┉ˏ͛ ༝̩̩̥͙ ⑅͚˚ [¹] ⑅͚˚ ͛༝̩̩̥͙ ˎ┉
"Terima kasih, karena telah menemaniku, bahkan ketika aku tidak di dunia ini lagi."
‿︵‿︵‿︵‿︵‿︵‿︵‿︵‿︵
.
.
.
.
.
- Happy Reading -
².³ᵏ ʷᵒʳᵈ ᶜᵒᵘⁿᵗ
Kamu bertanya-tanya, saat sebatang rokok lembab, apakah itu masih bisa terbakar? Atau menjadi objek tidak berguna lainnya? Renungmu, seraya menatap kotak rokok yang kusut di tanganmu, kamu menyadari bahwa rokok lain mungkin tidak jauh lebih baik.
Terpapar bebas di tengah hujan deras tanpa payung- berperangkat jaket kulit hitam, dan hampir menyesal karena nekat melihat perpisahan teman lama, kamu mendengus kesal. Tidak seperti kalian sering bertemu, tetapi kamu penasaran bagaimana teman lama ini merangkul nasibnya.
Kalau dipikir-pikir lagi, orang bodoh macam apa yang berani keluar di tengah hujan lebat tanpa payung? Oh jelas bukan kamu, kamu punya payung, tetapi kamu memberikannya kepada lelaki tua yang berdarah-darah di bawah perosotan taman bermain. Ya, dia teman lama itu.
Ironis sekali, di tengah hujan, memegang rokok yang bahkan tidak kamu perlukan, duduk di jungkat-jungkit, terutama saat ada seorang pria tua yang sedang sekarat di tepat di depanmu. Dan dari semua tempat, tidak kurang, taman bermain, sebuah tempat yang biasanya merokok dilarang.
Kebebasan selama tidak ada yang melihat, pikirmu, tanpa melewatkan satu ketukan, kamu menyambungnya dengan senandung, Peter oh Peter yang malang. Tokoh utama dengan kisah latar belakang yang diukir sedemikian rupa demi balas dendam.
Dimulai usaha melarikan diri dari panggung yang telah dia bangun selama 50 tahun, hingga disingkirkan seperti boneka kain yang usang. Tergelak entah hidup dan merenungkan kembali hidupnya, mati tanpa siapapun sadari. Hujan menemani air matamu. Peter oh Peter.
Astaga, tolong, sejak kapan kamu begitu dramatis. Peter saja santai memikirkan nasibnya, tetapi kamu? Kamu mungkin harus menyesal menyenandungkan kemalangan seseorang. Yah, cukup dengan renungan sendiri, rokokmu tidak akan pernah terbakar jika terus menerus terkena bulir air hujan.
Melindungi nyala korek api dari tetesan hujan, dan menunggu api membakar, kamu berbicara dengan satu-satunya manusia di sekitarmu mengurangi urgensi untuk melempar rokok ini ke tanah.
"Peter, dibandingkan balas dendam, tidakkah kamu pernah terpikir jika semua ini salahmu? Kita memiliki pilihan, setiap bagian kehidupan kita berasal dari jalan yang kita pilih. Mengapa tidak berhenti menjadi Apostel sebelum semuanya runtuh?" Ya, mengapa orang-orang tidak melarikan diri dari tanggung jawab mereka ketika mereka mampu? Tidak seperti dunia akan berhenti karena kamu mati. Pfft, sungguh kejam, bisikmu dalam benak, mempertanyakan pilihan hidup seseorang.
Jika orang sepertimu yang melarikan diri, ingin lari kemana kamu? Kamu tidak memiliki tempat untuk kembali, tetapi Peter, setidaknya Peter yang berada dalam dunia cerita dari Webtoon bernama 'Killer Peter' memiliki keluarga yang terpisah dari panti asuhan kehormatan. Peter, "kamu pernah menjadi muda, menjadi kuat. Melarikan diri, dan membawa pergi keluargamu ketika kamu berada di masa keemasan mu, seharusnya bukanlah sebuah kesulitan."
