Chapter 7

"(...n)? . . . (Y/...) . . . (Y/n)!" Reina yang terlihat khawatir melambaikan tangannya di depan mata whitish black (Y/n) yang terlihat kosong sejak tadi. Gadis bersurai hitam itu berkeringat dingin , wajahnya pucat dan napasnya tersengal

Kesadaran (Y/n) akhirnya kembali setelah Reina mengguncang kuat tubuhnya

"R-Reina?"

'Sial. . .'

(Y/n) mengacak surai hitamnya. Matanya terpejam kesal , ia menggigit bibir bawahnya seolah kesal akan sesuatu

'Kenapa aku harus mengingat semua kejadian itu lagi?'

'Kenapa?'

'Padahal aku telah memutuskan untuk bangkit , bahkan aku telah berjanji pada Kaito untuk tidak memikirkan hal ini lagi. Aku telah berjanji bahwa aku akan menjadi diriku yang baru. Bukan Kurosawa (Y/n) yang lemah lagi'

'Tapi kenapa?'

"Hei , apa yang terjadi denganmu? Kau melamun sepanjang jam kuliah" Reina sedikit panik melihat kondisi sahabat baiknya itu

"Kau sakit? Akan ku antar kau ke rumah sakit sekarang juga" Reina menarik lengan (Y/n) hingga sang gadis bangkit dari kursinya

"Aku tidak apa-apa Reina" (Y/n) tersenyum tipis , ia melepaskan pegangan Reina dengan perlahan. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan jika ia tidak ingin membuat siapapun khawatir saat ini

"Tapi. . ." Reina masih tidak mempercayai kata-kata (Y/n) , gadis itu tahu ada yang salah dengan sahabatnya ini

"Percayalah padaku Reina" (Y/n) menggenggam kedua tangan Reina

"Ayo kita pulang" ujarnya sambil tersenyum

"Ayo. ." Reina segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

"Ne , ne , kau harus tahu (Y/n)! Minggu lalu Gem-kun mengajak ku pergi berkencan dan. . ." pembicaraan Reina terpotong ketika ada suara lelaki yang tiba-tiba saja muncul dari gerbang utama Todai (ngasal . y)

"(Y/n)-chaaan!!!"

"Eh?"

Seorang pemuda berambut goldenrod berlari dengan semangat menghampiri mereka berdua. Mata birunya terlihat berbinar-binar , dengan segera ia memeluk gadis bersurai merah yang ada di hadapannya

"Kaito nii-sama?!" wajah (Y/n) memerah ketika dipeluk oleh pemuda yang telah di sukai diam-diam olehnya selama delapan tahun lebih

Nakayama Kaito (anggap aja warna matanya biru)

.

"Kaito-nii?! Kapan kau datang?" tanya Reina , wajahnya dipenuhi ekspresi kaget

"Halo Reina-chan!" Kaito dengan segera melepaskan pelukan (Y/n) dan mengelus lembut rambut Reina

"Lama tidak bertemu , aku kangen!" ujar Kaito sambil mengacak surai Reina membuat gadis itu menepis tangan Kaito

"Kaito-nii!! Rambutku jadi berantakan jadinya!" sahut Reina kesal

"Ahaha , gomen gomen. . habisnya kita baru bertemu setelah sekian lama" Kaito menggaruk pipinya

"Huh , bagaimana di Amerika?" tanya Reina penasaran

"Begitulah , menyenangkan tinggal disana , tapi aku tetap lebih suka tempat kelahiranku sendiri" jelas Kaito

"Ekhem! Aku masih ada disini lho~" ujar (Y/n) merasa terkacangi

"Ah gomennasai , aku kelupaan saat menyapa Reina-chan" ucap Kaito merasa bersalah

"Gomen ne , jangan marah dong" tambah Reina

(Y/n) terkekeh lalu menarik tangan Reina dan Kaito "Aku hanya bercanda , ayo kita pulang"

Dan mereka bertiga pun segera berjalan menjauhi gerbang

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

"(Y/n)-chan. . ."

