Chapter 2 - Udik di Urban
Duman, 23 Juni 2018 ...
Milo adalah contoh teladan bagi seorang anak ideal. Ia sangat mencintai ibunya dan melakukan apa saja yang diminta oleh ibunya. Saat ibunya meminta Milo untuk berlatih beladiri, ia langsung mencari master Kirk untuk diajari ilmu beladiri. Master Kirk yang mengagumi Milo pun dengan senang hati mewariskan semua ilmu yang ia miliki. Pemuda itu seperti monyet yang kelebihan energi, dan tenaganya di atas rata-rata. Semangatnya seperti ombak berdebur yang tidak akan pernah berhenti. Senjata pertamanya adalah golok biasa yang biasa dipakai untuk memotong-motong tubuh ikan besar yang ditangkap di laut.
Saat ini usianya 17 tahun, dan ibunya berpesan agar ia terus berkembang, dan berpegang pada kebaikan. Ia harus rela menolong yang kesusahan, dan membela yang tertindas, serta memberantas ketidak adilan.
Milo menyanggupinya.
Dan terakhir, ibunya memberikannya sebuah pisau tembaga dengan belati sehitam batu opal. Ada emblem emas membingkainya. Itu jelas bukan pisau sembarangan. "Terimalah nak, jagalah baik-baik benda ini."
"Apa ini?" tanya Milo, berpikir dari mana atau siapa ibu merampas belati ini di masa muda.
"Seorang kawan lama menitipkannya padaku. Namanya Jon Damascus. Aku minta kau kembalikan benda ini padanya. Ia ada di suatu tempat di seberang daratan di utara," kata ibu.
"Itu saja? Mengembalikan barang? Baiklah. Aku akan mengembalikannya," kata Milo dengan mantap.
"Saat kau bertemu dengannya, Lo, aku minta kau membantunya hingga selesai."
"Selesai?"
Ibu mengangguk, "Jon Damascus ... Dulu adalah atasanku, saat ia butuh bantuanku, aku tidak ada di sisinya. Aku minta kau gantikan aku untuk membantunya hingga selesai."
Milo tersenyum mantap, "ibu tenang saja, serahkan semua padaku!"
Laya mengembuskan nafas terakhirnya dengan lega, percaya bahwa putranya akan menepati ucapannya.
"Ibu, tunggu, jangan mati dulu!" Milo mengguncang lengan ibunya sementara ayah dan pamannya sudah mulai menangisi kematian kerabat mereka. "Ibu, aku membantu apa? Alamatnya di mana?"
Laya dikuburkan di tempat terpencil tak jauh dari rumahnya. Setelah seminggu berkabung, Milo segera menanggalkan pakaian berkabungnya lalu berkemas untuk menyeberangi selat sampai ke utara dimana Ortarica berada.
"Damascus, cih! Dia orang galak tak mengerti cara menikmati hidup. Kau tidak perlu dengarkan ibumu, Lo. Di desa saja bantu ayah mencari ikan!" ujar Gideon dengan kedua lengan berselingkap, wajahnya menjelaskan segenap masa lalu yang buruk antara dia dengan Jon Damascus.
"Setidaknya aku kembalikan belati ini padanya. Ayolah ayah, beritahu aku dimana alamatnya!"
"Kalau aku tidak mau memberitahumu, bagaimana?"
"Kalau kau tidak mau memberitahu, aku cari sendiri. Yang pasti dia ada di Ortarica. Biar kudatangi setiap goa, lembah, kota dan rumah yang terlihat!"
"Gila! Itu bakal menyita banyak sekali waktu! Kapan kau akan pulang untuk membantuku melaut?!"
"Makanya beritahu aku alamatnya!"
"S-sebagai ayah aku melarangmu untuk pergi!"
"Kau pikir aku anak perempuan yang bisa dilarang ke mana-mana?! Aku bongkar atap rumahmu bila kau sekap aku di rumah!"
