Let Go [Hanamiya Makoto]

Requested by Yahisa_Nashimi24
Aku sarankan baca dulu chapter hanamiya yang sebelumnya. Kalo bisa dari chapter Answering Kiss '-')/
Happy reading~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3rd PoV

Angin awal musim dingin kembali berhembus. Tidak terasa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Rasanya kemarin masih musim panas di masa kelas dua SMA.

Sudah sekian tahun lamanya sejak kematian Hanamiya, namun bayangannya masih saja menghantui [y/n], gadis fakultas [insert nama fakultas] yang sebentar lagi akan lulus dari masa studinya. Kenangan ketika mereka bersama masih terekam jelas di kepala [y/n]. Hanamiya itu sudah seperti hantu bagi [y/n].

Ketika makan, ketika naik bis, ketika di perpustakaan, bahkan ketika hendak tidur, sosok Hanamiya tidak pernah lepas dari pikirannya. Seolah di setiap tempat ia melihat sosok pemuda itu. Seolah setiap saat ia selalu diawasi oleh pemuda itu.

"Haaah..." [y/n] melepas nafas lelah seraya menyenderkan kepalanya ke batang pohon pinus. Di siang yang cukup berangin itu, [y/n] duduk menyendiri ke sebuah taman mahasiswa yang jarang dikunjungi orang. Tepatnya di bawah sebatang pohon pinus, ia membaca buku berjudul [insert judul buku favorit] kesukaannya.

Manik [e/c]nya sendu menatap langit. Entah mengapa ketika menatap ke sana perasaan [y/n] bisa sedikit tenang. Langit. Ia percaya surga berada di sana. Hembusan angin. Seperti suara dari langit yang menjawab curahan hatinya.

"Mm.. Apa aku akan menghabiskan sisa hidupku seperti ini? Ne, jawab aku. Kamu tidak pernah bicara lagi sejak hari itu." Gumamnya seraya memejamkan mata. [a/n: baca chapter hanamiya sebelumnya] angin lembut kembali berhembus, membelai wajah dan sanubarinya.

"[y/n].." Sebuah suara membuyarkan mimpi sejenaknya. Baru saja ia akan memutar rekaman ulang masa SMA, Seseorang sudah mengganggu, membuat kedua matanya kembali membuka.

Anehnya setelah [y/n] membuka mata, tidak ada siapa-siapa di sana. Memang sih, suara itu sedikit samar-samar meski [y/n] dapat mendengarnya dengan jelas.

"Hanamiya.." Tebak [y/n]. Ia yakin jika itu adalah suara Hanamiya, si pemuda yang dirindu. Namun bagaimana bisa? Hanamiya sudah tidak ada di dunia ini. Itu pasti hanya halusinasinya.

[y/n] menghela nafas panjang. Sepertinya ia mulai gila.

"Jika begini terus aku bisa gila. Kenapa tidak kau lepaskan saja aku?"

***

Suatu sore [y/n] pergi mengunjungi toko kue milik teman semasa SMAnya, Alice. [y/n] sering mampir ke toko itu untuk hanya sekedar membeli kue atau mengobrol dengan kawannya itu. Saat ini, hanya dia lah yang dapat [y/n] percaya untuk menjadi teman curhat jika sudah membahas Hanamiya. setidaknya ia tidak akan menganggap  [y/n] aneh.

"Welcome!" Sambut Alice ketika [y/n] memasuki tokonya. "[y/n]-chan, mau beli kue apa hari ini?"

"Aku mau makan [fave cakes] saja untuk dimakan di sini. Dan.. Apa kau ada waktu?" Ucapmu menentukan pilihan tanpa melihat menu.

Alice tersenyum seraya mencatat pesanan di buku kecilnya. "Hm.. [Fave cakes]. Tentu aku ada, tapi setelah ini. Okay, tunggu sebentar ya. Nanti aku bawakan pesananmu."

[y/n] mengangguk. Setelah melakukan pembayaran ia pergi mencari meja yang kosong.

Lima menit berlalu, Alice datang. Ia duduk di seberang [y/n] membawa nampan berisikan [fave cakes], dua cup teh vanilla, dan sepotong red velvet.

