11. Dear, Mama and Papa (Commission by Wookielf)

Dear, Papa and Mama

Author: zhaErza

Commission BTS Fanfic: Wookielf

Genre: Family dan Drama

*

Sarapan bersama-sama keseringan bukanlah merupakan rutinitas harian di keluarga ini, baru saja sampai di ruang makan, laki-laki yang telah menginjak remaja menatap datar ketidakhadiran orang tuanya seperti biasa. Mungkin mereka telah berangkat terlebih dahulu untuk mengejar waktu, dan membiarkan dia seorang diri dengan pelayan-pelayan yang akan membantu mengurus keperluan di pagi hari.

Mengembuskan napas dengan wajah agak murung, Jimin mendudukkan diri di kursi, kemudian mengambil sumpit dan menyantap hidangan yang tersedia di meja.

Kadang-kadang ia berpikir, keluarga mereka yang baru saja pindah ke tempat ini, dan di hari pertama ia bersekolah seperti sekarang, mereka sama sekali tidak mengantar atau memberikan nasihat untuknya. Segala hal dipercayakan kepada Jimin karena dianggap sudah bisa mandiri. Ia bahkan tidak terlalu mengingat, kapan terakhir kali sang ayah menanyai tentang hari-hari di sekolah, bagaimana guru yang menjelaskan pelajaran atau adakah teman-teman yang menjahili di sana.

Ia selalu berusaha berada di urutan pertama ketika ujian, nilainya tinggi, juara kelas, bahkan tidak pernah mendapatkan masalah atau keluhan dari dewan guru. Semua itu Jimin lakukan agar kedua orang tuanya bangga dengan apa yang ia capai. Namun, seolah tak cukup, semakin hari ia merasa teramat jauh dengan mereka, bahkan di suatu waktu, ia tidak pernah mendapati mereka di rumah.

Terlihat menyedihkan jika Jimin mengutarakan perasaan ini, tetapi teman-temannya pasti tidak bisa percaya. Mereka akan mengatakan bahwa seharusnya ia bersyukur memiliki kedua orang tua yang terkenal sebagai pembisnis, anak-anak lain pasti menginginkan segala yang ia dapatkan secara materi.

Jimin tersentak kecil ketika sopir berkata bahwa mereka sudah sampai di sekolah baru. Ia mengangguk dan tersenyum ramah kepada lelaki itu

"Ah, terima kasih, Pak."

Riuh kelas berubah dalam sekejab ketika sang guru datang dan memperkenalkan seorang murid baru. Anak perempuan di kelas berbisik-bisik, para lelaki pun ikut terfokus memperhatikan Jimin yang tengah memperkenalkan diri.

Cukup banyak dari mereka yang tahu siapa Jimin, jadi mereka pun berusaha mengakrabkan diri kepada lelaki itu. Dan beruntung bagi mereka, si anak baru adalah tipe pemuda yang mau berteman dengan siapa saja, terbilang sosok yang ramah dan sopan.

"Kalau begitu, kita makan siang di kantin beramai-ramai untuk menyambut kedatangan si anak baru ini." salah satu pemuda yang terlihat paling semangat, menarik Jimin dan merangkul pundaknya.

"Ah, terima kasih, Teman-teman."

Memesan beberapa menu yang disajikan di kantin, ketika ingin membayar, salah satu dari anak lelaki lupa membawa dompet dan terlihat kebingungan.

"Astaga, bagaimana ini, dompetku ketinggalan."

Melihat hal itu, Jimin menatap dan kemudian mengatakan dia akan membayarkannya.

"Tidak masalah, bisa pakai uangku saja." Jimin menunjukkan ponsel, melakukan top up dari tabungan untuk membayar di kantin.

"Wah, terima kasih, kau baik sekali. Aku berhutang kepadamu," ujar sosok itu.

"Tidak perlu seperti ini, aku tidak apa-apa, kok." Jimin tersenyum, hingga terlihat menyipit.

