Chapter 2

Sehari setelah mengambil foto Spancer secara diam-diam, kali ini aku kembali menunggunya sambil membaca buku soneta milik William Shakespeare.

Sedikit melelahkan berdiri dan membaca di waktu yang bersamaan karena mendadak memutuskan untuk tidak duduk di tempat favoritku dan memilih berada di sini-tempat pertama kali aku memotret Spencer.

Pengecut, well, untuk sekarang aku akan membiarkan kalian mengatai diriku seperti itu karena memang beginilah kenyataannya. Tertarik, tetapi tidak yakin dan tidak percaya diri untuk sekadar menegurnya.

Andai saja aku seperti Lea, bisa kubayangkan sekarang aku sudah berbincang dengannya dan tidak melakukan hal ini. Namun, keadaan tidak bersahabat-hanya sebagian kecil yang mengenal Emma-dan mereka memandang dengan sebelah mata.

Beberapa menit menunggu, tetapi hingga saat ini sosok Spencer belum terlihat.

Kau benar-benar seperti seorang penguntit, Emma. Lagi-lagi, akal sehat kembali bersuara dan tidak pernah lelah untuk mengatakan kalimat tersebut kepadaku.

Finally, sebuah senyuman terukir jelas di wajahku.

Embusan napas lega terdengar saat melihat kedatangan Spencer dan lelaki itu duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Dia tidak sendirian. Aku tidak tahu siapa yang sedang bersamanya, tetapi kusimpulkan bahwa mereka adalah teman-teman Spencer.

Aku harap salah satu gadis cantik itu adalah temannya.

Kembali kuarahkan kamera untuk mengambil foto Spencer, setelah sebelumnya meletakkan buku yang aku baca di rak. Semoga mom and dad tidak merasa dipermalukan dengan tindakan anaknya saat ini yang sudah seperti seorang penguntit.

Entahlah sudah berapa banyak foto yang telah kuambil hari ini. Jujur saja, aku tidak peduli dan kau bisa melihatnya bahwa aku sangat menikmatinya, Spencer memang sungguh mengagumkan seperti untaian puisi klasik milik William Shakespeare dan ia sangat berbeda denganku.

Sejenis. Namun, sangat jauh dan tidak terjangkau.

Kalimat itulah yang sepertinya tepat untuk menggambarkan sosok kami berdua.

Setelah mengambil beberapa foto Spancer, aku memutuskan untuk memerhatikannya-mempelajari dia dari jarak jauh.

Spencer sungguh luar biasa. Sayup-sayup terdengar ia sedang berdiskusi mengenai analisis dari beberapa puisi milik William Blake-salah satu penulis sastra klasik terkenal di Inggris.

I told my heart, I told my heart
I told her all my heart, batinku mengikuti salah satu kutipan puisi dari William Blake yang sedang dibaca Spencer.

"Love's Secret, i love that poem," bisikku.

Wajahku memerah, membayangkan seolah-olah Spencer sedang membacakan puisi tersebut untukku. Ahh... kau sudah terlalu banyak bermimpi dan berharap tentangnya, Emma. Namun, begitulah... semua ini hadir secara tiba-tiba.

Pertemuan yang tidak disengaja kemarin akhirnya telah membuatku memiliki alasan lain untuk pergi ke perpustakaan. Sebuah senyuman tak henti-hentinya mengembang di wajahku dan hari ini dia telah memiliki pengagum rahasia.

"Yeah, Emma si nerd mengagumi Spencer yang kata Lea adalah seorang nerd, but cute," bisikku.

Cara Spencer berbicara dan berdiskusi terlihat begitu berkarisma setiap kali aku memerhatikannya. Yeah... ia memiliki karisma yang langka bagi anak-anak nerd pada umumnya.

Spencer mampu berbaur dan memegang kendali diskusi, serta membuat orang-orang di sekelilingnya bisa mendengarkan opini kemudian saling bertukar pikiran.

Tidak seperti diriku yang selalu menjadi satu-satunya orang yang berkerja di setiap kali ada tugas kelompok.

"He's nerd, but at the same time he's cute," bisikku, mengingat ucapan Lea kemarin saat melihat Spencer. Akan tetapi, jujur saja aku kurang menyetujui kalimat itu ditujukan kepada Spancer karena dia begitu indah dari sekadar kata cute.

