One Day [Part 2] [RiouxReader]

(Y/n) menghela nafas. Apa apaan ini!? Apakah dirinya sedang di tipu? Kesal, akhirnya (Y/n) sudah ingin beranjak pergi. Namun terhenti, karena matanya melihat sosok laki laki tinggi dengan surai coklat tengah berada di sampingnya.

"Rio-kun!?"

***

Hypnosis Mic

Rio x Reader
One Day part 2

Happy reading:)

***

"(Y/n)? Mengapa kau ada di sini?"

(Y/n) terdiam. Perlukah dia mengatakan bahwa ia ke sini untuk mengabulkan permohonannya?

Tidak. Sepertinya tidak perlu.

"Aku sepertinya tersesat."

Bohongnya. Hening sejenak menyapa keduanya. (Y/n) menelah salivanya kasar. Bagaimana jika dia tak mempercayainya?

"Oh ... seharusnya kau memperhatikan jalanmu, (Y/n)."

Tepukan pelan amat sangat terasa. Seketika (Y/n) mematung dengan rona merah yang sangat mencolok. Ia tak percaya bahwa kekasihnya itu bisa mempercayainya begitu mudah.

"Lalu, me - mengapa kau di sini?"

Kini giliran (Y/n) yang bertanya. Rio terdiam sejenak. Matanya kini menatap ke arah pintu yang terturup.

"Aku tadi hanya ingin berburu..."

(Y/n) ber - oh - ria. Itu adalah alasan yang paling jelas. Kini sunyi menemani keduanya. Tak ada yang berani memulai berbicara.

"Mau ku antarkan?"

Pertanyaa itu membuat (Y/n) sedikit tersentak. Ia menolehkan kepalanya dan menatap wajah Rio yang minim ekspresi itu. Seperti biasa, ekspresinya susah di tebak.

"Bolehkah?"

"Ya ... tidak baik seorang gadis pulang sendirian di tengah hutan sepeti ini."

Seulas senyum di wajah (Y/n) terlukis. Sepertinya coklat yang dia makan itu tak sia sia. Ya, mungkin saja. Tanpa mereka sadari, sosok gadis yang tengah duduk di atas ranting pohon itu tengah tersenyum misterius. Tangannya kini tengah mengelus kepala kucing hitam itu lembut.

***

Beberapa menit kini berlalu. Kini wajah (Y/n) memancarkan sinar khawatir yang teramat sangat. Bagaimana tidak, setiap kali ia dan Rio ingin keluar mereka akan kembali ke dalam toko itu! Kini (Y/n) meringkuk di dekat pohon. Langit pun juga mulai menggelap.

"BAGAIMANA INI!!! Huaaa! Pekerjaanku!"

(Y/n) meratapi kesedihannya. Pekerjaannya kini pasti makin menumpuk. Dan juga, sebentar lagi sudah malam! Bagaimana ini...

"Mau makan?"

(Y/n) menolehlan kepalanya. Dan mendapati Rio memberikan sebuah ikan yang sudah di panggang. (Y/n) terdiam sejenak. Sejak kapan, Rio mendapatkan ikan dan memasaknya?

"Kau sudah di sini selama satu jam. Pasti kau lapar."

Kini (Y/n) paham. Kekhawatirannya membuatnya tak sadar waktu. Dan membuatnya tak memperhatikan kekasihnya itu. (Y/n) menghela nafasnya pelan. Lalu perlahan, ia berdiri dan mengambil ikan yang telah dipanggang oleh kekasihnya itu.

"Ayo duduk di sini..."

(Y/n) mengikutu Rio yang duduk di salah satu batang pohon yang sepertinya sudah roboh. Keduanya kini menikmati makanan mereka dalam diam.

"Ini enak..."

Ucap (Y/n) pelan. Sebagai kekasihnya, tentu saja (Y/n) sudah sering mendapatkan makanan 'khas' milik kekasihnya itu. Entah itu tikus bakar, atau pun sup ulat. Mengingat hal itu, membuat (Y/n) sedikit merinding.

