Prolog

06:00 AM. Leondra Family's Mansion.

"Get back here, you little brat!" The man with a messy blond bed hair, Eldrick, shouted throughout the corridor.

    The chased little boy ran through the path with marble floors, being a show for his animal friends at the garden on his left. They've been going in circles for a few minutes.

    "Osoi da yo, onii-chan!" (You're slow, big brother!)

    The boy lets out his tongue, slightly turned his head to witness his big brother's furious face.

    "You...I'll make you regret saying that, Elfathi Leondra!"

    Eldrick speeds up, forgetting his drowsiness for a while.

    "Why did you put rock music on my speakers? IT'S SIX IN THE MORNING, EL. SIX O'CLOCK!"

    El laughed in between his steps. "That's because you didn't woke up even after I slapped your butt!"

    The cats and other animals at the garden's gaze were locked onto the siblings. El ran to a wall then climbed it, followed by Eldrick on his tail. The boys did a few parkour moves then ended up on the roof of the second floor.

    "EL! ELDRICK! STOP RUNNING ON THE ROOFS! YOU TWO ARE BEING A BAD INFLUENCE FOR THE CATS!"

    A girl with her long blonde hair tied up in a low ponytail shouted to her little brothers that acted like circus acrobats. Why do they even run like ninjas in 'Naruto'?!

    "Ellis, don't chase them up—Oh, my God."
    Too late. The third child already climbed the walls from Ella's balcony to chase her brothers on the roof.

    "Guys, stop it! We have a meeting today!" The girl with a blue and brown eye ran from one roof tile to another, managed to match her brothers' speed in less than a minute.

    "Huh? What meeting?" El suddenly stopped, causing Eldrick crash into him from the back. Both fell down to their knees.

    "GOTCHA!" Eldrick's fingers tickled the small boy's body without mercy.

    "HAHAHA! S-STOP, BROTHER! I'M SORRY—HAHA!" El cried out in between his laughs. He's not strong enough to get Eldrick's arms away from his stomach area where he's ticklish while pinned to the 'ground'.

    "You three, get down now! If you don't, I'm telling Sera and Mom!"

    "Eh? Please don't!" El shouts.

    "Aww, don't do that, Ella!"

    Ellis raised one finger in front of her, then shouted, "Give us one minute!"

    Without thinking any longer, the trio jumped from the roofs then landed on a bush around the garden.

    The youngest lets out a relieved sigh after checking up on both his arms and legs. "Great! No injuries fou—"

    "Elfathi, Eldrick, Ellis."

    Shiver went down their spines. The mentioned ones slowly turned their heads towards the owner of the cold-toned voice.

    We're so dead.

    "G-good morning, Sera." El waved with leaves on his hair.

    "Yes, good morning." The blond man with even messier hair than before also greeted the woman standing in front of them.

    "Did you sleep well?" said Ellis with an awkward smile.

    Without answering the greetings she received, the woman in navy suit grabbed one of El and Eldrick' ears, easily pulling both their bodies out of the bushes then stood beside her.

    "Can any of you explain why were you running on the roofs again? I'm sure that we've talked about this two days ago." Even without looking directly at her, all of them understood how angry Sera is.

    "It's El's doing."

    "Eh? I'm just trying to wake you up early. You're the one who started chasing me!" El shouted in disapproval.

    "THAT'S BECAUSE YOU STARTED RUNNING BEFORE I COULD HIT YOUR FOREHEAD!"

    The blonde guy and the black haired boy stared intensely at one another. You could see a string of light clashing between them.

    Ellis sighed. "Why did you run all the way to the roof? You know that it's dangerous, right?"

    El bowed his head. "I'm sorry."

    "Said the one who chased her brothers to the roofs as well." Sera mumbled. Ellis scratched her head with a small 'hehe' from her mouth.

    "That is all. Everyone to the dining room. Your parents and Ella are waiting."
   
    The siblings and Sera walked down the corridor then entered the house building. After five minutes of scolding, they pushed the door to the dining room.

    "Hello, naughty kittens." Ella playfully smiled when her little siblings arrived.

    "We're not kittens!" Eldrick retorted, followed by Ellis saying, "And we're not naughty!"

    "Well, rather than naughty, I'd call myself a daredevil."

    Eldrick and Ellis slapped the back of El's head in unison.

    "He's talking about you, little brat." Eldrick muttered.

    "You're a little bit too confident for your age, El." A small laugh escaped from Ella's mouth.

    Ellis crossed her arms in front of her chest. "Confidence and courage is important, but for now, you're no more than a kitten."

    "WHAT?!"

"APA?!"

"Sudahlah, anak-anak." Wanita berumur empat puluhan yang duduk di seberang Ella berkata lembut.

"Dan kalian berempat, cepat duduk. Sarapan hampir siap." Pria dengan mata biru yang duduk di ujung lain meja makan menimpali, sekaligus memberi perintah.

