4. Aku Ingin Dekat

Mirror//replicA by @projectMetz

The Hidden Assassin by @pepperrujak

Warning: Awas diabetes.

.

SouthWardenlicht

Alz's Room

.

"Sial."

"Bahkan ini terlalu dingin untukku."

"Apa Warden berubah menjadi kutub utara?"

"Ini fenomena yang aneh memang. Tapi, ini memang benar-benar dingin."

"Seharusnya kita berada di apartemenku saja. Penghangatmu mati dan fenomena kutub utara ini sedang terjadi."

"Tapi keluar ruangan pun malah akan semakin dingin. Aku tidak mau beranjak dari sini."

"Cih. Pemalas sepertimu sebaiknya mati saja."

"Boncel sepertimu sebaiknya mati saja."

Dua orang itu, Alz dan Gekko saling menatap jengkel. Meskipun kemudian mereka berdua kembali meringkuk seperti trenggiling di bawah selimut tebal di atas ranjang kecil apartemen Alz.

Sebenarnya mereka tadi sedang bersantai menikmati makan siang hasil karya Alz, sebelum akhirnya sebuah fenomena aneh terjadi. Suhu di sekitar mendadak turun drastis, dan ketika Gekko menengok ke luar apartemen, salju disertai badai hebat yang tidak biasa sepertinya tengah menerjang Kota Warden. Secara tiba-tiba tentu saja. Dan sialnya, penghangat di kamar Alz mati mengenaskan. Padahal kemarin masih baik-baik saja. Jika badai biasa, Gekko maupun Alz masih bisa bertahan tanpa masalah. Sayangnya, badai kali ini sungguh tak bisa ditangani oleh tubuh mereka.

Suhu yang semakin dingin mengharuskan dua remaja minim ekspresi itu harus bersedia berbagi ranjang dan juga selimut untuk menghangatkan tubuh mereka. Sayangnya, cara itu sepertinya masih belum cukup untuk membuat tubuh mereka tidak menggigil kedinginan.

"Sial. Rasanya tubuhku mulai mati rasa." Gekko bangkit berdiri di atas kasur, kemudian meloncat ke lantai untuk melakukan lompatan-lompatan kecil yang ia harapkan bisa menghangatkan tubuhnya.

Alz tidak peduli. Dia malah dengan senang hati mengambil alih selimutnya dan memakainya sendirian. Meskipun matanya tidak mungkin bisa terpejam begitu saja. Di udara sedingin ini, dia malah sebenarnya tidak boleh sampai tertidur.

"Alz. Temani aku bertarung." Gekko mengucapkannya sebagai perintah, bukan permintaan.

Dan Alz yang sudah sangat mengerti tabiat teman kecilnya itu hanya memutar bola matanya. Antara ingin mengeluh dan tidak. Ia sedikit malas bergerak tapi kalau tidak bergerak dia bisa membeku seperti es batu. Maka dengan sedikit enggan, Alz pun menggerakkan tubuhnya untuk berdiri dan berhadapan dengan Gekko yang masih melompat-lompat seperti kangguru.

"Jangan terlalu bersemangat. Aku tidak mau apartemenku rusak gara-gara kau yang seenaknya meninju sana-sini." Alz memperingatkan. Gekko punya tangan gada (julukan aneh lainnya yang diberikan Alz) yang selalu menghancurkan apa saja yang disentuhnya. Karena itulah Alz khawatir jika Gekko merusak perabot rumahnya.

"Aku akan mengganti kerusakannya," ujar Gekko sombong.

Alz mendengus tak suka. "Sombong sekali kau pendek. Bukannya uangmu sudah habis gara-gara kemarin kau, lagi-lagi, memborong barang tidak berguna di supermarket?" tanya Alz sinis. Ada cengiran menghina di bibirnya.

"Aku bisa membunuh beberapa orang untuk mendapatkan uang. Itu mudah."

"Ck," Alz berdecak semakin jengkel. "Bukan itu masalahnya. Orang sepertimu sangat menyebalkan."

"Hn. Aku tahu."

Setelah itu mereka pun mulai melakukan pemanasan dengan sedikit berkelahi.

.

