selama di Madinah dan juga ikut mengantarkan ke masjid terbesar di dunia yang menjadi cita-cita setiap mukmin untuk bisa mengunjunginya, Masjidil Al Haram di Mekkah Al Mukarohmah. Meski aku tidak mungkin bisa seperti mereka yang bisa mengambil miqot beberapa kali selama tinggal di Mekkah, cukup sekali ketika aku meninggalkan kota Madinah di Dzul Hulaifa, namun rasanya berkah Allah ini maha sempurna bisa aku rasakan.

"Ustad Zaqi, city tour nanti ikut kan?"

"Insyaallah ya Ummi, ada yang bisa saya bantu?"

"Sebenarnya saya butuh uang tunai Ustad namun uang kami masih rupiah belum kami tukarkan dengan mata uang real. Kalau tidak keberatan, bolehkah kami minta tolong kepada Ustad untuk membantu?"

"Subhanallah, dengan senang hati Ummi, bersama abi juga?"

"Insyaallah."

Interaksi dengan mereka yang membutuhkan bantuanku, rasanya berjuta kali menjadi manusia yang begitu sempurna bisa berguna untuk orang lain. Masyaallah, ikhlas itu memang tidak mudah namun apabila kita mengusahakannya tidak ada kata yang tidak mungkin.

"Abi dan Ummi ingin berbelanja sesuatu? Boleh saya antarkan, kebetulan kegiatan kita masih longgar dan belum masuk waktunya sholat."

"Masyaallah, sudah ganteng, baik hati pula Ayah, Ustad Zaqi ini. Andai belum menikah, ibu ingin mengenalkannya kepada putri kita."

"Memangnya Ustad Zaqi belum ada calon?" tanpa meminta persetujuan sang istri, laki-laki yang aku panggil abi ini langsung memberiku pertanyaan telak yang membuatku menggelengkan kepala lalu mengangguk dalam waktu yang hampir bersamaan.

"Ini bagaimana kok menggeleng kemudian mengangguk, yang benar sudah atau belum?" tanya abi Usman, ya pak Usman, karena aku selalu memanggil setiap jamaah umrah abi dan ummi kepada mereka yang pantas menerima sapaan itu. Kecuali masih muda dan seumuranku tentu aku akan lebih senang memanggilnya dengan sebutan akhi dan uhti.

"Alhamdulillah, rusuk saya insyaallah telah dititipkan kepada seseorang oleh Allah__"

"Wah kita terlambat, Bu." Pak Usman berkata sambil tertawa lirih. "Sudah menikah berarti, istrinya ikut di Madinah juga?"

"Em," mengapa perbincangannya berubah menjadi seperti ini padahal kalimatku yang tadi belum sepenuhnya selesai. "Maksud saya tadi, rusuk saya memang telah dititipkan seseorang oleh Allah hanya saja Allah belum memberitahukan kepada saya siapa wanita yang telah dipilih-Nya."

"Alhamdulillah," aku sedikit tersenyum melihat suara refleks ummi Sofiah. Bukan yang pertama, namun niatku bukan untuk bisa diberikan tiket free untuk berkenalan dengan putri-putri mereka. Demi Allah bukan, aku hanya ingin berkata jujur, tidak ingin menutup tidak pula ingin mengumbar meski dalam hatiku sudah ada satu nama yang setiap sujud selalu aku sebut namanya dalam lantunan do'a.

Merindukannya itu seperti udara yang selalu ada untuk bisa dihirup setiap saat. Aku tidak pernah tahu, milik siapakah hati Calla Vyandhinashini, aku juga belum mengungkapkan apa yang aku rasakan dalam hatiku. Satu yang menjadi peganganku saat ini adalah kalimat terakhir saat kami dipertemukan dalam sebuah perpisahan, 'aku akan menunggu.'

Mempertebal ilmu termasuk mempertebal tabungan sebagai pondasi nantinya. Aku masih tetap berharap doaku tersampai, hatiku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena signal yang aku kirimkan kepadanya, sebagai seorang muslimah yang sangat tahu bagaimana batasan pergaulan antara akhwat dan ikhwan aku rasa itu sudah cukup untuk membuatnya mengerti bagaimana perasaanku kepadanya.

"Ustad Zaqi, ini foto putri kami. Dia masih berusia 23 tahun. Suatu kehormatan apabila Ustad berkenan untuk berkenalan dengannya. Kemarin ibunya telah memberikan prolog cerita tentang Ustad Zaqi dan Chaira bersedia untuk berkenalan. Yang lebih cantik banyak tapi insyaallah putri kami bisa dipertimbangkan."

