24. Surprise

Chloe menekan-nekan dada Kazuto setelah Reine berhasil menutup luka di perut dan pahanya, walau tak sepenuhnya tertutup. Chloe memberi Kazuto nafas buatan, menekan dadanya kembali, air matanya mengalir dengan deras.

"Tidak, tidak, tidak, Kazuto! KAZUTO!" Chloe berteriak memanggil Kazuto terus, berusaha untuk menyelamatkannya.

"Chloe..." Leon memanggil Chloe dan menyuruhnya untuk berhenti sejenak. Mereka semua terdiam, dengan air mata yang terus mengalir.

"Dia... tertidur."

Chloe menengokkan kepalanya pada Sarah dengan mata yang sembab. Sarah mendekat dan meletakkan kedua tangannya di kepala Kazuto.

Sebuah sinar terang berwarna putih menyelimuti tangan Sarah.

"Pikiran Kazuto terjatuh jauh di dalam benaknya sendiri. Tapi, kurasa aku bisa membawanya kembali sadar." Sarah memfokuskan sihirnya.

Dan tak lama kemudian, Kazuto membuka matanya sedikit dan melihat ke sekelilingnya.

"Jangan bergerak dulu. Pikiranmu masih kacau, lukamu juga belum sembuh sepenuhnya." Kata Sarah lalu menghentikan sihirnya.

"KAZUTOOOOO!!!" Mereka semua lalu berteriak dan menangis terharu melihat Kazuto yang sudah kembali sadar, dan Lyra sangat berterima kasih pada Kazuto.

***

"Oh! Nian! Apa semua sudah siap!" Frost berjalan menuju sebuah ruangan gelap dengan sebuah kristal kecil yang bersinar berada di tengah ruangan itu.

Orang yang daritadi mengutak-atik kristal itu lalu tersenyum pada Frost, "70%. Bersabarlah sedikit, lagipula, bukannya Tuan masih ingin untuk bermain dengan anak itu?"

"Kurasa kalau aku bermain terlalu banyak, aku tak bisa menyaksikan keseruannya nanti. Aku ingin yang terbaik untuk yang terakhir nanti." Kata Frost lalu mengusap kristal itu pelan.

"Berapa banyak yang dibutuhkan untuk mengendalikan seluruh dunia ini?" Kata Nian sambil memperhatikan Frost yang berjalan-jalan kecil.

"Kurasa kita harus perlahan-lahan memulainya. Untuk dunia sihir ini, 1 juta. Dan kurasa, untuk seluruh dunia, 1 milyar." Kata Frost.

"Fiuh, itu adalah jumlah yang banyak untuk dibuat. Setidaknya, material yang kubutuhkan cukup untuk dunia sihir nanti." Kata Nian.

"Haha, baiklah. Kuserahkan seluruhnya padamu. Di saatnya tiba nanti, kita akan bisa menyelamatkan dunia ini dari kesengsaraan." Kata Frost menengadahkan kepalanya lalu tertawa panjang.

"Dengan menghancurkan seluruh umat manusia?" Tanya Nian, Frost lalu melihat Nian dan mengangguk kecil, "Dengan menghancurkan mereka... para non-sihir."

"Menarik." Nian tersenyum jahat dan melanjutkan seluruh pekerjaannya.

***

"Sarah, aku berterima kasih kali ini." Kata Kazuto pada Sarah yang baru saja masuk ke kamarnya untuk menengok keadaannya bersama Ervan.

"Ya, kau berhutang budi kali ini padaku." Kata Sarah tertawa kecil.

"Blablabla, gimana keadaanmu?" Tanya Ervan menyenggol bahu Sarah pelan.

"Kurasa aku sudah cukup membaik. Lukanya juga sudah tertutup." Kata Kazuto mengusap-usap perutnya sendiri.