"Aku tidak memesan ini." Ucap [y/n] bingung melihat isi nampan yang dibawa Alice.

"Yang ini untukku" ucap Alice memindahkan red velvet ke hadapannya.
"Yang ini aku mentraktirmu." Kemudian masing-masing satu cup vanilla tea untuknya dan [y/n].
"Yang ini baru pesananmu." Terakhir, ia meletakkan [fave cakes] di samping cup vanilla tea [y/n].

Pemilik surai [h/c] ini pun ber-oh ria mengerti maksud temannya ini. "Terima kasih."

"Sama-sama. Jadi.. Mau ngobrol apa hari ini?" Alice memangku wajahnya di atas meja, siap mendengarkan temannya bercerita. 

Kemudian [y/n] mulai membuka mulutnya. Ia bercerita jika belakangan ini ia merasa sangat terganggu. Pikirannya semakin tak bisa lepas dari seorang Hanamiya. Bahkan suara pemuda itu sering terdengar di kepalanya.

Tak hanya itu, [y/n] juga sering memimpikan Hanamiya. Namun yang membuatnya sedih adalah, pemuda itu tidak pernah berbicara padanya.

"Jadi begitulah. Aku bingung. Aku lelah seperti ini terus. Rasanya sakit, tapi di lain sisi aku senang masih bisa mengingatnya dengan jelas." [y/n] mengakhiri ceritanya.

"Hm.. Jadi.. Apa yang kamu inginkan sekarang?" Tanya Alice, dijawab gelengan kepala oleh gadis di hadapannya.

"Kenapa tidak coba berkencan saja? Toh, siapa tahu kamu bisa sedikit mengalihkan pikiranmu darinya."

"Jika seperti itu, lama-lama aku bisa melupakannya."

"Aha, tentu saja. Tapi aku yakin, Hanamiya tidak ingin melihatmu tersiksa karena mengingatnya." Gadis bersurai coklat tidak terlalu terang ini melebarkan senyumnya. "Kadang ada baiknya melupakan sesuatu—"

"—memangnya kamu tahu apa, Alice?" Tanpa sadar kamu menaikkan intonasi bicaramu. "Aku tidak akan puas sebelum ia memaafkanku. Satu kalimat 'aku memaafkanmu' saja cukup. Setidaknya lewat mimpi! Aku ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya, meski hanya mimpi! Ini sulit, Alice, kamu hanya berbicara, itu mudah. Aku juga bisa mengatakan hal seperti itu!"

Alice sampai tercengang mendengar rentetan kalimat yang baru saja temannya lontarkan. Untung saja toko sedang tidak ramai. Dia membisu sejenak sebelum menghela nafas halus.

"Aku tahu, kok. Aku tahu rasa menyesal sebab tidak sempat menyampaikan sesuatu pada seseorang yang kau anggap penting dalam hidupmu. Tapi kamu tidak bisa egois begitu, [y/n]."

***

Perkataan Alice membekas di pikiran [y/n].

'Aku tau, kok.'

Yah.. Gadis itu juga punya kenangan buruk layaknya [y/n]. Beberapa bulan yang lalu ia baru ditinggalkan dua orang terkasihnya. Satu yang kamu tahu, dia masih berduka. Berbicara seperti kemarin padanya mungkin sedikit keterlaluan. [y/n] menghela nafas menenangkan diri.

Sekitar pukul 9 pagi [y/n] menjejakkan kakinya di gerbang SMA Kirisaki daiichi —tempatnya menempuh pendidikan dulu. Perasaan nostalgia langsung memenuhi rongga hatinya, meski banyak gedung yang sudah terenovasi.

Hari ini [y/n] telah memutuskan, ia akan mengenang semua tentang Hanamiya.

'Luapkan. Kenang dia. Setelah puas, hatimu akan merasa sedikit lega. Lalu jika kamu mau, pelan-pelan relakan dia pergi'

Kalimat Alice kembali terngiang di telinga. [y/n] melinggarkan mantelnya ketika menaiki tangga menuju lantai dua. Padahal cuaca sedang berangin, tapi entah kenapa udara di dalam gedung itu cukup hangat.

