♬♩♪♩ ♩♪♩♬
Sudah tiga hari berlalu sejak perbincangan antara aku dan Lumine di kantin. Bersamaan dengan itu pula, kemah musim panas sudah mencapai hari yang ke lima sejak pelaksanaannya. Dan selama itu juga, sang gadis pemain eufonium selalu menghindariku secara terang-terangan.
Ya, kau tidak salah membaca. Lumine menghindariku secara terang-terangan.
Aku mencoba mengajaknya berbicara di setiap kesempatan― saat jam sarapan, istirahat makan siang, makan malam, jam longgar sebelum tidur. Namun, dia selalu saja berhasil hilang dari pandanganku! Aku merasa diriku ini seperti wabah yang harus dijauhi di matanya.
Helaan napas lelah lolos dari bibirku bersamaan dengan tubuh yang terjatuh ke atas futon. Bahkan hari ini pun Lumine masih menghindariku.
Ya ampun, mengapa mendekatinya begitu sulit?
"Apa kau sudah mulai menyerah?"
Mendengar ucapan menyebalkan tersebut, aku langsung melirik jengkel kepada si pemilik suara― Heizou. Dia memandangku dengan tatapan meremehkan sembari mengulas senyum. Aku benar-benar ingin meninju wajah sombongnya itu.
"Enak saja," Aku mendudukkan diri. "Aku belum menyerah," jawabku dengan memberi penekanan pada kata 'belum'.
"Kau seputus asa itu untuk mendekati Lumine? Sudah kuduga kau memang menaksirnya-- aduh! Hei!" Heizou mengerang ketika wajahnya terkena lemparan bantal dariku. Dia pantas mendapatkannya.
Aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku mendekati Lumine karena ingin berteman dengannya! Hanya sebatas itu! Namun, orang dengan otak yang telah terkontaminasi novel romansa ini berspekulasi seenak jidat. Menyebalkan memang.
Di tengah kekesalanku, kekehan Kazuha memasuki runguku. Pemuda yang senang berbicara dengan aksen Zaman Edo itu tampak terhibur akan sesuatu. Oh ... jangan bilang kalau dia juga hendak ikut-ikutan dengan Heizou untuk mengolokku.
"Hati manusia bisa berubah, Venti. Entah itu secepat kilatan bintang yang jatuh di langit malam, maupun lama layaknya penantian datangnya musim semi."
Mendengar perkataan Kazuha membuatku memutar bola mataku. Lagi-lagi, sisi puitisnya kumat.
"Mungkin saja saat ini tujuanmu hanya menjalin pertemanan dengan Lumine. Namun, siapa tahu tujuan itu dapat berubah suatu saat?" lanjutnya. "Takdir pintar mempermainkan hati manusia. Contohnya seperti aku dan Ayaka."
Salah satu hal yang kubenci dari Kazuha adalah ini. Setelah bersajak dan menasehatiku dengan panjang lebar, dia akan memamerkan pengalaman asmaranya dengan Kamisato Ayaka― salah satu gadis yang dielu-elukan sebagai kembang sekolah.
Mentang-mentang sudah punya pacar― ralat, tunangan― dia langsung terus memamerkannya setiap ada kesempatan. Sombong sekali!
Aku langsung membungkam mulut Kazuha dengan telapak tanganku sebelum dia berbicara lebih jauh lagi. "Cukup. Tidak perlu diteruskan lagi, tunangannya Nona Kamisato," kataku dengan nada meledek.
Kazuha menepis telapak tanganku. Daripada marah dan melempariku dengan sumpah serapah, dia malah mengangkat kedua bahu dan terkekeh.
"Terima kasih," balasnya. Oke, sepertinya cinta telah membuat urat marah pemuda ini eror.
"Hei, Xiao," panggil Heizou tiba-tiba. Ah, aku baru sadar bahwa Xiao juga satu ruangan dengan kami.
Jejaka berambut hitam dengan ombre hijau itu pun mengalihkan pandangan dari halaman buku, menatap Heizou dengan tatapan jengkel. "Apa?" tanggapnya.
"Whoa! Tenang saja, Bung. Jangan galak-galak begitu dong," tanggap temanku yang berambut merah anggur itu. "Aku hanya penasaran. Saat membahas tentang Lumine, mengapa kau tidak ikut berkomentar?"
Aku pun bertanya-tanya akan hal itu. Biasanya, Xiao alan memberi satu atau dua tanggapan setiap kali kami berbincang. Namun, jika soal Lumine, entah mengapa dia tak berkomentar sama sekali.
Apa mungkin Xiao menyukai gadis itu? Agak meragukan, tapi bukan berarti presentasenya 0%.
Xiao memang seorang otaku yang menyukai karakter fiksi dua dimensi, namun bukan berarti dia tak memiliki rasa suka secara romansa kepada seseorang, bukan? Terlebih lagi, Xiao tampaknya sudah mengenal Lumine cukup lama, yang mana membuat praduga tersebut tidak mustahil untuk terjadi.
Ah ... entah mengapa aku merasa iri dengannya.