Awalnya hanya satu orang yang ditraktir, itu pun karena tidak sengaja meninggalkan dompet di rumah. Namun, lama kelamaan, Jimin membayari anak-anak lain ketika istirahat. Dalam seminggu bisa beberapa kali. Bahkan ketika mereka memutuskan untuk jalan-jalan, pergi ke tempat karoke atau belaja ke swalayan, tidak jarang menggunakan uang yang ia miliki.

Jimin melakukan itu agar ia gampang diterima, ia tidak masalah dengan semua uang yang telah dikeluarkan, yang terpenting ia tidak merasa kesepian seperti ketika berada di rumah.

Hatinya terasa hampa, ketika canda tawa kepada teman-teman berakhir dan sewaktu tiba di rumah, semua itu berubah. Walau baru saja kembali dari luar kota, kadang kala setelah pulang pun masih harus mengurusi pekerjaan. Meski tinggal di rumah yang sama, tidak jarang selama satu hari penuh ia tidak bertemu dengan mereka.

Menjatuhkan diri di atas ranjang, Jimin mengembuskan udara dari mulut, dan memandang langit-langit kamar dengan tatapan mengawang. Ia mengingat sesuatu, kejadian beberapa jam lalu. Salah satu rekan kelas dihubungi sang ayah dan disuruh lekas kembali karena mereka pergi main hingga larut malam.

"Bahkan ayahnya menjemput sampai ke tempat karoke."

***

Seorang lelaki dengan kemeja agak berantakan mendatangi Jimin yang sedang duduk di kursinya, merengkuh punda lelaki itu dengan akrab, kemudian segaris pada bibir ditarik hingga membentuk senyuman.

"Yo! Gimana, nanti ikut kita, kan?" tanya Lee masih dengan gestur yang ramah.

Yang ditanya sedikit berpikir, sebenarnya ia ingin cepat-cepat pulang karena ada pelajaran yang ingin diulang-ulang, tetapi Lee kembali bersuara, mengatakan bahwa lebih baik pemuda itu pergi bersama mereka.

"Lagi pula, di rumahmu juga kosong, kan? Orang tuamu belum tentu kembali dari pekerjaan mereka. Bahkan kemarin sehabis kelas malam pun, kau bilang meraka tidak pulang?"

Mendengarkan perkataan rekan kelas yang dijadikan teman, Jimin mengembuskan napas dan memejamkan mata, kemudian ia mengangguk sambil berujar bahwa akan ikut dengan mereka.

"Bagus, lebih baik kita bersenang-senang, sangat bosan sendirian di rumah." Lee meninggalkan bangku Jimin setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, kembali kepada kumpulan yang duduk di belakang.

Karena bersama rekan-rekan, Jimin memutuskan pulang malam. Lagi pula, ia berpikir bahwa kemungkinan orang tuanya belum berada di rumah seperti biasa. Mobil yang digunakan, kini mengantar mereka hingga ke rumah masing-masing, kemudian ketika malam agak larut, baru ia bisa pulang.

"Tuan, kita sudah sampai."

Membuka kelopak mata, Jimin memutuskan keluar dari mobil, tetapi ketika turun, ia melihat mobil orang tuanya yang baru saja tiba.

Mereka bertatapan sebentar, kemudian Jimin memutuskan untuk masuk ke kamar.

Sang mama keluar dari mobil, dan lantas menatap antara suaminya dan si anak.

"Jimin langsung masuk? Ada apa dengannya?"

"Entahlah, tapi dia pulang sangat terlambat," ujar Namjoon. Ia menghela napas, kemudian mengajak istrinya untuk bersegera masuk.

Sesampai di rumah pun, setelah membersihkan diri, Namjoon memutuskan untuk menuju ruang kerja dan kembali membuka laptop karena ada laporan yang ingin ia periksa. Ketika malam semakin larut bahkan nyaris dini hari, ia memutuskan untuk mengistirahatkan diri dan kembali ke kamar.

Ia melewati ruangan pribadi putranya, menatap pintu terbuat dari kayu berpelitur itu selama beberapa saat, kemudian melangkah menuju ke tempat tujuan.

***

Untuk pertama kali setelah sekian lama, Jimin melihat kedua orang tuanya berada di meja makan. Ia melangkah perlahan dengan raut antara bingung dan senang, kemudian menggeser kursi dan duduk di tempat biasa. Walau terasa sedikit canggung karena tidak menyangka pagi ini mereka bertiga menyantap hidangan bersama, Jimin diam-diam mengukirkan segaris senyuman haru.