Gideon menyerah, anaknya ini terlalu mirip dengannya. Barangkali saat bertemu Dasmascus nanti, mereka juga akan berkelahi satu sama lain seperti dirinya dulu. "Aku tidak tahu dimana dia tinggal!"
"Hah?! Serius, ayah!"
"Aku serius. Dan aku berani jamin ibumu pun tidak tahu alamatnya."
"Lalu bagaimana?"
"Damascus itu orang terkenal di Ortarica. Jasanya banyak di militer. Kamu tanya siapapun di Ortarica juga orang akan tahu siapa Damascus."
"Hebat. Malu bertanya, sesat di jalan."
"Kalau disuruh mengantar aku tahu rumahnya seperti apa, tapi alamat ... Lupa."
"Ya sudahlah kalau begitu. Aku merantau dulu ke utara, ayah. Aku pamit."
Gideon mengangkat tangannya sambil mengangguk. Sejujurnya, dia tidak merestui hal ini, tapi apa boleh buat.
"Tenang saja, Ayah, aku takkan lama di Ortarica. Setelah semua beres, aku akan segera kembali untuk menceritakan pada semua orang tentang kehidupan orang-orang daratan seberang," kata Milo penuh semangat. Ia sangat yakin tempat yang baru akan memberikannya hal-hal baru untuk dilihat, dan untuk itulah dia sangat tidak sabar untuk bisa sampai di sana sekarang juga.
Tapi ada masalah lain.
"Sejak dahulu, warga kepulauan Klikada telah menyimpan cerita perang melawan marinir Ortarica. Termasuk Duman. Maka dari itu kita benci orang Ortarica, sampai Damascus muncul dan mendamaikan perseteruan kita. Tapi tetap saja, kita tidak mau ke Ortarica. Tidak akan ada kapal yang mau mengantarmu ke sana," kata kepala desa, Poe.
Milo tidak asal mendengar, dia memperhatikan kumis putih Pak Poe berkedut-kedut. Kebiasaannya kalau sedang menyembunyikan sesuatu, dan itu mencurigakan. "Pak Poe, jangan takut pada ayah. Ancaman ayah bualan omong kosong saja. Pucuk mercusuar Ortarica terlihat dari tanjung Kepiting kalau gelap datang. Masa berlayar sedekat itu tidak ada yang bisa?"
"A-apa maksudmu?! T-tidak ada yang mengancamku. Memang tidak ada kapal ya tidak ada! Eh, ehh, mau ke mana kau?!"
"Berenang saja lah!"
"Dasar keras kepala! Jangan sampai kau terseret ombak nanti!" kata kepala desaPoe.
"Cuma ombak sih keciil!" kata Milo.
Kepala desa Poe hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dasar! Anak dan ayah sama keras kepalanya. Dulu Gideon waktu masih muda juga seperti ini dan pulang membawa Laya. Bagaimana denganmu, Milo? Apa yang akan kau bawa pulang kelak?"
Baru saja kaki Milo terbenam dalam deburan ombak, seorang gadis memanggilnya.
"Milo...!!"
Panggilan itu membuat Milo kembali ke pantai.
Rupanya Teri.
"Ada ap...?" tanpa menunggu Milo bicara, Teri langsung mengalungkan sebuah liontin ke leher Milo. Cepat sekali.
"Wah, ini kan liontin ibumu...!!"
"Teri..!! kenapa kau berikan mas kawinku pada ibumu ke anak tengil ini..??!" seru kepala desa Poe kembali mencak-mencak. Kali ini wajahnya memerah.
"Ibu sudah memberikannya padaku, terserah aku dong akan memberikannya ke siapa lagi!" kata Teri sambil menjulurkan lidah.
"Akh.... Itu adalah liontin warisan dari leluhurku...!! Jangan kau berikan ke bocah semberono ini! Bagaimana kalau hilang?!" kepala desa jadi stress.
Mengabaikan ayahnya, mata Teri menatap penuh harap pada Milo. Katanya, "kau harus kembali dengan selamat, kau dengar aku, Milo?"