"Kenapa?" Tanya Rio. Pertanyaan itu berhasil membuat (Y/n) sedikit tersentak.

"Ti - tidak ... tidak apa apa."

Seulas senyum tipis menghiasi wajah (Y/n). Rio hanya menatapnya datar. Lalu dia melanjutkan acara makannya. Tak terasa waktu sudah terus berjalan, hingga langit kini mulai menggelap.

"Sudah malam..."

Rio menolehkan kepalanya ke arah (Y/n). Wajah gadis itu tengah tersenyum sambil menatap langit gelap. Membuat sedikit rona merah pada wajah sang mantan tentara itu. Lalu kepalanya ikut menatap ke langit.

"Rio! Lihat! Bintang itu terang sekali!"

Tangan (Y/n) kini mengengam lengan Rio. Sedangkan tangan satunya menunjuk ke arah bintang yang paling terang itu.

"Ah, iya..."

"Yang itu juga! Eh eh!"

Keduanya kini menatap sebuah bintang yang sempat melewati langit bumi. Ekornya memanjang indah dengan goresan lengkung sempurna. Seketika mata (Y/n) berbinar.

"Ada bintang jatuh! Ayo buat bermohonan!"

(Y/n) menutup matanya dan menyatukan dua tangannya. Sedangkan Rio kini diam menatap wajah (Y/n) yang tengah serius berdoa. Wajah Rio mendekat, dan ia menaruh kepalanya di kedua lututnya.

"Nah! Kau sudah buat permohonan?"

Wajah Rio dan (Y/n) kini hanya di pisahkan beberapa senti. Mata (Y/n) menatap mata Rio yang kini tengah menatapnya. Keduanya saling tatap. Dan (Y/n) kian makin gugup. Jantungnya berdegub kencang. Sedangkan Rio masih setia dengan wajah datarnya.

"Ri - Rio sejak kapan--"

Cup.

Sebuah benda kenyal berwarna merah itu menyentuh bibir (Y/n) lembut. Seketika, (Y/n) mematung. Wajahnya makin memerah. Ciuman singkat itu membuatnya tak mampu begerak dari tempatnya. Rio menjauh dari wajah (Y/n). Ada rona merah yang menghiasi wajahnya, walau agak tipis. Rio berdiri, dan mulai menjauh.

"Aku akan membuat tenda..."

Rio mulai menjauh. Kini (Y/n) sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menutupi wajahnya yang kini memerah. Hingga terbesik di pikiran sang gadis itu.

"Apakah, ini reaksi coklat itu?"

Hening sejenak. (Y/n) berpikir. Sebenarnya, apa yang akan di ambil oleh chocolatier itu?

"(Y/n)?"

Kepalanya menoleh, dan mendapati Rio kini tengah berdiri di belakangnya.

"Tendanya sudah siap, ayo!"

Tangan Rio kini menarik pergelangan (Y/n) lembut. Yang di tarik hanya kembali merona. Saat keduanya sampai di tenda tersebut. (Y/n) sedikit bingung, mengapa hanya satu?

"Ano, Rio-kun. Mengapa hanya satu tenda?"

Teihat Rio terdiam. Tangannya kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Tendanya hanya satu."

(Y/n) terdiam sejenak. Berarti...

"Ayo masuk! Sudah mulai gelap."

Rio masuk ke dalam. Sedangkan (Y/n) diam mematung di tempatnya. Wajahnya kini kembali memerah. Ia berusaha mencerna setiap kata yang di keluarkan oleh Rio.

"Ayo masuk!"

(Y/n) menolehkan kepalanya. Matanya menatap Rio yang tengah menatapnya datar. (Y/n) bimbang. Perlukah ia masuk ke dalam?

"Ayo!"

Mendengar hal itu, akhirnya (Y/n) berjalan masuk ke dalam. Kini keduanya duduk di dalam tenda sambil terdiam. Tak ada yang mau memulai pembicaraan, bahkan (Y/n) terlalu gugup untuk memulai. Sedangkan Rio? Dia bingung, ingin mengatakan apa.

