Chapter 5
Hening. Sekali lagi, kuberanikan diri untuk menoleh ke belakang dan melihat Lea yang berdiri tidak jauh dari perpustakaan—menyemangatiku. Yeah, berkat tingkah Lea yang menjebakku kemarin akhirnya Spencer mengetahui semuanya. Sekarang, setelah tahu bahwa Spencer ingin bertemu denganku di Perpustakaan, dia malah terlihat begitu bersemangat.
Aku lebih menikmati saat-saat mengamati Spencer dari jauh.
Spencer masih berdiri di depan rak buku. Terkadang aku berpikir, berapa banyak buku yang dia baca selama seminggu karena setelah beberapa hari mengikuti dan memerhatikan, ia selalu membawa beberapa buku di tangannya.
I'm sure he's so genius. Itulah mengapa Mr. Hubert mengangkatnya sebagai asisten.
Berdiri di belakang Spencer dengan jarak yang cukup jauh membuatku semakin merasa gugup. Perasaan takut karena hal kemarin, kini lenyap karena nervous. Sebentar lagi, saat ia menoleh ke belakang dan melihatku, maka dia akan menyuruhku untuk duduk di satu meja. Bersamanya-Lea setuju bahwa hal ini adalah kencan, tetapi tidak juga bagiku.
Semua ini karena ulah Lea! Seharusnya Lea menyelamatkanku dengan tetap diam dan tidak memberitahu apa pun pada Spencer.
Tangan kanan yang memegang kamera, terasa begitu gatal dan terus menggoda untuk kembali mengambil foto Spencer. Kau tahu, hari ini dia terlihat berbeda, meskipun aku sendiri belum mengetahui perbedaan apa yang terdapat padanya. Dia terlihat tidak kalah keren dari anak-anak populer lainnya-kuberitahu bahwa Spencer ternyata bukanlah anak populer di Oxford. Namun, sungguh, berulang kali akan kukatan bahwa Spencer Redd sangat luar biasa.
Jangan bertanya darimana aku mengetahui nama lengkap Spencer karena kau tahu, bagaimana kemampuan seseorang yang sedang jatuh cinta dalam mencari informasi incarannya. Tindakan ini telihat seperti seorang detektif, bukan?
Tersenyum sambil mengendikan bahu, merasa bangga dengan skill detektif yang aku miliki. Tidak sadar bahwa ternyata Spencer sudah berdiri di depanku. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus mundur selangkah agar bisa melihat Spencer dengan jelas—meskipun sejujurnya tidak berani melihat secara langsung.
"Baguslah. Kau datang. Sekarang ikuti aku," ucapnya dingin-mungkin hanya perasaanku saja karena sepintas ada senyuman di wajahnya. Sangat sepintas seperti hanya dalam hitungan detik.
Kalian tahu, keinginan berteriak dan berlari mengelilingi kampus terasa memenuhi perasaan saat mencuri pandang melihat wajah Spencer. Tuhan memang selalu mendengarkan harapan hamba-Nya. Please, jangan berpikir tingkahku seperti anak remaja SMA, tetapi izinkan aku memberitahu kalian tentang sesuatu.
Cerdas! Kalian selalu bisa menebak apa yang kupikirkan. Hari ini, keberuntungan berada dipihakku karena bisa melihat Spencer tidak menggunakan kacamata. He's so amazing.
I love his brown eyes. His eyes looks like autumn. Too warm.
"Duduklah." Spencer mempersilakan diriku untuk duduk di hadapannya. Kali ini aku mengalami masalah pernapasan karena jantung kembali tidak bisa diajak bersahabat.
Dengan tangan yang bergetar kuletakkan kamera di atas meja-melakukan hal tersebut untuk mengurangi keinginan mengambil fotonya lagi.
Spencer mengambil kacamata di dalam tas ransel dan mengenakannya. Raut kekecewaan mungkin terlihat jelas di wajahku karena Spencer sempat berhenti beberapa detik dan melirik ke arahku.
Menunggu Spencer membuka mulut dan memulai pembicaraan. Namun, ia malah mengabaikanku dan mengambil buku lalu membuka bagian tengah buku. Sepertinya dia sudah hapal halaman berapa yang ingin dibacanya. Aku hanya bisa mengigit bibir tidak tahu harus berbuat apa.
Ini sangat tidak nyaman, andai saja Spencer mengijinkanku untuk mengambil fotonya tentu aku akan memiliki kegiatan. Ingin sekali rasanya melirik ke arah Lea, tetapi posisi kami sangat tidak mendukung—Lea duduk beberapa meja tepat di belakangku.
"I told my heart, I told my heart, I told her all my heart...." Spencer melirik ke arahku setelah selesai membaca beberapa bait puisi William Blake.
Seketika wajahku memerah, bagaimana tidak! Hal ini membuat memori beberapa hari yang lalu terbuka, mengingatkan bahwa aku pernah berharap Spencer akan membacakan puisi ini untukku.
Bagaimana dia bisa mengetahuinya? batinku tak henti-hentinya melemparkan pertanyaan serupa.
"Wajahmu memerah, Miss Strumheller." Spencer tersenyum, menutup buku dan melepas kacamatanya-aku terdiam menahan malu dan rasa terkejut.
"Berikan alasan mengapa kau mengambil fotoku secara diam-diam? Setelah itu aku akan mempertimbangkan keputusanku selanjutnya," kata Spencer. "Jangan mencoba untuk berbohong karena aku bisa mengetahuinya."
Pikiranku kembali kacau, bukan karena takut dengan nada bicara Spencer yang terdengar mengintimidasi, tetapi saat ini jantungku seakan ingin pecah dan hawa di perpustakaan seketika terasa begitu panas. Aku berkeringat karena gugup.