"Jimin, makanlah." Sang ibu memberikan nasi dan lauk, kemudian menuangkan jus jeruk ke gelasnya.

"Terima kasih, Ma."

Senyuman sang mama membuat bibirnya berkedut, ia tidak menyangka sangat merindukan suasa seperti ini meskipun sang papa terlihat kaku seperti biasa. Ini sudah cukup bagi dirinya.

Ia kembali semringah, dan dengan semangat menghabiskan santapan yang disajikan.

Melihat keriangan sang anak, Seokjin pun mendesah lega. Ia mengira pemuda itu sedang ada masalah atau apa, untunglah semua terlihat baik-baik saja.

Orang tuanya memutuskan berangkat lebih dahulu dengan mobil yang terpisah, sementara Jimin memilih untuk tinggal di meja makan lebih lama. Beberapa saat lalu sang mama berpesan agar ia menghabiskan sarapan, sedangkan papanya hanya memperhatikan, sebelum mengecek ponsel setelah selesai makan, kemudian mereka berlalu pergi.

Di dalam kelas ia melihat anak-anak yang sering pergi main bersamanya, sementara itu ada seseorang yang sama sekali tidak pernah mencoba untuk mendekatkan diri kepada Jimin, pemuda itu bernama Junkook.

Memandang lamat, ia tersentak kecil ketika sepasang mata tajam tersebut membalas tatapan Jimin, kemudia dengan anggukan kecil ia tersenyum sebagai sapaan kepada rekan kelas yang jarang bercengkerama dengannya itu.

Lee mendatangi kursi Jimin, kemudian bertanya tentang ujian yang dikerjakan pagi tadi.

"Bagaimana denganmu?"

"Em, aku rasa tidak cukup baik," ujar Jimin, ia kemudian mengusap bagian belakang leher.

Alis Jimin berkerut, memikirkan bahwa kemungkinan nilainya tidak akan memuaskan seperti yang biasa ia dapat. Walau menurut kebanyakan anak-anak lain, itu lebih dari cukup untuk mereka.

Pulang larut seperti kebiasaan Jimin belakangan ini, ketika melewati ruangan keluarga sebelum menaiki tangga, Seokjin berjalan mendekati dan menyapa pemuda itu.

"Kau baru pulang, Sayang?"

"Iya."

Seokjin mengusap bahu sang buah hati, kemudian tersenyum melihat pemuda yang memiliki raut ramah seperti dirinya agar Jimin lebih rileks.

"Sebaiknya bersihkan dirimu terlebih dahulu, Jimin."

"Tidak perlu," ujar sosok lain yang melangkah keluar dari ruangan keluarga. "Kemarilah, kita akan berbicara beberapa hal sebentar." Dia adalah kepala keluarga di kediaman ini, wajahnya terlihat tegas, dengan mata tajam dan raut berwibawa. Namjoon memandangi pemuda yang berdiri di samping Seokjin, kemudian melangkah masuk dan berdiri memandangi lukisan di dekat sofa tunggal.

Hela napas terdengar, Seokjin tersenyum tipis dan kembali mengusap lengan atas sang putra.

"Ayo, papamu ingin membicarakan sesuatu."

Mereka berjalan bersama, walau raut Jimin cenderung tenang, tetapi detak jantungnya mulai lebih kencang ketika menatap wajah sang papa yang berdiri tidak jauh dan lantas membalikkan tubuh menuju sofa yang ingin diduduki.

Sebenarnya Jimin sudah menduga, pasti sang papa akan memberikan teguran karena nilai yang belakangan ini tidak memuaskan di mata mereka. Walau ia tidak memberitahu hasil ulangan yang diterima kemarin, tentu saja mereka memiliki akses untuk mendapatkan informasi itu dengan mudah.

"Duduklah, Jimin."

Suara Seokjin menginterupsi.

Gelisah mulai menghampiri, melihat wajah datar dan tatapan tajam yang dilayangkan Namjoon, Jimin pun hanya bisa menundukkan kepela sambil meremas kedua tangan, tanpa sadar mencengkeram pergelangan.