"Secepat itu? Whoa, itu artinya si Frost memang benar-benar bereksperimen pada benda yang ia berikan padamu waktu itu." Kata Ervan memperhatikan tanda hitam di leher hingga lengan Kazuto.

"Fuh, sudahlah. Lalu, warga sekitar gimana? Mereka baik-baik saja?" Tanya Kazuto.

"Hmm, banyak dari mereka yang memutuskan untuk pergi ke kota yang lebih ramai dan mencari aman. Dan beberapa lagi sudah kembali dari rumah sakit. Tak menyalahkan kalau mereka trauma." Kata Sarah mengidikkan bahunya.

"Yang lain dimana?" Tanya Kazuto yang sedari-tadi tak diperbolehkan untuk bergerak oleh Oma Laine.

"Di lantai bawah. Kurasa hanya mengobrol kecil. Lagipula, aku juga cukup bosan tak melakukan apapun setelah kejadian kemarin." Kata Sarah.

"Ya, sip. Ayo, Sarah! Biarkan Kazuto beristirahat lagi. Tak baik untuk mengajaknya banyak bicara dengan keadaannya yang seperti mumi terperban itu." Kata Ervan mendorong tubuh Sarah dan keluar dari kamar Kazuto.

Kazuto tersenyum lalu menghembuskan nafasnya, ia kembali mencari posisi nyaman untuk tubuhnya berbaring. Ia menatap keluar jendela melihat langit yang berwarna biru tanpa ada awan sedikitpun.

"Kurasa hari ini terlalu cerah untuk kulewatkan berbaring di sini." Kata Kazuto kembali menghembuskan nafasnya kecewa.

Ervan dan Sarah menuruni tangga dan mereka melihat anggota rumah yang lain sedang mengobrolkan tentang sesuatu. Sarah lalu berdiri di samping mereka dan Ervan bertanya apa yang mereka sedang bicarakan.

"Ulang tahun Kazuto!" Kata Leon bersemangat.

Ervan dan Sarah saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Sebuah koneksi langsung terhubung antara pikiran mereka berdua.

'Beruntungnya kita bisa bersama dengan orang-orang yang sebaik ini.'

'Bahkan mengenal mereka belumlah 1 minggu lamanya, tapi ini sudah seperti kenal bertahun-tahun.'

'Mungkin inilah keluarga yang seluruh orang idam-idamkan. Keluarga yang bahkan tak mengenal batasan, menerima semuanya dan berusaha untuk tetap bahagia di keterpurukannya.'

'Kurasa kedua orang tua kita akan senang dengan keputusan kita yang sekarang.'

Ctak! Ctak!

"Halo?" Chloe menjentikkan jarinya di depan wajah Sarah yang melamun dan Ervan pun ikut menatap Sarah bingung.

Chloe tertawa kecil lalu menyenggol kecil bahu Sarah, "Apa yang kau pikirkan daritadi, sih?"

Sarah tertawa lalu menggelengkan kepalanya, "Bukan hal penting."

"Jadi bagaimana rencananya?" Kata Gray menopang dagu dengan tangannya.

"Kazuto akan ulang tahun besok, jadi kurasa akan lebih baik kalau kita menyiapkan perayaan kecil tengah malam nanti." Kata Lyra.

"Oke, jadi sudah jelas kan apa saja yang perlu dipersiapkan, Lyra?" Kata Reine, Lyra menaruh tangannya di ujung alisnya dan menegakkan badannya memberi hormat, "Siap, laksanakan!"

***

"Liqor, apa ini waktu yang tepat?" Tanya seorang pria dengan setelan jas yang lengkap dan rapi berwarna hitam dan putih.

"Iya, waktu tidak pernah berbohong. Waktu adalah segalanya di dunia ini. Aku bisa mengetahui semuanya dengan benar." Kata seorang wanita yang hanya memakai sepasang pakaian dalam, sebuah jaket berwarna biru tua, dan juga sebuah kain bermotif pelangi yang menutupi bagian pinggang hingga kakinya yang memakai heels.