Milo malah tertawa. "Aneh kau, hanya menyeberang ke sana saja seakan aku mau melintasi sarang hiu. Sudahlah, kau tunggu saja. Aku takkan lama, nanti aku pulang bawakan oleh-oleh untukmu."
Pemuda seusia Milo berseru dari tepi pantai, "hoi, Milo! Kamu mati saja di sana biar Teri jadi milikku!"
"Ngimpi kau!" balas Milo sambil menjulurkan lidahnya. "Baiklah semua! Aku berangkat..!!"
Milo berenang membelah ombak yang tinggi. Sebagai anak pantai, dirinya sudah biasa berenang di air asin yang bergejolak. Tapi di antara anak-anak pantai lainnya, Milo yang bisa berenang paling jauh.
Melihat pemuda itu berenang pergi, sosoknya semakin menghilang tertelan horizon, Teri jadi sedikit menyesal kenapa dia membiarkan Milo pergi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di Ortarica, apakah Milo bisa kembali lagi atau tidak. Dan bila Milo tidak ada, tidak akan ada lagi yang bisa membuatnya tertawa. Teri masih ingat dulu saat dia tidak mau makan karena dia ingin salmon putih, Milo melaut untuk menangkap ikan itu untuknya. Tidak ada yang mau melakukan apapun demi dia seperti Milo.
Gadis itu berlari, terhentikan saat mata kakinya terbenam ombak. Sekuatnya dia berseru "jaga dirimu...!!! Milo...!!"
Milo sampai di tepi pantai tak bertuan di pesisir selatan Ortarica. Ia terengah, namun puas. Selat berhasil ditakhlukkannya, dan ia tertawa mengejek ombak besar yang tadi dibelahnya dari kampung halaman.
Barulah dia sadar bahwa segenap barang yang dibawanya dalam tas karung kini telah basah seluruhnya oleh air laut. Milo memungut tiga batang galah dan disusunnya sehingga ia bisa menjemur pakaiannya satu persatu. Sambil menghangatkan tubuh di tepi perapian, Milo membuka satu-satunya benda yang aman dari air; liontin dengan foto ibu di dalamnya. Dan sepertinya belati milik Tuan Damascus juga tidak terpengaruh oleh air laut.
Kemudian dia teringat akan sesuatu yang harusnya ada di lehernya.
Kemana hilangnya kalung dari Teri?!
"Gawat ... Pasti terseret ombak ... Teri bisa marah besar bila ia sampai tahu kalau aku menghilangkannya ..." pikirnya. Muncullah pikiran untuk tidak kembali selama beberapa tahun, sampai Teri lupa, atau sampai Kepala Desa Poe mati sehingga tidak bisa mengomel atas sesuatu yang tidak mungkin kembali lagi.
Sambil menunggu pakaian-pakaiannya kering dijemur api unggun, Milo menyusuri bibir pantai, mencoba untuk mencari kilauan cahaya. Siapa tahu kalung itu terdampar di pantai. Tapi malam segera datang dan pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Milo menghentikan pencariannya dan berpaling untuk menangkap ikan dengan bilah kayu yang telah diruncingkan ujungnya. Kebetulan dia sangat pandai melakukannya.
Malam itu Milo tidur pulas, menyimpan tenaga demi hari esok. Tak ada waktu untuk kembali ke laut dan mencari barang yang hilang, Milo menjelajahi kota terdekat dari pantai tempat ia sampai di benua utama, Pelabuhan Besteban.
Ini pertama kalinya Milo berada di tempat asing. Pelabuhan ini pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang pria dengan pakaian seragam. Seragam biru tua mereka dilapisi besi pada siku dan lutut, seakan mereka takut lecet bila jatuh terjerembab. Di kepala juga terpasang topi dari besi berbentuk setengah lingkaran dan ada tali yang melintang sepanjang rahang. Tangan mereka menggunakan sarung tangan tebal yang membungkus pergelangan tangan, punggung tangan dan hanya menyisakan ujung-ujung jari saja.