"Aku tidak tertarik dengan bahan obrolan kalian," jawab Xiao sambil kembali membenamkan kepalanya pada halaman light novel, ekspresinya tampak tidak peduli.
"Hm ... benarkah?" Heizou mengangkat sebelah alis, senyum jahil tersampir di bibirnya. "Namun, sedari tadi kau terus menatap tajam ke arah kami, seperti tak nyaman dengan obrolan kami. Ada apa ini? Kau juga menyukai si eufonis?"
"Aku tidak--"
Ucapan Xiao terpotong karena pintu ruang kelas yang tiba-tiba terbuka dengan suara keras. Di ambang pintu berdiri Diluc― si wakil ketua klub orkestra― yang memasang ekspresi kesal dengan kedua alis menukik. Oh, jangan bilang aku akan diomeli lagi olehnya.
Aku melirik ke sekitar, mendapati bahwa anak-anak lain yang ada di ruangan selain Kazuha, Xiao dan Heizou sudah tidur (atau pura-pura tidur?). Yah, tak apalah. Setidaknya bukan aku saja yang akan terkena amarahnya si wakil ketua.
"Kenapa kalian belum tidur?" tanya Diluc dengan ekspresi yang masih sama. Dia lantas memusatkan perhatiannya padaku, mempertajam tatapannya. "Terutama kau, Venti. Kau ini ketua, tapi malah tidak bisa mengoordinasi para adik kelas."
"Santai sajalah, Diluc," tanggapku dengan kekehan. "Tadi kami masih mengobrol. Sebenarnya, kami mau pergi tidur. Eh, kau malah datang. Dan itulah mengapa kami belum tidur, ya 'kan?"
Heizou, Kazuha dan Xiao langsung mengangguk bersamaan.
"Lihat?" ucapku setelah melihat respon mereka. "Jangan khawatir, aku bisa mengurus mereka."
Diluc menatap kami secara bergantian, tersirat ketidakpercayaan dalam kedua netra ruby-nya. Lantas, dia menghela napas. "Ya sudah."
Dan pintu ruang kelas pun kembali tertutup.
Setelahnya, ketiga kawanku menghela napas lega. Aku terkekeh melihat reaksi mereka itu.
"Tadi itu hampir saja," kata Kazuha dengan nada plong seperti orang yang baru saja selesai buang air besar.
Heizou mengangguk, tangan kanannya mengelus dada. "Ya, aku kira tadi akan dimarahi habis-habisan oleh Kak Diluc."
Sedangkan Xiao hanya berdeham dengan dahi berkerut. Aku tidak menyangka bahwa Xiao juga takut kepada si kepala stroberi itu.
Yah, bagi kebanyakan orang, tampangnya Diluc itu terlihat tidak ramah dan tampak seperti orang yang hendak mengajak berkelahi. Dia orangnya juga tegas dan galak, jadi aku tak lagi merasa heran jika ada beberapa individu yang merasa terintimidasi olehnya.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita tidur. Nanti aku lagi yang diceramahi," kataku sembari bangkit dari posisi duduk, tangan memegang saklar lampu yang menggantung. "Aku matikan lampunya, ya."
"Yah ... padahal aku masih ingin mengobrol dengan kalian," timpal Heizou, bibirnya mengerucut sebal.
"Kalau begitu, mengobrolah sendiri dengan para setan penunggu sekolah," balasku dengan senyuman sambil menarik saklar, lampu pun mati seketika.
Dalam kegelapan ruangan, aku bisa mendengar suara decakan lidah disusul dengan suara gasrak-gusruk kain. Tampaknya itu Heizou yang memaksakan diri untuk tidur. Aku bisa membayangkan ekspresi jengkelnya.
Selesai dengan urusan mematikan lampu, aku pun membaringkan diri ke atas futon dan menyelimuti tubuh dengan selimut. Kazuha dan Xiao sepertinya melakukan hal yang sama, terdengar dari suara kibasan kain dari arah futon mereka berada.
"Selamat malam," salam Kazuha dengan suara berbisik.
"Selamat malam."
Dan ruangan pun menjadi senyap, tak ada suara lain selain kibasan kain yang terdengar sesekali atau helaan napas teratur pula dengkuran halus. Aku tak yakin kalau tiga orang itu sudah tidur, sehingga diriku berasumsi kalau suara-suara tersebut berasal dari anak-anak lain yang telah tidur lebih dulu.
Aku menendang selimut, membiarkan salah satu kakiku mencuat keluar. Ah, posisi ini memang yang terbaik, suhu hangat dan dingin menjadi terasa seimbang.
Menghela napas panjang, aku pun menutup mata― membiarkan kegelapan menguasai pandangan sebelum mengantarku ke alam mimpi.
Atau ... begitulah yang kuharapkan.
Kedua mataku terbuka lebar beberapa menit kemudian, menampakkan pemandangan langit-langit gelap yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela kaca.
Aku tidak bisa tidur.
♬♩♪♩ ♩♪♩♬
|Scroll down to continue the sheets|
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top