Part 1

Udara dingin dan badai yang tak wajar baru saja berhenti sepuluh menit yang lalu, secara tiba-tiba pula tentu saja. Ah, Gekko tidak suka berada di Warden. Kota ini penuh dengan hal tidak nyaman yang menyebalkan. Untung saja ada Alz.

Eh, tunggu dulu. Apa Gekko baru saja memasukkan Alz dalam kategori sesuatu yang menguntungkan? Sepertinya dia mulai lelah. Alz kan menyebalkan. Alz itu tingkat sombong dan sinisnya hampir sama dengannya, jadi pasti Alz adalah orang menyebalkan. Karena Gekko sendiri merasa bahwa dirinya sangat menyebalkan.

"Kau memikirkan tentang apa? Kau masih kedinginan?" tanya Alz dengan nada kurang berminat seperti biasa.

"Hn," dan Gekko hanya menjawab singkat seperti biasa pula.

Gekko dan Alz sedang berada di jalan menuju apartemen Gekko. Alasannya? Karena Gekko ingin meminum coklat panas sedangkan di apartemen Alz tidak memiliki coklat yang Gekko inginkan. Kenapa Alz harus ikut? Karena coklat panas spesial milik Gekko harus ia bagi pada Alz sebagai janji karena sudah menemaninya bertarung tadi. Ah, rumit memang, tapi terserah mereka saja lah.

"Kau sepertinya masih menggigil," ujar Alz tenang sambil meraih sebelah tangan Gekko untuk digenggam.

"Aku tidak menggigil," sangkal Gekko tenang. Meskipun begitu, ia juga tak ingin menampik tangan Alz yang menggenggamnya.

"Hn. Itu hanya alasanku agar bisa menggandengmu." Dan entah kenapa, ada senyum samar di bibir Alz. Senyum samar yang aneh.

"Ck. Kalau aku menggigil, seharusnya kau memelukku, bukan hanya menggandengku. Aku bisa mati jika kau hanya menggenggam tanganku. Kau pikir genggaman tangan cukup untuk menghangatkan seseorang?" Gekko berujar panjang lebar tanpa peduli pada Alz yang kini mengernyit penasaran. Entah Alz penasaran untuk apa.

SRATT!

Dan Alz tiba-tiba memeluk Gekko. Awalnya sedikit canggung, antara seperti ingin memeluk dan juga sedikit ragu-ragu. Mungkin ia khawatir jika Gekko tiba-tiba marah padanya gara-gara ia memeluk seenaknya.

"Alasanmu memelukku?" tanya Gekko dingin. Tangannya masih menggelantung di sisi tubuhnya, sama sekali tak berniat untuk memeluk balik Alz.

"Agar kau tidak menggigil?" jawab Alz ragu. "Tapi ternyata tubuhmu sangat nyaman untuk dipeluk." Dan Alz pun terkikik sendiri. Aneh, dia jarang terkikik.

"Baiklah. Mumpung tidak ada orang yang lewat." Gekko pun menggerakkan tangannya untuk balas memeluk Alz. Ketika ia melakukannya, Alz malah memelukknya semakin erat. Gekko juga tahu bahwa saat itu Alz mengendusnya seperti anjing mengendus aroma daging. "Hmm ... aku akan mengingat aromamu," ujar Gekko sembari menghirup aroma tubuh Alz dalam-dalam.

"Aku juga."

.

Part 2

.

Hari yang cukup sial bagi Alz, karena saat ia ke apartemen Gekko, ada Yuki di sana. Ah, keberadaan Yuki merupakan pertanda ketidakberuntungan.

"Siapa cowok gembel yang kau bawa ini? Hei, boncel!"

Gekko diam saja. Ia menarik tangan Alz untuk mengikutinya menuju kamarnya. Biarlah Yuki dengan sumpah serapahnya. Gekko tidak peduli. Apalagi Alz, dia malah sangat amat tidak peduli sekali.

Tapi, bukan Yuki namanya kalau diam saja ketika diabaikan.

Saat Gekko sudah berada di kamar bersama Alz, dan bahkan Gekko sudah mengunci pintunya. Dengan segenap rasa tidak terima, Yuki pun menendang pintu kamar Gekko hingga pintunya rusak dan engsel-engselnya copot semua.

"Kurang ajar! Jangan mengabaikanku!" Yuki berteriak kesal. Tabiat buruknya memang suka marah-marah tidak jelas.

