Thirdteenth Harmony-Hear, The Mistakes
Pagi ini matahari bersinar cerah. Awal musim dingin memang menggigilkan. Meskipun memiliki nama yang berarti salju, aku tidak benar-benar menyukai musim dingin. Selain karena suhunya yang ekstrem, tapi juga karena ayahku meninggal tepat saat musim dingin. Aku merapatkan mantelku, menghela napas berat. Uap keluar dari setiap helaan napasku. Dengan malas, aku menapakkan kakiku memasuki ruangan kelas yang sudah tampak ramai.
"Lihatlah gadis sombong itu, masih berani masuk kelas rupanya."
"Kudengar dia berteman dengan si gadis horror itu. Menyeramkan sekali."
"Dia itu psikopat tahu, psikopat!"
Aku mendesis sinis, menatap segerombolan gadis yang tengah membicarakan diriku. Tak sadarkah mereka bahwa aku dapat mendengar apa yang mereka semua katakan?
Aku membuang muka, menatap ke lain arah. Pandanganku justru tertumbuk pada seorang lelaki berambut cokelat pekat. Dia menatapku dengan tatapan iba, entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Kalau tidak salah, namanya Fukushi Hiro.
"Pagi, Yuki!" Fuyumi tersenyum bersahabat. Sejak sebulan lalu, dia duduk di sampingku. Atau lebih tepatnya, para anak gadis kelasku yang memerintahnya duduk di sampingku, karena mereka kompak mengucilkanku. "Kau tahu? Aku sudah selesai membuat lagunya!"
Aku tersenyum, lalu beranjak duduk dan meletakan tasku di atas kursi. "Oh ya? Boleh kulihat?"
Fuyumi mengangguk penuh semangat. Dia merogoh tasnya, kemudian menyerahkan buku catatan tipis kepadaku. "Liriknya, terinspirasi darimu!"
Karena tak mengerti apa yang dikatakan Fuyumi, aku memutuskan untuk langsung membaca liriknya saja. Senyumku mengembang, begitu mataku menelusuri huruf demi huruf yang tertulis di atas kertas.
Di dalam mimpi, aku melihat.
Dirimu, tersenyum di bawah pohon cemara.
Waktu seakan berhenti.
Aku menatapmu dengan harapan.
Tuhan, andai waktu dapat terhenti.
Aku tak mungkin akan hancur.
Dan salju kala itu.
Meninggalkan jejak berupa kenangan manis.
Aku berteriak hingga suaraku serak.
Bergema di langit yang hampa.
Meski sejujurnya aku tahu.
Salju akan terus membekukan hatiku.
Hingga kapanpun.
Perasaanku akan putih suci.
Saat di musim dingin.
Seperti salju yang turun hari itu.
-The Winters.
"Bagus," pujiku. "Tapi daripada aku, ini lebih menggambarkan kita semua."
Gadis bersurai hitam itu terkekeh, "Tapi unsur saljunya lebih banyak."
"Coba ajarkan aku nadanya," rajukku sembari menyerahkan kembali buku berisi lirik itu kepadanya.
Fuyumi mengangguk, kemudian mulai bernyanyi.
Dia hebat sekali. Suaranya tak kalah merdu denganku. Tapi mungkin, suara Fuyumi lebih cocok ke arah pop beat.
Tanpa sadar, aku bertepuk tangan. "Kau memang berbakat."
Fuyumi menyengir lebar, "Begitu?"
"Boleh aku pinjam? Aku ingin menghafalkannya."
"Tentu!"
Fuyumi menyerahkan buku itu kepadaku, dan aku langsung menyimpannya di dalam tasku. Aku tak mau buku ini rusak, apalagi hilang. Karena aku tahu ini sesuatu yang sangat penting bagi Fuyumi, juga Shiro.
"Kalian berdua!" panggil salah seorang guru yang sukses membuatku dan Fuyumi menoleh secara serentak. "Cepat baris di Aula! Kepala sekolah akab mengumumkan sesuatu!"
Kami berdua mengangguk menurut. Aku dan Fuyumi tetlalu asyik berbincang hingga tak menyadari sekitar kami sudah sepi. Kami berdua pun segera pergi ke Aula.
***
"Tch, jelek sekali," Aira mendesis sinis. Menatap buku berisi lirik ciptaan Fuyumi. "Nee, Miku. Menurutmu kita apakan ini?"
Miku tersenyum miring. Gadis itu tengah duduk di atas meja milik Yuki. Ransel Yuki berada di lantai, bersama dengan isinya yang sudah bercerai berai. "Kita bakar saja."
"Menurutku itu kurang," Aira terkekeh, "Bagaimana jika kita robek tepat di depan wajahnya? Agar dia tahu, bagaimana rasanya hancur."
Miku tertawa sinis, "Ide bagus."
