🍁 Chapter 11 🍁
__ | Your Smile | __
.
.
🎼 Playlist 🎶
| Lose You Now |
~Lindsey Stirling( ft. Mako)~
.
.
_________________
"Bisa tidak kau tidak menyentuhnya! Dasar pangeran palsu!!"
"Ha?"
Sukuna mengerutkan kening. Bingung dengan yang terjadi. Dia ingat tidak ada naskah dan adegan ini di drama yang dimainkannya.
Geto menyipitkan mata. Memperhatikan baik-baik wajah pria bertopeng yang tiba-tiba datang mengacaukan alur drama buatannya.
"Jangan sentuh calon istriku, dasar perusak hubungan orang!!!"
Geto menganga. Dia kenal dengan sangat baik suara ini.
"Satoru goblok!! Ngapain dia disana?!!"
Geto ditahan Mahito yang hendak ke panggung untuk menghajar Gojo.
"Tahan, Geto. Kalau kau kesana hanya akan menambah kekacauan, tau," ucap Shoko yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Ha?! Bukannya kau yang perusak hubungan orang?! Sudah berapa banyak gadis yang kau permainkan, huh?!" Balas Sukuna setelah tahu siapa pria bertopeng itu.
"Kau juga!! Sudah berapa banyak kau bermain-main dengan wanita?!"
"Akan kuhajar kau sekarang!"
"Lakukan kalau bisa!"
Gojo mengubah posisi (Name) menjadi berhadapan dengannya. Tersenyum maut, Gojo menangkup kedua pipi (Name).
"Aku akan membereskan penjahat ini, baby. Kamu berlindunglah disana, ya?" Ucapnya dengan lembut.
(Name) bingung harus menjawab apa. Matanya melirik kearah Geto yang memberikannya kode untuk mengikuti alur dadakan buatan Gojo.
"Um, baiklah," (Name) berlari ke samping panggung.
Gojo kembali menodongkan pedangnya. Memasang wajah angkuh menatap Sukuna yang sudah menggulung setelan jas-nya.
"Kau pikir aku takut? AKU TIDAK AKAN KALAH DENGAN PEDANG PLASTIK?!!" Ujar Sukuna nge-gas.
"Oh? Baiklah," -membuang sembarangan pedang plastik itu. Gojo membuka topengnya, memakai kacamata hitamnya-, "bagamana kalau kita pakai otot saja, hm?"
"Boleh juga!"
Sukuna menyerang dengan agresif. Gojo dengan santainya menghindari serangan beruntun Sukuna. Kadang menangkis pukulannya lalu meninju perut Sukuna.
Terlempar sedikit jauh dan jatuh. Sukuna kembali berdiri. Gojo mereganggkan badannya agar tidak kaku.
"Majulah," seringaian terpasang di wajah Gojo.
Perkelahian terus berlanjut. Para penonton bertambah banyak, suara jeritan para gadis bertambah melihat pertarungan antara Gojo dan Sukuna.
Geto tidak tahu harus merasa lega atau tidak. Seharusnya sebelum acara dimulai tadi dia merantai Gojo dikursi agar tidak membuat kekacauan. Sudah terlanjur, Geto berharap drama dadakan ini cepat selesai.
"Aku menang!! Yey!!!"
Gojo menginjak kepala Sukuna. Yang diinjak mengumpat dan menyumpahi Gojo. Mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari membentuk peace, Gojo memperlebar senyuman.
"Bukannya itu kakak mencurigakan yang mengundang kita kemari? Fushiguro! Dia sering main di rumahmu 'kan?" Tanya Yuuji.
"Ha? Siapa dia? Aku nggak kenal,"
Penonton berdiri dari duduk dan menepuk tangan. Beberapa orang mengeluarkan siulan. Di atas panggung, tirai merah muncul, mulai menutupi panggung yang kacau.
Setelah tirai benar-benar menutupi seluruh panggung. Geto berlari kearah Gojo, menarik kerah bajunya, lalu mengguncang-guncang tubuh Gojo.
"Kau sudah tidak waras ya, Satoru?! Kau ngapain tiba-tiba muncul ke panggung?!"
"Haa!!? Kau pikir aku bakalan diam saja liat ubur-ubur disentuh Sukuna?! Jangan bercanda?!"
"Sialan! Kau mengacaukan alurnya, goblok!"