Saat ini mereka telah sampai di depan rumah kediaman Nakayama yang telah menjadi tempat tinggal bagi (Y/n) selama delapan tahun terakhir ini. Sekarang , Reina telah lebih dulu berpisah dengan mereka. Rumah Reina dan Kaito hanya terpisah beberapa blok saja sehingga mereka dapat selalu pulang bersama seperti ini

"Ng? Ada apa Kaito nii-sama?" tanya (Y/n) heran

"Ada yang ingin ku perkenalkan padamu" jawab Kaito , ia dengan segera membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang terdapat di teras rumah

(Y/n) segera menyusul kakak angkatnya itu , ia mengikuti Kaito dari belakang

"Siapa?" tanya nya

"Okaa-san! Tadaima!" Kaito mengucapkannya dengan ceria

'Dikacangin itu gak enak'

Kaito berjalan menuju ibunya yang tengah duduk bersama seorang gadis cantik nan anggun dengan iris mata Charcoal di sofa ruang tamu

"Tadaima. ." (Y/n) yang menyusul Kaito terlihat sedikit kaget dengan kedatangan orang asing yang tidak di kenalnya

"Ara , Kaito-kun! (Y/n)-chan! Kalian sudah pulang ternyata" Ayuka tersenyum ceria

"Ayo duduk sini" ujar Ayuka

(Y/n) dengan otomatis duduk disamping  Ayuka , sementara Kaito duduk disebelah gadis asing itu

"Ne (Y/n)-chan! Inilah orang yang sejak dulu ingin kuperkenalkan padamu" Kaito menggenggam tangan gadis tersebut membuat (Y/n) mau tidak mau merasa cemburu

"Hajimemashite. ." si gadis bangkit dari duduk kemudian membungkukkan badannya memberi hormat pada Sakura yang ada di hadapannya

"Watashi wa Suzuki Hanami desu , yoroshiku (Y/n)-san!"

Suzuki Hanami

.

"Ah. . aku Nakayama (Y/n) , salam kenal Suzuki-san" (Y/n) membungkukkan badannya membalas sikap hormat Hanami

"Ne , ne , ne!" Kaito terlihat sangat bahagia hari ini

Kaito menghampiri Hanami kemudian memeluk pinggangnya dari samping "Hana-chan dan aku sudah memutuskan untuk menikah seminggu lagi!"

DEG

(Y/n) merasa dunianya sudah berakhir

Gadis itu menatap getir dua pasangan yang ada di hadapannya. Mungkinkah Kaito terlalu bodoh sehingga tidak menyadari perasaan cintanya selama delapan tahun terakhir ini? Tega sekali ia melakukan hal ini padanya. Padahal selama ini (Y/n) selalu menjadikan Kaito sebagai motivasinya untuk bangkit , untuk tidak melakukan hal bodoh seperti melukai dirinya lagi , untuk melupakan semua rasa sakit hatinya dulu , untuk melupakan perasaannya pada Boboiboy Halilintar

(Y/n) hanya terdiam tanpa kata-kata. Ia harus pergi saat ini juga. Sebelum ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan melakukan hal bodoh di hadapan mereka semua. Mengingat kondisi kejiwaannya yang masih labil, ia sangat sadar bahwa kontrol dirinya saat ini masih lemah. Dengan segera ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar

"Aku akan pergi bersama Reina-chan untuk mengerjakan laporan kerja praktik di rumah sakit , mungkin aku tidak akan pulang hari ini" ujarnya dingin dan terkesan buru-buru

"(Y/n)-chan! Setidaknya kau harus mengobrol dengan Hana-chan dulu" protes Kaito

"Hn. ." (Y/n) tertawa miris

Kakak angkatnya ini bodoh atau bebal sih? Ia bahkan masih tidak mengetahui perasaannya bahkan sampai ia bertindak seperti ini pun Kaito masih berusaha untuk mengajaknya bergabung dengan mereka

Yang benar saja!

Apalagi mengobrol dengan Hanami , sudah untung ia tidak melakukan hal buruk pada gadis itu , apa yang akan terjadi jika kecenderungan mental disorder-nya kembali muncul menguasai dirinya. Saat ini mungkin ia sudah membunuh gadis tersebut , atau mungkin juga ia akan bunuh diri di hadapan Kaito dan Ayuka

'Aah membayangkan bagaimana menderitanya mereka ketika melihat dirinya mati bunuh diri rasanya menyenangkan'

'Mungkin saja si gadis bernama Hanami itu akan menjadi setengah gila sepertiku. Atau mungkin menjadi gila sepenuhnya'

'Hmm. . lalu Kaito akan menyesal karena tidak menyadari perasaanku selama bertahun-tahun. Mungkin saja ia akan ikut mati menyusulku , atau mungkin juga ia akan menjadi sepertiku'

'Kemudian Ayuka-sama akanー'

Hentikan! Sadarlah (Y/n)!