"Baik, Tuan." Sera berbalik ke tiga bersaudara, menampakkan sebuah senyuman di wajahnya. "Kalian mendegarnya, kan? Jalanlah."

Mereka berjalan ke meja makan lalu duduk di kursi masing-masing. Satu menit kemudian, sang koki dan para asistennya membawa nampan-nampan tertutup lalu meletakannya di depan setiap orang di meja makan.

El berseru riang saat melihat isi nampannya. "Beef bacon and eggs!"

"One of my top three favorites, yum~" Ella menjilat bibirnya, matanya berbinar-binar.

"Sejak kapan kau punya daftar makanan favorit? Kau suka semua hal yang halal bisa dimakan." celetuk Eldrick dengan senyum jahil.

Ella memutar kedua bola matanya. "Ya, ya, ya. Tapi serius, daging itu yang terbaik, tahu!"

Ellis tersenyum. "As expected of you, sis."

Sang ibu berdeham kecil, lalu berkata, "Oke, apa yang kita ucapkan jika seseorang berbuat baik pada kita?"

    Empat bersaudara mengangguk, lalu mereka berdiri dari kursi mereka, kemudian membungkukkan badan.

    "Terima kasih, semuanya!" Ucap mereka berempat serempak, diikuti sebuah senyum tulus.

    Sang chef dan para pelayan tersenyum kembali, membalas ucapan mereka lalu kembali ke dapur.

    Sarapan di kediaman Leondra berjalan mulus. Para orang tua menanyakan satu atau dua hal, lalu anak-anak berbicara lebih banyak, pergi dari satu topik ke topik lainnya. Sera menatap mereka dengan wajah senang.

    "Kau sudah mengemas barang-barangmu, kan, Ella?" tanya Tuan Leondra.

    Putri sulung menganggukkan kepala. "Iya, koper-koperku sudah penuh. Aku tinggal perlu mengambil ranselku di kamar lalu berangkat ke bandara."

    Nyonya Leondra menimpali percakapan. "Pesawatmu berangkat jam sembilan, kan?"

    Ella mengangguk lagi sambil mengunyah makanan di mulut. "Pesawat pertama di pagi hari."

    "Eldrick dan El pasti akan kesepian saat kau pergi, Ella." celetuk Sera, melihat kedua anak laki-laki berambut pirang dan hitam itu dengan menahan tawa.

    "Maksudku, siapa lagi yang akan meneriaki mereka sambil marah-marah kalau lagi bikin onar di rumah?" Ellis memberi tatapan serupa dengan Sera.

    "Tidak akan!" Eldrick menyahut. Namun, wajahnya yang sedikit memerah bertolak belakang dengan mulutnya.

    "Y-ya, kenapa juga aku merasa kesepian?" El menambahkan--sekali lagi dengan wajah yang sedikit memerah.

    Sang ibu yang melihat wajah kedua putranya tertawa. "Aww, tidak perlu menyembunyikan perasaan kalian, kok~"

    "Mereka memang tsundere, sayang." Tuan Leondra mencoba membela kedua putranya, namun kata-katanya justru membuat para gadis ingin tertawa lebih keras melihat wajah Eldrick dan El yang semakin memerah.

    "Dan tebak siapa yang mewariskan sifat itu, hmm?~" Nyonya Leondra menyeringai, menopang dagu di atas meja makan sembari menatap suaminya.

    Tuan Leondra sedikit tersipu, lalu segera menyambar gelas air minum dan meneguk isinya hingga tersisa setengah. Tawa para gadis lepas saat itu.

   "Cepat habiskan sarapannya, semuanya. Sudah hampir jam tujuh. Kalian bisa terlambat kalau tidak bergerak lebih cepat ke bandara dan sekolah."

    "Iya, Ma!" Empat bersaudara menyahut, segera menghabiskan makanan yang tersisa di piring masing-masing.

    "Baik, Nyonya." Sera mengangguk.

    "Oh iya, hampir lupa," El menoleh ke arah Ellis, "bagaimana dengan rapat yang kau bilang tadi, nee-chan?"   

    "Oh, itu? Iya, kita rapat on the road. Ada beberapa kasus yang harus kita bahas secara full-team. Kau tahu, kan? Karena kita 'itu'."

    "'Itu', ya? Oke."

***

Beberapa menit kemudian, di dalam mobil yang berjalan.

    "Jadi, kita mau diskusi tentang apa?" Eldrick membuka pertemuan.

    Ella menoleh ke Sera. "Sera, silakan dimulai."

    Sera menekan tombol di sandaran tangan kursinya, memunculkan sebuah meja dari dasar mobil. Kursi-kursi mereka bergerak memberi ruang untuk meja itu.

