Bab 24 : Menghadapi Masalah

Semalam, aku meninggalkan Jaehyun sendirian. Aku berharap ia menghentikanku dan memintaku untuk menemaninya melepas beban pikiran, tapi malah sebaliknya. Ia membiarkanku menyeret kakiku masuk ke dalam villa. Aku agak kecewa.

Hotteok yang tadinya sudah dingin, sekarang beku dan basi. Aku menyesal karena tak dapat menyampaikan titipan Kak Jin dengan baik. Namun, aku sendiri juga tidak bisa terus mendengar cerita Jaehyun yang hanya bisa menyesakkan dada.

Jaehyun tak menghindar. Meskipun pikirannya penuh, ia tak meninggalkan berbagai kegiatan yang telah teman-teman susun. Seperti jalan-jalan ke pantai, naik perahu, dan bermain voli. Hanya saja ia banyak diam dan pasif. Baginya, menunjukkan eksistensinya saja sudah cukup, mungkin. Mereka juga tidak akan bertanya lebih lanjut soal privasi orang lain. Jadi, Jaehyun merasa aman.

Aku merutuki diriku sendiri karena tidak bisa membuatnya lebih terbuka. Kalau aku tidak memintanya untuk bercerita, sudah pasti ia menyimpan masa lalu kelamnya itu sampai kapan pun. Dan aku tidak akan tahu kalau selama ini aku cuma dijadikan pelarian. Tapi, aku tidak menyalahkan Jaehyun. Mungkin memang caranya untuk memperbaiki diri salah, namun semua kejadian ini ada pemicunya. Jaehyun pun merasa menderita karenanya. Gadis itu, yang belakangan mengusik hatinya, apakah ia akan gencar untuk mendapatkan kembali Jung Jaehyun? Bagaimana aku bisa menemuinya?

"Ssh, Sohyun. Jaehyun kenapa? Kalian marahan, ya? Kok dari tadi diem-dieman," tanya Arin.

Aku yakin, Jaehyun tidak menginginkan orang lain tahu perihal masa lalunya dan Yeri. Aku juga yakin, jika sampai Arin, Kak Jisoo, atau Kak Jin tahu, Jaehyun bisa terjerumus dalam masalah besar. Mengingat betapa protektifnya orang-orang di sekitarku. Ya, paling tidak aku harus menemukan solusi dulu dari permasalahan ini. Sampai permasalahan ini selesai, aku tidak akan mengumbar cerita Jaehyun ke mana-mana.

"Ia kurang enak badan. Kau tahu kan, akhir-akhir ini ia sering sakit. Salah makan katanya," alibiku.

Arin memanggutkan kepalanya. "Oh, gitu. Ya udah, dijagain gih. Kalau dia sakit, nggak akan ada yang godain kamu."

Aku merespon lelucon Arin dengan memaksakan senyum.

Astaga, Rin. Kalau kamu tahu sebenarnya Jaehyun menganggapku bukan apa-apa, pasti kamu bakal mukul dia. Ngelarang aku deket-deket sama dia lagi. Hahh, tapi aku akan tahan itu semua sampai aku ketemu dengan Yeri langsung dan menanyakan tujuannya menghubungi lagi Jaehyun.

***

Menjelang tengah malam, kami semua berkumpul di halaman belakang villa. Di dekat sini, katanya ada sebuah bangunan tua yang sepertinya asyik untuk dijadikan tempat jurit malam.

Semua orang kelihatan tertarik dan bersemangat untuk memulai kegiatan ini. Beda halnya dengan aku dan Jaehyun. Meskipun sekarang tangan kami saling diikatkan-sesuai peraturan-dan dijadikan pasangan, kami masih diam satu sama lain. Jujur saja, aku ingin ia yang mengajakku bicara duluan. Tapi, apa yang bisa kuharapkan dari seorang laki-laki yang patah hati?