Sepintas bayangan-bayangan itu muncul dalam benak sang gadis , seringainya yang asalnya terpampang jelas pada bibir tipisnya segera memudar ketika ia merasakan ada sosok dirinya yang lain segera menghentikan pikiran-pikiran liarnya. Sepertinya saat ini ia masih dikuasai oleh sosok dirinya yang baik hati , bukan sosoknya yang lain. Bukan sosok psycho-nya yang senang melihat orang lain ataupun dirinya sendiri menderita

"Aku sibuk , jaa-!" (Y/n) melangkah pergi meninggalkan Kaito , Hanami , dan Ayuka yang yang hanya bisa terdiam dengan ekspresi kaget. Secepatnya ia harus segera pergi dari sini. . . sebelum ia membunuh seseorang , sebelum ia membunuh dirinya sendiri , sebelum kegilaannya kembali

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

T

AP

TAP

TAP

Setelah dirasanya cukup jauh , (Y/n) menghentikan langkahnya. Disusul air mata yang mulai mengalir di wajahnya

"Baka. ."

"Kaito no baka. ."

Gadis itu kesal. . .

Kesal mengapa yang ada saat ini adalah Kurosawa (Y/n) yang lemah?

Mengapa bukan (Y/n) si psycho saja yang menguasainya saat ini?

Hahaha. . .

Konyol. . .

Si idiot itu bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun padanya. . .

Tidak. . .

Siapa yang sebenarnya idiot?

Cih. .

Flashback

"Ne (Y/n)-chan , jika sudah besar nanti kau mau jadi apa?"

"Hmm. . . aku ingin menjadi dokter agar aku bisa menyelamatkan orang banyak!Sama seperti Kaito nii-sama yang telah menyelamatkanku waktu itu!"

"Wow , hebat sekali cita-citamu!" Kaito dengan segera mengangkat kelingking kanannya mengajak (Y/n) berjanji padanya

"Kalau begitu berjanjilah padaku , jangan pernah menyakiti dirimu sendiri lagi" (Y/n) menyambut jari kelingking Kaito

"Tentu saja! Berkat Kaito nii-sama , aku kan sudah sembuh. Aku akan tumbuh menjadi wanita yang luar biasa hingga kau akan kagum padaku!"

"Yosh yosh!" Kaito mengacak rambut (Y/n) dengan gemas

"Nanti jika aku sudah berhasil menjadi dokter apakah aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanya (Y/n) kecil

"Tentu saja! Apapun permintaanmu pasti akan kukabulkan" Kaito tersenyum hangat

Back to normal

Kenapa?

Kenapa kau tidak memberikan kesempatan sedikitpun padaku?

Padahal hanya tinggal sedikit lagi. .

Sedikit lagi aku berhasil menggapai cita-citaku untuk menjadi dokter. . .

Sedikit lagi hingga aku mampu untuk mengatakan perasaan cintaku padamu. . .

Kau jahat Kaito!

Kau sama saja dengan si Boboiboy sialan itu!

[ Zalina: Awas kena panci lu

Makasih dah ngingetin /dilempar banyak panci ]

Bersikap baik di awal namun pada akhirnya akan menghancurkanku juga

Dasar brengsek!

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

Halilintar bangkit dari duduknya dengan frustasi , ia menggeram kesal pada ayahnya yang telah semena-mena menjodohkannya dengan anak gadis salah satu rekan bisnisnya

"Aku tidak akan pernah mau menjadi bonekamu!" Halilintar berteriak lantang

[ T-rek: Aku bukan boneka mu /jungkir balik

Megaladon: Bisa kau buwung puyuh /joget ala hiu

Lubbock: Dengan seenak /kayang dipohon

Tatsumi: Ayam goyeng /goyang duma

. . . .

Lupain sj , mereka kehabisan obat ]

Amato bangkit menghampiri Halilintar , mencengkram kerah kemeja putih pemuda itu hingga pemuda itu terangkat sedikit ke udara "Kau tidak boleh menentang perintah ayahmu"

Sontak Taufan dan Gempa yang melihat itupun langsung menghampiri mereka berdua untuk mencegah ayahnya melakukan hal yang lebih buruk pada saudara sulung mereka

"Ayah hentikan! Lepaskan Hali!" seru Taufan

"Tenanglah ayah , pasti Hali sedang dalam mood buruk hari ini , jadi tolong jangan sakiti Hali" ujar Gempa

"Hn , ayah macam apa yang rela menggadaikan putranya hanya untuk mengembangkan perusahaannya? Ayah macam apa yang membiarkan almarhum ibuku menderita selama bertahun-tahun? Kau bahkan tidak pantas menjadi pemimpin keluarga ini!"

"Ugh , KAU!"