"Lebih baik, aku tidur duluan..."

(Y/n) merebahkan tubuhnya. Di ikuti oleh Rio yang juga ikut merebahkan tubuhnya. Keduanya tidur sambil berlawan arah. Rio menghadap ke kiri, sedangkan (Y/n) menghadap ke kanan. Keduanya kini mulai menutup mata.

Namun, (Y/n) tak bisa tidur. Ia terlalu takut dan juga gugup.

'Bagaimana ini bisa terjad!?'

Batinnya. (Y/n) kembali mencoba menutup mata. Mencoba menghilangkan beban pikiran yang dia miliki. Namun semuanya kembali buyar. Hingga, Rio berbalik. Tangannya kini memeluk pinggang milik (Y/n). Merasakan ada yang aneh, (Y/n) menolehkan kepalanya dan menatap Rio kini tengah memeuluknya dalam keadaan tertidur.

Wajah (Y/n) merona. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah beberapa lama, (Y/n) akhirnya berbalik mengjadap Rio. Matanya kini melihat wajah Rio yanh tengah tertidur pulas. Tangan (Y/n) kini mengelus rambut hingga sampai ke pipi. Menatap wajah tanpan milik Rio.

'Senangnya, bisa mendapatkan waktu berdua bersamanya...'

***

Perlahan, Rio membuka matanya. Tatapannya masih sedikit buram untuk menatap sosok gadis di depannya. Hingga tatapannya benar benar jernih. Matanya menatap sosok gadis bersurai (H/c) tengah tidur berhadapan dengannya. Rio pun juga menyadari satu hal. (Y/n) menggengam tangan Rio erat.

Rio tidak tau ini perasaan apa. Namun jantungnya ikut berdegub kencang dengan rona merah menghiasi wajahnya. Rio menundukan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan tangan satunya. Hingga dia kembali menatap (Y/n). Tangannya kini mengekus rambut (Y/n). Menyelipkan rambut gadis cantik itu dengan kedua tangannya.

Hingga, mata (Y/n) kini membuka perlahan. Menyadari itu Rio melepaskan tangannya dari wajah mau pun gengaman (Y/n). (Y/n) kini tengah mecoba membuka matanya lebih lebar. Hingga pandangannya kini menatap Rio yang tengah menatapnya. Seulas senyum lebar menghiasi wajah (Y/n).

"Ohayou!"

Rio hanya terdiam. Lalu dia beranjak dari tidurnya.

"Ohayou..."

Rio keluar dari tenda, berusaha menutupi rona merah di wajahnya. Sedangkan (Y/n) menatap bingung punggung Rio. (Y/n) menghela nafas sambil tersenyum. Ia ikut keluar tenda, lalu meregangkan otot otot tubuhnya.

Srek srek!

Rio dan (Y/n) menoleh. Otomatis Rio mendatangi (Y/n) lalu berdiri di depannya. Tangannya kini siap menyerang.

"Miaw~"

"Heh?"

Wajah (Y/n) kini terlihat bingung. Bukannya, itu kucing hitam? Melihat hal itu, (Y/n) dan Rio menghela nafasnya.

"Ku pikir apa..."

Kucing itu meendekat. Lalu menggeliat di kaki (Y/n) dan Rio. Setelah itu, ia pergi meninggalkan keduanya.

"Sepertinya dia minta di ikuti."

Ucap Rio. (Y/n) menangguk, lalu keduanya pergi mengikuti kucing hitam itu. Hingga mata (Y/n) berbinar menatap taman kota yang terlihat sepi orang itu.

"Kita keluar!"

(Y/n) memeluk Rio erat. Sedangkan Rio hanya diam, bingung ingin melakukan apa.

"Nah, bagaimana?"

(Y/n) dan Rio menatap sosok gadis bersurai hitam panjang yang tengah duduk di air mancur sambil membaca bukunya. Seulas senyum misterius menghiasi wajahnya. Kucing hitam itu mendekati gadis itu, lalu menggeliati kakinya.

"Kau!?"