"Aku beberapa kali melihat kau pulang larut akhir-akhir ini? Apa semua itu karena kau melakukan kelas malam?" tanya Namjoon, lelaki itu duduk dengan posisi tegak.

Walau ditanya demikian, Jimin sama sekali tidak bersuara.

"Jimin, jawab papamu, Sayang. Kau benar-benar ada kelas malam, kan?"

Sang mama memandangi pemuda itu, rautnya benar-benar mengkhawatirkan, ia tidak ingin si buah hati mendapatkan hukuman karena nilai lelaki itu menurun. Apalagi beberapa kali Namjoon mendapati Jimin pulang larut akhir-akhir ini.

Hanya suara detik jam yang terdengar karena mereka terdiam, Namjoon yang menyadari terlalu lama anaknya tidak bersuara pun menyisir poni kebelakang kepala dan menyenderkan punggung sebelum mengatakan sesuatu.

"Nilaimu menurun belakangan ini, kan. Bahkan kau tidak memberi kertas ulanganmu, Jimin."

"Tapi, tidak diberikan pun, kalian sudah tahu hasilnya. Teman-temanku bilang, itu luar biasa."

Seokjin melebarkan mata, tidak menyangka pemuda yang duduk tidak jauh darinya itu mengatakan hal demikian di depan Namjoon, biasanya jika Namjoon sedang menegur Jimin, pemuda itu tidak akan mengeluarkan kalimat profokasi seperti ini dan akan mengakui kesalahan karena melanggar aturan.

"Jimin, ucapanmu itu bukanlah inti dari pembicaraan ini, mengerti."

Kepala yang sejak tadi tertunduk kini tengrakat dan menatap Namjoon, sorot campur aduk tergambar jelas di mata si pemuda. Cengkeraman tangan di pergelangan semakin mengerat, tanpa sadar bahkan kuku-kuku jari menciptakan luka.

Atensi Namjoon terfokus kepada sang putra, sorot yang awalnya tajam lantas melunak karena melihat ekspresi murung yang tergambar jelas di wajah anaknya. Ia menghela napas karena merasa tersentil di dada, kemudian mengutarakan maksud dari semua ini dengan jelas.

"Kami menegurmu, demi kebaikanmu, Jimin. Bagaimanapun, kami adalah orang tuamu, jadi aku harap kau memikirkan masa depanmu yang akan menjadi pewarisku, kau harus bisa mengendalikan waktu dan jangan melakukan sesuatu yang membuatmu merugi. Apalagi bergaul dengan orang-orang yang tidak berguna."

Merasa disalahkan, Jimin mengatakan bahwa ia tidak ingin sang papa mencela teman-temannya.

"Teman? Kutebak, mereka hanya memanfaatkanmu karena kau memiliki uang, Jimin. Dan jangan berlagak tidak tahu dengan kenyataan itu."

Jimin benar-benar merasa kalut, ia kesal setengah mati terhadap semua yang telah terjadi, bahkan kepada dirinya sendiri. Apalagi fakta bahwa sang papa selalu memiliki analisis yang terlalu baik.

"Sayang, dengarkan perkataan papamu, kau harus mempersiapkan diri apalagi sudah di jenjang Sekolah Menengah Atas."

"Itu benar, Jimin. Kami tahu apa yang terbaik untukmu karena kami adalah orang tuamu."

"Terbaik?"

Namjoon mengertukan alis karena mendengar pertanyaan ambigu putranya.

"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Seokjin, dia yang pertama kali bereaksi atas pekataan sang anak.

Raut wajah Seokjin sangat khawatir, tetapi setelah berucap demikian, anaknya tidak juga mau mengatakan maksud dari perkataan yang tadi.

Setelah beberapa saat, barulah pemuda itu menjelaskan dengan wajah putus asa.

"Apakah kalian tahu apa yang kusuka dan tidak kusuka?" tanya Jimin dengan suara lemah, matanya menunjukkan kesedihan dan kecewa. Beberapa detik berlangsung, seperti yang Jimin duga ia tidak mendapatkan jawaban. "Kadang-kadang aku berpikir, apakah kita benar-benar adalah keluarga? Karena yang aku lihat di luar sana, tidak seperti ini."

