37 | sunset glow


"Ismail udah bilang kan, kalau gue bakal dateng?" Iis menanyai Regina begitu dilihatnya cewek itu keluar dari gedung kantor tempat Mail dan Gusti magang, di jam dua belas siang keesokan harinya.

Iis sengaja izin makan siang di luar demi menjadi jubir Ismail doang.

Regina mengangguk. "Mau ke kafetaria aja, atau lunch di luar?"

"Di luar aja, yuk? Yang deket-deket sini, jalan kaki aja."

Sekali lagi Regina mengangguk. Nggak enak juga kalau nanti ada yang menguping obrolannya dengan Iis di kafetaria. Dia nggak mau bikin kehebohan menjelang resign—setelah menjadi HR teladan tiga tahun belakangan.

"Sebelumnya, gue mau minta maaf dulu kalau kemarin-kemarin ada kata-kata gue yang kurang berkenan." Selesai memesan, Iis membuka sesi heart to heart mereka dengan permohonan maaf ketika tidak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di sebuah restoran pasta tidak jauh dari Fitness Founders.

Dapat tempat duduk di restoran di Canggu saat jam makan siang, di bawah AC pula, adalah sebuah nasib baik. Iis jadi cukup percaya diri bahwa pertemuannya dengan Regina siang ini akan membawa hasil sesuai harapan.

"You didn't do anything wrong." Regina mesem. Mengangguk sopan pada waiter yang mengantarkan minuman mereka berdua. "I can't be crying here, so just choose a safe topic, okay?"

Iis mendesah, memutuskan basa basi dulu sambil menunggu spaghetti aglio olio mereka berdua tiba. Dilanjut fokus makan dengan cepat. Dalam hati Iis menyesalkan keputusannya untuk bertemu di jam istirahat siang. Matahari yang terik banget dan lalu lalang manusia di sekitar mereka membuat suasana jadi kurang mendukung untuk ngobrol leluasa. Harusnya dia minta ketemu seusai jam kerja. Ah, Iis pendek banget sumbunya!

"Btw, you look better than what Mail describes." Iis menggumam ketika melihat Regina bisa menghabiskan makanan di piringnya tanpa kesulitan, karena Mail nggak mungkin bisa.

"I have no health problems at all."

"Jadi kenapa dia bisa cemas banget sejak ketemu lo Jumat malem?"

Regina mengambil tissue yang disediakan untuknya dan mengelap bibir, sengaja tidak menjawab.

"Rei, fyi, I didn't come to interrogate you."

"I know." Regina menjawab sembari menghindari kontak mata.

Sama seperti Ismail, perempuan ini susah banget diajak ngomong. Tipe-tipe yang terlalu pesimis bahwa orang lain bisa saja rela mencurahkan energi untuk mendukungnya tanpa pamrih.

Well, nggak semua orang seberuntung Iis, yang hidupnya dikelilingi orang baik. Justru mungkin lebih banyak yang tumbuh dan hidup di lingkungan yang kurang kondusif, hingga terbiasa cuma mengandalkan diri sendiri. Iis paham banget, karena dua puluh tahun hidup cukup memberinya kesempatan untuk bertemu dan mengenal banyak karakter orang.

Iis mesem, mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan cewek di depannya, dengan harapan bisa memberikan ketenangan. "Dan fyi, gue sama sekali nggak berniat menginvalidasi situasi lo. Justru gue wonder, lo bisa banget kelihatan nggak kenapa-napa di depan gue, padahal gue tahu Ismail nggak akan heboh kayak gitu kalau lo emang nggak mengkhawatirkan.

"Rei ... elo nggak perlu ngomong atau jelasin apa-apa kalau menurut lo nggak perlu. I'm an outsider, you owe me nothing. Terus tadinya gue mau bilang kalau gue ada buat lo kalau lo butuh, tapi bullshit banget kan, karena dua minggu lagi gue dan yang lain udah balik ke Jakarta.

"Tapi Rei ... selagi kita di sini, kalau lo butuh orang buat dengerin lo, atau lo butuh sesuatu dari gue dan yang lain, feel free to ask.

"Meski nggak bisa selow ketemu kapan aja kayak dulu lagi, paling nggak masih bisa ketemu pas lunch break kayak gini.