Gojo melepas tangan Geto dari kerahnya.
"(Name) mana??!!" Ujarnya dengan suara yang sedikit keras.
"Iya?"
(Name) muncul dengan seragam sekolah. Gojo melepas kacamatanya, lalu melangkah mendekati (Name).
"Kenapa udah ganti baju?! Aku belum ambil gambar kamu tau?!" Rengeknya.
"Eh ...? Buat apa ...?"
"Untuk kenang-kenangan, ubur-ubur!!"
"Nggak mau,"
Gojo terus merengek. (Name) menanggapi rengekannya dengan gelengan. Geto yang ada di belakang Gojo menghela nafasnya. Mengusap wajahnya kasar.
"Setidaknya drama ini selesai,"
~ 🎼🎵🎶 ~
(Name) melangkah keluar sekolah. Langit menampakkan warna jingga beberapa saat yang lalu. Dirinya sedikit terlambat untuk pulang karena harus membersihkan kekacauan kelas sehabis festival.
Gojo sendiri hilang entah kemana. Semenjak setelah dia merengek, Gojo langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Mungkin masih kesal karena (Name) yang terlalu cepat mengganti baju.
Dalam perjalanan pulang, (Name) merasa diikuti. Berhenti melangkah untuk merasakan kehadiran orang lain disekitarnya. Tidak ada apapun, jalanan yang dia lewati terasa sepi karena jarang orang yang lewat. (Name) melanjutkan langkah, bersikap biasa-biasa saja. Tangannya sudah mengambil belati yang dia beri energi kutukan untuk berjaga-jaga.
Suara gesekan semak-semak membuat (Name) menoleh ke arah kiri. Memasang kuda-kuda dan meneliti sekitar. Matanya kesana-kemari melihat semua objek.
"(Name)-chan?!"
Terlonjak kaget. (Name) reflek mengarahkan belatinya ke belakang.
"Eh?"
Mata mengerjab. (Name) menurunkan belatinya dan tersenyum canggung menatap seseorang yang memanggilnya barusan. Dazai Osamu. Teman sekolah dasar (Name).
"Kamu ... tidak kena 'kan?" Tanya (Name) khawatir.
"Tidak. Tenang saja. Aku bisa menghindarinya," jawab Dazai tersenyum tipis.
"Dazaii ... apa yang kamu lakukan disini?" Menyimpan kembali belatinya. (Name) melangkah diikuti Dazai.
"Aku ingin kerumahmu untuk berkunjung~ Ditengah perjalan aku malah menemukanmu memandangi semak-semak dengan serius!"
Menganggukkan kepala. (Name) kembali melihat sekitar. Masih curiga dengan keberadaan makhluk aneh disekitar sini. Memfokuskan dirinya, (Name) tidak merasakan energi apapun. Menghela nafas, dia merasa lega.
Dazai mengajaknya bicara. (Name) menanggapi dengan santai. Tersenyum tipis beberapa kali mendengar perkataan dan tingkah goblok Dazai.
"(Name)-chan! Aku menemukan cara bunuh diri yang baru! Kamu mau menemaniku--"
"Tidak mau."
"Yaah ...,"
Kecewa. Dazai melangkah dengan tidak bersemangat. Anak penuh perban dengan setelan jas hitamnya mengerucutkan bibir.
"Dazai ... kamu tidak gerah pakai perban terus?" Tanya (Name).
"Pertanyaan yang bagus, (Name)-chan!! Aku sudah terbiasa seperti ini!!" Kembali bersemangat. Dazai menanggapi dengan senyumnya.
"Kamu ... tambah luka lagi, ya?" (Name) bertanya setelah melihat perban tambal di pipi kiri Dazai.
"Iyaa! Aku terjatuh saat ingin ke toilet!"
Jauh dibelakang mereka. Sepasang mata ocean menatap membara pada (Name) dan Dazai yang sibuk berbincang. Tangan dalam saku mengepal erat, mendecih tidak suka dengan perasaan sesak di dadanya.
Berbalik badan. Melangkah kearah lain dari jalan (Name) dan Dazai. Dengan segala kekesalan yang muncul memancing emosi.
______________
Tadi disuruh bersihin ikan ... endingnya aku malah ...
'-'
Sudahlah.
Andift 🎵
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top