Kaki [y/n] semakin mendekat menuju ruang kelas lamanya. Kelas dimana ia bertemu Hanamiya. Kelas yang merubah kehidupan monotonnya menjadi berwarna sekaligus menyedihkan.

Anehnya di setiap kelas yang dilewatinya kosong. Pergi kemana semua orang? Apa sedang ada acara si aula?

Tidak terasa ia sudah tiba di muka pintu kelas lamanya. Betapa terkejut ketika dia membuka pintu tersebut. Di kelas yang kosong itu, seorang pemuda tengah duduk di atas meja dengan mengangkat satu kakinya.

Kelas itu diselimuti cahaya kejinggaan, pemandangan di luar jendela menampakkan pemandangan senja hari. Aneh, [y/n] kira tadi masih pagi, apa dia salah?

Yang lebih mengejutkan yaitu sosok pemuda yang duduk di dekat jendela itu. Surai hitam gondrong melambai-lambai diterpa angin sepoi. Sorot pandangnya mengintimidasi meski sedang berming.

"Sedang apa berdiri di situ? Cepat kesini! Jangan buang buang waktuku!" Ia memarahi [y/n]. Si gadis yang diteriaki bergidik, kemudian melangkah masuk mendekati pemuda itu —Hanamiya Makoto.

[y/n] duduk di bangku kosong, meja lamanya. Yaitu meja yang ada di depan Hanamiya. Disana sudah ada buku catatan matematika yang terbuka, lengkap dengan soal-soal yang belum terisi di dalamnya. [y/n] mengangkat pensil mekanik di samping buku itu dan mulai mengisi soal.

Hanamiya mengamati setiap gerakan yang dibuat tangan [y/n]. Sesekali ia menginterupsi "salah. Jawabanmu salah, baka." Pada [y/n].

Entah kenapa [y/n] melakukan semua ini. Tubuhnya seolah bergerak sendiri. Seolah kembali ke masa lampau, ketika ia ditutori Hanamiya. Tapi apa semua itu mungkin? Jika diperhatikan, pakaiannya pun tergantikan dengan seragam SMA Kirisaki Daiichi. [y/n] semakin bingung.

"Oi, perhatikan yang benar—"

"Ne, Hanamiya." [y/n] menginterupsi ocehan sang tutor.
"Apa aku sedang bermimpi?"

Pandangan [y/n] lurus dan dalam menatap Hanamiya, seolah hendak menelannya. Sedangkan yang ditatap —Hanamiya- terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan [y/n].

Seringai muncul di wajahnya. "Begitu kah?" Hanamia melompat turun. Ia duduk di kursi menghadap [y/n]. Sekarang, pada jarak ini, ia dapat memandang wajah lawan bicaranya dengan lebih jelas.

"Tapi kamu cukup lambat menyadari ini mimpi. Bahkan melebihi prediksiku." Tambahnya seraya menjulurkan lidah singkat.

Sontak perempatan muncul di dahi [y/n]. Entah, bahkan di dalam mimpi pun ia masih menyebalkan, namun susah payah ia meredam amarahnya. "Apa kamu nyata?" Tanya [y/n] mengalihkan pembicaraan.

Hanamiya masih saja menyeringai. "Tergantung. Aku hanyalah pecahan memori yang tinggal di dalam ingatanmu. Tapi karena kau bilang ini mimpi.. Jadi mana yang benar? Nyata atu tidak?"

[y/n] menyipitkan matanya. "Kau.. Jangan buat aku semakin bingung." Ucapnya membuat gelak tawa Hanamiya pecah. Apa yang lucu?

"Kau bebas menganggapku nyata atau tidak. Ini pikiranmu." Akhirnya pemuda bermata hazel ini berhenti tertawa. Suasana menjadi hening sejenak.

"Kenapa tidak lupakan aku saja?" Celetuk Hanamiya. Kedua mata [y/n] membulat, tentu ia tidak bisa melupakannya. Tidak dengan rasa bersalah yang menghantuinya.

"Kau tidak berhutang maaf apapun padaku. Kau bukan penyebab kematianku." Ucap Hanamiya lagi. "Makanya, kau hanya buang-buang waktu terpuruk seperti itu. Apa kau bodoh itu sampai-sampai menyiksa dirimu sendiri?"