Ya, Peter Kamu memang menyedihkan. Sosokmu ada dan dibangun benar sebagai objek khusus balas dendam. Kamu masih punya hati menyimpan kata-kata itu untuk dirimu sendiri. Namun, bagaimanapun juga Peter, kamu sekarang sendirian, dan setiap bagian dirimu telah dilucuti oleh dunia. Bersama dendam dan akhir bahagia? Itu mirip usaha sia-sia menyatukan air dan minyak, selain realita yang dibengkokkan untuk hiburan semata.
Logikanya Peter memang akan mati disini (jika semesta masih bergerak sama semestinya), di taman bermain, di bawah perosotan. Terjebak dan menghilang dalam penyesalan. Lalu lahir kembali sebagai seseorang yang membawa kemarahannya kepada dunia. Mustahil orang seperti Peter(termasuk kamu) mengakhiri hidup mereka dengan tenang. Bayangan tempat sinar melihat, menolak berwarna hitam, mereka adalah darah, gonggongan nyawa yang direbut melalui jemari.
Keji, pembunuh adalah entitas yang kejam. "Terkadang," kamu berharap apa yang Gabriel percayai itu benar, ideologi atas nama dewa. Membunuh atas nama kepercayaan, dan pada akhirnya doa itu hanya jatuh dalam telinga tuli, hanya kata-kata penuh harap. Peter adalah kasus nyata.
Karena itu, "aku bertanya-tanya apakah lebih mudah untuk mematikan otak kita dan percaya pada dewa. Saat semuanya mulai kacau, kesalahan itu terletak pada dewa, kejam dan tidak adil. Bukankah kita selalu butuh sesuatu untuk disalahkan? dibandingkan diri kita sendiri." Begitu, Peter, atau kamu tidak perlu memakan diri kalian dan berkubang dalam penyesalan. Begitu, kalian bisa melakukan dendam tanpa perlu memberikan sepotong diri kalian pada jiwa yang pergi.
Akhirnya, Rokok diantara bibirmu menyala. Kamu menghisapnya perlahan, kertas berderak bersama bahan kimia didalamnya. "Mungkin manusia tidak ditakdirkan untuk berpikir sebanyak itu, kurasa. Hm, bagaimana menurutmu, Peter?" Kamu melirik lelaki tua itu, tetapi dia tidak berubah. Sunyi, hanya suara hujan membasahi bumi.
Manusia di depanmu tidak bergeming. Kulitnya masih penuh keriput, rambut abu-abu dan warna wajahnya memucat, genangan darah menenggelamkan kemeja sedikit lebih merah, masih sama terbaring. Tidak bergerak. Tidak bergeming. Mungkin eksistensimu disini mengganggu kebangkitan tokoh utama dari dunia ini, tetapi siapa peduli, sejauh ini kamu sudah berulang kali telah menghancurkan dan membunuh sesuatu, satu nyawa lagi yang melayang tidak membuat perbedaan.
Asap rokok mengumpal keluar, kamu mengerutkan kening. Mungkin kakek ini bukan Peter, melainkan orang acak yang memiliki penampilan dan cara yang sama dengan kematian Peter tua. Padahal kamu ingin menyaksikan sedikit kejadian supranatural di dunia bergenre aksi dan drama. Namun tidak, itu hanya kamu berbicara pada ketidakadaan berbentuk hujan, seorang pria tua yang sedang sekarat, dan sebatang rokok yang akan segera padam.
Benar saja, hujan membunuh rokok itu. Kamu mengumpat dalam hati, frustrasi, karena korek apimu juga menolak menyala lagi. Setelah beberapa kali klik yang tidak berguna, korek api itu kembali menyala, kedipan lemah yang hampir tidak bisa bertahan.
Sumpah, ingatkan aku mengapa aku melakukan ini.
Menggigit ujung rokok, di sela-sela pembakaran lambat, kamu menyadari, kalau hujan telah berhenti. Bukan, maksudnya, tidak ada ada tetesan yang mengenaimu, tentu saja, karena seseorang berdiri di depanmu. Melihat dari ujung matamu, di sela kaki orang yang berdiri di depanmu, kakek tua itu telah menghilang, meninggalkan genangan darah.
