25. Free Day

Kazuto menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub yang sudah berisi air panas. Luka-lukanya sudah tertutup dan sembuh dengan cepat. Badannya sudah mulai mudah digerakkan. Ia menenggelamkan seluruh badan hingga lehernya dan kedua tangannya ia gantungkan pada pinggiran bathtub.

"Fuahhhh, benar-benar enak!" Kazuto melihat jam yang berada di kamar mandi, dan kedua jarum itu menunjuk pada satu tempat yang sama.

"Jam 12 tepat dan aku masih bermalasan di kamar mandi. Anugrah bagi orang berulang tahun itu memang indah!" Kazuto terus memuji dirinya sendiri. Tetapi tak lama kemudian, ia menjadi sedikit lemas.

"Kematianku, ya... Kazuto, jangan terlalu memikirkannya. Kalau memang sudah takdirmu, kau akan mati dengan layak." Kata Kazuto memberi dirinya sendiri kepercayaan diri.

"Lagipula, siapa sih yang berani-beraninya akan membunuhku?"

"Atau jangan-jangan, aku akan mati tertabrak bus di tengah jalan nanti? Atau aku akan dimakan oleh macan buas yang lepas dari kandangnya? Atau aku akan jatuh ke dasar tebing dari atas pesawat terbang?" Kazuto mengumpat sambil sesekali memuji dirinya sendiri.

Kazuto lalu terdiam, menatap ke langit-langit dan meraba mata kirinya yang masih tertutup dan memiliki bekas luka yang menjalar secara vertikal.

"Frost sialan. Akan kubutakan seluruh panca inderanya nanti."

DOK! DOK!

"WOI KAZUTO! KAU IKUT ATAU TIDAK?!" Suara teriakan Chloe terdengar dari luar kamar mandi.

Kazuto langsung bangkit dari bathtub dan air terus menetes dari tubuhnya.

"TUNGGU! 1 MENIT!" Kazuto mengambil handuknya dan mengenakan celananya. Ia lalu keluar dan melihat Chloe yang sudah terlihat marah karena menunggu.

"Astaga, cepatlah! Oma sudah menunggu daritadi!" Kata Chloe lagi.

"Oke, princess. 3 menit untuk pakaian, oke?" Kata Kazuto, Chloe lalu menggeram dan Kazuto mempercepat langkahnya sambil tertawa kecil.

Ia mengambil sebuah kemeja berwarna putih dan juga mengenakan sebuah celana jeans panjang. Ia lalu menatap dirinya sendiri di cermin dan mengenakan anting-anting berbentuk salib-nya, "Sip."

Kazuto lalu mengambil gulungan perban dan keluar dari kamarnya.

"Chloe!" Panggil Kazuto.

"Oh, baguslah! Kau selesai juga!" Kata Chloe lalu memakaikan Kazuto perban untuk menutupi mata kirinya.

Mereka berdua lalu berlari menuju mobil dan masuk ke dalamnya.

"Kalian lama sekali!" Kata Gray membagi tempat Chloe dan Kazuto.

"Tanyakan padanya." Kata Chloe sambil menunjuk Kazuto.

"Kalian ini," Oma Laine tertawa kecil, "Jadi, kita akan pergi sekarang?"

"Gas!!!" Mereka berteriak kompak dan Oma melajukan mobilnya.

"Setidaknya, kuharap mobil kali ini tidak rusak seperti yang sebelum-sebelumnya. Kau tau berapa kali kerajaan memberikan kita mobil baru tiap bulannya gara-gara hancur?" Tanya Oma Laine sambil membanting setirnya ke kiri.

"Entahlah, 3?" Kata Leon yang duduk di bagian paling belakang bersama Lyra.

"... mungkin. Oma pun tak terlalu ingat saking banyaknya mobil yang hancur. Setidaknya, yang kali ini harus dijaga. Kasihan melihat para mobil itu masuk ke gudang sampah." Kata Oma Laine lalu yang lain tertawa.

***

"Setelah sekian lama, aku kembali padamu!" Kazuto berseri-seri melihat mall megah yang berdiri di depannya.

"Nanti kalau sudah selesai, bawa saja notanya ke lantai bawah, oke?" Kata Oma Laine dan yang lain mengangguk senang.

Kazuto menarik tangan Chloe dan tak lama kemudian, mereka berdua sudah menghilang di tengah kerumunan orang.