"Kalau kau yang berkata begitu, mau bagaimana lagi. Tapi aku tak akan memaafkan dirimu kalau prediksimu kali ini salah." Kata pria itu lagi.

"Tenang saja, waktu mengetahui semuanya." Kata wanita itu.

Lalu tiba-tiba, Frost berjalan melewati sebuah lorong dan bertemu dengan kedua orang tadi begitu ia membuka pintu yang membagi antar lorong.

"Nah kan, waktu memang tak pernah berbohong." Kata wanita itu sambil tersenyum mengejek pada pria yang berada di belakangnya.

"Oh, Liqor, Khia, ada apa?" Tanya Frost sambil membawa beberapa tumpukan kertas yang ia pegang di tangan kirinya.

"Aku ingin memberitahu tuan suatu hal," Liqor lalu membisikkan hal tersebut pada telinga Frost.

"Oh benar? Itu artinya aku punya tambahan pekerjaan hari ini." Kata Frost.

"Apa kau akan mengijinkan kami berdua?" Tanya Khia.

"Tentu. Kalian boleh pergi, tapi hanya untuk melihat. Aku tak ingin ada kerusakan lagi padanya. Ingat itu!" Kata Frost, Liqor dan Khia membungkuk memberi hormat, dan Frost melanjutkan perjalanannya.

"Ayo. Kita hanya punya waktu 3 jam 12 menit dan 4 detik lagi untuk sampai di sana." Kata Liqor menarik lengan baju Khia.

***

"Hati-hati... jangan sampai bersuara." Kata Oma Laine memperlambat langkahnya dan perlahan-lahan membuka pintu kamar Kazuto. Kazuto sedang tertidur dan langit sudah gelap.

"5 detik lagi." Kata Chloe sambil menengok pada jam dinding kamar Kazuto.

"4, 3, 2, 1!"

"Dor!" Kazuto membentuk tangan seperti pistol dan sudah dalam posisi duduk sambil mengacungkan tangannya pada mereka semua yang berada di pintu sambil tersenyum kemenangan.

"HUWA!" Mereka semua terkaget dan Kazuto tertawa lepas.

"Gotcha!"

"Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Kata Ervan sambil menghidupkan lampu kamar Kazuto dan mereka semua masuk ke dalam kamar.

"Hahahahaha! Teriakan kalian terdengar sampai atas sini! Aku menahan tawaku sambil mendengarkan obrolan kalian!" Kata Kazuto memeluk perutnya menahan sakit akibat tertawa.

"Oh ayolah, harusnya kau bisa berpura-pura tertidur lalu terkaget dan membuat kami merasa puas karena berhasil memberikan kejutan!" Kata Chloe.

"Hmm, begitu ya? Lalu, bukankah aku yang berulang tahun ini sedang merasa puas karena telah memberikan 'kejutan' pada kalian?" Kata Kazuto, lalu mereka semua tertawa keras.

Kazuto lalu meniup lilin yang ditancapkan pada kue yang Oma Laine bawa setelah mengucapkan permohonannya dalam hati. Mereka lalu tertawa riang dan gembira di dalam kamar Kazuto menimbulkan keributan pada tengah malam itu.

"Lihatlah, begitu bahagianya." Kata Liqor sambil menatap mereka yang tertawa dari dalam rimbunan daun pohon.

"Aku penasaran bagaimana raut wajah mereka kalau mereka mengetahui apa yang akan segera terjadi." Kata Khia berdiri terbalik di sebuah dahan pohon di atas Liqor.

"Tunggu saja, seperti kata mereka tadi, siapa yang tak suka kejutan. Ini akan berjalan menyenangkan. Waktu akan menunjukkan jalannya."

"82%"

Liqor dan Khia tersenyum jahat sambil menatap mereka semua yang kini memotong kue dan memakannya bersama.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top