Aku paham betul bagaimana perasaan Jaehyun. Ia pasti sangat kecewa pada Yeri. Gadis itu muncul di saat Jaehyun sudah bersamaku. Wajar saja jika Jaehyun sangat dilema.

"Nih, Hyun. Pegang senternya, awas ya. Jangan sampai pingsan," ledek Jungwoo. Ia berpasangan dengan Ryujin. Sementara Arin, gadis itu absen. Ia paling takut dengan gelap.

"Hyun, hati-hati. Kalau ada apa-apa, teriak. Biar Kakak tahu kamu ada di mana, okay?" pesan Kak Jisoo. "Jaehyun, jaga adikku." Aku terperanjat sebab tiba-tiba Kak Jisoo mengajak Jaehyun bicara. Yang kulihat, cowok itu merespons. Tentu saja dengan tatapan kosong dan asal. Kak Jisoo tak menyadari bahwa Jaehyun bukan hanya sakit, tapi benar-benar menjadi pribadi yang berbeda dari biasanya.

Masing-masing dari kami mulai berjalan. Dengan jarak sepuluh menit, satu pasangan akan maju dan yang lain menyusul setelah sepuluh menit kemudian. Kini giliran kami-aku dan Jaehyun-yang bergerak menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Hutan yang tidak terlalu rimbun, tidak juga luas. Samar-samar suara ombak melesat masuk melalui celah-celah pepohonan. Tak ada cahaya bulan, karena sejak pagi tadi awan mendung menyapa. Beruntungnya, malam ini tidak hujan sehingga kegiatan masih bisa berlangsung.

Embusan angin membuatku menggigil kedinginan. Gilanya, dibandingkan mengkhawatirkan diriku sendiri, kedua mataku langsung menyorot ke arah Jaehyun. Tangan pria itu sangat dingin. Aku tahu ia pasti sama kedinginannya sepertiku, tapi ia menahan reaksi apapun lolos dari bibirnya itu. Aku menghentikan langkahku, refleks cowok itu ikut berhenti juga.

Dengan sigap dan tanpa ragu, kulepas syal yang kupakai dan kulilitkan ke lehernya. Memastikan ia mendapat kehangatan dari sana. "Kau kedinginan, kan? Pakai saja. Bajuku sudah lebih dari hangat."

Sedetik kemudian, kepalaku dihantam oleh satu pemikiran yang mengerikan. Pemikiran yang selalu menggerogoti masa remajaku sejak aku masuk sekolah menengah atas. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan sejak aku mengenal Jungkook.

Apa kini, cintaku bertepuk sebelah tangan lagi?

Aku heran. Kenapa aku tidak bisa lepas dari tiga kata itu? Bertepuk sebelah tangan seolah menjadi moto terbesar dalam hidupku. Kesal. Rasanya kesal sekali ketika aku dihadapkan dalam situasi yang sama. Bagaikan masuk ke lubang, setelah keluar malah jatuh ke lubang yang lebih dalam lagi.

"Makasih." Paling tidak, Jaehyun masih punya rasa terima kasih padaku. Walaupun bukan jawaban itu yang kuharapkan, melainkan sepatah-dua patah kalimat darinya. Aku merindukan keceriaannya yang dulu. Sifatnya yang tidak tahu malu, yang tak berhenti menggodaku.

Belum tiba di bangunan tua yang dimaksudkan, mendadak butiran-butiran air jatuh dari atas langit. Awalnya jarang, tapi dalam sekejap berubah lebat membentuk tirai hujan. Aku menyeret Jaehyun lari untuk mencari tempat berteduh.

Sial, hujan musim panas.

Aku suka hujan. Namun entah mengapa, malam ini aku tak menginginkan rombongan air itu datang. Alasannya cuma satu, aku tidak ingin Jaehyun jatuh sakit.

"Jae? Sampai kapan kau akan terus mendiamiku?"

Kami menemukan sebuah gasebo kecil. Sepertinya, gasebo ini sengaja dibangun kalau-kalau pengunjung villa atau penginapan di sekitar sini berniat jalan-jalan dan menikmati suasana hutan.

