15. Dust
"Kazuto, kau akan meninggal, dalam waktu dekat."
Kazuto terdiam, begitu juga dengan yang lainnya, tak terkecuali Gray. Kazuto merasakan angin dingin mengaliri tubuhnya, dan jantungnya serasa tertembak. Tapi, Kazuto tersenyum, tak menunjukkan sedikitpun kesedihan.
"Lyra," Kazuto menatap Lyra yang masih berwajah merah, "Aku tak akan mati. Aku berani menjamin bahwa ramalanmu yang salah. Tak usah khawatir, aku pasti menjaga diriku."
Perkataan Kazuto membuat seluruh yang mendengarnya menjadi damai, juga hangat. Kazuto terlihat sangat tenang, tak sedikitpun rasa khawatir muncul di wajahnya. Lyra menundukkan kepalanya, mencoba menahan perasaannya untuk tidak marah dan tetap tenang.
"Benar juga. Mana mungkin Kazuto mati, kan?" Lyra tertawa kecil.
***
Ervan dan Sarah menikmati burger yang sudah mereka pesan di sebuah restoran. Ervan menyeruput cola miliknya, dan tepat setelah ia menaruh kembali minumannya. Matanya membelalak, cola yang barusan ia minum serasa tersedak di tenggorokannya.
"Ervan? Kenapa?" Sarah yang duduk di hadapan Ervan terlihat bingung melihat tingkah saudaranya itu.
Ervan menutup mulutnya dan menunduk sedikit. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu, dan Sarah membalikkan badannya. Sarah sama terkejutnya dengan Ervan.
Kazuto masuk dari pintu dan menuju tempat membeli makanan. Sarah kembali menghadap ke arah semula dan mencoba untuk tidak menarik perhatian. Ervan melirik sedikit, dan tepat pada lirikannya, Kazuto menatap balik dan mulutnya menganga.
"Sarah. Kita terlihat!" Ervan berbisik sedikit pada Sarah.
Ervan menunduk dan menutup mukanya dengan tangannya sambil terus memakan burgernya. Sedangkan, Kazuto langsung pergi begitu mendapatkan apa yang ia inginkan. Ervan menghela nafas, dan Sarah menengok mencari-cari keberadaan Kazuto.
"Ini merupakan ketidak beruntungan." Kata Ervan menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Mungkin. Mungkin juga tidak." Kata Sarah mengelap mulutnya dengan tisu.
"Apa maksudmu?" Tanya Ervan memicingkan matanya. Sarah hanya mengangkat kedua bahunya sambil membiarkan Ervan dalam rasa penasaran.
"Apa ia memata-matai kita? Si bodoh itu." Tanya Ervan melirik sekitarnya.
Sarah menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari kursinya menuju tempat mencuci tangan. Ervan hanya menyenderkan kembali tubuhnya pada kursi tempat duduknya dan menghela nafas yang dalam.
***
Kazuto berjalan sambil membawa satu buah tas makanan yang ia pesan tadi. Ia memijat-mijat dahinya sambil melemaskan otot-otot matanya.
Duk!
Kazuto menabrak seseorang dan segera meminta maaf kepada orang itu.
"Hm, tak apa. Aku baik-baik saja." Orang itu pergi menjauh.
Kazuto menatap orang itu dengan seksama, pria dengan rambut yang cukup panjang terikat satu, pakaian tanpa lengan, celana panjang, mata sipit juga telinga tertindik, dan terdapat sebuah pedang berukuran cukup kecil yang tersarungi di bagian belakang pinggangnya. Di dalam hati Kazuto, orang itu seperti tak asing baginya. Kazuto berusaha untuk menghilangkan pikiran itu dan terus berjalan menuju rumahnya.
Kazuto sampai di rumah Oma Laine tak begitu lama, dan rumahnya dalam keadaan sepi, tidak terlalu sepi. Oma, Lyra, Reine, dan Gray sedang menghadiri suatu acara di kerajaan. Chloe sedang berada di perpustakaan untuk mencari informasi mengenai sihir miliknya lebih lanjut. Dan Leon, tengah berlatih meningkatkan sihirnya di halaman belakang. Terdapat suaranya yang tengah berlatih dengan keras dan cahaya berwarna keemasan dari belakang sana. Kazuto mengambil sebuah minuman dingin dari dalam kulkas dan berjalan menuju halaman belakang.
"Leon!" Leon lalu menghentikan latihannya dan menangkap air minum yang Kazuto tiba-tiba lempar. Tubuhnya berkeringat dan nafasnya terlihat cukup cepat.