Sebelum masuk ke dalam kota pelabuhan yang dikelilingi dinding batu, pria berseragam itu menahannya untuk memeriksa barang-barangnya. Isi tasnya dibongkar dan mereka menemukan belati, batu api, liontin, tiga setel pakaian. Dari pinggang Milo mereka menemukan golok ikan yang rajin diasah.
"Kamu dari mana?" tanya mereka.
"Duman."
Mereka saling pandang sesaat sebelum bertanya lagi, "di mana itu?"
"Di seberang sini ada pulau. Ya ampun, kalian hidup di sini tapi tidak pernah berlayar?!"
"Hei, jangan cerewet. Kamu bawa senjata, ini mencurigakan. Bisa-bisa kamu ke sini untuk membunuh."
"Sembarangan, anak pelaut memang harus bawa golok ikan ke mana-mana. Kalian juga aneh, sudah dewasa tapi pakai pelindung kepala, siku dan lutut. Seperti anak kecil saja, takut jatuh dan lecet."
Para tentara itu tentu saja jadi tersinggung dan marah, "kurang ajar! Bocah ini mencurigakan! Geledah dia!"
Mereka membekuk Milo yang sempat melawan sesaat namun kalah jumlah. Milo sangat kuat, tinjunya mampu membuat helm besi mereka penyok. Salah seorang tentara itu melemparkan jala dan Milo terperangkap di dalamnya. Dengan demikian mereka berhasil meringkus Milo dan menggeledah dirinya. Pada ikat pinggang pemuda itu mereka menemukan ada belati antik dari ikat pinggangnya.
"Apa ini?"
"Hei, jangan! Aku harus mengembalikan itu pada Jon Damascus!" jerit Milo dengan marah.
"Damascus? Kau kenal Komandan Damascus?" para prajurit itu mulai berpikir kembali. Jangan-jangan anak ini kenalan komandan besar di Ortarica. Bahaya juga kalau sampai bocah ini celaka dan mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka di hadapan Komandan Damascus.
"Ibuku yang kenal dengannya. 18 tahun lalu dia menitipkan itu pada ibuku di Duman dan sekarang ibuku memintaku untuk mengembalikan padanya!" jelas Milo pada mereka sambil tangannya dibekuk di belakang punggungnya.
"Ah, paling bocah ini mencurinya dari Komandan. Sebaiknya kita laporkan saja pada Komandan. Kalau dia berbohong, akan segera ketahuan."
"Tidak mungkin dia mencuri. Kalau Komandan kecurian barang antik, tentunya seluruh pasukan sudah tahu dan diperintahkan untuk mencari. Kurasa dia mengatakan yang sebenarnya. Menurutku sebaiknya dilepaskan saja. Daripada dia kena celaka dan kita yang disalahkan," bisik temannya.
Setelah berpikir-pikir, akhirnya para prajurit Ortarica itu setuju untuk melepaskan Milo. Tapi untuk berjaga-jaga, mereka meminta nama Milo, nama orangtuanya, kampung halamannya, dan sampel DNA nya.
"Kalian tahu dimana alamat Jon Damascus?" tanya Milo.
Para prajurit itu terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa menjawab pertanyaan gampang. Mereka berdiskusi sesaat dan menyimpulkan mereka tidak tahu alamatnya.
"Kami tidak tahu."
"Gimana sih?! Itu kan pimpinan kalian!"
"Kami tidak tahu, tapi kalau disuruh mengantar, kami tahu."
Sama saja seperti ayahnya. "Kalau begitu antarkan aku!"
"Mana bisa begitu. Komandan tidak tinggal di Besteban."
"Lalu alamatnya di mana?"
"Tidak tahu."
"Grrr...!"
"Sudah, jangan marah. Ini ada sedikit uang saku untukmu. Kau tanya saja penduduk sekitar mungkin ada yang berbaik hati mau mengantarmu ke sana," salah seorang prajurit memberikan Milo sedikit uang sebesar 30 silver, cukup untuk hidup beberapa hari.
Sepanjang hari itu, Milo berkeliling kota Besteban. Ia bertanya pada orang-orang, apakah mereka tahu dimana alamat Damascus, tapi jawaban mereka tidak berbeda dari para prajurit itu.
