▪︎ 5 ▪︎
▪︎ Smiles ▪︎
꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼ ⋯ ꒷̼
Sinar matahari menyeruak masuk ke jendela kamar Tamaki. Gadis kecil berambut panjang itu bangkit dari kasur, menarik gorden dan membuka jendela apartemen. Melirik jendela lain yang masih tertutup di depan sana.
"ANIKII!"
Tak ada jawaban. Gadis kecil itu menghela napas. "Dasar... semalam habis ngapain, sih?"
Tamaki melambaikan tangannya, mencoba mengeraskan suara. "Banguuun! Sudah pagii!"
Sejenak senyum lebar muncul di wajah gadis kecil itu. "Jendelanya terbuka! Aniki sudah bangun. Waktunya main!"
Tamaki melirik sekeliling, lalu mencoba masuk lewat jendela. "Ojiichan itu juga tidak ada kan? Jadi aku a– WEEEY!"
Salah satu kaki Tamaki tergelincir hingga ia harus berakhir tengkurap di atas kasur.
"Hweee sakiit!"
Bukannya pindah, Tamaki hanya menghentakkan kaki sambil pura-pura menangis.
"Hah? Kenapa ada anak menangis di sini...? Perasaan yang tidur di kamar ini cuma aku– Tamaki?"
"HE?!"
Gadis kecil itu langsung duduk. Ketika manik matanya bertemu dengan netra violet si empunya kamar, Tamaki langsung bergeser mundur. "M-maaf! Kukira aniki sudah pergi–"
"Ahahaha!" Iori perlahan bangun, bersandar di dinding. "Ohayou!"
"Huuh, menyebalkan!" Tamaki bersungut-sungut. Kemudian ia tampak mengendus-endus. "Aroma enak apa ini...?"
"Sini ikut aku!" Iori menarik tangan Tamaki keluar kamar. Tamaki seperti ingin menolak, namun tentu saja Iori tidak menyadarinya. "Danna, hari ini menunya apa?"
Dari pintu dapur tampak anak sepantaran Iori yang tengah sibuk memecahkan telur. "Cuma omurice biasa."
"Omurice? Heee aku suka omurice!" Tamaki langsung melangkahkan kaki, melepas tangan Iori dengan paksa dan memasuki dapur.
"Begitu ya. Kau mau satu? Ambil saja yang itu. Nanti aku buat lagi."
"Benarkah? Waah teman aniki baik sekali~" Tamaki langsung menyambar piring omurice yang sudah siap, lalu membawanya ke meja makan. "Terima kasih~."
"Aku ambilkan air, ya?"
"Hm. Terserah." Muka si tukang masak langsung berubah menjadi dingin. Ia mengatur gelas di meja makan sementara Iori mengisinya satu persatu. "Cepat duduk! Anak ini pasti sudah lapar."
Tamaki terkekeh melihat perbedaan tanggapan orang itu. Ia tidak sadar Iori sudah mengambil tempat di sampingnya.
"Itadakimasu..."
"Itadakimaaasu!" sahut Tamaki dan Iori bersamaan. Membuat gadis kecil itu menoleh sejenak, lalu mencari kursi lain untuk menjauh.
Iori tidak menyerah. Ia pun menarik kursi kosong di sebelah kursi Tamaki. Namun Tamaki menghela napas dan mengambil tempat di dekat si tukang masak. "A-apa boleh...?"
"Ya. Tidak apa-apa."
Tamaki tersenyum puas. Akhirnya ia bisa makan dengan tenang kali ini. "Terima kasih!"
Namun tak lama kemudian Iori sudah mengambil tempat di sampingnya, membuat Tamaki tidak bisa berpindah lagi.
"Dasar anikii~."
Tamaki menghabiskan sisa omurice di piring, membuat kedua pipinya menggembung seperti tupai kecil.
"Gochichouchama..."
Si tukang masak memungut piring kotor dari meja lalu segera mencucinya, sedangkan Tamaki mengelap meja. Sementara itu Iori pergi menjauh. Tamaki diam-diam memperhatikan dari dapur.
Ia berlari kecil, mengedarkan pandangan hingga menemukan Iori duduk sendiri di salah satu pojok apartemen. "A-aniki?"
"Huhuu Tamaki-chaaan!" Sontak Iori bangkit lalu memeluk Tamaki. Mata gadis kecil itu langsung terbuka lebar, sementara wajahnya perlahan memerah.
"Entah kenapa... aku menyesal telah mengenalkan danna pada Tamaki-chan."
Alis Tamaki naik sebelah. "Memangnya ada apa?"
"Tamaki-chan lebih mudah tersenyum jika bersama danna. Aku tidak suka."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top