Kamu terkekeh, sial, kamu melewatkan cara Peter berubah menjadi muda kembali. Bagaimana kulitnya ditarik kembali dan membentuk wajah rupawan yang menahan nafas semua wanita yang dia lewati. Wajah yang sama sekarang menatapmu. Peter yang tidak bungkuk lagi, berjongkok dengan mudah tepat di depanmu, memayungimu dari hujan.
"Kupikir kita sudah pernah membahas ini. Aku tidak menyayangkan pilihanku, masa laluku, atau kehidupanku. Aku hanya menjalaninya seperti itu ...." Oh, kamu hampir melupakan lontaran cemooh kepada yang kamu kira tubuh mati.
Peter menjawab, suaranya bukan lagi serak yang membuatmu khawatir, suara Peter dalam, tanpa ada gumpalan di tenggorokan atau batuk yang mengiringinya. Laki-laki di depanmu adalah Peter yang kamu temui puluhan tahun yang lalu, bukan seorang kakek yang layu karena penyakit mematikan dan selalu kamu kunjungi ketika kamu bisa.
Mungkin, jika ini dalam panel webtoon, suasananya akan biasa saja, sedikit gradasi gelap karena hujan, rambut basah dan lain-lain. Tetapi! Jika itu dari sudut pandangmu, wajah Peter muda yang tersenyum praktik memancarkan cahaya! Bukan hanya tidak membawa dua payung, namun juga kamu tidak membawa kacamata hitam. "Benar-benar, hanya seorang Peter yang mengatakan hal seperti itu."
Disana, pembicaraan sepihakmu terbalaskan lalu mati dalam satu kali jawab. Kamu tidak mengeluh atau kecewa, Peter selalu seperti itu. Dia tahu dia bisa mati kapan saja, dan apa yang tersisa dalam dirinya yang tua mungkin telah terselesaikan. Kamu tidak tahu, manusia, bahkan yang pernah kamu lihat melalui layar ponsel, mengintip sedikit pikiran mereka dan sekarang menjadi bentuk nyata, kamu tidak pernah tahu sepenuhnya tentang mereka selain memproyeksikan asumsi di otakmu.
Sebanyak kamu ingin melihat lebih lama wajah tampan Peter, kamu tidak ingin melotot sebegitunya. Jadi, kamu akan kembali membakar rokokmu, yah, jangan menjadi orang yang setengah-setengah, kata mereka. Dengan amat (tidak) sayang, Peter memanggil namamu. Ugh, kamu ingin dia lebih sering memanggil namamu menggunakan suaranya yang sehat. "Apa."
Sesaat kamu melewatkan cara Peter menatap khawatir padamu setelah pertanyaan dibalas ketus. "Kamu tidak merokok, juga saat hujan?" Barangkali tangan Peter muda yang ehem, astaga, apakah dia mempermainkanmu? Atau dia hanya menunggumu membawa topik dia kembali muda? Bagaimanapun kamu tidak menolak sentuhannya. Terlalu lambat, dan perlahan. Kamu bukan sesuatu yang rapuh, namun telapak tangan Peter menyapu lembut pipimu dengan jempolnya.
"Berbicara tentang seseorang tertentu yang sebelumnya mengidap kanker dibandingkan satu batang rokok basah, itu sederhananya sebuah perbedaan." Secara internal, kamu memutar mata. Telapak tangan Peter, berada di pangkal rahangmu.
Kamu berusaha sekuat tenaga agar tidak bersandar dalam sentuhannya. Pikirkan anak, istrinya, hei! Tidak berlama-lama, kamu menepis tangannya. Dia kira kamu tidak tahu? Peter juga berniat merebut rokokmu, kamu merasa sedikit puas ekspresi tidak setujunya.