"Oke," Aira mengeluarkan ponsel lipat dari saku blazer-nya. "Ini akan menyenangkan. Seenaknya saja si kuso Yuki melakukan sesuatu. Apalagi kudengar dia dekat dengan Kurohi Shiro. Menyebalkan."
"Dia memang pantas diberi pelajaran."
***
"Yuki," Fuyumi menarik-narik ujung lengan seragamku. "Aku ke Toilet dulu ya?"
Langkah kakiku terhenti, aku menatap Fuyumi sesaat, "Mau kutemani?" tawarku.
Fuyumi menggeleng, "Kau duluan ke kelas saja."
Aku mengangguk, "Baiklah."
Tepat di pertigaan lorong, kami berpisah. Arah menunu kelas dan Toilet berbeda. Jadilah aku berjalan seorang diri di sini.
Aku menggeser pintu kelas yang baru ada beberapa murid di dalamnya. Kulangkahkan kaki memasuki ruang kelasku itu, kemudian berjalan menunu tempat dudukku.
Keningku terlipat begitu mendapati tasku terjatuh, beserta isinya yang sudah berceceran kemana-mana. Aku menghela napas berat. Pasti ada yang sengaja melakukan ini.
Aku berjongkok, hendak merapihkan tasku. Sesuatu terbesit di benakku. Keringat dingin meluncur dengan mulus di wajahku. Jantungku berpacu begitu cepat.
Kubongkar semua isi tasku, mataku menelusuri setiap benda yang ada di lantai.
Tidak ada.
Buku berisi lirik ciptaan Fuyumi hilang!
Pasti ada yang sengaja melakukan ini.
Kuarahkan pandanganku menyapu seisi kelas. Siapa? Siapa yang tega mengambil buku itu dari kami?
Pandanganku tertumbuk pada sosok Aira yang tengah tersenyum sinis padaku. Mataku melotot murka. Pasti dia yang mengambilnya dariku!
Baru saja aku hendak melangkah mendekati gadis sialan itu, sesuatu menepuk bahuku. "Yuki? Ada apa?"
Aku menoleh.
Ada Fuyumi berdiri di belakangku dengan wajah bingung. "Duduklah, Reina-sensei sudah masuk ke kelas."
Kuarahkan pandanganku ke meja guru. Fuyumi benar. Guru mata pelajaran pertama itu sudah duduk di meja guru, bersiap memulai pelajaran.
Entah mengapa, aku jadi merasa gugup. "O-Oke."
Aku duduk di kursiku. Bagaimana ini? Apa aku bilang saja kepada Fuyumi bahwa Aira telah mengambil buku liriknya?
Aku ... tidak tahu.
***
"Baiklah, pelajaran cukup sampai sini, ya." Kai-sensei--guru yang mengajar jam pelajaran terakhir--menutup sesi pembelajaran. "Jangan lupa untuk mengumpulkan tugas minggu depan."
"Baik!"
"Oh, dan Otosaka. Bisa tolong datang ke ruangan saya? Ada nilaimu yang kosong."
Fuyumi yang sedari tadi tampak terkantuk-kantuk langsung menegapkan tubuhnya. "Baik." Gadis itu beranjak berdiri, kentara sekali terlihat malas. "Huft, bisa-bisanya dia memanggilku saat lima menit lagi bel pulang berbunyi," gumamnya.
Aku tertawa hambar, "Sudah sana. Daripada kau dimarahi."
Fuyumi mengangguk malas, "Tunggu aku ya, Yuki."
Setelah melihat anggukan kepala dariku, Fuyumi berjalan keluar kelas, mengekori Kei-sensei menuju ruangannya.
Bel pulang berbunyi. Aku tetap duduk di kursiku, menatap tajam Aira. Setelah kelas sepi, barulah aku menyampari tempat di mana Aira dan Miku duduk. Sepertinya mereka tahu aku menunggu mereka.
"Kembalikan bukuku," ujarku dingin.
Aira menatapku remeh, "Aku tak mengerti apa yang kau katakan."
Warna hitam yang keluar dari mulutnya membuatku tahu bahwa dia sedang berbohong. Aku menggebrak meja, menatap Aira dan Miku dengan buas. "JANGAN BERPURA-PURA!"
"Whoa, seram," Miku mendelik, tertawa sinis. "Aku tak menyangka Yuki yang baik hati jadi semenyeramkan ini. Pasti efek berteman dengan gadis psikopat itu ya?"
"Tutup mulutmu!" Aku menatap sangar. "Kembalikan, atau ..."
"Atau apa?" tantang Aira.
Aku menggigit bibir bawahku, "Atau kubuat kau menyesal!"
Mereka berdua bertatapan sesaat, sebelum akhirnya tergelak. Jujur saja, tawa mereka terdengar memuakkan. "Hiiii, seram!"