PLAKK

Amato yang telah tersulut emosinya akhirnya menampar Halilintar dengan sangat keras hingga pemuda itu terjatuh ke lantai

"HALILINTAR!!" spontan Taufan dan Gempa lansgung berlari ke arah saudaranya

"Cukup ayah! Berhenti menyiksa Halilintar!" seru Gempa dengan lantang

Sedangkan Halilintar hanya tersenyum tipis sembari mengelap darah yang ada di sela-sela bibirnya

"Sudah puas kau menampar anakmu sendiri?" tanya Halilintar

"Hali sudahlah , jangan buat dirimu semakin terluka!" Taufan memegang pundak Halilintar mencoba menenangkan

Sementara Gempa berdiri dihadapan Halilintar dengan merentangkan tangan seolah melindungi dari Amato

Sekali lagi Halilintar hanya tersenyum tidak ingin membuat kedua adiknya khawatir

"Cih. . berhentilah melindungi kakak sialan kalian itu! Dan kau Halilintar , kau sama saja dengan ibumu yang brengsek!"

"Keparat! Jangan panggil ibuku brengsek!" Halilintar dengan emosi langsung bangkit menghampiri Amato dan mendorongnya hingga terjatuh

Disusul dengan Taufan yang menarik kerah kemeja Amato lalu meninju pipinya dengan wajah yang penuh amarah

"HALI TAUFAN!! Tenangkan diri kalian!" Gempa menahan lengan Halilintar dan Taufan untuk menghentikan kedua saudaranya itu

"Kalian berdua!!" ucap Amato murka

"Kau boleh menamparku, memukulku, menghinaku, tapi kalau kau menghina ibuku sedikit saja. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu walaupun kau ayahku sendiri!" manik ruby-nya berkilat marah menatap Amato yang masih terduduk di lantai

"Dan berhenti mengatai ibu kami yang padahal tingkah mu jauh lebih busuk dari binatang!" seru Taufan dengan amarah yang sudah menggebu-gebu

"Jangan cari aku!" dengan segera Boboiboy Halilintar meninggalkan kediaman Boboiboy

"Ayo Gempa!" Taufan menarik tanga n Gempa ikut keluar dari kediaman Boboiboy

"HALILINTAR , TAUFAN , GEMPA!! Kembali kesini kalian anak bodoh!" Amato berteriak memanggil Halilintar , Taufan dan Gempa yang telah berlari menghindari semua petugas keamanan yang berniat mencegah mereka pergi

Dengan gusar Halilintar membuka mobil Ferrari hitam miliknya kemudian memacu mobil itu secepat yang ia bisa

Sementara Taufan dan Gempa juga menaiki mobil Ferari-nya masing-masing dan menggunakan jalan lain untuk keluar dari rumah tanpa sepengetahuan penjaga yang mengejar mereka

"Minggir!" teriak Halilintar pada petugas keamanan yang disuruh ayahnya

"Aku tidak akan segan-segan menabrak kalian hingga tewas jika kalian menghalangiku!"ancamnya kepada ketiga petugas keamanan yang menghalangi mobilnya

Melihat kesungguhan di manik ruby Halilintar , mereka segera mundur karena ketakutan

BRAKK

Dengan segera Halilintar menabrakkan mobilnya ke pintu pagar setinggi empat meter itu hingga pintu itu terbuka paksa dan kuncinya rusak. Tanpa pikir panjang ia menaikkan gigi mobilnya dan menginjak pedal gas sekuat yang ia bisa

Sungguh , ia tak sanggup lagi jika harus tinggal di rumah menyeramkan itu lagi

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

Halilintar dengan gusar menghentikan mobilnya di depan salah satu diskotik yang berada di daerah Shibuya (ngasal lagi). Mungkin sedikit minum akan bisa menghentikan kekalutannya saat ini

Namun sialnya , saat Halilintar ingin memasuki bar , tiba-tiba saja datang hujan deras disertai guntur membuatnya menggeram kesal . Tapi saat melihat ke jendela mobil , alangkah kagetnya Halilintar ketika menemukan sosok gadis bersurai hitam yang terduduk ditanah membiarkan hujan membasahi tubuhnya

Sepertinya takdir kembali mempertemukan mereka eh?

Dengan segera Halilintar mengambil payung dikursi belakang dan langsung berlari keluar mobil menghampiri sang gadis

Ia memayungi gadis itu "Apa yang kau lakukan disini (Y/n)?"

"Ara~?" (Y/n) menatap Halilintar dengan tatapan sayunya

"Ada apa Tuan Muda Boboiboy datang kesini?"