Lagipula posisi ini menempatkanmu menjadi rentan terhadap dicekik. Kamu bukan orang bodoh, meski laki-laki muda di depanmu tampak terguncang dengan kehadiranmu, bukan berarti dia tidak curiga, "dan jangan menyentuhku seperti itu." Walaupun itu terasa baik, Peter, "kamu punya anak perempuan yang menunggumu."
Baiklah, kamu merusak suasana romantis yang semestinya tidak ada. Garis tipis di bibir Peter menjadi datar, sama seperti tatapannya yang jengkel. Kamu bisa melihat dari cara dia menatap acuh tak acuh. "Kamu masih berpegangan dengan lelucon itu? Aku tidak terkejut jika kamu disini untuk memberitahu lelucon khasmu."
"Juga, kamu tidak menggunakan penyamaran apapun? Bagaimana jika ada killer Glory yang melihatmu disini?" Nyeri bercampur gatal saat Peter menarik pipimu. Memarahimu seperti anak nakal yang tidak menuruti kata-kata orang tua.
"Akh!" Pastinya kamu mengaduh kesakitan, tidak lupa menampik tangan Peter, lebih keras dari yang pertama. "Sudahlah! Kamu teralihkan! Pergi sana cari Pal-Choin atau apapun!" Bagaimanapun juga, Peter harus membalaskan dendamnya. Kamu sekarang hanya menghalangi, tanpa babibu, ponsel yang sudah kamu siapkan keluar dari kantong. Mendorong dengan paksa ke genggaman Peter.
"Mari bertemu lagi nanti." Berdiri tergesa-gesa dan mengabaikan payung yang hampir mengenaimu, kamu mundur dan berbalik.
"Sebentar, kamu melupakan sesuatu." Peter berbicara cukup keras, cukup agar kamu yang menjauh bisa mendengarnya.
"Payungnya untukmu saja." Langkahmu tidak berhenti. Apakah kamu selalu sedingin ini? Ya? Tidak? Siapa yang tahu.
"Bukan itu." Seketika tubuhmu tertarik kebelakang, punggungmu menempel pada sesuatu yang padat.
BAH DIPELUK AYANG, syukurlah, yang bisa mendengar teriakan internal itu hanya dirimu. Kamu tidak yakin sekarang apakah memang kamu kedinginan atau tambah dingin karena Peter juga kedinginan. Seperti, lengan kuat yang merangkulmu dari depan, dan mau tidak mau kamu bersandar pada tubuh Peter.
Alamak, semoga jantung ga nyaring-nyaring berdebarnya.
"Apa? Tidak mungkin kamu menahanku seperti ini karena kamu sangat sialan kangen padaku." Itu adalah usaha menyedihkanmu menutupi diri yang kebingungan, kamu sudah melakukan ini seumur hidup, dan Peter (mungkin) percaya pada topeng stoic-mu. Juga ekspresi apa yang harus dibuat? Malu-malu? Senyum gugup?
Hidupmu akan berakhir ketika kamu diancam pria tampan. Dan Peter yang menatapmu dari atas, hingga kedekatan wajah kalian bisa diukur dari rambutnya yang menyapu kulitmu, juga memiliki ketampanan tidak ngotak, karena dia dinobatkan menjadi protagonist yang efektif membuat dia menjadi pria paling tampan di muka bumi ini!
"Kamu yang paling tahu jawaban itu, [Name]. Dan kamu tidak boleh menumbuhkan kebiasaan menyakiti diri sendiri." Masing-masing tangan Peter bergerak untuk lebih banyak skinship. Satu tangan membungkus tanganmu agar memegang payung, yang lainnya berada di sisi lehermu.
"Kamu mau mengancamku? Mematahkan leherku kalau aku menolak payungku sendiri?" Kamu menyipikan mata, namun Peter tidak menjawab, cukup membiarkanmu mengambang setelah menampilkan senyuman ber-damage tidak terbatas (a.k.a smirk).
Asumsimu tentang Peter memaksamu mengambil payungmu dipatahkan, karena setelah senyuman tidak ngotak (part. 2), Peter bergerak menempelkan keningnya ke bahumu, dan mendekapmu lebih erat. "Terima kasih, karena telah menemaniku, bahkan ketika aku tidak di dunia ini lagi."