"Emma, what the hell are you doing here?" bisik Lea yang tiba-tiba mengejutkanku.

Oh, tidak! Apa dia memergokiku yang diam-diam sedang mengamati seseorang? Aku harap tidak. Namun, sayangnya Lea adalah tipe manusia yang peka dan tanpa diperintah ia menatap ke arah pandanganku sebelumnya.

Lea tersenyum sambil melirik ke arahku dan aku berusaha menutupi kekhawatiran dengan beberapa kali memperbaiki kacamata dan memainkan kamera.

Kau bodoh, Emma! Semua kelakukanmu justru akan membuat Lea mengetahui bahwa ada sesuatu yang mencurigakan sebelum kedatangannya. Aku memaki diriku sendiri yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran karena telah tertangkap memata-matai seseorang.

"Kau tertarik padanya?" tanya Lea, "he's match for you and... don't worry i'll help you, Chaton." Lea mengedipkan matanya.

"No, Lea." Aku mengangkat bahu sambil memutar mata. "Itu tidak mungkin, untuk saat ini aku hanya memikirkan ujian akhir."

Lea menyipitkan matanya-menatapku dengan tatapan penuh curiga bahkan saat aku pergi menuju tempat favoritku. Ia mengikutiku dan duduk di hadapanku sambil mengeluarkan buku, pulpen dan flashdisk.

"Semalam, aku terlalu larut untuk membangunkanmu dan mengerjakan tugas kelompok kita, so... apa kau sudah menyelesaikannya?" tanya Lea sambil memberikan flashdisk-nya kepadaku.

"Ini bukan yang pertama kalinya kau pulang larut malam karena pesta bersama teman-temanmu, Lea," kataku, sambil menerima flashdisk-nya, "dan akhirnya, kau membuatku menyelesaikan tugas kelompok ini sendirian."

Yeah, Lea memang selalu melakukan hal seperti ini di setiap tugas kelompok mau pun pribadi. Meminta salinan hasil pekerjaanku dan membaginya dengan teman-temannya.

"Yeah, i know, but ... kau seharusnya menolongku, Chaton karena hanya kau teman terbaikku." Lea berbicara padaku, tetapi matanya malah mengarah ke sekelompok pria yang duduk cukup jauh dengan kami. Lea memang selalu seperti itu.

Mengangkat bahu untuk beberapa detik dan akhirnya aku membuka notebook lalu meng-copy tugas kelompok dari Mr. Hubert. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena hanya Lea yang mau berbincang sedikit lebih lama denganku, tanpa merasa aneh.

"Yes, thank you, Chaton." Lea mengambil dan memasukan flashdisk ke dalam tasnya lalu segera pergi.

Pergi menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu kedatangannya di depan perpustakaan.

Tidak tahu harus berbuat apa, tanganku kembali bergerak mengambil kamera dan melihat hasil foto Spencer yang baru saja aku ambil.

"Jika kau mengetahuinya, aku harap kau tidak akan merasa terganggu." Kuusap wajah Spancer di layar kamera dan sejenak aku menertawai diri sendiri yang terlihat seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.

Itu wajar, Spencer memang layak dikagumi dan aku pikir mungkin ada gadis lain yang menyukainya secara diam-diam. Tanpa terkecuali, gadis sejenis Lea.

Dia pernah bilang padaku 'tipe pria seperti Spancer itu sangat membosankan.'

Well, aku bisa memahaminya, Lea selalu mengatakan bahwa hot guy is the best.

Andai saja kalian atau Lea melihat Spencer dari sudut pandangku, maka kalian akan tahu seberapa mengagumkannya sosok Spencer. Cara dia menulis, membalikkan lembaran buku, menjelaskan opininya, bahkan ketika dia menopang dagu saat membaca terlihat begitu mengagumkan.

Sepertinya kau jatuh cinta, Emma dan aku meyakininya. Akal sehatku kembali berpendapat.

Well, aku pikir begitu, bahkan wajahku memanas saat mengambil foto Spencer untuk yang kedua kalinya, but... wait! mengapa foto yang terakhir ini terlihat aneh.

Tidak mungkin, secepat itu.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top