1. First Day
Ini adalah hari pertama Kazuto bersekolah di SMP. Awal tahun ajaran baru di SMP Tierra. Kazuto sangat bersemangat untuk hal ini. Banyak yang sudah dipikirkannya, 'teman baru, guru baru, mungkin juga aku akan bertemu dengan seorang yang menjadi pujaan hatiku.' Kazuto sendiri adalah seorang laki-laki berketurunan Jepang dengan mata sipit beriris abu-abu, tinggi, dan bertubuh atletis.
Walaupun begitu, memasuki sekolah yang baru di awal tahun ajaran baru tetap saja menegangkan. Setelah banyak pengumuman oleh kepala sekolah beserta OSIS, Kazuto ditempatkan di kelas VII A. 'Kelas yang pasti menyenangkan' pikirnya.
Kazuto memasuki kelasnya dan sudah banyak yang mendahuluinya. Dia mengambil bangku di pojok kiri belakang, dengan alasan agar bisa melihat langit dengan jelas.
"Aku boleh duduk disebelahmu?" Tanya seorang anak laki-laki lainnya.
"Tentu." Jawab Kazuto.
"Hai, siapa namamu?" Tanya Kazuto.
"Aku Leon. Bagaimana denganmu?" Tanya Leon.
"Aku Kazuto." Jawab Kazuto.
"Kau orang Jepang?" Tanya Leon lagi.
"Hanya berketurunan Jepang. Tidak lebih tidak kurang." Jawab Kazuto tersenyum.
Begitu bel berbunyi, para siswa kelas VII A langsung duduk di bangku mereka masing-masing.
"Pagi anak-anak!" Sapa seorang guru wanita.
"Pagi!" Jawab para siswa.
"Nama saya, Christine Bianca. Tapi kalian semua bisa memanggil saya Bu Bianca. Ibu adalah wali kelas kalian satu tahun kedepan, ibu aka mengabsen kalian terlebih dahulu." Kata Bu Bianca.
Nama para siswa pun disebut satu-persatu hingga akhirnya nama Kazuto dan Leon dipanggil bergantian dan mereka menjawab "HADIR!".
"Baiklah, karena semua siswa sudah datang, kita akan memulai kegiatan pertama kita. Untuk hari ini, bagaimana jika kita menyiapkan perangkat kelas, dan juga beberapa aturan kelas?" Tanya Bu Bianca.
Para siswa pun menjawab "Setuju, Bu Bianca!"
"Baik, bagaimana kalau kita melakukan sukarela terlebih dahulu? Kalau tidak ada yang mengangkat tangan, akan dilakukan voting." Kata Bu Bianca.
Para siswapun menyetujui keputusan itu.
"Baiklah, apa ada relawan untuk Ketua Kelas?" Tanya Bu Bianca.
Siswa yang duduk tepat didepan Kazuto dan Leon mengangkat tangannya.
"Apa ada relawan yang lain? Kalau tidak ada silahkan maju kedepan anak yang mengangkat tangan dan tulis namamu disini." Kata Bu Bianca.
Anak itupun maju kedepan dan menulis 'Ketua Kelas : Phillipine Gray'.
"Kalau wakil ketua kelas?" Tanya Bu Bianca kembali setelah Gray duduk di bangkunya.
Seorang cewek mengangkat tangan. Karena tidak ada yang mengangkat tangan selain dirinya, dia maju kedepan dan menuliskan namanya, 'Wakil Ketua Kelas : Elizabeth Chloe'.
"Baiklah, lalu untuk sekretaris dan bendahara, akan dipilih masing-masing 2 orang, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Ada relawan?" Kata Bu Bianca.0
"Karena tidak ada yang ingin menjadi bendahara 1, bendahara 2, dan juga sekretaris 2, akan dilakukan voting." Kata Bu Bianca.
Akhirnya yang menjadi susunan anggota organisasi kelas adalah sebagai berikut.
Ketua Kelas : Phillipine Gray
Wakil Ketua Kelas : Elizabeth Chloe
Sekretaris 1 : Daisy Dreamux
Sekretaris 2 : Kagoyama Kazuto
Bendahara 1 : Deane Lyra
Bendahara 2 : Marco Leon
"Baiklah, mohon bagi yang terpilih, untuk menjalankan tugasnya sebagus mungkin, dan kepada seluruhnya, mohon dicatat aturan kelas berikut." Kata Bu Bianca.
Semua siswa pun mencatatnya dan setelah itu, siswa sudah boleh dipulangkan.
"Mohon maaf, kepada perangkat kelas, mohon berkumpul sebentar!" Kata Gray.
Kazuto dan Leon pun ikut berkumpul dan mendapat tugas pertamanya.
"Bisa mengambil waktu kalian sekitar beberapa menit?" Tanya Gray.
Yang lain pun mengangguk dengan arti tak kenapa.
"Aku ingin mengumumkan tugas pertama kita." Kata Gray.
"Kepada Sekretaris, aku ingin agar kalian membuat cetakan daftar aturan kelas dan absen siswa yang baru. Untuk bendahara, aku ingin kalian membuat data keuangan dalam sebuah buku dan juga agenda kas." Kata Gray.