"Jimin," ujar sang mama. Sementara itu, Namjoon hanya berusaha mendengarkan dahulu apa yang dikeluhkan putranya terhadap keluarga ini.

"Yang kuinginkan hanyalah kehadiran kalian, ikut duduk bersamaku seperti ini. Bertanya tentang hal menyenangkan apa yang terjadi di sekolah, bagaimana teman-temanku? Atau apakah aku memiliki rekan kelas yang kusuka? Hanya sesederhana itu." Jimin berkata, kepalanya ternduk kembali, wajah yang dahulu ramah, kini terlihat begitu menyedihkan, tertekan dan juga frustrasi.

Seokjin merasa dadanya sesak, ia mengusap punggung sang anak dan menggenggam tangan pemuda itu, kemudian menyadari bahwa pergelangan tangan si buah hati terluka.

"Jimin, kau terluka, Nak. Pergelangan tanganmu kenapa?"

Tatapan mata yang biasanya dingin dan tajam, kini terlihat resah, Namjoon bukanlah orang yang tidak punya hati, hanya saja ia sangat tegas terhadap perinsip dan juga akan mendidik anaknya agar memiliki mental yang kuat untuk menghadapi segala permasalahan dan hal rumit yang ada di dunia kerja. Apalagi pemuda itu akan mewarisi perusahaan keluarga mereka. Namun, melihat sang anak seperti ini, sebagai seorang ayah, ia benar-benar merasa bersalah.

Ia telah menganalisis kenapa Jimin bertindak di luar kewajaran pemuda itu, bahkan anak yang sopan dan ramat tersebut, beberapa kali tidak ingin menyapa dan hanya melwati mereka begitu saja seperti tidak melihat kehadiran mereka. Pemuda itu sedang dalam masa-masa sensitif remaja, mencari jati diri dan mempertanyakan kenapa keluarga mereka berbeda, dan tidak seperti keluarga pada umumnya yang hangat dan selalu ada untuk mendampingi sang putra.

Namjoon menyesalkan hal ini. Ia membuka lemari di belakang sofa tunggal dan mengambil kotak P3K.

Mengambil tangan anaknya, Namjoon menatap luka di telapak tangan tersebut dengan alis berkerut. Ia khawatir, dan bertanya-tanya kenapa sang anak sampai mencakar tangannya sendiri.

Duduk di sandaran kursi, ia menyuruh sang istri untuk menuangkan antiseptik ke kapas. Namjoon pun mengambilnya dan membersihkan luka Jimin, kemudian menempelkan plaster untuk menutup goresan itu.

"Mungkin kau tengah kesal kepada kami sekarang, tapi kumohon jangan sakiti dirimu sendiri, Jimin. Itu sangat tidak bijaksana."

Pemuda yang dinasihati menghindari tatapan sang papa, kemudian ia berdiri dan mengatakan ingin membersihkan diri.

Ditinggal sang anak, Namjoon menatap kepergian pemuda itu dengan padangan mata sarat akan rasa sesal. Ia tidak menyangka kalau akibatnya akan sepelik ini. Di samping Namjoon, Seokjin datang dan mengelus punggungnya, memberi gestur menguatkan diri. Ini memang salah mereka karena mementingkan pekerjaan dan menganggap Jimin sudah bisa mengurus diri sendiri, tetapi baik ia dan sang istri tidak bermaksud untuk menomorduakan si buah hati.

"Kau ingin membujuknya?" tanya Namjoon karena melihat Seokjin berdiri dan melangkah menuju tangga. "Aku rasa tidak perlu untuk sekarang, biarkan Jimin sendirian, dia perlu menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah ini kita akan pelan-pelan membuktikan bahwa persepsinya tidaklah benar."

Laki-laki itu terlihat muram, membayangkan sang anak merasa kekurangan kasih sayang yang mereka berikan.

"Sebaiknya kita juga lekas beristirahat, ini sudah larut."

