9. Time

Kazuto menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya juga dengan perlahan. Mata kirinya masih terasa sakit, dan ia tak bisa menghilangkan perkataan yang Lyra katakan pagi tadi. Ia masih tak bisa percaya, walau hatinya saat ini sudah kebingungan. Secara garis besar, perkataan Sarah bisa ia percayai. Ia dikurung Leon di bawah tanah, Lyra dan yang lain tak mengenalinya lagi, tak ada tanda-tanda bahwa teman-temannya akan menyelamatkannya.

Kazuto menundukkan kepalanya, dan baru saja menyadari bahwa, pintu terbuka dan Frost memasuki kamarnya. Kazuto sedikit bergetar, aura yang Frost bawa terasa sangat menakutkan. Kekuatan sihir Frost terlalu besar. Frost tersenyum mendekati Kazuto.

"Kazuto, maafkan aku. Aku tak bermaksud. Aku tadi kelewatan ya? Sungguh, aku minta maaf. Suasana hatiku sedang kacau saat itu." Frost menunduk sedikit. Tapi Kazuto masih mencoba untuk menarik dan mengeluarkan nafasny perlahan sedikit bergetar.

"Aku tau kau pasti sedikit... kesal, jadi aku membuatkanmu sebuah hadiah." Kata Frost.

Sarah dan Ervan datang sambil membawa sebuah kotak kecil. Sarah lalu membukanya dan sebuah kelereng kecil bersinar terpangku di bantalan dalam kotak itu. Sarah lalu melepaskan satu ikatan rantai di tangan kanan Kazuto.

"Ambil kelerengnya, kau akan merasakan sesuatu yang tidak biasa." Kata Ervan tersenyum menunjukkan lesung di kedua pipinya.

Kazuto yang merasakan kekecewaan mendalam sebelumnya, bisa merasakan sedikit ketenangan begitu melihat kelereng itu.

Kazuto tanpa berpikir panjang, menyentuh kelereng itu. Seketika, kelereng itu terasa merasuki tubuhnya, tubuh Kazuto bersinar dengan terang. Sarah memundurkan langkahnya. Kazuto berteriak, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Sebuah tanda berwarna hitam menjalar dari pundak kanannya hingga menuju leher bagian kanan dan lengan kanannya. Rambutnya, dari bagian akarnya berubah menjadi warna biru kehitaman.

Begitu sinar berwarna biru itu menghilang, Kazuto tertunduk sejenak, rasa sakitnya terasa menghilang perlahan. Ia lalu membuka matanya, irisnya berubah menjadi berwarna biru langit yang sangat bening. Sarah lalu kembali memasang rantai Kazuto.

"Itu adalah sebuah kumpulan sihir kecil. Fungsinya? Meningkatkan kemampuan sihir esmu, meningkatkan kemampuan fisikmu, juga kemampuan matamu. Aku yakin kau bisa melihat dengan sangat jelas dan mampu melihat jarak yang sangat jauh tanpa halangan. Kau akan mencobanya sendiri nanti."

"Omong-omong, bukankah kau punya senjata suci, Kazuto?" Kata Ervan.

Kazuto membuang mukanya, "Senjata itu disegel. Kata Oma, terlalu banyak menggunakannya dapat berdampak buruk."

Frost tersenyum kecil.

***

"Ya, kita akan pergi ke tempat itu besok. Aku sudah mengetahui lokasinya. Kita sebaiknya bersiap secepat mungkin. Aku tak ingin hal yang semakin buruk terjadi." Kata Oma Laine.

Leon, Gray, Lyra, Reine, dan Chloe yang mendengar apa kata Omanya, merasa senang. Mereka akan merebut Kazuto kembali.

Leon lalu pergi menuju kamarnya, tetapi dengan sedikit rasa gelisah di dalam dirinya.

'Apa aku... masih pantas menatap Kazuto?' Leon menghela nafasnya pelan, duduk di pinggir kasur menatap jendela yang menunjukkan sedikit sinar.

Pikiran itu terus-menerus menghantui dirinya. Tapi disaat itu, Reine memasuki kamarnya dan menghela nafas.

"Oh, ayolah! Tidak usah kau pikirkan lagi! Kazuto bukan orang yang suka berpikiran jahat! Kita akan bertemu dengannya besok dan kau akan meminta maaf sepuasnya." Kata Reine dan Leon tersenyum.

Dan begitu, malam hari telah lewat dan matahari mulai memunculkan dirinya dari timur.

Mereka sudah siap termasuk juga dengan Oma Laine. Leon membuka jalan menuju bawah tanah, dan mereka mulai menyusuri lorong di tanah menuju arah yang sudah mereka bicarakan. Strategi, sudah mereka siapkan dengan sangat matang. Oma Laine akan berhadapan dengan Frost, jika ia muncul nanti. Leon akan menjemput Kazuto, dan sisanya akan berjaga.

Mereka terus berjalan sambil Leon memimpin dan membuka jalan. Dan Leon berhenti, sedikit membuka jalan menuju permukaan, dan membiarkan mereka yang berjaga untuk keluar. Gray menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan, tak ada siapapun di ruangan yang berhiaskan suasana lautan tempatnya memunculkan kepalanya.