(Y/n) berteriak memanggil gadis itu. Keduanya salin tatap. Bagaimana, kekasihnya ini bisa mengenali gadis aneh yang tak di kenalinya ini? Batin Rio.

"Ya, ini memang aneh. Tapi setidaknya, permintaanmu terkabul bukan? (Y/n)."

(Y/n) terdiam, sedangkan Rio menatap keduanya penuh tanda tanya. Seulas senyum di wajah (Y/n) mengembang.

"Ya! Terima kasih!"

Chocola hanya menangguk lalu tersenyum. Lalu dia menatap ke arah Rio.

"Dan kau juga, tak perlu coklatku lagi bukan?"

Rio tersentak. Bagaimana bisa dia tau kalau dia ingin pergi ke tokonya juga? Rio hanhamenanggukkan kepalanya. Sedangkan (Y/n) menatap Rio bingung.

"Coklat apa yang ingin kau makan?"

"Tanyakan saja padanya!"

Kini Chocola pergi, sambil menggendong kucing hitam miliknya. Kini (Y/n) dan Rio saling tatap.

"Coklat apa yang ingin kau makan?"

Tuntut (Y/n) penasara. Tangannya kini menggengam lengan Rio. Rio menatap ke arah lain, mencoba tak berkontak mata dengan (Y/n).

"Yang ku inginkan adalah ... waktu bersamamu walau hanya sehari..." ucap Rio. Seketika (Y/n) terdiam.

"Aku selalu sibuk. Aku tau kau sedih, aku pun juga ... Aku memang bukan orang yang bisa memahami sesuatu seperti ini dengan mudah ... Tapi yang ku tau, aku merindukanmu..."

Seulas senyum menghiasi wajah (Y/n). Kini ia terkekeh pelan, menahan tawanya. Rio menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Aku juga, merindukanmu!"

(Y/n) kini tersenyum lebar, dengan mata berbentuk bulan sabit ikut menghiasi. Melihat itu, Rio ikut tersenyum. Wajahnya kini terlihat lebih manis dari biasanya. Tangannya kini mengelus kepala (Y/n) lembut.

"Syukurlah kalau begitu..."

Tanpa mereka sadari, Chocola menatap mereka dari jauh. Senyum di wajahnya masih tak luntur.

"Yang ku ambil darimu adalah, rasa sedihmu tanpa dirinya..."

Tamat...

Note:

G tau ga tau
Aku merasa makin hari tulisanku makin aneh...

Ya ya ya...
Tapi entah mengapa masih ada yg baca gitu...

/di gebuk/

Ok mungkin setelah ini aku buka open req(?)

Di akibatkan diriku mulai kekosongan ide:v

Ehe...

Ntarlah pas ku buat chap khususnya.

Semoga suka dengan ceria gaje ini!:v

©Katarina_294

Omake

Rio terdiam. Setelah dia mendapatkan telepon dari (Y/n), dia tak tau mau melakukan apa. Seharusnya, dia membantu Samatoki dan juga Jyuto. Namun ada rasa sedih dan tak rela saat dia menolak ajakan (Y/n) untuk makan siang. Rio menghela nafasnya.

Hingga matanya menatap ke arah sebuah selembar kertas yang tertempel di sebuah dinding.

"Coklat, pengabul permohonan?"

Seketika, Rio di buat penasaran oleh kertas selembaran itu.

***

Rio kini telah menginjakan kakinya di depan mansion milih sang Chocolatier. Matanya menatap ke kanan dan ke kiri. Sepi, tak ada siapa pun di sana. Rio akhirnya membuka pintu untuk masuk.

Hingga matanya menatap sosok gadis yang tengah berdiri di depan pintu. Terkihat ia tengah berusaha membuka pintu itu, namun nihil. Melihat itu, membuat Rio berjalan mendekatinya.

Tangannya kini menepuk pundak gadis itu. Kedua mata mereka kini saling pandang. Rio terkejut, melihat (Y/n)lah yang berdiri di depan pintu tersebut.

"Rio-kun!?"

Tamat...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top