***

Sorot mata yang kecewa masih tergambar jelas dari pantulan cermin ketika Jimin menatap tepat ke pupilnya, ia mengalihkan atensi menuju pergelangan tangan dan menatap plaster yang menempel di sana. Setelah mandi dan membasahkan rambut, Jimin merasa pikirannya lebih jernih. Rasa kesal dan panas di dada perlahan menghilang, tetapi kehampaan itu masih terlalu membekas dan menyakitkan.

Jari telunjuk bergerak, mengusap plaster bergambar bebek kuning yang lucu. Di tangan terdapat goresan luka karena perbuatannya sendiri, yang menemukan pertama kali adalah mama, terlihat sangat khawatir karena darah sedikit keluar dari pergelangan tangan. Namun, yang tidak Jimin sangka, sang papa dengan sigap mengambil P3K dan datang untuk mengobati luka tersebut.

Menatap pantulan di cermin sekali lagi, Jimin lantas menyudahi monolognya di dalam batin dan memutuskan untuk beristirahat.

Pagi hari, ketika bagun dan ingin sarapan, ia terhenti dan melebarkan bola mata ketika manatap kehadiran Namjoon dan Seokjin di meja makan. Kedua orang tuanya itu tersenyum dan menyapa, sang mama menanyai apakah tidurnya lelap atau tidak, sedangkan papa menjelaskan bahwa ia harus lebih giat belajar dan jangan lupa bergaul dengan teman-teman yang tidak menjerumuskan.

"I-iya, terima kasih, Ma, Pa."

Ia memutuskan untuk duduk, dan Seokjin pun memberikan mangkuk dengan nasi bertabur biji wijen kepada Jimin.

Ini terasa asing, tetapi sangat Jimin rindukan. Kalau ia ingat-ingat lagi, ia bertanya-tanya kapan terakhir kali sarapan meraka bisa berjalan hangat seperti sekarang. Bahkan, terkadang sang mama tertawa kecil karena lelucon tidak lucu yang berusaha dikatakan papanya.

Namun, dikarenakan kejadian semalam, rasa kesal Jimin masih tertinggal, ia menghentikan tangan yang ingin menyendok nasi secara tiba-tiba, hingga Seokjin yang memperhatikan lantas bertanya.

"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu aku selesai, terima kasih atas makanannya."

Setelah mengatakan hal demikian, Jimin pun mengambil tas yang ia sangkutkan di kursi dan lantas keluar dari tempat ini.

Setelah kepergian anaknnya, Seokjin mengalihkan tatapan kepada sang suami, dari mata saja sudah sangat jelas ia bertanya apa yang salah dari Jimin mereka. Begitu terlihat resah karena merasa anaknya masih memiliki rasa kesal atau bahkan marah kepada meraka.

"Dia membutuhkan waktu, yang terpenting kita harus lebih berusaha."

Setelah mendengar perjelasan Namjoon, perasaan Seokjin terasa lebih baik, ia hanya berharap bahwa anaknya yang ramah dan ceria bisa kembali seperti biasa.

Di sekolah, baru saja sampai di kelas, Jimin kembali dihampiri oleh kawanan genk Lee, mereka selalu seperti itu, mengikuti pemuda berwajah ramah tersebut agar bisa diteraktir, semua memanfaatkan kebaikan Jimin, sebagian menertawakan kebodohannya walau tetap berateman dan makan di meja yang sama.

Bukan karena Jimin tidak tahu, ia hanya tidak terlalu peduli dan ingin lari dari kehampaan yang tersaji di rumah.

Namun, untuk kali ini Jimin menolak mereka.

"Aku ingin sendirian, Teman-teman. Maafkan aku."

Lee mendecak kesal, kemudian ia tutupi dengan tawa getir karena tidak diindahkan oleh pemuda di hadapan dirinya ini.

"Hey! Ayolah! Kita akan bersenang-senang, bagaimana?" tanya lelaki itu, kemudian menundukkan tubuh untuk berbisik. "Aku akan memesan soju kepada kenalanku, kita bisa minum sampai puas, dan juga bisa melepaskanmu dari rasa hampa di dada karena orang tuamu."

Setelah menarik diri, Lee melihat alis Jimin berkerut dan sorot mata berubah tajam ketika menatapnya.