"Aku tidak tahu alamatnya, tapi kalau kau punya gambarnya, aku bisa memberitahumu itu rumahnya atau bukan. Jangan suruh aku mengantarmu ke sana, aku tidak punya waktu untuk itu," dan orang itu langsung meninggalkan Milo.
Baru ketika akhirnya ia mampir di kedai, dan bertanya pada pemilik kedai apakah ia mengenal seseorang bernama Damascus atau tidak, pemilik kedai itu menjawab.
"Tidak kenal. Tapi tahu."
"Wah, tidak kenal, tapi tahu. Memangnya apa bedanya kenal dan tahu?"
"Kalau kenal, berarti aku tahu orang itu pribadinya seperti apa. Tapi kalau sekadar tahu, berarti cuma pernah dengar saja. Mengerti?"
"Oh begitu. Berarti aku tidak kenal Damascus, tapi aku tahu dia. Kita sama saja dong?!"
"Ya memang begitu. Orang hebat itu banyak yang tahu tapi sedikit yang kenal," kata si pemilik kedai.
"Ya sudah kalau dia memang terkenal. Dimana dia tinggal?"
Pemilik kedai menjawab acuh. "Mana kutahu. Mungkin di suatu tempat di ibukota."
"Bagaimana cara pergi ke ibukota?" tanya Milo.
Pemilik kedai merasa sedang diejek bodoh oleh Milo kemudian marah-marah. "Hei, kau habis berenang dari pulau mana sih sampai-sampai Damascus saja tidak tahu, dan ibukota juga tidak tahu??!!"
"Dari pulau Duman," jawab Milo polos.
Karena tidak tahu tempat apa Duman itu, Pemilik Kedai merasa Milo sedang mengejeknya. Maka Pemilik kedai merasa kesal dan memahalkan makanan yang dipesan Milo menjadi 2 kali lipat.
Seorang tamu kedai lain yang memperhatikan mereka sejak tadi itu tertawa keras dan menegur si Pemilik Kedai. "Jangan kejam begitu dong, Georg."
"Bocah ini ngawur!" Pemilik Kedai masih kesal.
"Orang-orang Duman memang terisolasi dari Asgares, dan orang-orang Asgares juga tidak pernah peduli apakah ada Duman atau tidak. Wajar bila dia tidak tahu apa-apa."
"Maksudmu, memang benar ada tempat bernama Duman?"
"Yah, begitulah," kemudian tamu kedai itu berpaling pada Milo. "Hei bocah Duman, biar makanmu aku yang traktir saja. Bila kau ingin bertanya-tanya, sebaiknya kau pergi ke Luchburd. Di sana banyak pelajar dan mereka ramah terhadap orang asing."
"Bagaimana aku bisa ke Luchburd?"
"Letak kota itu tidak jauh dari sini. Kau tahu sungai Wolver yang ada di sebelah timur kota ini? Ikuti saja ke arah hilir, maka kau akan menemukan sebuah kota dengan banyak gedung yang terbuat dari batu berwarna putih, itu adalah Luchburd. Disana segala informasi bisa dicari."
"Terima kasih banyak, aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan anda!" kata Milo pada orang asing yang baik itu.
"Sudahlah, tidak usah, anggap saja hari ini hari keberuntunganmu," kata orang itu.
"Paling tidak aku harus tahu namamu," kata Milo.
"Thompson."
"Dimana kelak aku bisa menemukanmu lagi?" tanya Milo.
"Aku anggota OSES. Tapi pangkatku rendah, hanya tentara biasa saja. Kemanapun pimpinanku suka, aku bisa dipindah kapan saja ke mana saja. Jadi dimana kau bisa menemukanku? Tergantung nasib. Hahaha!"
Setelah berterima kasih sekali lagi pada Thompson, Milo pergi ke timur untuk menemukan muara sungai Wolver. Setelah menemukannya, ia mengikuti arus hilirnya dan berjalan seharian hingga petang. Berjalan dalam gelap tampaknya bukan ide baik. Pertama karena tidak ada cahaya, dan kedua karena udara malam tidak baik untuk beraktivitas. Milo pun berhenti untuk berkemah.