"Benar Ustad Zaqi, berbahagia sekali hati kami apabila panjenengan berkenan." Astaghfirullah, aku pikir percakapan kami tentang perjodohan terselubung ini telah berakhir. Ini aku justru disodori foto perempuan yang diklaim sebagai putri pak Usman dan bu Sofiah.

Siapa tadi namanya, Cilla, Chania, eh Chara. Entahlah, mengapa harus mengingat nama wanita ingatanku selalu mengarah kepada Cilla?

"Ustad Zaqi?"

"Eh, maaf Abi, Ummi, sebenarnya tugas saya di sini hanya muthawif saja yang berusaha membimbing sunnah dan rukunnya umrah."

"Kami paham, namun tidak ada salahnya jika ini dicoba. Siapa tahu ini jalannya Allah untuk mempertemukan jodoh. Menjemput jodoh itu juga merupakan sunnah. Mengusahakannya, bukan hanya menunggu kapan Allah memberikan. Karena sesungguhnya ikhtiar tanpa doa itu adalah sombong sedangkan doa tanpa ikhtiar itu bohong." Aku menunduk, sejauh ini aku hanya bisa mendoakannya, memintanya lebih kepada Allah, merahasiakannya sebagaimana caranya Ali mendapatkan Fatimah.

Renunganku seketika terkoyak, manakala gawaiku beberapa kali berdering dengan nada pesan masuk. Sepertinya ada sesuatu yang penting hingga getarannya seolah tidak ada hentinya, mungkin dari ayah, ibu atau kedua adikku.

Sayangnya semua perkiraanku salah ketika sebuah grup baru menjadi penyebabnya.

โ‚šโ‚•โ‚’โ‚œโ‚’gแตฃโ‚โ‚šโ‚•y โ‚โ‚—แตคโ‚˜โ‚™แตข

Andalus
Assalamu'alaikumย  Zaqi apa kabar Madinah, lama tidak berchapa. Maaf aku add untuk masuk grup alumni, semoga grup ini bisa menjadi tali hubung silaturahmi kita semua.

Share foto atau kegiatan di Madinah dong Bang Zaqi, biar kami semua bisa secepatnya mewujudkan mimpi untuk berkunjung ke sana, masyaallah.

Rani
Ah bemar, setuju dengan Anda, Bang. Mana nih fotonya secara setelah abang lulus semua sosmed sepertinya jarang sekali dibuka ya?
Padahal ngarep banget lihat foto-foto keren hasil jepretan Bang Zaqi di sana.

Yolan
@Calla, sepertinya kamu juga anyep ketelen bumi yah. Bagaimana kabarnya Bandung. Sudah ada yang ngajak taaruf belum?

Rani
Khitbah sih

Andalus
Yakin luh Ran?

Yolan
Sumpeh loh, demi apa woy? @Calla benar tuh kata Rani? Atau jangan-jangan kamu telah nikah lagi nggak undang kita-kita?

Ada sesak yang menghantam rinduku. Oh rindu, biar bagaimanapun kau harus tetap kuat, kokoh berdiri sebagaimana janjimu yang selalu ada dalam hatiku. Bukankah doaku akan menjadi yang terhebat jika bisa mengalahkanmu?

Mengingat Calla itu tentu akan membuatku rindu namun menulis namanya di hatiku bukanlah sekedar menulis tulisan di tepi pantai yang dengan mudah ombak bisa menghapusnya kala dia sedang mengantarkan buih ke tepian.

Biarkanlah rindu ini hanya aku dan Allah yang tahu.

"Maaf Abi, Ummi, sekarang waktunya untuk turun ke lantai dasar. Mari kita laksanakan thawaf sunnah, mumpung di Masjidil al Haram setelah itu kita puaskan berdoa di belakang maqam Ibrahim siapa tahu Allah memberikan jawaban atas semua permintaan kita." Aku memilih untuk mengakhiri meski sesungguhnya sangat tidak enak hati untuk menolak.

Allah, ampunkan aku jika sampai pada detik ini hatiku masih tetap menjadi milik Calla sedangkan Engkau lebih tahu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.

----------------------------------------๐Ÿšฒ๐Ÿšฒ

__to be continued

Djogdjakarta, 22 November 2021

Bแบกn ฤ‘ang ฤ‘แปc truyแป‡n trรชn: AzTruyen.Top