"Aku bilang aku ingin sendiri dan jangan ganggu aku, Lee." Setelah berkata demikian, Jimin mengalihkan atensi kepada buku dan mulai mempelajari penjabaran rumus-rumus.

"Ck, sudahlah, dia terlalu pengecut," bisik salah satu rekan kelas yang selalu ikut memanfaatkan kebaikan hati Jimin.

"Kalau bukan dia, siapa yang akan bayar, bodoh kau."

Walau Jimin mendengar obrolan dua orang rekan kelasnya yang berlalu pergi itu, ia tetap berusaha tidak mengambil hati dan lebih memilih untuk berkonsentrasi. Di dalam benak, kembali terngiang perkataan sang papa tadi pagi. Entah kenapa, Jimin menjadi semangat belajar dan tidak ingin menghabiskan waktu dengan rekan kelas yang menjerumuskan.

Tanpa bisa ditahan, ia tersenyum kecil. Perasaan Jimin pun menjadi lega entah karena apa.

Di sudut lain, Junkook yang memperhatikan dengan tangan menyangga dagu pun tersenyum tipis. Tadi ia sudah nyaris bergerak untuk menghetikan orang-orang tolol yang terus merongrong layaknya benalu, tetapi tanpa disangka, Jimin bisa mengurus mereka semua.

***

Satu minggu berlalu, orang tuanya terus hadir ketika sarapan dan makan malam, suatu rekor yang benar-benar Jimin kira adalah sebuah keajaiban. Dan karena itu pula, nilai-nilainya kembali naik dan nyaris sempurna. Ketika menunjukkan kertas ujian tadi pagi, sang papa terlihat bangga dan memuji.

"Kau benar-benar telah berusaha, Jimin. Aku sangat bangga, tapi jangan terlalu memaksakan diri ketika belajar, sesekali kau juga harus bersantai, mengerti."

Jimin mengangguk dengan perasaan senang, sekarang senyuman terpantri di bibir dan ia pun berucap terima kasih.

"Aku akan mengingat ucapan Papa, dimengerti."

"Semuanya! Ayo, kita makan camilan dulu. Mama baru saja mencoba resep baru, ini kue kesukaan Jimin yang diberi variasi rasa, loh."

"Wah, apakah ini bisa dimakan?" tanya Namjoon terlalu jujur, sama sekali tidak peka karena bisa saja Seokjin merajuk karena pertanyaan tesebut.

"Pa-pa," bisik Jimin memperingati.

"Tapi, bentuknya sangat tidak wajar, dan ini nyaris gosong kan?"

"Mama! Tidak, ini enak sekali, aku suka dan terima kasih." Jimin memakan kue tersebut sekali suapan dan nyaris menghabiskannya, hingga membuat Seokjin tertawa.

"Syukurlah kalau kau suka, Sayang."

Seokjin memeluk putranya, tersenyum dan memberikan ciuman di kepala pemuda itu.

Berujar terima kasih karena sekarang anak mereka telah kembali ceria, ia menatap suaminya dan semakin melebarkan senyuman di bibir. Namjoon menyesab teh dan menatap keantusiasan Jimin ketika ia menceritakan tentang kemajuan perusahaan keluarga mereka.

"Aku akan segera bergabung di perusahaan Papa, aku akan berusaha."

"Tentu, kau pasti bisa."

Jimin merasakan tangan berat sang papa mengusap kepalanya, ia benar-benar merasa bahagia. Ini terasa sempurna, Jimin tidak bisa menghentikan lengkungan kurva di bibir, semringah terlihat semakin lebar ketika mendengar sang papa memberikan pertanyaan dan menggoda Jimin tentang orang yang disuka.

***

Benar, inilah keluarga, terasa hangat dan terlindungi jika bersama mama dan papa.

Terima kasih telah memberikan cinta, ini begitu sempurna.

Jimin

.

.

.

TAMAT

.

.

.

Ucapan terima kasih:

Aaaaaaa makasih banget yaaaa sudah pesan, walau gak ngikutin BTS tapi aku temasuk suka Jimin. Dulu pernah juga gambar Jimin tradiart.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top