#30
Andai saja perutku tidak melilit, sudah pasti aku masih meringkuk di bawah selimut meski mentari sudah setinggi tiang bendera. Sayangnya, rasa lapar kali ini tidak bisa diajak kompromi dan memaksaku harus segera turun dari atas tempat tidur. Peduli amat dengan jam dinding yang sudah menunjuk angka 10. Lewat beberapa menit malah.
Ketika aku menyambangi dapur, Bik Ma terlihat sedang mengupas wortel. Wanita paruh baya itu mengulas senyum begitu melihatku.
"Baru bangun, Non?" sapanya ramah.
"Iya, Bik. Apa ada sesuatu yang bisa dimakan? Aku lapar," ucapku berterus terang.
"Ada. Bibik sudah masak nasi goreng tadi. Non duduk saja, biar Bibik siapkan."
"Oke."
Aku melangkah ke meja makan seraya menebar pandangan ke sekeliling. Rumah sepi.
"Ini Non." Bik Ma datang dengan membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar di atasnya. Juga segelas susu cokelat.
"Nggak ada minuman lain, Bik?" Aku melirik gelas berisi susu cokelat yang sudah tersaji di atas meja. Benda itu membuatku teringat seseorang. Ya, Reynand. Laki-laki yang sudah menciumku tanpa permisi semalam. Sial! Gara-gara ciuman itu aku harus menderita sepanjang malam karena terserang insomnia akut.
"Tadi Mas Reynand yang menyuruh, Non."
Oh. Aku sangat paham. Susu khusus untuk tulang. Agar aku terhindar dari penyakit osteoporosis. Suami yang baik sekaligus menyebalkan!
"Ke mana dia?" tanyaku seraya mulai menyuap nasi goreng istimewa buatan Bik Ma. "Masa jam segini belum kelar jogging?" Aku yakin di luar sana matahari bersinar cukup terik di jam-jam seperti ini dan sudah cukup untuk membakar kulit. Kecuali jika mendung baik hati bersedia menaungi tubuh. Sayangnya, akhir-akhir ini hujan tak turun lagi.
"Aku sudah pulang, kok. Ada apa mencariku?"
Uhuk!
Aku benar-benar tersedak saat suara laki-laki itu mendadak menyahut. Aku tidak mengira jika ia sudah berada di belakang punggungku ketika aku bertanya pada Bik Ma.
"Pelan-pelan makannya, Ve." Reynand menepuk-nepuk tengkukku perlahan.
Aku mengusap mulut dan buru-buru meneguk minumanku. Kenapa Reynand mendadak muncul, sih? Aku bisa terkena sakit jantung jika ia terus-terusan mengagetkanku seperti ini. Kemarin juga.
"Aku nggak jogging," ucap Reynand. Laki-laki itu beringsut ke kursi di seberang tempat dudukku. Ya, aku memang tidak melihat wajahnya bertabur keringat. Juga tak ada kostum jogging yang biasa ia pakai. "Aku tadi ketemu pelatih... "
Aku memutar bola mata ke atas demi menunjukkan betapa tidak sukanya aku dengan dunia yang digeluti Reynand. Sepak bola. Apapun itu, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya. Itu dunia Reynand dan jangan pernah memaksaku untuk masuk ke dalamnya.
"Mas Rey mau makan sekalian?" Bik Ma menghampiri meja kami sementara aku kembali menekuri nasi gorengku. Lebih baik menikmati acara sarapanku yang kesiangan ketimbang menanggapi ocehan Reynand.
"Nggak Bik. Tadi aku sudah sarapan."
"Baik."
Bik Ma bergegas kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya usai mendapat penolakan Reynand.
"Ve... "
"Hm?"
"Aku mendapat tawaran main iklan... "
"Iklan apa?" sahutku dengan antusias. Aku terpaksa mengangkat dagu untuk menatap laki-laki itu. Dan sialnya peristiwa semalam kembali berulang di dalam kepalaku. Aku masih ingat betul bagaimana rasanya bibir kami bertemu. Ya, Tuhan... buat aku amnesia pada bagian itu.
"Shampo anti ketombe dan sabun pembersih wajah."
"Apa?" Tanpa sadar sendok dalam genggamanku jatuh ke atas piring demi mendengar penawaran menggiurkan itu. Tidak semua pemain sepak bola mendapat kesempatan emas semacam itu, guys!
"Bagaimana menurutmu?" Reynand mencermati wajahku. Entah apa yang ia dapati di sana. "Kamu setuju nggak kalau aku... "
"Nggak!" jeritku cukup keras. Bahkan Bik Ma terpaksa menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.
"Nggak? Kenapa?" Wajah polos Reynand berhiaskan kerutan pada area keningnya. Dan sekali lagi mataku harus tertumbuk pada daerah dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar. Menyebalkan!