"Hopefully elo nggak ngerasa sendirian."

Bernapas lega, Iis mencoba me-recall kembali kalimatnya tadi. Berharap nggak ada yang ketinggalan, dan berharap nggak ada salah kata.

Dengan tenang dia menunggu Regina merespon.

Tapi hingga bermenit-menit kemudian, Regina cuma menjawab dengan seulas senyum yang gagal diterjemahkan Iis, sampai jam menunjukkan waktu makan siang Iis sudah hampir habis.

"Iis ...." Barulas saat hendak berpisah, Regina bersuara lagi.

"Yes?" Iis menunggunya dengan sabar.

"Tolong yakinin Ismail, kalau kondisinya nggak membaik, lebih baik cepet balik ke Jakarta. Fokus berobat di sana."

"Terus elo gimana?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Regina cuma tersenyum dan pamit pergi.

Agak disayangkan, karena justru pertanyaan Ismail mengenai kesehatan Regina nggak bisa Iis tanyakan dengan serius.


~


Bahagia Gusti sederhana. Anak-anak mau patungan beli seafood segar di pasar Kedonganan malam-malam, dengan Zane mau jadi supir, dan tiba di rumah tempat untuk membakar dan segala bumbu-bumbunya sudah siap ... nikmat Tuhan mana lagi yang mau Gusti dustakan?

Memang sih, Ismail dua singgit malah menghilang dari rumah dan nggak ada yang tahu dia ke mana, tapi ... bodo amat, hahaha. Gusti lagi ngidam lobster, nggak mau mikirin Ismail dulu.

"Random banget, tapi kalau makan seafood dari Kedonganan tuh gue ingetnya ama Regina." Sabrina nyeletuk sambil membolak-balik udang dari atas pemanggang biar nggak overcooked sebelah. "Soalnya kan dia yang ngasih tau di mana beli seafood murah."

Gusti yang duduk di sebelahnya cuma bisa manggut-manggut dengan mulut penuh.

Agak sedih juga kalau diingat-ingat.

Soalnya, dulu rate Regina sebagai teman itu 10/10 bagi Gusti. Tapi siapa sih yang nggak ilfeel setelah apa yang udah terjadi?

Walau biasanya Gusti bisa tutup mata dan tetap berteman dengan kawan-kawannya yang brengsek dan suka main di belakang pacar-pacarnya, tapi selingkuh dari pasangan sah dan bikin hidup selingkuhannya runyam tuh agak sulit dimaafkan. Jadi rate Ismail yang 3,5/10 sekarang masih berada jauh di atas Regina yang kembali ke 0.

"Udahlah, nggak usah ngerasa gimana-gimana. Wong Regina pas main sama kita juga disayang-sayang. Malah kita yang ujug-ujug ditikam dari belakang." Gusti mengambil satu udang yang barusan dibalik Sabrina, mengoper ke Zane yang duduk di sebelahnya. Tidak lupa pura-pura mengusap sesuatu yang nempel di sudut bibir si cowok, membuat Zane kontan nyembur.

"Bangsat, jangan sentuh gue!"

"Itu ada bumbu ketinggalan, Sayangku."

"Gue selalu rapi ya makannya!"

Bimo bergidik, Mbak Iis menggeser Zane ke pinggir.

"Gue aja yang disayang, Zane buang ke laut." Cewek itu kemudian menyenggol temannya, dan Gusti mengambilkan satu lagi udang yang paling besar untuk temannya.

Belum juga pada kenyang, mendadak pintu depan terbuka dan Ismail masuk dengan langkah gontai. Nggak kelihatan mukanya, tapi dari gesturnya sudah jelas kalau dia ... ke mana lagi kalau bukan abis menguntit Regina?

"Makan, Il." Iis memanggilnya.

Mail malah duduk di sofa, mengabaikan teman-temannya.

Lalu belum semenit dia duduk, sudah bangkit lagi, membuat Iis segera lari menyusulnya sebelum membuka pintu.

"Mau ke mana lagi?"

Dan betapa terkejutnya Iis mendapati temannya itu sudah amat merah mukanya menahan tangis.

"Lo abis balik dari tempat Regina, kan?" Iis mencoba menahan temannya dulu. Ya memang sih, tadi sudah sempat makan sepulang dari kantor. Tapi melihat kondisinya sekarang, agaknya mengkhawatirkan kalau dibiarkan keluar lagi.