Mengembuskan napas dan mengumpulkan suara, "I'm so sorry. I just ... sorry, umm ..."
"Kau tertarik padaku? Gadis itu memberitahukannya padaku."
"Yes! No ... i mean no, i don't ... err yes i am. Ahhh sorry i don't mean."
"I can read your mind, Miss Strumheller. Take it."
"Huh? Sorry ... what?" Membingungkan, otakku tidak bisa berpikir, terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah percakapan yang menurutku tidak memiliki arah.
Spencer terlalu cerdas untuk ditipu. Maksudku, aku bahkan tidak bisa berbohong padanya-ini salahku yang seketika menjadi gagap dan membuat siapa pun tahu tentang kebohonganku.
Dan lagi keterkejutan menyelimutiku, jari-jari panjang Spencer mengarahkan kamera hingga menyentuh lenganku. Spencer tersenyum lagi dan saat ini tanpa kacamata, gaya nerd di dirinya semakin terlihat keren.
Ia mengembuskan napas, melipat tangan di atas meja dan menatapku. Kali ini aku merasa akan segera pingsan.
"Aku mengijinkanmu untuk mengambil fotoku. Bukankah itu yang kau inginkan, Miss Strumheller?"
Akhirnya jantungku terlepas dari tempatnya, membuat siapa pun tahu bahwa aku memerah hingga ke kedua telinga. Meneguk saliva, tangan yang gemetar ini mengambil kamera dan mengarahkannya ke arah Spencer.
Hatiku mengalahkan akal sehat yang menolak tindakan ini, tetapi aku sangat ingin mengabadikan foto Spencer tanpa kacamata. Rasanya seperti tidak ingin membuang kesempatan emas yang mungkin tidak datang dua kali.
Tiga kali pengambilan foto, dua diantaranya blur karena tanganku tidak bisa tenang dan terus-menerus bergetar dan yang terakhir kulihat Spencer tersenyum lebar menatapku—lebih tepatnya menatap kamera. Kalian harus bisa memahami bahwa aku hanya ingin berpikir bahwa Spencer menatapku bukan kamera.
Sesekali dukunglah daya khayalku untuk Spencer dan aku akan mendoakan kalian agar Tuhan selalu melindungi kalian.
Spencer bangkit dari kursinya dan mengambil kamera di tanganku dengan lembut. Lagi-lagi ia tersenyum—senyuman mematikan. Itulah istilah yang bisa diungkapkan saat melihat Spencer, dia memiliki keindahan abadi sama seperti yang dikatakan William Shakespeare dalam puisinya.
Please, jangan katakan bahwa aku berbicara berlebihan mengenai Spencer.
"Yang terakhir adalah gambar terbaik. Jika kau menginginkannya aku akan memberikanmu kesempatan."
Entah bagaimana perkataan Spencer begitu memenuhi pikiranku. Seharusnya ia melaporkan tindakanku kepada polisi karena yang aku lakukan adalah salah satu tindakan kriminal menyangkut privacy.
Damn, tidak ada kalimat yang terucap hanya kebisuan yang bisa dilakukan setelah ia mengatakan hal seperti itu.
Apa dia mempermainkanku?
"Sorry, what do you mean, Spencer? And ... bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" Akhirnya salah satu pertanyaan di kepalaku terucap juga. Yeah, setidaknya aku bisa berbicara seperti Spencer kali ini.
"I know you before you know me. Aku percaya kau memahami maksud dari perkataanku karena kau salah satu mahasiswa sastra." Spencer kembali mengenakan kacamata dan aku hanya bisa bernapas dengan perlahan berusaha agar bisa terlihat relax.
"A chance???" Sepertinya aku paham arah pembicaraan ini. Jika diijinkan untuk berpikir positif, maka akan kukatakan Spencer lebih dahulu memerhatikanku.
Spencer mengernyitkan dahi, setelah melihat senyum lebar terlukis di wajahku. Musim semi akan segera tiba di antara kami dan semua ini karena seorang nerd guy di hadapanku yang diam-diam ternyata tertarik padaku.
"Jangan salah paham, Miss Strumheller," ucap Spencer masih terlihat santai. Namun, tetap berkarisma seperti biasa. "I know you because you are good student in Mr. Hubert's class and sometimes beliau berbicara tentangmu padaku. So now, aku memberimu kesempatan untuk membuatku tertarik padamu."
Sial! Tubuhku mencair seperti lilin yang menyala, mensyukuri semua ini. Walaupun terdengar aneh, Tetapi aku memahami apa yang di maksud Spencer. Ada maksud tersenyembunyi yang kutemukan dari semua ucapannya. Kesempatan yang ia berikan untukku dan membiarkan si Nerd girl memasuki hati Nerd guy dengan perlahan.
Aku mengerti, Spencer menyukai proses dalam hal cinta dan dia berkomitmen untuk melakukan proses itu kepadaku.
Dewi batinku menangis karena haru, mengetahui bahwa makhluk yang sangat jauh dari jangkauan memilihku untuk melakukan komitmen bersama.
Tuhan selalu adil pada setiap mahkluknya. Saat ini, aku tidak akan berpikir bahwa gadis nerd sepertiku hanya dipandang selayak debu di ujung dinding yang retak.
Sengaja di akhir gak dibikin pacaran atau sejenisnya karena aku suka cinta yang dijalani dengan proses. Selain itu otakku juga ngebayangin bagaimana versi panjangnya ini cerita dan aku suka. Semoga kalian gak kecewa dengan akhirnya dan ceritanya ya. Terima kasih atas dukungannya.
Sejauh ini aku benar-benar makin cinta sama Spencer. 😍😍😍😍
Love.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top