    "Inilah kasus-kasus yang harus kalian selesaikan untuk bulan ini."

    Sera menekan permukaan meja, lalu mengetik beberapa kata kunci di papan ketik hologram. Dua file folder biru muncul di udara dengan sebuah nama di bawahnya.

    "Kasus 263: Pembunuhan di Pelabuhan" Eldrick membaca nama tersebut.

    "Kasus ini berasal dari Kepala Polisi, Tuan Phelps."

    Sera menyentuh folder pertama, memunculkan peta hologram tiga dimensi seluruh kota di atas meja, memutar sebuah rekonstruksi kejadian.

    Sera mulai menerangkan kasusnya.
"Seorang nelayan menemukan sebuah kepala tanpa tubuh di salah satu kapal pelabuhan terkemuka minggu lalu. Terungkap juga bahwa itu bisa menjadi bukti kuat dari adanya perdagangan tubuh manusia di pasar gelap.

"Saat polisi menangkap pelaku, mereka juga menemukan beberapa bagian tubuh manusia yang disembunyikan di dalam freezer. Tim forensik membandingkan sampel DNA dari setiap bagian, dan mereka menemukan kecocokan."

"Dalam kata lain, hanya ada satu tubuh saja?" Ella mengajukan pertanyaan.

Sera membalas, "Ya, itu benar. Tapi bukan itu alasan kita ditugaskan."

"Jadi apa masalahnya? Kasusnya sudah selesai, kan?" Ellis buka suara. Sejak tadi dia hanya diam sembari menghubungkan benang merah kasus ini dalam kepalanya.

"Mungkin karena ini."

El meletakkan sebuah koran dari laci meja di atasnya, lalu menunjuk headline koran tersebut.

"PHQ diterobos oleh penyusup di siang bolong meski ada lebih dari empat puluh personil kepolisian yang berjaga... Terdengar ironis." El menghela napas.

Eldrick menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja. "Apa mereka bisa melindungi kita jika markas mereka saja dibobol dengan mudah? Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan mereka terhadap kepolisian dan merasa waswas jika kasus ini dibiarkan saja."

Ellis mengangguk. "Two-in one package of chaos."

Semuanya mengangguk setuju.

"Tentu kita tidak boleh membiarkan itu sampai terjadi. Itulah mengapa Tuan Phelps menugaskan kita untuk mendapatkan kembali barang yang telah dicuri saat kejadian itu." sahut Sera.

Ellis ber-oh pelan. "Jadi itu masalahnya."

Ella yang sempat berpikir tiba-tiba menyadari sesuatu. "Tunggu, memangnya hanya satu barang yang dicuri?"

Empat bersaudars itu saling lirik saat menyadari hal itu.

"Kalian tidak salah dengar, kok. Memang hanya ada satu barang yang dicuri saat peristiwa pembobolan itu." Sera tersenyum kecil. "Coba tebak apa itu?"

"Satu kotak berisi pistol dan pelurunya?" El mulai menebak.

Sera menggeleng. "Bukan."

"Uang?" Eldrick ikut menebak.

"Berkas-berkas rahasia penting?" tebak Ellis.

"Suplai makanan untuk para karyawan?"

Saudara-saudara Ella menoleh padanya dengan wajah tak percaya. "Seriusan?"

Salah satu alis Ella terangkat. "Lah, kenapa? Koki mereka handal dalam memasak, tapi aku belum pernah dapat makanan di sana saat hangat."

Nyaris saja Sera tertawa, tapi dia menahannya lalu melanjutkan. "Bukan, bukan, dan bukan. Barang ini cukup unik, karena..."

"Itu adalah barang bukti kasus pembunuhan tadi."

"HAH? APA?!" teriak empat bersaudara itu serempak.

"Ini pasti bukan kebetulan." Eldrick menegakkan sandaran kursi. "Iya, kan?"

"Gila aja kalau bukan." El menanggapi.

Ellis bergumam, "Jadi, insiden di PHQ berhubungan dengan kasus pembunuhan kali ini?"

"Sepertinya begitu." Ella mengangguk.

"Itu sebabnya Tuan Phelps membutuhkan sepasang tangan tambahan untuk menangani kasus ini, karena dia melihat sebuah garis yang menghubungkan dua kejadian itu."

"Tapi, memangnya kita tahu keberadaan pelakunya?" Eldrick bertanya.

Ella mengangkat tangan kanannya. "Aku bisa melakukan itu, tapi aku tidak tahu mau mulai dari mana..."

"Tidak masalah. Ini, tangkap!"

Sera mengeluarkan sebuah flash disk dari sakunya lalu melemparnya ke Ella.

Sungguh Prolog yang tidak jelas (T-T)

Setidaknya kalian bisa mengerti seunik apa empat bersaudara ini, kan? Hehe.

-Poccoloco, 8:06 PM || 20/9/2020.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top