5. The Play

Badai turun menghiasi siang yang seharusnya cerah ini. Hujan dan petir turun membasahi area yang luas. Kazuto yang baru saja selesai dari kamar mandi, langsung menuju kamarnya dan mengenakan pakaian. Sebuah kaos berwarna biru dan celana panjang, Kazuto juga mengenakan antingnya dan ia lalu keluar dari kamarnya.

***

"Cih! Ini menghalangi pandanganku!" Umpat Ervan kesal.

"Yah setidaknya kita harus cepat sampai di sana." Kata Sarah, lalu mereka berdua berlari dengan sangat cepat walaupun hujan terus turun tanpa henti.

***

"Hei, Lyra!" Kazuto menyapa setelah ia menuruni tangga dan Lyra berdiri hendak menaiki tangga.

"Oh baguslah kau di sini. Ayo, makan sudah siap." Lyra berjalan kembali turun menuju ruang makan dan semuanya sudah menunggu.

"Oma mana?" Tanya Kazuto.

"Kerajaan sepertinya. Entahlah, akhir-akhir ini ia jarang di rumah." Kata Leon mulai mengambil sendok dan garpunya.

"Mari makan!"

CRAS! ZZING! DUAR!

***

"Kalian dengarkanlah aku. Dan, jangan beritahu hal ini pada Kazuto." Oma Laine duduk di sofa ruang TV dengan Reine, Chloe, Gray, Leon, dan Lyra.

"Oma... mendapat penglihatan. Kazuto, hah... oma tak tau. Dia, akan menghilang dari rumah. Aku tak tau bagaimana caranya. Tapi, yang aku inginkan adalah kalian mencegah hal itu terjadi."

***

Ledakan yang sangat besar membuat rumah mereka berguncang, dan Gray langsung menggertakkan giginya. Reine dan Lyra langsung bangkit dari kursinya.

Mereka berenam berlari keluar rumah, di depan rumah mereka, Ervan dan Sarah sudah menunggu. Mereka lalu memaksa Kazuto untuk mundur dan hanya membantu mereka tapi tidak bertarung.

"Apa maksudmu?" Kazuto terlihat kesal.

"Ceritanya panjang, pokoknya aku ingin kau--"

Ervan menembakkan lasernya tepat mengarah pada Kazuto dan Lyra menarik Kazuto dan menghindar dari laser itu.

"Kalian ini kenapa sih?!" Kazuto semakin marah.

"Maaf, Kazuto! Excavador de hoyos!" Leon menjatuhkan Kazuto ke bawah tanah dan menutup permukaan tanah itu kembali.

Kazuto terjatuh cukup keras di sebuah lubang yang kira-kira berdiameter 3x lipat dari tubuhnya.

"Aduh! Hei! Keluarkan aku! Apa ini?!" Kazuto berteriak, tapi tak ada yang mendengarnya. Kazuto berusaha menghancurkan permukaan tanah dengan sihirnya. Tapi nihil, permukaan tanahnya terlalu tebal.

"Hei! Sial! Leon! Akan kubunuh kau begitu aku keluar dari sini!" Kazuto memukul-mukul dinding tanah itu hingga tangannya sendiri terluka.

Tiba-tiba, terdengar suara samar-samar, dan Kazuto mendengar lebih jelas, lalu melihat ada seseorang yang berusaha berjalan melewati dinding tanah di sekitarnya. Kazuto lalu diperlihatkan pada seorang pria dengan wajah yang tampan dan juga pakaian yang sangat mewah.

Pria itu datang dari arah kanan Kazuto dan mereka saling bertatapan.

"Kazuto?" Pria itu berseri-seri.

"Siapa kau?" Kazuto melangkah mundur.

"Sudah sangat lama aku mencarimu!" Pria itu menepuk kedua tangannya dan mengarahkan salah satu tangannya ke Kazuto.

"Siapa kau?!"