Dengan berani aku mencoba memulai pembicaraan. Mungkin memang aku yang harus lebih agresif.

"Aku pikir, kau marah padaku," jawabnya lesu.

Iya, aku marah padanya. Tapi kalau dia terus membungkam mulut, bagaimana aku bisa tahan?

"Apa kau sudah makan?"

Ayolah, Sohyun! Pertanyaan macam apa itu? Kau payah!

Jaehyun mengangguk. "Sudah."

Ayo, katakan sesuatu! Apa kau akan terus diam sampai harus aku yang melemparkanmu umpan pembicaraan?

Aku jadi bingung!

Suara ombak senyap. Digantikan suara hujan yang tak kunjung menemukan titik terang. Baju kami sudah setengah basah akibat berlari-larian mencari perlindungan. Sudah cuaca dingin, ditambah lagi Jaehyun yang tak banyak bicara. Dinginnya menjadi dua kali lipat.

Aku merasakan getaran. Pundakku dan pundak Jaehyun saling bersinggungan. Aku bisa tahu kalau laki-laki itu makin menggigil sampai-sampai giginya gemertakan. Sejak kapan Jaehyun selemah ini? Bukankah selama ini ia cowok yang kuat?

"Sini." Aku menggenggam kedua tangannya. Menggosok-gosokkan telapak tanganku dengan telapak tangannya kemudian meniupkan napasku di sana. "Apa sudah terasa hangat?"

Jaehyun mematung. Cukup lama lalu ia cuma menjawab melalui gerakan tubuh. Lagi-lagi anggukan kepala.

Baiklah, aku sudah muak!

"Dengar Jaehyun, aku tidak marah padamu. Mungkin iya, awalnya aku marah karena sikapmu yang sebegitu teganya menjadikanku pelampiasan. Ah, aku tidak mengerti lagi. Aku pikir kau benar-benar menyukaiku sampai-sampai berani menemui Kak Jin dan meminta izinnya untuk mendekatiku."

Jaehyun menyimak dengan baik kalimatku, tapi tatapan matanya jauh ke depan sana. Menelisik batang-batang pohon kelapa yang menjulang tinggi.

"Tapi, Jae ... kau harus bertanggung jawab. Kau membuat perasaanku berubah. Kau membuatku berdebar dan panas-dingin setiap kali kau berada di dekatku. Kau membuat Jungkook, yang tadinya aku puja-puja, seolah bukan apa-apa lagi. Kau harus bertanggung jawab atas perasaanku ini."

Aku berhasil menarik perhatian Jaehyun. Laki-laki itu menatapku tak percaya. Terlihat dari kedua kelopak matanya yang terbuka lebar.

"Apa maksudmu, Sohyun?" tanyanya masih tidak mengerti.

"Jae, aku menyukaimu. Kau sudah berhasil mencuri hatiku. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu dengan mudah sekarang?"

Suara petir menyambar. Gemuruh menggema di atas langit, menggetarkan gasebo mini tempat kami berteduh. Melalui kilatan guntur, sekilas dapat kuperhatikan raut muka Jaehyun. Senter yang kupegang jatuh entah di mana saat kami panik berlari beberapa waktu lalu.

Jaehyun, kenapa kau menampilkan ekspresi wajah yang seperti itu?

Ekspresi wajah yang terlihat menyesal. Aku mendengar desahan napasnya panjang. Ia juga mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan. Kepalanya menunduk dalam, menatap ke bawah. Menghindari kontak mata denganku.

"Sohyun, apa kau serius?"

"Ya, tidak mungkin aku bohong!" tegasku.

"Kau bodoh! Setelah tahu aku mempermainkan perasaanmu, bagaimana bisa kau-" kalimat Jaehyun terpotong. Ia mendesah sekali lagi lalu melanjutkan, "Kau masih bisa menyatakan perasaanmu padaku dengan yakin begitu?"