"Mereka berdua, terlalu menikmati hidup kurasa." Kata Gray lalu berjalan bersama Leon masuk ke dalam sebuah food court.

"Makanan yang utama, ya?" Kata Lyra sambil bergandengan dengan Reine berjalan menuju sebuah konter penjual aksesoris.

"Biarkan mereka bersenang-senang. Kita juga punya kesenangan sendiri, kan." Kata Reine membongkar-bongkar tumpukan gelang di sebuah keranjang.

"Sarah dimana? Ervan juga?" Tanya Lyra.

"Mereka pergi ke luar kota, katanya. Naik kereta. Entahlah, ada yang harus mereka temui." Kata Reine.

"1 kebab, 2 kentang goreng, 1 bento, dan 2 cola." Gray memesan makanan di salah satu kasir yang kini memencet tombol-tombol yang ada di mesin kasirnya.

Leon mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di sebuah meja berwarna hijau terang yang merupakan tempat untuk menikmati makanan yang ada di food court itu.

Gray datang membawa sebuah nampan berwarna hitam yang berisi 2 gelas berisi cola dan beberapa piring penuh makanan.

"Uwah, bagus! Aku sudah menahan lapar daritadi!" Leon menepuk-nepuk perutnya dan matanya berbinar-binar melihat makanan yang ada di nampan itu.

Klak!

"Yes! Dapat, Chloe!" Kazuto merogoh sebuah lubang di mesin pencari boneka dan menarik sebuah boneka panda berwarna putih dan bermata hitam.

"Astaga, ini imut sekali!" Kata Kazuto lalu memberikan boneka itu pada Chloe.

"Terlalu imut untuk aku pegang." Kata Chloe lalu menenggelamkan wajahnya di punggung boneka yang besarnya hanya sedikit lebih besar dari wajahnya.

"Selanjutnya mau apa?" Tanya Kazuto merangkul tubuh Chloe disampingnya.

"Hm, kurasa perutku lapar, mau makan?" Tanya Chloe menatap Kazuto yang jauh lebih tinggi darinya.

Kazuto tersenyum menyipitkan matanya, "Tentu, apapun untukmu, nona."

Chloe memukul pelan pundak Kazuto sambil merona.

***

"Sarah!" Ervan memanggil Sarah yang berjalan semakin cepat meninggalkannya di belakang.

"Ugh, ayolah cepat! Nanti hari semakin gelap!" Sarah menarik Ervan dan mengajaknya berlari.

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah lapangan luas yang berpagar besi. Di pintu masuknya, Sarah dan Ervan saling bertatapan, dan berjalan masuk ke sisi barat lapangan itu. Di sana, dua batu nisan tertancapkan, Sarah dan Ervan mengusap kedua batu nisan itu.

"Ayah, ibu,"

"Kami sudah mendapat banyak teman yang baik. Kami harap kalian senang  dengan keadaan kami sekarang."

"Ayah dan ibu tenanglah di sana. Kami bisa saling menjaga di sini. Tak akan ada masalah yang terjadi kalau kami berdua saling berdampingan."

"Tapi walaupun begitu, aku dan Sarah tetap merindukan kalian berdua berada di sisi kami."

Mereka berdua tersenyum tenang. Dan angin berhembus mengibarkan rambut mereka berdua.

***

"Oma!" Kazuto memanggil sambil berjalan membawa beberapa tas berisi pakaian bersama Chloe, Gray, dan Leon.

Oma Laine yang sedang menyeruput jusnya lalu mengangkat dan melambaikan tangannya. Reine dan Lyra sudah berada bersama Omanya daritadi.

"Kalian ini benar-benar, ya. Sekalinya diajak ke sini, langsung membawa berbagai macam oleh-oleh yang ditujukan untuk diri sendiri." Kata Oma Laine menggoyang-goyangkan kakinya yang ia silangkan pada kaki yang lainnya.

"Hehe, kami juga membelikan untuk Sarah dan Ervan, tak perlu khawatir, Oma." Kata Leon sambil mengangkat beberapa tas yang berisi pakaian yang ditujukan untuk Ervan dan Sarah.

"Jadi, sudah cukupkah?" Tanya Oma Laine bangkit dari kursinya dan menepuk-nepuk pakaian bagian depannya.

"Ya, ayo!" Kata Lyra lalu berjalan, melintasi seorang pria dengan telinga yang runcing dan berambut merah.

"90%."

Lyra menengok pada pria yang berlalu di belakangnya itu sambil terlihat bingung.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top