Pria itu tersenyum, "El arte sacro, danza hoja de luna llena."

Dua buah pedang panjang muncul di depan wajah Kazuto lalu tiba-tiba saja menyerang Kazuto dengan sangat cepat.

***

Halaman depan Oma Laine sudah dipenuhi dengan berbagai sihir seperti tanah yang beterbangan dan puluhan burung api.

Sarah lalu menghentikan pertarungan, ia menempelkan jari telunjuk dan tengahnya pada pelipisnya, "Ervan, waktunya mundur."

Ervan sedikit kecewa terlihat dari raut wajahnya, lalu mengangguk dan menghentikan tembakan lasernya. Kelima orang yang ada di depannya sudah tersungkur di tanah dengan luka di sekujur tubuhnya.

"Kalian beruntung saat ini. Padahal aku masih ingin bermain lebih lama." Ervan lalu memegang tangan Sarah dan mereka menghilang seketika.

"Ka... zu..." Chloe terjatuh dan tak sadarkan diri, dan hujan pun berhenti turun. Memberi matahari waktu untuk menyinari mereka berlima yang kini terkapar lemas tak berdaya.

***

Kazuto tersadar dan membuka matanya. Memperhatikan dirinya bahwa tangannya yang terborgol tengah menggantung dirinya. Ia tak memakai baju, hanya celana panjangnya saja yang masih melekat padanya. Ruangan itu cukup sempit dengan ukuran sekitar 2x2 meter. Dan Kazuto tergantung tepat menghadap ke arah pintu masuknya.

Kazuto mencoba untuk memakai sihirnya, tapi tak bisa. Ia tak bisa mengeluarkan sihirnya sedikitpun.

Lalu tiba-tiba, pintu masuk itu terbuka, dan pria itu muncul masih dengan pakaian mewahnya.

"Hai!" Pria itu menyapa.

"Kau sudah sadar? Baguslah. Namaku Frost. Senang bertemu denganmu." Kata pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Kazuto menatapnya dengan tajam.

"Hei hei, jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin mengujimu saja."

"Apa?" Kazuto menjawabnya dengan nada yang sangat jauh berbeda dari biasanya.

"Mari lakukan tes ketahanan tubuh." Pria itu lalu menendang perut Kazuto sekeras mungkin hingga Kazuto membelalakkan matanya menahan rasa sakit itu.

Pria itu memukul Kazuto berkali-kali hingga Kazuto terluka dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

***

"Gray! Ya, untung kau sudah sadar! Apa yang terjadi?" Oma Laine dengan sangat panik bertanya pada Gray.

"Aduduh!" Gray memegangi kepalanya lalu melihat halaman depan rumah Oma Laine. Tiba-tiba ia tersentak dan menanyakan Kazuto.

"Kazuto? Oma tidak melihatnya! Hanya ada kalian berlima di sini!" Oma Laine terhenti sejenak, "Oh, tidak."

"Gray! Katakan pada Oma apa yang terjadi!"

Gray dan Oma Laine lalu membawa yang masih tertidur menuju ruang tengah dan menidurkan mereka berempat di sana. Gray lalu memulai cerita, hingga akhirnya Oma Laine sudah mendengar semuanya.

"Kalau memang begitu, Kazuto, pastinya akan bisa memberontak dan bebas dari tanah yang Leon berikan padanya." Kata Oma Laine mencoba menyembuhkan Leon.

"Tapi aku tidak bisa merasakan energi sihirnya sama sekali." Kata Gray.

"Gray, untuk kali ini, Oma akan memberitahumu semua yang raja ceritakan pada Oma tadi."

***

"Laine, kau sedang berhadapan dengan perusahaan suci. Kau mengerti apa yang kumaksud sebagai perusahaan?" Kata raja.

"Sebuah perkumpulan sihir, yang memiliki tujuan tertentu?" Kata Oma Laine.