Aku terdiam sejenak. Tak ada alasan lain bagiku untuk menyuarakan dengan lantang bahwa aku menyukainya selain dari kalimat Kak Jisoo malam itu.

Cinta juga berarti kita menerima segala kekurangan dari pasangan kita, menemani mereka setiap saat, entah dalam keadaan susah maupun senang.

"Masa lalumu adalah bagian dari dirimu yang harus aku terima. Aku tidak menyalahkan keadaan yang membuatmu harus merasakan betapa sakitnya ditinggalkan. Jaehyun, kau sendiri yang mengatakan ingin menghapus segala jejak gadis itu di dalam pikiranmu kan? Sekarang aku akan mengatakannya dengan jujur. Aku, Kim Sohyun, rela untuk kau jadikan sebagai pelarian."

Jaehyun tampak syok. Mulutnya tidak bisa berkata-kata. Iya, aku sudah gila! Melemparkan diriku sendiri ke dalam jurang tanpa tahu apakah aku bisa selamat dan menemukan jalan keluar. Tapi, aku percaya dan yakin kalau aku bisa membantu Jaehyun untuk melupakan Yeri. Benar, aku egois. Sangat egois.

"Maaf, Sohyun." Ketegangan mukaku lenyap setelah Jaehyun berucap kata maaf. "Seharusnya, aku tidak membuatmu jatuh pada perasaan yang sesungguhnya tidak bisa aku pertanggung jawabkan."

Tidak. Jangan katakan itu, Jaehyun. Bukan jawaban itu yang aku minta! Harusnya kau membiarkanku saja dan memberiku kesempatan untuk menyembuhkan lukamu. Jika kau berkata maaf begitu, aku akan mengira kalau kau mengusirku. Kau menyesal telah mendekatiku. Kau menyesal membuatku jatuh cinta padamu.

"Pertemukan aku dengan Yeri," ucapku nyaring. Menuntut Jaehyun untuk bangkit dari keterpurukannya. Masalah ini harus segera clear dan menemukan solusi. Aku tidak bisa hanya berdiskusi berdua dengan Jaehyun-yang fokusnya saja hilang-muncul entah ke mana.

"Apa?? Kau tidak harus-"

"Harus! Apa kau akan terus berdiam dan menghindari masalah? Kalau kau tidak bisa menemuinya, biarkan aku saja."

"Kau akan bicara apa dengannya nanti? Kalian tidak saling kenal."

"Oh ya? Kalau begitu, aku tinggal memperkenalkan diriku sebagai kekasihmu. Itu saja kan?"

"Dia tidak akan mau mengerti! Aku sudah pernah menemuinya sekali. Dan dia berubah drastis. Tidak seperti Yeri yang kukenal. Kau tidak akan bisa menghadapinya."

"Apa maksudmu dengan tidak bisa? Kau boleh menjadikanku sebagai tamengmu. Jaehyun, perasaanmu yang masih abu-abu itu, entah antara kau ingin mempertahankan dia atau membebaskan dia, kau harus segera memutuskannya."

"Aku tahu. Aku tahu keharusan itu. Tapi, aku tidak tega ...."

Tidak tega? Namun, kau menjadikanku pelarian dengan teganya.

"Berikan aku alamatnya. Biar aku yang bicara dan menanyakan keseriusan dari tujuannya menghubungimu kembali. Dan akan kukatakan ini padamu terlebih dahulu."

Aku menatap tajam kedua mata Jaehyun. Aku tak pernah merasa semarah dan sekesal ini. Semua hanya karena satu laki-laki yang duduk di sebelahku.

"Jika aku merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu, maka ingatlah. Aku tidak akan melepaskanmu dan aku akan menagih pertanggung jawabanmu atas perasaan yang muncul padaku."

Jaehyun tertegun. Awalnya ia tak berkomentar apapun, namun sesaat kemudian, ia menyetujui ucapanku. "Baiklah, Sohyun. Aku bergantung padamu."

***
Tbc

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top