"Aku tidak bodoh!" [y/n] sedikit memekik. "Disaat terakhir kepergianku, aku tidak mendengarkanmu. Aku bertengkar denganmu. Aku bahkan tidak menghiraukanmu. Kau itu, benar-benar menyebalkan ya, Hanamiya! Setelah membayang-bayangiku, sekarang kau berani berkata seperti itu? Kau itu membingungkan!"

Hanamiya tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam menahan seringainya seraya mendengarkan keluhan [y/n].

"Aku juga lelah.. Aku juga lelah dihantui oleh perasaan ini terus."

"Lalu?"

"Aku hanya butuh satu kalimatmu. Hanamiya." [y/n] mencengkram pensilnya kuat-kuat.
"Cukup katakan kau memaafkanku."

Akhirnya, satu kalimat yang ia pendam dapat tersampaikan pada pemuda di hadapannya.  Lega, senang, dan sedih, perasaannya bercampur menjadi satu.

Matahari di luar sana mulai meninggi. Cahaya kejinggaan mulai berubah menjadi keemasan. Sebagian cahayanya menerobos jendela, menyinari dua insan yang sedang dibalut perasaan kalut.

Hanamiya berdeham halus, "jika aku mengatakan kalimat itu, apa kamu mau merelakanku?"

Pertanyaan barusan terdengar seperti ucapan selamat tinggal di telinga [y/n]. Ia kembali teringat percakapannya di toko kue.

'Luapkan. Kenang dia. Setelah puas, hatimu akan merasa sedikit lega. Lalu jika kamu mau, pelan-pelan relakan dia pergi'

"Aku.. Akan berusaha." Ucap [y/n].

Hanamiya tersenyum tipis, ia berdiri dari kursinya. Kedua tangan ia gunakan untuk bertumpu di tepian meja, seraya mencondongkan wajahnya ke arah [y/n]. Wajah [y/n] sampai menampakkan semburat kemerahan di area pipi hingga telinga, mengingat kedekatan jarak yang mereka bagi.

"Jika begitu, aku memaafkanmu [y/n]. Sekarang kau harus janji melepaskanku dari pikiranmu." Ucap Hanamiya. Oh, [y/n] belum pernah melihat Hanamiya berkata lembut seperti itu. Setelah.. Kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu.

Seputar mata [y/n] memanas, bola matanya mulai berkaca-kaca. Ia senang mendengar kalimat pengampunan dari Hanamiya, meski di lain sisi ia merasa sedih seolah ia tidak akan melihat sosok Hanamiya lagi dalam mimpinya.

"Baiklah. Aku janji." Akhirnya [y/n] berucap. Hanamiya terkekeh pelan, melihat ekspresi [y/n] saat ini.

"Baka, jangan menangis. Bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi, kan?" Ibu jari Hanamiya menyeka air mata di pipi gadis itu. Ia menyeringai miris.

"Arigatou.. Sayonara.. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, [y/n]." Perlahan sosok Hanamiya mulai hilang terkikis cahaya. Menjadi jutaan partikel yang kemudian melebur pergi bersama hembusan angin.

Sesaat kemudian [y/n] membuka matanya. Ia berada di atas ranjang empuknya. [y/n] mendesah keras. "Betulan mimpi." Gumamnya mendudukkan diri di tepi ranjang.

[y/n] menatap jam yang tergantung di tembok kamar menunjukkan pukul enam pagi. Pagi ini ia bangun dengan perasaan lega. [y/n] pun tersenyum ketika mengingat detik-detik terakhirnya bersama Hanamiya. Meski samar, ia yakin jika Hanamiya tersenyum lega padanya.

"Arigatou.. Hanamiya. Sayonara."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Done QwQ
*banting hp* udah ah ini sekuel terakhir! Aku ga mau nulis sekuel seri ini lagi *guling guling* //sapa suruh pake kisah nyata//
Uwaaa.. Hanamiya sepertinya udah tobat setelah mengalami kecelakaan elit(?) :'v *digiles* *gulinh guling*

Sekian untuk chapter ini. Berikutnya giliran request dari Yahisa_Nashimi24 lagi xD Haizaki x Reader.
REQUEST ON HOLD!
Feed back, Voment?

Love,

Alicia

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top