"Ya, tapi kali ini, perusahaan ini sedang mengembangkan suatu senjata. Aku kurang mengetahui senjata apa yang akan mereka kembangkan. Tapi, sejauh dari informanku, bagian kecil dari senjata itu adalah penambahan kuantitas dan kualitas sihir. Itu hanyalah sebagian kecilnya."

"Apa maksudnya?" Tanya Oma Laine.

"Senjata ini bisa menambah kemampuan seseorang, meningkatkan kemampuan, memperbesar kemampuan. Walaupun sebagian besar orang yang mengalami percobaan ini gagal, dan mati. Tapi, ada 2 orang yang berhasil selamat dari percobaan ini."

"Benarkah?"

Raja mengangguk, "Ervan dan Sarah. Sepasang anak kembar yang kehilangan orang tua mereka saat mereka masih kecil. Ervan, yang memiliki kemampuan untuk menembakkan laser, juga matanya yang bisa melihat 360 derajat. Dan Sarah, kemampuan untuk menggerakkan suatu benda dengan pikirannya, juga kemampuan untuk memanipulasi pikiran seseorang."

"Apa itu sihir?" Tanya Oma Laine setengah tak percaya terlihat dari raut wajahnya.

"Ya. Sihir Ervan, merupakan sihir garis dan cahaya. Lalu Sarah, memiliki sihir untuk memanipulasi pikirannya sendiri atau pikiran orang lain."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Oma Laine.

"Untuk saat ini, aku tak tau apa yang harus dilakukan. Akan lebih bijak jika kita tidak gegabah maupun ceroboh. Dan cepat atau lambat, seseorang akan menunjukkan kelemahan terbesar mereka." Kata raja.

"Dan pemilik dari perusahaan suci ini?" Tanya Oma Laine.

"Frost. Frost Grianda. Seorang yang memiliki segala macam kemampuan sihir. Dan ia memiliki ribuan prajurit, ratusan jenderal, puluhan pengawal, dan seorang sekretaris."

"Sekretaris?" Tanya Oma Laine.

"Ya, seperti yang kukatakan tadi. Ini merupakan sebuah perusahaan. Tak menutup kemungkinan bahwa mereka bergerak dalam bentuk pekerja kantoran."

"Sistem yang unik bagiku. Jadi raja, aku mengharapkan bahwa anak buah anda bisa segera mendapatkan lebih banyak informasi."

"Oh tak masalah, kami sedang dalam perjalanan. Dan akan kuberi tau kau satu hal."

"Apa itu?"

"Ervan dan Sarah, kehilangan orang tuanya, karena pertarungan dari cucumu."

"Yang mana?"

"Si penyihir es."

a/n

Guys... hola. Meet me again, and my new part. Hehe
I was just thinking while I was reading this part, that maybe, my story is a little bit... complicated. O yes even God knows that, hm, ya aku sih gak nyalahin ya kalo kalian pada bingungin, 'ini kok bisa begini' 'ini kok bisa begitu' 'kok bisa begitu' apalah segala macem.

Jadi, cuma sedikit sosialisasi, cerita ini, emang bakal lebih panjang daripada si WnW yang pertama. Jadi, si ide itu, ngalir di otak. Ide itu udah kayak ceramah aja istilahnya, 'Woi isi gini. Woi isi gitu. Itu dianu aja. Ini dibegituin aja' ya semacam gitulah.

Dan terlebih lagi, author yang satu ini bodo kuadrat. Ya bayangin aja, gak pernah bikin outline. Jadi gimana ya, kalo misalnya si A itu awalnya merupakan tokoh yang formal, di 2 part selanjutnya si A bisa jadi tokoh galak. Aneh kan? Iya aneh.

Ya pokoknya ditunggu aja cerita ini sampe kelar. Lebih banyak kalian baca partnya bakalan lebih ngerti kok. /modusmemperbanyakread

Sekian dulu dah. Bye ges! Met malem minggu.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top