'Dia baru menangis? Tapi kenapa dia menangis dibawah hujan seperti ini?' batin Halilintar

"(Y/n) , apa yang terjadi denganmu?" Hilang sudah keinginannya untuk minum bir malam ini

Halilintar jauh lebih mengkhawatirkan keadaan gadis ini daripada minum-minum untuk melupakan masalah dengan ayahnya tadi "Ayo ku antar kau pulang"

"Heh pulang? Pulang kemana? Aku bahkan tidak memiliki rumah" (Y/n) tertawa miris

"Apa maksudmu?" Halilintar benar-benar khawatir , dia merogoh kantong bajunya untuk mencari ponselnya

"Aku akan menelpon Reina untuk menjemputmu" dengan segera Halilintar mencari nama Kimura Reina di daftar nomor telepon , jarinya tombol hijau ketika menemukan nomor yang ia cari

"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silakan coba beberapa saat lagi"

"Shit!" Gerutu Halilintar

Ketika hendak mencoba untuk yang kedua kalinya (Y/n) menghentikannya

"Percuma saja , hari ini Reina sedang menginap dirumah neneknya dan baru akan kembali hari senin nanti" ucapnya dengan suara yang terdengar sangat aneh

'Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini?' pikirnya

Sang gadis menundukkan kepalanya sampai poni menutup wajah cantiknya , meski hanya diam tapi Halilintar tahu kalau gadis itu tengah menangis . Terlihat dari bahunya yang bergetar

Saat ini keadaannya benar-benar berantakan. Surai hitamnya kusut masai , pakaiannya basah kuyup , mata sembab yang di lihatnya sebelum (Y/n) menundukkan kepala

Halilintar akhirnya menyerah untuk menghubungi siapapun , dia mengangkat (Y/n) yang sedang menangis secara bridal style "Ayo kita pergi dari sini sebelum kau jatuh sakit"

"A-apa yang kau lakukan?! Aku tidak mau pulang! Lepaskan aku!" (Y/n) menghentak-hentakkan kakinya membuat Halilintar sedikit kerepotan mengendongnya

"Onegai Hali-kun. ." teriakannya berubah menjadi lirihan kecil yang disertai isak tangis

"Jangan biarkan aku kembali kesana lagi..."

Mendengar itu tentu saja Halilintar kaget , (Y/n) memangilnya dengan nama depannya. Apa gadis ini sedang tidak sadar? Karna kalau sadar , (Y/n) pasti akan memanggilnya dengan sebutan Boboiboy. Kalaupun memanggilnya dengan Hali-kun pastilah sang gadis sedang menyindirnya. Bagaimanapun juga (Y/n) tak pernah mau memperlihatkan kelemahannya pada Halilintar

Halilintar hanya terdiam. Tak memberikan jawaban berarti pada (Y/n). . . saat ini pun Halilintar sedang bingung harus pergi kemana. Meningkat pertengkaran hebat dengan ayahnya yang terjadi tadi , mana mungkin ia bisa pulang ke rumah?

Mungkin malam ini ia memutuskan untuk menyewa salah satu kamar hotel untuk tempatnya dan (Y/n) menginap

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

Setelah berhasil membuka pintu kamar , Halilintar segera membaringkan gadis bersurai hitam yang dari tadi hanya diam dengan tatapan kosongnya di ranjang berukuran King Size yang ada diruangan hotel mereka. Ruangan kamar hotel itu sangat indah , semua furniturenya terlihat sangat mahal. Sebuah kamar mandi , sofa , meja kerjan, dan balkon yang menghadap ke pemandangan kota Tokyo merupakan poin terpenting yang ada disini

[ Aomine: Lah lah lah , ngapa jadi promosi

Buat tambah durasi ketikan biar gak pendek ]

Sang Boboiboy prodigy ini melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki (Y/n). Setelah berhasil melepaskan sepatu si gadis , dia segera mengambil handuk kecil dan air hangat dari kamar mandi

"Kau harus membersihkan tubuhmu dulu (Y/n)" Halilintar memeras sedikit handuk kecil yang ada di genggamannya dan mulai mengelap wajah cantik gadis bersurai hitam yang masih terdiam

"Katakan padaku. . . apakah Kaito-nii membenciku?" seketika gerakan tangan Halilintar terhenti , pemuda Boboiboy itu terdiam dengan ucapan (Y/n) yang terkesan tiba-tiba

'Siapa Kaito? Apakah dia yang telah menyebabkan (Y/n) menjadi seperti ini?'

Halilintar tak memberikan tanggapan apapun. Ia hanya membiarkan (Y/n) mengeluarkan semua perasaannya , ia hanya akan menjadi pendengar yang baik saat ini

"Padahal ia seharusnya tahu bagaimana perasaanku selama delapan tahun terakhir ini. Padahal seharusnya ia tahu seberapa besar rasa sukaku padanya" (Y/n) kembali terisak

"Katakan padaku kenapa dia harus menikah dengan gadis lain?"