Jangan sampai karena gundah, dia malah pergi mabuk sampai pagi dan besok-besok pulang tinggal nama.

"Regina ngapain lo lagi? Atau lo ketemu suaminya?"

"Dia nggak ada di kosan ...."

Iis merengkuh temannya yang sedang kayak anak kecil tantrum itu. Mengusap pelan punggungnya. "Lalu?"

"Tadi sore dia collapse, di bawa pergi suaminya. Gue harus gimana, Is?"

YA UDAH, GAK GIMANA-GIMANA, BUKAN URUSAN LO JUGA! Tapi Iis tidak mengatakannya.

"Gue mau cari dia." Ismail melepaskan rengkuhan Iis.

"Hah, buat apa?" Iis melotot.

"Kalau sampai collapse, berarti kondisinya parah, kan? Gue bilang dia kayak orang sekarat, she's even had her period more than two weeks. Pasti ada yang nggak beres."

"Iya, lo ama Regina diguna-guna ama lakinya. Kalau gue jadi laki Regina, kayaknya juga bakal gitu, sih." Gusti menyahut, membuatnya dilempari tatapan nyalang Ismail.

"Gue pergu du—"

"Iya, tapi ke mana??"

Iis masih mencekal pergelangan tangan temannya, menoleh ke Zane untuk minta bantuan.

"I don't know, yang jelas gue nggak bisa diem aja di rumah."

"Nanti lo pingsan di jalan, siapa yang ngurusin??"

"Gue nggak bakal pingsan!"

Baru juga Ismail selesai ngomong, Zane sudah mendaratkan satu bogem mentah ke mukanya, membuat cowok yang sedang nggak punya tenaga itu jatuh tersungkur ke sofa.

"Kurang sabar gimana kita sebagai temen lo?" Zane mencengkeram kerah kemeja temannya, memaksa Ismail berdiri lagi.

"Ini urusan hidup dan matinya orang, bangsat! Lo nggak inget, gimana lakinya nyeret-nyeret dia keluar dari sini? Dia bisa ngelakuin itu, berarti bisa ngelakuin apapun!" Meski bibirnya sobek, Ismail seolah nggak merasakan sakit.

"Tapi dia bilang, nggak butuh bantuan lo!"

"Dia ngomong gitu karena nggak mau ngerepotin!"

"Dan elo nggak peduli ngerepotin kita?"

Kalimat terakhir Zane membuat Ismail membatu. Kedua cowok itu saling menyipitkan mata, membuat Sabrina nggak bisa lagi fokus membolak-balik udang dan ingin menangis.

Iis juga sudah menyingkir karena ngeri, memperhatikan kedua temannya sambil mencengkeram pinggiran sandaran sofa.

"Gue bersedia keluar dari sini biar kalian nggak repot!" Ismail mendesis, mengempaskan tangan Zane dari pakaiannya. "Bangsat, ama temen ngomongin repot-repot segala!"

Sekali lagi, Zane menampar Ismail sampai jatuh duduk di sofa. Dan jatuhnya Ismail untuk kedua kali ini mau nggak mau membuat Iis segera menghampiri Zane dan gantian mencengkeram tangan temannya itu, membisikkan 'Udah, Zane' berkali-kali.

"Malem ini lo diem aja di rumah, jangan ngapa-ngapain. Lo lagi emosi, nggak bisa mikir rasional."

Ismail tidak menjawab. Bahkan menatap temannya pun tidak.

Karena Zane dan Ismail sama kerasnya, dan nggak ada yang mau ambil posisi jadi penengah, Iis lah yang kemudian duduk di samping Ismail dan berusaha membuat kesepakatan.

"Emang kalaupun mau nyari, lo mau ke mana? Terus kalaupun ketemu, elo tuh orang luar, Il. Lo nggak punya hak."

"Cari alamat KTP dia di kantor atau di kosan. Seenggaknya meski nggak bisa bantu, paling nggak tau kondisinya sekarang gimana. belakangan dia lebih parah daripada gue, gue nggak mau menyesal karena tutup mata."

Kalau Jumat kemarin dia hanya menangis di depan Iis, kali ini di depan semua orang.