Mereka sudah tiba di dalam gedung pribadi Frost. Chloe berjalan menyusuri lorong, bersembunyi di balik dinding dan menengok. Seorang dilihatnya membawa sebuah tombak dan mengenakan pakaian yang bisa dibilang merupakan tentara bawahan. Chloe dengan cepat menyetrum orang itu dan pergi secepat mungkin.

Reine mengubah dirinya menjadi air dan mengendap-endap melewati saluran angin, mencari-cari keberadaan Kazuto ataupun musuhnya.

Gray berjalan dengan hati-hati mengikuti lorong yang ada dengan berbagai pintu di sampingnya. Ia mengecek seluruh pintu itu dengan mengintip.

Lyra, dengan kemampuan terbangnya mengitari area luar gedung dan mengecek ruangan-ruangan kecil di luar gedung.

Dan Oma, berjalan dengan tegas menjatuhkan apapun yang menghalanginya menuju tujuannya.

Leon masih mengendap di bawah tanah, dan begitu ia merasakan permukaan menjadi semakin keras, ia lalu mencoba untuk melompat keluar dari bawah.

BLAM!

"Aduh!" Leon meringis memegangi kepalanya. Lantai besi yang tadi ia tabrak sedikit mencuat keatas. Leon lalu menggunakan sihirnya dan membuka jalan dengan menghancurkan besi itu.

Leon kembali meloncat dan menengok ke belakang.

"Astaga!" Kazuto berada di hadapannya tengah tertidur. Balutan di mata kirinya, luka sayatan di sekujur tubuhnya, suatu bentuk tanda hitam di bagian kiri tubuhnya, dan rambutnya yang berubah membuat Leon sangat terkejut.

"Kazuto! Aku akan membebaskanmu! Interruptor automático!" Leon menghancurkan rantainya dan Kazuto terjatuh ke tanah. Kazuto lalu tersadar dan Leon segera memeluknya.

"Astaga, Kazuto! Maafkan aku! Maafkan aku!" Leon mengulangi ucapannya terus menerus.

Kazuto membuka matanya, menghadap ke arah pintu masuk dan dengan ragu-ragu, menyentuh punggung Leon. Ervan datang dari arah pintu masuk dan sebuah bulatan laser sudah terbentuk di belakang punggung Leon.

"Lluvia de flecha!" Kazuto menembakkan ribuan panah yang muncul di sekitarnya ke arah Ervan.

Ervan langsung menghindar dan Leon menengok ke belakang, melepaskan pelukannya dan menggaruk telapak tangannya yang gatal.

"Kazuto, siapa ya--"

Belum selesai Leon meneruskan perkataannya, lehernya terhunus pedang tajam yang terbuat dari es milik Kazuto. Kazuto menajamkan matanya dan menatap Leon dengan keji.

"Pergi!" Kazuto berkata dengan nada yang tegas dan keras.

"Kazuto? Kau kenapa?" Leon berkeringat dingin menatap Kazuto yang benar-benar berbeda dari biasanya.

"Ervan!" Kazuto memanggil Ervan yang masih bersembunyi.

"Aku disini." Ervan masuk kedalam ruangan dan tersenyum sekilas.

Leon terlihat semakin kaget dan bingung, "Kazuto?"

"Jangan 'Kazuto?' padaku." Kazuto menurunkan pedangnya.

"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau datang? Kenapa kau baru datang saat ini? Kenapa kau tidak berusaha? Apa yang kau lakukan padaku waktu itu? Kenapa kau membiarkan mereka mengambilku? Kenapa kau tega melakukan itu? Kenapa..." Kazuto menundukkan kepalanya.

Pedangnya yang terbuat dari es berubah menjadi partikel-partikel dan terpecah menjadi bentuk baru. Kazuto memegang sebuah tombak panjang yang langsung ia arahkan pada kepala Leon.

"Jawab." Kazuto bersikeras dan tak bisa menahan emosinya. Ervan yang disebelahnya tersenyum dengan jelas.

Kazuto menaikkan tangan kirinya dan partikel-partikel esnya membentuk sebuah pistol. Kazuto mengarahkan pistol itu pada kepala Ervan. Ervan seketika ikut kaget dan mengangkat kedua tangannya.

"Aku tidak tau siapa yang harus aku percayai." Kazuto mengangkat kepalanya mengalihkan pandangannya.

Sebuah bulatan merah kecil muncul di belakang leher Kazuto.

Tapi, kemampuan Kazuto yang lebih cepat berhasil membuat Ervan semakin terpojok dengan empat buah anak panah yang mengelilingi lehernya.

"Kazuto... apa yang kau lakukan?" Leon bergetar, ini adalah pertama kali ia melihat Kazuto yang sangat marah dan tak terkendali.

"Kazuto, biar kita luruskan hal ini sedikit." Ervan ikut membela dan Kazuto menghela nafasnya.

Seluruh sihir es ciptaannya menghilang menjadi partikel.

"Mari lakukan sedikit perlawanan." Kazuto tersenyum miring.

"Flip condición, sueño profundo."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top