Wajah tampan Halilintar mengeras. Mulutnya bergerak namun tak ada sedikitpun suara yang keluar , ia tak sanggup bicara apapun saat ini. Sungguh Halilintar tidak kuat melihat gadis yang ia cintai seperti ini

Namun apa boleh buat?

Tak ada yang bisa pemuda itu lakukan

Seandainya. . .

Sedandainya saja (Y/n) memaafkan kesalahannya dulu. . .

Seadainya saja dulu ia tidak berlaku kejam pada sang gadis. . .

Seandainya saja ia tidak mengalami depresi yang membuatnya dengan mudah terpengaruh dengan teman-temannya saat itu. . .

Seandainya saja jika ia tetap membela (Y/n) sampai akhir dan menjadi ksatria pelindungnya , pastilah (Y/n) tidak akan menghilang dari kehidupannya

Pastilah si gadis tidak akan mengalami mental disorder atau apapun itu. . .

Pastilah si Kaito tidak akan muncul dalam kehidupannya. . .

Pastilah ia sudah mengajak gadisnya menikah ketika ia masuk universitas dulu. . .

Percuma saja kau berandai-andai Halilintar

Karena pada kenyataannya waktu tak dapat diputar kembali. . .

Sebanyak apapun kau menangis memohon , sebanyak apapun kau berdo'a , sebanyak apapun kau berusaha. . .

Waktu takkan bisa diputar kembali. . .

"Ne , Hali-kun kau tahu?"

[ Hali: Kagak

Ga gitu skripsinya anjir

Hali : Bodoamat , gak peduli gua

Oh gitu? Yaudah gua tinggal kirim aib lu ke Boboiboy yang lain

Hali: Percuma ngancam , emang lu punya aib gua?

Itu yang make baju phikacu , trus pas lu masang wajah imut

Hali: Heh! Jangan berani-beraninya lu kirim

Yaudah makannya nurut aja ketan!

Hali: His , iya iya]

"Hn?"

"Kaito-nii lah yang menyelamatkanku saat aku hampir saja mengakhiri hidupku sendiri. Dialah yang sabar menemaniku selama aku berada di rehabilitasi ,  memberikanku motivasi untuk bangkit hingga dokter telah menyatakanku sembuh dari penyakit kejiwaan yang saat itu kuderita" bagaimana gadis itu bisa sejujur ini? Sepertinya ia benar-benar tidak sadar sekarang

"Tapi kurasa dokter-dokter itu salah , aku belum sembuh sepenuhnya"

Halilintar hanya terdiam menunggu kelanjutan cerita (Y/n) , ia duduk bersila di lantai sementara (Y/n) berbaring di ranjang yang ada di sampingnya. Halilintar menatap wajah cantik yang sendu itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan

Kembali terbayang saat pertemuannya yang kedua kalinya dengan sang gadis , saat hujan deras menerpanya , saat ia melihat (Y/n) tertawa tak lazim , kata-katanya saat itu. . . semuanya. . . jelas bahwa si gadis sama sekali belum sembuh

"Aku merasa sisi diriku yang lain kembali bangkit. . . Terutama saat aku bertemu denganmu"

DEG

[ Kagami : Deg dig dag dig dug

Megaladon : Hatiku berdenyut

Diem kalian ]

Halilintar merasakan dadanya sakit. Seperti rasa sakit yang muncul saat kita mengalami kesedihan yang luar biasa , tangannya bergetar saat berusaha memindahkan baskom kecil berisi handuk dan air hangat dari atas kasur

"Entahlah aku pun tidak mengerti. Kenapa aku kembali ingin menyakiti diriku sendiri jika aku melihatmu?"

"(Y/n) , kumohon. . ." runtuh sudah pertahanan Boboiboy , dia sungguh tak sanggup jika mendengar bahwa gadis ini semakin ingin menyakiti dirinya sendiri jika berada di dekatnya

"Kumohon. . . jangan sakiti sakiti dirimu lagi. . ." Halilintar menyentuh telapan tangan kanan (Y/n) dan menggenggamnya

(Y/n) hanya terdiam tanpa kata-kata

"Apakah ini sakit?" pemuda Boboiboy itu menyentuh luka gores yang terdapat pada lengan kanan (Y/n)

Halilintar menggulung kemeja gadis itu hingga ke bahu , dengan hati-hati Halilintar mengoleskan luka tersebut dengan antiseptik yang telah diambilnya dari kotak P3K yang telah tersedia di kamar hotel

"Tidak. ." (Y/n) menggelengkan kepalanya

"Di sini lebih sakit. ." (Y/n) mengarahkan lengan Halilintar menuju ke dada kirinya , jantungnya