Zane berdecak. Ingin mengabaikan tapi tidak bisa.

"Gue sama Agus yang cari tau. Elo di rumah."

Ismail masih mau ngeyel, dan Gusti melotot karena dikorbankan.

"Ngaca, woy, ngaca. Bukan cuma Regina yang kayak mau mati. Elo juga." Terus Zane ganti menoleh ke Sabrina. "Sab, kasih Abang lo makan. Kalau dimuntahin, kasih makan lagi."

Sabrina kontan mengangguk-angguk patuh.


~


Tentu saja, besok paginya Mail nggak bisa masuk kerja karena sejak semalam badannya tidak berhenti menggigil dan berkeringat.

Mual-mualnya juga tidak kunjung reda.

Mau sarapan saja, baru turun ke dapur, belum sempat membuka bungkus makanannya, dia sudah lari lagi ke kemar mandi.

Nggak ada pilihan lain, cowok itu kembali dilarikan ke IGD, dan Zane terpaksa izin masuk siang demi mengantarnya.

"Alamat Regina yang di Jakarta biar Rachel yang nyariin." Zane berkata ketika Ismail sudah dipindahkan ke ruang ruang rawat inap kelas tiga, satu ruangan dengan lima pasien lain.

Semalam dia sudah ke kantor tempat Ismail magang bersama Gusti. Tapi karena jam sembilan malam hanya ada staf fitness yang ada, sementara staf kantor sudah pulang semua, mereka tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Rencananya, pagi ini Gusti yang akan mengusahakan, kalau memang informasi pribadi karyawan boleh diminta.

Zane lalu keluar duluan untuk mengurus administrasi rawat inap. Meninggalkan Ismail berdua dengan Sabrina yang juga mungkin akan terlambat masuk ke kelas surfing.

"Gue takut dia kenapa-napa, Sab." Ismail menggumam.

Sabrina mendesah. "Gue takut elo yang kenapa-napa, Bang. Lo tuh nggak ada kapok-kapoknya, ya? Kalau yang dibilang Mas Agus semalem bener, gimana?"

"Yang mana?"

"Elo diguna-guna!"

"Ya Allah, Sab. Percaya aja sama kayak gituan."


~


Tapi percaya nggak percaya, Ismail nggak sembuh-sembuh biarpun lagi-lagi nggak ada hasil aneh-aneh di semua tes lab-nya. Sampai kayaknya uang bulanan cowok itu habis dipakai berobat, saking banyaknya.

Dan kali ini dia juga nggak bisa sehari langsung pulang seperti sebelum-sebelumnya, membuat cowok itu belingsatan sendiri di rumah sakit karena bahkan sampai beberapa hari kemudian, belum ada info dari Rachel meski alamatnya sudah didapatkan Gusti dari Mas Giordano.

"Elo kayaknya mending balik ke Jakarta aja, deh, kayak kata Regina." Iis mengatakannya sambil cemberut di hari ketiga Ismail dirawat. "Sakit jauh dari keluarga, terus mereks juga nggak dikabari, jujur gue overthinking."

"Gue cuma lemes doang kayak kena vertigo, bukan mau mati."

Iis mendesah.

Ini anak waktu dalam kandungan, mamaknya ngidam apaan sih? Ngotot banget kayak bola bekel.

"Ya biarpun lo nggak mau mati, emang lo nggak kasihan sama kita semua?" Iis akhirnya to the point saja. "It's almost three weeks, Il, lo kayak gini. Jujur kita semua kena mental damage juga. Kalau lo sayang kita, please pikirin kita juga. Elo pulang duluan, biar Gusti yang urus gimana biar magang lo beres, atau minimal nggak perlu ngulang. Sisa jam kerjanya bisa dilanjut pas lo udah sembuh, atau diganti dengan kerjaan remote."

Ismail merenung.

Harusnya kata-kata Iis bisa membuatnya sadar diri, sih.

Kalau enggak, ya kebangetan.

Iis dan yang lain kan bukannya nggak peduli, tapi mereka punya kapasitas terbatas. Bukan mentang-mentang sayang, terus jadi ngorbanin diri sendiri demi nolong teman.

"Gue tahu, rasanya pasti nyeseeek banget, kayak nggak klimaks. Elo sakit, susah mau kelarin magang, dan Regina ngilang. But life must go on, right?"