Aku mengembuskan napas kuat-kuat sebelum mengeluarkan alasan kenapa aku menolak memberikan persetujuan.
"Aku nggak suka saat kita jalan berdua ada orang yang tiba-tiba datang dan meminta foto bareng atau minta tanda tangan kamu, paham?" Aku mendelik dengan memamerkan tampang berkali-kali lipat serius. Peristiwa di supermarket beberapa waktu lalu saja sudah cukup membuatku sebal. Bagaimana jika Reynand mendadak populer setelah membintangi iklan? Ini musibah buatku.
"Itu resiko, Ve," sahut Reynand seolah ingin mendebat pernyataanku.
"Jadi, kamu suka dengan resiko semacam itu? Kamu suka jadi orang terkenal?"
"Sebelum ini orang-orang juga mengenalku dan nggak ada masalah."
"Tapi ini berbeda, Rey. Dulu hanya beberapa gelintir penggemar sepak bola yang mengenal kamu, tapi jika kamu benar-benar membintangi iklan itu, seluruh penghuni negeri ini akan tahu siapa kamu. Dan aku nggak suka kalau ada yang mengejar-ngejar kamu seperti orang idiot hanya untuk minta foto bareng, apalagi gadis-gadis... "
"Jadi, kamu cemburu?" timpal Reynand di saat aku belum menyelesaikan kalimat. Laki-laki itu mencondongkan wajahnya ke hadapanku dan melempar senyum manis.
Aku tak berkutik! Rasanya tiba-tiba aku menjadi pecundang seketika itu juga. Bahkan aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah Reynand karena laki-laki itu mengunci segenap pergerakan tubuhku dengan sorot matanya.
"Memangnya aku bicara apa tadi?" gumamku menutupi rasa malu yang sudah merambat di wajahku. Aku memutar bola mata, mencari pelarian agar tak menatap wajah menyebalkan itu.
Tapi, Reynand malah meledakkan deraian tawa renyah dan bukannya menjawab pertanyaanku.
"Wajahmu merah, Ve," ledeknya kemudian.
Huft. Aku benar-benar terjebak oleh umpan yang kulempar sendiri. Aku buru-buru meneguk susu cokelat yang berfungsi untuk menguatkan tulang atau apapun itu demi menyamarkan rasa gugup yang mulai melanda diriku.
"Aku nggak akan menerima tawaran iklan itu kalau kamu nggak setuju," ujar Reynand beberapa menit kemudian. Setelah suasana ruang makan kondusif.
Syukurlah, batinku. Setidaknya penggemar Reynand tidak perlu bertambah hanya karena iklan itu. Lagipula ia tidak akan cocok membintangi iklan produk apapun.
"Kalau begitu kamu mandi dulu, gih. Kita mau ke rumah sakit hari ini, kan?"
"Aku nggak bilang kalau kita akan ke rumah sakit," timpalku datar. Kami belum merencanakan apapun hari ini. Meski aku ingin pergi mengunjungi keponakan mungilku, tapi mengajak Reynand ikut serta belum masuk dalam daftar kegiatan yang akan kulakukan hari ini.
"Kenapa? Memangnya kita nggak akan ke sana?"
Oh, menyenangkan sekali melihat gurat-gurat kecewa terlukis di wajah laki-laki itu.
"Baiklah, tapi kita mampir ke baby shop dulu," putusku semenit kemudian. Aku malas membawa barang belanjaan sendirian dan Reynand adalah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan.
"Tapi, si kecil masih di dalam inkubator, Ve."
"Kenapa? Memangnya nggak boleh membelikan sesuatu untuk keponakan sendiri? Aku pakai uangku bukan uang kamu... "
"Oke. Oke. Aku menyerah." Reynand mengangkat kedua tangannya ke atas dan tawaku hampir meledak melihat tingkahnya.
"Aku mau mandi dulu," pamitku seraya mengangkat pantat dari kursi, tapi urung untuk melangkah karena ada sesuatu yang mengganjal di hatiku dan harus kukeluarkan secepatnya. "Bisa nggak kamu membersihkan itu?" tanyaku sambil menyentuh dagu. Sebuah kode yang Reynand harus pecahkan sendiri.
"Membersihkan apa?" tanya laki-laki itu dengan lagak linglung. Ia ikut-ikutan menyentuh dagunya sendiri.
"Itu sangat mengganggu, tahu nggak?"
"Oh.. Ini? Aku... Ya. Aku... aku akan membersihkannya setelah ini," ucap laki-laki itu dengan terbata. Ia tampak kebingungan dan salah tingkah. Mungkin... Jangan-jangan...
Ah, lupakan. Aku harus kabur dari hadapan Reynand sebelum laki-laki itu berpikir kalau aku tahu ia sudah menciumku semalam. Dan ia sadar kalau aku hanya berpura-pura tidur saat itu. Gawat!
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top