"Hati ku sakit , sampai-sampai jantungku pun terasa sakit"

"Apa yang harus kulakukan untukmu?" tanya Halilintar erotis

"(Y/n). . . katakan padaku" Halilintar menatap wajah cantik (Y/n) dengan tatapan memohon

Ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu perlahan dan mengecup singkat bibir tipis gadis itu singkat , sangat singkat hingga mungkin ciuman itu hanya berlangsung selama dua detik saja

[ Baygon plis-

Zen: Gak boleh! Udah berkali-kali minum baygon juga

Yaudah iya ]

(Y/n) tak menjawab , sang gadis hanya terdiam menanggapi ciuman Halilintar dengan reaksi apapun. (Y/n) menutup mata hitamnya seolah mengantuk mengingat ia sudah menangis dari tadi

Dalam diam (Y/n) mengamati sang Boboiboy pridogy yang tengah duduk meringkuk di sebelahnya. Pemuda itu terlihat sangat desperate , bahkan ia bisa melihat bahu Halilintar yang sedikit bergetar. Saat ini (Y/n) tahu kalau sang pemuda tengah menangis dalam diam , menangis tanpa suara

Sejujurnya (Y/n) sadar saat dirinya bercerita soal Kaito , hanya saja ia tak ingin kalau Halilintar tahu jika dirinya sedang tidak sadar. (Y/n) hanya ingin mengetahui bagaimana sikap pemuda tersebut padanya. Sikap jujur tanpa kebohongan di dalamnya , tanpa ada sedikitpun sifat dingin yang selama ini menjadi khas Boboiboy Halilintar

Melihat keadaan Halilintarnya yang menyedihkan , tanpa sadar air mata turun dari manik whitish black-nya yang kini tengah menatap sayu Halilintar yang masih saja membenamkan wajah pada kedua lengannya

"Kenapa?"

"Kenapa kita harus menjadi seperti ini?"

"Ne ,  katakan padaku" mata whitish blacknya kembali tertutup

"Katakan padaku Hali-kun"

┢┅┄ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘✦▭✧◦👑◦✧▭ ꓸ᭄ꦿ⃔✦𖣘┄┅┧

"

Ohayou Boboiboy. ."

Halilintar perlahan membuka kelopak matanya , ia melihat sosok gadis bersurai hitam yang tengah menatapnya. Surai gadis itu sedikit basah dan dari pakaiannya yang telah rapi dan wangi yang menguar dari tubuhnya , pastilah ia baru saja selesai mandi

"(Y/n)?" Halilintar segera bangkit dari posisinya yang meringkuk di lantai berkarpet. . . kepalanya sakit , mungkin karena kejadian semalam

Bagaimanapun mendengarkan cerita gadisnya semalam sangat berpengaruh pada kestabilan emosinya. Walaupun jujur , tak ada apapun yang terjadi semalam. Hanya sebuah ciuman singkat yang berlangsung dua detik saja

"Hm bagaimana perasaanmu?" tanya sang gadis

"Bodoh , harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu" si pemuda Boboiboy membalikkan pertanyaan gadis itu

(Y/n) tertawa kecil "Sudah lebik baik , jika saja tuan muda Boboiboy tidak menolongku , badanku pasti sudah sepanas matahari sekarang"

"Jangan bicara sesuatu yang mengerikan seolah itu adalah lelucon (Y/n)" Halilintar terlihat kesal melihat sikap ketus dan dingin Sakura yang sudah kembali

Sungguh dirinya benci ini. . .

Halilintar lebih menyukai (Y/n) yang polos dan lemah lembut , (Y/n) yang selalu memanggilnya Hali-kun dengan suaranya yang merdu , (Y/n) yang terlihat lemah namun kuat , (Y/n) yang membuatnya ingin melindungi gadis itu

Bukan (Y/n) yang ada di hadapannya saat ini. . .

"Oke , oke. . . kau menang Boboiboy"

(Y/n) mengangkat tangannya seolah menyerah akan sesuatu "Aku tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi"

"Hn. ."