Aira beranjak berdiri dari tempat duduknya, diikuti dengan Miku. Gadis itu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. "Kau mencari ini, ya?"
Baru saja aku hendak merebutnya, sesuatu menahan pergerakanku. Aku menoleh ke belakang, mendapati Miku sedang menahan pererakanku. "Sialan, lepaskan aku!"
Miku terkekeh, "Tidak mau."
"Hey, Yuki," panggilan dari Aira mencuri pandanganku. Aku menatap Aira dengan tatapan nanar. "Kau tahu ini apa?"
Mataku membulat sempurna. Aira mengeluarkan sebuah gunting dari tasnya, lalu mendekatkan mata gunting ke buku lirik Fuyumi. "SIAL! JANGAN!!"
"Oops, jangan meronta," Aira tersenyum miring. "Atau akan kurobek bukunya."
"TIDAK! JANGAN DIRUSAK!" raungku. Aku meronta, mencoba melepaskan diri dari Miku. Tapi tenaga Miku terlalu kuat, aku tak bisa lepas.
Seringaian lebar merekah di wajah gadis terkutuk itu. Dia memdekatkan mata gunting ke buku lirik, kemudian ...
Kres!
"HENTIKAN!" Aku menjerit histeris, menatap buku lirik itu mulai berubah menjadi serpihan robekan kertas. "KUMOHON HENTIKAN!!"
Bahkan hingga aku menangis, Aira tetap mengguntingnya hingga habis. Setelah buku itu menjadi serpihan-serpihan kertas, barulah mereka melepaskanku. Mereka tertawa puas.
Aira melemparkan gunting yang dipakainya kepadaku. "Sampai jumpa, kuso Yuki."
Mereka pergi ke luar kelas, meninggalkanku sendirian di sini. Terisak tanpa suara.
Aku menangis dalam diam. Kerja keras Fuyumi berakhir sia-sia. Apa yang harus kukatakan nanti kepada Fuyumi?
Dengan tangan bergetar, aku meraih gunting yang Aira gunakan untuk menggunting buku lirik. Aku menatap kosong gunting itu.
Mengapa mereka jahat padaku? Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka iri!
Aku hanya ingin hidup tenang, bersama orang-orang yang peduli padaku.
Kenapa? Kenapa ada orang jahat seperti mereka di dunia ini?
Sekali lagi aku terisak dalam diam.
Apa ... yang harus kukatakan pada Fuyumi?
"Yuki? Sedang apa kau di sana?"
Suara lembut yang sangat familiar di telingaku membuat jantungku berpacu begitu cepat. Aku segera mengusap air mataku, kemudian menatap Fuyumi yang ternyata sudah berdiri di sampingku.
Mata Fuyumi melotot lebar begitu mendapati buku lirik miliknya sudah tercerai berai di lantai. Pandangannya kini beralih ke gunting yang ada di tanganku. Dengan suara bergetar, Fuyumi bersuara, "Yuki ... apa maksudnya ini?"
"Fuyumi ... a-aku ..."
"Yuki, kenapa kau tega?" Suara Fuyumi berubah parau. Warna suaranya yang biasanya berwarna kuning, kini perlahan berubah menjadi warna biru kolbat pekat.
Menandakan ... bahwa dia kecewa kepadaku.
"Fuyumi, aku bisa menjelaskan-"
"Tak ada yang perlu kau jelaskan." Setetes air mata meluncur dengan mulus dari pipinya. "Aku ... kecewa."
Gadis yang bernotabene sebagai sahabatku itu meraih tasnya, kemudian berlari keluar dari kelas, meninggalkanku seorang diri.
Kenapa ... aku yang bersalah di sini?
Padahal aku tidak melakukan apapun.
Aku ...
Hatiku hancur, remuk menjadi serpihan yang tidak dapat disatukan kembali. Kenapa? Kenapa aku yang harus mengalami ini? Semua orang yang penting bagiku, pergi. Mereka pergi meninggalkan aku seorang diri.
Selama ini, aku melakukan segala hal agar membuat mereka semua bahagia. Tapi aku tidak benar-benar bahagia. Dan saat dimana aku menemukan orang-orang yang dapat membuatku senang, mereka justru pergi.
Pada akhirnya, hanya tersisa aku sendirian di sini.
Dunia ini ... memang tidak pernah adil.
***TBC***
A/N
Wkawkawka, lama bet ga apdet Vara :v
Btw mood Vara ke cerita ini lago bagus, tapi Vara agak sedikit WB di chapter 15 :3
Semoga nih nih story cepet tamat deh biar Vara bisa keluarin fantasi terbaru :v
Btw cerita ini bergengre campuran antara teenfict, angst, dan bumbu fantasi :)
Vara akhir akhir ini lagi suka angst, makanya mood ke story ini bagus!
Oke, met jumpa lain waktu!
Big Luv, Vara
🐣🐤🐥
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top