"Kau sudah pulang? Cepat juga." Kata Leon sambil meneguk air dingin itu.
"Begitulah. Mau bertarung?" Tanya Kazuto sedikit tersenyum.
Leon tersenyum sinis, "Diterima."
Kazuto membuka bajunya lalu berdiri berhadapan dengan Leon, "Aku tak mau baju mahalku tergores sedikitpun."
Leon hanya tertawa kecil dan ikut melepas bajunya. Kazuto memulai pertarungan. Ia membuat puluhan panah dan melayangkannya pada Leon. Leon membuat sebuah pertahanan dengan elemen tanah miliknya. Lalu, dari belakang Kazuto, sebuah dinding terbentuk dan akan menimpa tubuh Kazuto. Kazuto lalu meloncat tinggi dan menghindari dinding besar itu.
Leon dengan gesit, meloncat dan menendang bagian kepala Kazuto. Tapi Kazuto menangkis dengan tangannya yang sudah ia bekukan sendiri. Begitu mereka kembali menyentuh tanah, Kazuto memukul Leon dan telak mengenai perut Leon. Leon terpental hingga menabrak pohon di belakangnya. Kazuto tersenyum sambil bermimik 'Sorry!'
Leon menenggelamkan dirinya ke dalam tanah. Dan dengan sekejap, Leon membuat ratusan jarum berukuran besar di seluruh permukaan halaman belakang. Kazuto meloncat dan membuat sebuah tongkat tinggi di atas jarum itu lalu berdiri di atasnya. Kazuto mengepalkan kedua tangannya dan mengarahkannya pada tanah.
"Piso grueso!" Sebuah es yang sangat tebal hingga bermeter-meter terbentuk di udara dan terjatuh di atas jarum itu. Jarumnya terbungkus es dan permukaan esnya yang datar memungkinkan Kazuto untuk kembali berdiri lagi.
Kazuto membuat sebuah bilah tipis di kakinya dan berseluncur di atas es itu. Leon muncul dari dalam tanah menembus es dengan sebuah palu di genggamannya. Leon lalu menghantamkan palu itu di permukaan esnya hingga es tersebut pecah berkeping-keping. Kazuto kehilangan keseimbangan dan khawatir terlebih dengan jarum yang masih berada di atas tanah. Kazuto membuka mulutnya dan menghembuskan nafasnya. Jarum-jarum yang terkena hembusan nafasnya lalu membeku dan pecah sehingga jarum itu hancur dan Kazuto mendapat pijakan lagi. Leon tepat dari atas kepala Kazuto meluncur turun dengan cepat.
Kazuto membentuk sebuah busur dan menariknya, sebuah panah terbentuk dan Kazuto melepas anak panah itu tepat menuju Leon. Leon membentuk sebuah perisai di depannya dan anak panah itu hancur. Kazuto meloncat tinggi dan mendarat di ranting pohon besar rumahnya. Leon berlari dengan cepat lalu menghantam pohon itu dengan tangan kosong. Pohonnya langsung tergoyang dan Kazuto kembali melompat sebelum ia terjatuh.
Kazuto membuka tangannya dan puluhan keping es keluar seperti peluru mengenai tubuh Leon. Asap dingin terbentuk dan Kazuto berdiri tepat pada pagar rumah.
Krek!
Tepat saat Kazuto menengok ke bawah, Leon sudah hendak memukul Kazuto dengan tangannya yang terlapisi tanah berduri. Kazuto mengangkat kedua tangannya, menyerah.
Seluruh es ciptaan Kazuto, dan sihir tanah Leon menghilang menjadi partikel-partikel berwarna-warni lalu terbang dan menghilang di udara.
"Langkah yang baik." Kata Kazuto sambil membuka tangannya pada Leon. Leon lalu menepuk pelan telapak tangan Kazuto dengan telapak tangan miliknya.
"Aku tau." Leon tersenyum kemenangan. Leon lalu mengambil kembali air yang Kazuto berikan dan kembali meneguknya, dan memberikan sisanya pada Kazuto.
"Hah... sudah lama aku tak berlatih dengan kalian. Rasanya tubuhku kaku sekali." Kata Kazuto meregangkan tubuhnya.
"Yah... kurasa begitu. Tubuhku tak terasa lentur kembali." Leon menyilangkan tangannya di depan dada.
"Leon, kau semakin tua." Kata-kata Kazuto yang singkat tapi mengandung makna yang besar langsung membuat Leon seperti tertancap panah tepat di hatinya.
"Sialan kau!" Leon beranjak masuk ke dalam rumah dengan tertawa kecil.
Kazuto mengambil bajunya lalu ikut masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top