Kalian dalam posisi ini selama beberapa saat, kesunyian kental di udara. Dan kamu merasa cukup dengan itu, "aku hanya tahu, jika ada, tidak banyak yang bisa kuperbuat." Kamu menatap tanah dan menghela nafas lelah, kebenarannya banyak hal yang kamu sesali, meski kamu tahu orang-orang, juga bagaimana mereka mati, tetapi terkadang beberapa hal memang tidak bisa diubah.
Hidup mengetahui sesuatu yang seharusnya manusia tidak ketahui, menurutmu, membawa lebih banyak penyesalan daripada yang seharusnya. Setelah mengatakan itu, kamu menoleh untuk melihat Peter, dan menemukan, dia sudah menatapmu duluan. Ini mirip dengan tantangan tidak terucap yaitu, siapa yang berkedip duluan akan kalah.
Tunggu itu kan .... Kamu tidak berkedip, tetapi realisasi yang merubah suasana hatimu tiba-tiba, tentu saja, rokok yang setengah terbakar itu sekarang berada di antara bibir Peter.
Mari abaikan ciuman secara tidak langsung kalian, karena itu rokok yang sialan susah payah kamu bakar! Setidaknya biarkan kamu menyelesaikannya!
"Ka ... kamu ... aku akan-!" Para pembaca tercinta kita dipersilahkan memutuskan apa yang ingin [Name] lakukan terhadap Peter, yah, meski begitu, sayangnya tidak ada eksekusi nyata karena opung tercinta kalian itu tengil, terutama kalau kamu yang terlibat.
Klik. Payung yang kamu pegang menutup seketika karena jempol Peter menekan tuas penahan payung sebelum kamu sadar rencananya mencuri rokokmu, juga kotak kusut di tangan. Pastinya Peter sudah meninggalkan tempat dan kabur disaat kamu berusaha meredam kekesalan sambil berusaha mengeluarkan diri dari payung sebab ruas besi payung ikut tersangkut di antara rambutmu.
"Ck, keparat. Mentang-mentang kembali muda, mental bocahnya juga ikut balik." Kamu menggerutu setelah berhasil keluar dari jebakan picik Peter.
Sebentar ... kamu kira, ada saat Peter tua juga menjadi jahil, seperti memberikan rekomendasi buku yang membuat matamu bengkak selama seminggu sebab alur cerita bukunya yang sedih hingga kamu ingin mendorong Peter menjadi tokoh utama cerita tersebut. Terdengar sadis? Oh, tolong kamu tidak sadis, Peter yang sadis disini.
Benar juga, kenapa kamu tidak memikirkannya? Peter sudah kembali muda, kamu bisa membalasnya dibandingkan mengkhawatirkan dia akan kena serangan jantung atau tidak jika kejutan kecilmu mengejutkannya. Memuji kejeniusan dirimu sendiri, tepat saat berniat menulis ide-ide baru di list to-do, ponselmu yang lainnya berdering. Terpampang nama Dae-Hyun.
Tanpa pikir panjang, kamu mengangkat panggilan dan disambut seruan panik.
--- tbc.
Cookie 1:
[Name] : sudah bawa rokok, payung hitam, juga outfit kece hitam. Eh, rokoknya malah kena colong. Gagal cospelei shiro oni.
Cookie 2:
[Name] *dalam hati: aku orang pertama yang melihat Peter di tubuh mudanya ... f* ganteng bgt, tambah ganteng g siehh. Pengen fotonya ... (pdhl di galeri hp lain udh 999+ /g)
Cookie 3:
Peter *yang pakai ponsel [Name] & lihat foto Peter (dkk) bejibun: aku tarik kembali tentang foto pertamaku.
Peter *bertanya-tanya apakah [Name] blunder, atau tahu kalau Peter sama sekali ga punya foto pribadi. Apapun jawabannya, kamu makin spesial di hati Peter. (Kiw kiw)
Spoiler: [Name] sengaja (hh).
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top