Kalimat terakhir Iis selesai bersamaan dengan Gusti masuk—masih dengan ransel di punggung dan kemeja kerja.

"Gue udah laporin kondisi lo ke Mas Giordano." Senyum optimis cowok itu terkembang.


~


Weekend pertama tanpa Ismail, dan weekend kedua sebelum mereka semua harus kembali ke Jakarta, seisi rumah tampak sudah tidak bernafsu untuk menjelajah Bali. Jadilah Sabtu malam mereka semua cuma duduk-duduk di pool area sambil melanjutkan barbeque yang sempat dipaksa masuk freezer di malam Ismail ditampar Zane dua kali itu.

Agak kurang enak karena sudah tidak segar, sih. Tapi daripada mubazir?

"Sepi banget nggak ada Ismail bin Mail." Sabrina menggumam sendiri dengan kepala bersandar ke pundak Bimo. Bahkan saking tidak berseleranya, malam ini Linggar—yang baru datang dari Surabaya—yang didapuk jadi tukang bakar ikan, karena Sabrina dan Bimo menolak tugas mulia itu.

"Yang paling ngeselin emang biasanya ngangenin kalau lagi nggak ada." Linggar menyahut, karena yang lain sudah malas menanggapi Sabrina.

"Tapi Bang Zane kalau nggak ada, gue nggak bakal kangen."

Zane yang duduk agak jauh di pinggir, cuma menoleh sekilas tanpa niat memasukkan omongan Sabrina ke dalam hati. Nggak ngaruh juga Sabrina bakal kangen dia apa kagak. Nggak penting juga. Malah, kalau cewek Bimo itu bisa nggak usah ketemu lagi dengannya, maka lebih baik. Zane udah capek direpotin.

"Belom aja." Hebatnya, Linggar masih mau menanggapi. "Ntar kalau kita-kita lulus dan mencar-mencar, lo juga kangen ngumpul. Jadi kemungkinan bakal kangen Zane juga."

"Enggak deh, terima kasih. Kalau kalian lulus, gue move on ke circle lain yang lebih oke."

"Gue belom selesai ngomong." Linggar melotot. "Minimal kangen numpang di villanya, lah."

"Nah, kalau itu, gue juga bakal kangen." Gusti ketawa, untuk pertama kalinya sejak sore ini. "Kalau nggak ada Zane, nanti-nanti lo meratapi nasib tiap kali buka traveloka—ini villa temen gue kenapa mahal banget gilaaa? Makanya gue nggak berniat LDR-an sama Zane."

"Bangsat!" Zane cuma berdecih, dan memutuskan fokus makan saja daripada kesal. Sudah cukup lama dia tidak bisa menikmati suasana tenang begini, dia nggak mau mikirin hal lain.

"Btw, guys ... Mail sama Regina tuh disantet nggak sih menurut kalian?" Linggar yang sudah sempat diam cukup lama, mendadak nyeletuk.

"Nah kan, bukan cuma gue yang mikir gitu!" Gusti menjentikkan jari. "Soalnya, mereka sakitnya barengan, dan nggak lama setelah ketahuan si Ibrahimovic. Apa lagi kalau bukan disantet?"

"Kebanyakan nonton film horor lo berdua." Zane menggeleng-geleng. Menuang jus jeruk dari kotak ke gelasnya, kemudian minum.

"Seriusan. Bolak-balik ke dokter gak sembuh-sembuh. Cek lab normal semua. Menurut lo kenapa kalau bukan disantet?"

Tentu saja Zane nggak bisa menjawab.

Atau malah, udah bodo amat.

Sekarang Ismail udah ada di tempat yang lebih terjamin, di rumah sakit yang lebih bagus, nggak jauh dari rumah kakak kandungnya di Jakarta. Zane nggak punya sedikitpun kekhawatiran lagi, soalnya hidupnya sendiri saja belum bener-bener amat, repot banget mikirin orang lain?

"Udah, udah. Kalau udah pada kenyang, let's call it a night." Bimo membereskan piring dan gelas yang dia pakai bersama Sabrina, mengajak pacarnya itu cabut. "Mending besok pagi kita mantai aja daripada galau."


#TBC


Part closure bakal diupdate nanti malem. Pendek aja, semacem epilog.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top