"Hm , kenapa semalam kau tidak membiarkanku saja? Kau tinggal meninggalkan aku dan membiarkanku terguyur hujan. . . mudah kan?" (Y/n) memeluk bantal

"Ck , kalau kau berharap untuk menyakiti dirimu sendiri atau yang lainnya , maka lupakan saja harapan kosong mu itu"

Ayolah (Y/n) , mengertilah saat ini Halilintar benar-benar ingin melindungimu

"Ternyata kau sudah tahu ya. . ." ujarnya dengan lirih

Halilintar tak menjawab , dia malah berjalan menuju ke balkon dan membuka pintu kaca yang ada disana , membiarkan udara segar masuk kedalam

"Jadi. . . setelah ini apa yang akan kau lakukan?" Halilintar memalingkan kepalanya menatap (Y/n) yang masih duduk di atas ranjang

"Hmm , apa ya?" (Y/n) menatap langit-langit kamar , kemudian manik whitish black-nya kembali bertatapan dengan iris ruby Halilintar

"Mungkin aku akan membunuh calon istri Kaito-nii kemudian menggantung mayatnya diatas mimbar saat pernikahan mereka berlangsung. . . bagaimana? Ide bagus kan? Atau mungkin aku akan gantung diri di hadapan para undangan saat pernikahan mereka berlangsung" (Y/n) tertawa kecil

[ Kagami : Lu ngajari apa ama tu cewek bung

Lah kok gua

Megaladon: Disini yang paling sadis lu Kat

. . .

Gak ada hubungannya ama gua
/Run

Aomine: OY! ]

Manik ruby Halilintar melebar. Bagaimana mungkin gadis bersurai hitam ini bisa tertawa ketika mengatakan hal semengerikan itu? Ia tak bisa membayangkan bagaimana kacaunya acara pernikahan itu nantinya. Bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan (Y/n) kembali tersesat dalam kegelapan seperti itu lagi

"Hahahaha! Kau lucu sekali Halilintar!" (Y/n) tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar

"Kau pikir tadi itu serius?"

He?

Jadi itu hanya bercanda?

Yang benar saja!

"Tentu saja aku menganggap itu serius" wajah Halilintar terlihat kesal

"Apalagi perkataan itu keluar dari gadis psycho dengan mental disorder sepertimu"

"Cih , kau pikir aku akan membiarkan diriku yang lain untuk mengambil alih pikiranku?" (Y/n) bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati Halilintar hingga kini ia tepat berada disamping pemuda tersebut

"Tidak akan. ." ujarnya singkat

"Hn. . . bagus" Halilintar mengusap kepala (Y/n) pelan

Dengan kasar (Y/n) menyingkirkan tangan Halilintar yang mengusap kepalanya "Jangan kau pikir kau bisa menyentuhku seenaknya! Dengar ya Boboiboy Halilintar , saat ini aku belum memaafkan mu. . . jadi pikirkan baik-baik sebelum kau menyentuhku , karena mungkin saja kebencianku padamu akan bertambah"

"Bagaimana aku bisa membuatmu memaafkanku jika bahkan kau tidak memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya?" tanya Halilintar

Ia menatap gadis yang berada di sampingnya dengan tatapan serius "Berikan aku kesempatan. ."

(Y/n) menghela nafas "Wakatta , kuberi kau kesempatan. Kuberi waktu kau hingga sidang keprofesianku yang akan dilaksanakan tiga bulan dari sekarang"

(Y/n) menatap manik ruby Halilintar "Jadilah pacarku"

Halilintar terlihat sedikit terkejut ketika kalimat ini keluar dari mulut (Y/n)

"Dalam jangka waktu tiga bulan ke depan, jika kau tidak bisa membuatku memaafkanmu maka kita akan putus saat itu juga. Dan aku akan menjamin bahwa aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu. Aku akan mengambil studi spesialisasiku di luar negeri tanpa memikirkan apapun lagi"

"Hn. . ." Halilintar tersenyum kecil , walaupun sebenarnya dalam hatinya ia sangat bahagia mendengar penawaran dari (Y/n). Akhirnya akan ada kesempatan dimana ia bisa memperbaiki semuanya tanpa memutar waktu

"Deal.  ." ujarnya seraya menjabat tangan (Y/n)

"Deal. ." (Y/n) menganggukkan kepalanya

Bagaimanapun saat ini ia benar-benar membutuhkan pengalih perhatian. Sedikit merasa bersalah pada Halilintar yang hanya ia anggap sebagai pelariannya setelah ia dicampakkan oleh Kaito. Sebab jika pikirannya tidak teralihkan mungkin saja sisi psycho nya akan kembali muncul , mungkin saja ia akan membunuh dirinya di depan umum atau pun ia membunuh Hanami dan meletakkan mayatnya diatas mimbar seperti yang ia katakan pada Halilintar tadi

Gadis itu benar-benar membutuhkan pengalih perhatian saat ini




TBC

4239 kataー

Sorry it's been a long time to update this story .

Jangan lupa vote + komen .

Katsu udah bela-belain ngetik sampai segitu jadi tolong hargai .

Gomen kalau chapter kali ini jelek atau gimana .

Nah , see in next chapter-!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top