"Ck. Kenapa kau kekanakan sekali? Aku hanya ingin minum coklat panas bersama temanku," ujar Gekko datar sembari mencari-cari coklat yang ia simpan di dalam lemari es mini yang ada di kamarnya.

"Cih. Hanya minum coklat rupanya." Yuki mengorek hidungnya dengan jari kelingkinya, kebiasaan. Setelah itu berjalan ke luar kamar Gekko sambil berujar, "buatkan aku juga. Hari ini cukup dingin. Aku tidak mau terkena flu."

Gekko mendecak kesal, sementara Alz hanya geleng-geleng kepala. Interaksi di keluarga pembunuh terkenal rupanya sedikit aneh, begitulah pikir Alz.

.

.

.

Jadi, setelah menikmati secangkir coklat belgia yang begitu nikmat, Gekko dan Alz memilih kembali ke apartemen Alz daripada di apartemen Gekko yang dipenuhi umpatan menyebalkan Yuki.

Meskipun tidak sebesar apartemennya, tapi entah kenapa Gekko menyukai apartemen Alz. Karena ada aroma Alz di mana-mana saat ia berada di tempat ini. Mungkin apartemen Alz adalah salah satu hal menyenangkan yang bisa ia temukan di Warden? Mungkin.

"Aku heran. Kenapa kau suka sekali bersamaku," ucap Alz usil sambil membaringkan tubuhnya di kasur. Sedangkan Gekko ada di lantai, bersandar pada ranjang Alz sambil sibuk sendiri mengupas apel.

"Karena kau akan menangis jika kutinggal," ujar Gekko mengedikkan bahu.

Alz mendecih, tapi tangannya bergerak begitu saja untuk bermain-main dengan helaian hitam Gekko. Sepertinya Alz mulai menyukai sensai aneh ketika menyentuh Gekko.

"Jangan-jangan kau menyukaiku ya?" tanya Alz tanpa basa-basi.

Gekko memotong kecil-kecil apelnya, sedikit enggan menjawab pertanyaan Alz. "Bukankah kau bisa merasakan emosi setiap orang? Menurutmu, apa aku menyukaimu?" dan Gekko malah balik bertanya. Tangannya menyuap potongan kecil apelnya dengan lahap.

"Kau kan orang aneh. Mana bisa aku merasakan emosimu."

"Hn, karena kau memang bodoh."

"Sialan." Alz menoyor kepala Gekko pelan, tapi kemudian kembali bermain-main dengan rambut Gekko yang terasa nyaman di tangan.

"Sepertinya malah kau yang menyukaiku," ujar Gekko masih dengan wajah datarnya. Ia menolehkan wajahnya ke arah Alz untuk sekedar menyuapkan potongan kecil apelnya pada Alz.

"Sombong sekali," kata Alz sinis ketika ia mengunyah potongan apel pemberian Gekko.

"Aku sesombong dirimu."

Alz mendecih lagi. Tapi cengiran aneh dibibirnya tidak bisa ia rem. Entahlah, rasanya ingin tersenyum saja seharian ini.

"Sayang sekali, aku tidak bisa menciummu," kekeh Alz lirih. Lagi-lagi ia terkekeh di hari yang sama, tapi kali ini rasanya agak berat. Entah mengapa.

"Kenapa? Kau takut ikatan yang kau dapatkan kuambil alih? Sekedar tahu, aku memiliki ikatan jiwa dengan seorang monster." Gekko pun ingin terkekeh, tapi ia lebih memilih menuntaskan memakan apelnya.

"Aku tahu. Makanya aku penasaran siapa yang akan mengikat siapa jika kita berciuman." Dan Alz pun benar-benar terkekeh kali ini.

"Hn. Aku tidak ingin mencobanya. Lagipula aku tidak berciuman dengan orang aneh."

Alz menoyor kepala Gekko lagi. Dan Gekko menjejali mulut Alz dengan potongan besar apel gara-gara kesal ditoyor-toyor sejak tadi.

Ternyata, mereka sudah seakrab itu ya?

.

TBC

Jadi ya ... beginilah hasilnya. Bagaimana ya? Ini ngefluff banget nggak sih? OOC gitu jadinya. Ah, tapi masa bodoh. Kan ini genrenya romance :v

15 Mei 2015

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top