"Baiklah." Jawab Daisy, Kazuto, Leon, dan Lyra.
"Dan untuk kita," Gray melihat Chloe.
"Kita hanya harus mengawasi kelas dan bertanggung jawab dengan keadaan sekitar kita." Kata Gray. Chloe pun mengangguk setuju.
"Baiklah, sebelum kalian pulang, kita lebih baik menukar nomor telepon." Kata Gray, merekapun mulai bertukar nomor telepon masing-masing.
"Terimakasih, sekarang kalian boleh pulang, terimakasih untuk waktunya. Dan mohon keakrabannya." Kata Gray dan mereka langsung pulang dari sekolah.
Kazuto memang pulang dengan berjalan kaki, tapi dia tak menyangka bahwa dia akan sama seperti Leon. Berjalan kaki dan menuju arah yang sama. Mereka pun berbincang-bincang cukup banyak. Mereka sudah mulai akur satu sama lain.
"Oya, bagaimana menurutmu dengan menjadi perangkat kelas?" Tanya Leon.
"Ini sebenarnya pertama kali bagiku untuk menjadi seorang sekretaris. Tapi mungkin akan menyenangkan." Jawab Kazuto tersenyum.
Tak terasa waktu begitu cepat, Leon sudah sampai di depan rumahnya, dia pun melambaikan tangannya pada Kazuto dan mereka berpisah.
Saat Kazuto berjalan pulang, dia menyadari ada yang tidak beres, dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Tapi dia hanya berjalan biasa dan tak menunjukkan ekspresi yang dapat mencurigakan.
Kazuto mulai merasa tidak enak, sampai akhirnya dia tak tahan. Dia menengok ke segala arah, tak ada siapa-siapa.
'Manusia sialan.' Pikir Kazuto mempercepat langkahnya.
Sesampainya dirumah, dia langsung disambut oleh ibunya.
"Aku pulang!" Kata Kazuto.
"Selamat datang!" Kata ibu Kazuto, Chiaki.
"Bu, banyak yang ingin aku ceritakan hari ini! Mulai dari aku masuk ke kelas, bertemu teman dudukku, guru baru, kelas dengan interior baru, dan masih banyak lagi." Kata Kazuto hinga terengah-engah.
"Pelan-pelan." Kata Chiaki sambil duduk disebelah Kazuto setelah selesai mencuci piring.
"Nah, sekarang coba ceritakan." Kata Chiaki mendengarkan.
Kazuto pun menceritakan semuanya dari dia masuk ke kelas bertemu Leon, dia menjadi sekretaris kelas, bagaimana wajah guru barunya, dan apa tugas pertamanya sebagai seorang sekretaris kelas.
"Sebentar, bu. Aku butuh minum, aku terlalu banyak bicara." Kata Kazuto sambil mengambil gelas dan menuang air langsung meneguknya hingga habis.
"Kazuto, coba kesini sebentar!" Suruh Chiaki.
Kazuto lalu mendekat dan duduk disebelah Chiaki.
"Sebenarnya, ada yang ingin ibu bilang padamu." Kata Chiaki.
"Katakan saja, bu. Aku mendengarkan dengan baik." Kata Kazuto
"Sebenarnya, kau adalah seorang penyihir, Kazuto." Kata Chiaki.
"Hah? Ibu bicara apa? Tidak ada yang namanya sihir menyihir di dunia ini." Ujar Kazuto sedikit tertawa.
"Di dunia ini, memang tak ada. Tapi kalau di dunia sihir, sangat berlimpah." Kata Chiaki serius.
"Maksud ibu?" Tanya Kazuto.
"Akan ibu jelaskan dari awal. Kau adalah seorang penyihir dan kita dulu tinggal di dunia sihir. Tapi, berhubung karena disana telah terjadi peperangan, aku dan ayahmu membawamu pergi dari dunia sihir saat usiamu masih 3 tahun." Kata Chiaki
Kazuto hanya bisa tercengang dengan hal itu, dia sendiri tak mengerti sedikitpun tentang sihir.
"Tapi, kenapa ibu baru bilang sekarang?" Tanya Kazuto menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Aku dan ayahmu memang berencana mengatakan ini saat kau sudah memasuki SMP. Dan sebenarnya, bukan hanya dirimu satu-satunya anak yang berasal dari dunia sihir. Ada beberapa dari teman dekat ibu yang juga memiliki anak seumuranmu dan bersekolah di sekolahmu." Kata Chiaki.
"Siapa?" Tanya Kazuto kembali
"Dan menurut ibu, kau sudah mengenal mereka." Kata Chiaki.
"Mereka? Ada berapa banya mereka itu?" Tanya Kazuto tak sabar.
"Phillipine Gray, Elizabeth Chloe, Marco Leon, dan Deane Lyra." Kata Chiaki
Hei yo!! What's up?
Ini adalah cerita terbaru gue. Makasih buat yang mau luangin waktunya buat baca. Mohon vote dan commentnya ya.
Bye bye
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top