Keesokan harinya, ia kembali meneruskan perjalanannya ke utara dan pada saat matahari persis ada di atas ubun-ubun, akhirnya ia menemukan sebuah kota yang hampir semua gedungnya berwarna putih. Persis seperti yang dikatakan Thompson.
Di kota ini penjaganya tidak segalak di Pelabuhan Besteban. Mereka tidak peduli siapa yang keluar masuk pintu gerbang kota, selama tidak mencurigakan. Milo terkagum-kagum melihat isi kota itu. Hampir semuanya terdiri dari batu. Lantainya, bangunannya, semuanya tampak rapi dan terorganisir.
Setelah puas melihat-lihat, ia mampir ke sebuah warung makan yang bau masakannya sangat harum tercium dari jalanan.
"Bau masakan apa ini? Harum sekali" kata Milo.
Perkataannya yang lugu itu membuat si koki menjadi tertawa. "Ini namanya rendang. Kau mau satu?"
"Rendang? Kelihatannya enak," kata Milo.
Orang itu memberikannya satu potong daging rendang, dilumuri oleh saus coklat kemerahan. "Bentuknya seperti tahi ..."
Ucapan Milo barusan seperti magnet yang menarik perhatian setiap kepala dalam ruangan kedai tersebut. Seketika wajah si koki jadi angker, "tutup mulutmu dan makan tahi itu!"
Milo melakukannya. Ia memotong daging itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Bumbunya yang kuat, aromanya yang nikmat, daging sapi yang empuk semua melebur dalam mulutnya, menggetarkan ujung rahang hingga telinga Milo terasa gemetar. "Whoahhhh tahi ini enak sekali!!"
"Makanya, jangan menilai makanan dari bentuknya!" seru pengunjung lain.
"Bentuknya bagus kok!" si koki tidak terima.
"Ini tahi paling enak yang pernah kumakan!" lanjut Milo sambil meneruskan makannya.
"Terima kasih banyak, tapi berhentilah menyebutnya tahi!"
Pengunjung lain berkumur dengan air putih lalu berkata pada si koki, "hei, lihat pakaiannya. Melihat motif segitiga warna biru-merah-hijau itu kurasa dia tidak berasal dari sekitar sini."
"Aku dari Duman," kata Milo.
"Oh! Duman! Ya.. saudaraku dulu pernah tinggal di sana. Tapi dia tidak betah di sana, katanya membosankan," kata si pengunjung lain.
"Duman desa kecil. Aku kenal semua orang di sana. Siapa namanya?"
"Murray."
"Oh, paman gembul itu."
"Ha ha ha! Dia memang gemuk. Apa saja yang dilakukannya di sana?"
"Tak banyak, hanya memancing sepanjang hari di tanjung." Milo tampak sangat menikmati hidangan yang disediakan untuknya.
Koki itu menanyainya lagi, "kenapa kau datang jauh-jauh dari Duman kemari? Menemui saudaramu? Mencari pekerjaan?"
Rendang itu akhirnya habis juga. "Wuah!! Enak sekali. Kalau boleh aku mau tambah! Makanan ini membuatku semakin lapar!"
Koki tersenyum sudut, senang masakannya dipuji. Ia mengambil piring Milo dan mempersiapkan satu porsi lain bagi pemuda udik itu.
"Aku mencari seseorang bernama Jon Damascus," jawab Milo sambil menunggu piringnya kembali.
Dikira sedang bergurau, si koki tertawa.
"Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Milo serius.
Koki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oke, ternyata ini serius. Ada apa mencarinya? Apa kau ingin menjadi OSES?"
"OSES? Aku tidak tahu apa itu, tapi ibuku menyuruhku mencari seseorang bernama Jon Damascus dan membantunya hingga selesai. Entah apa maksudnya dengan selesai," kata Milo apa adanya.
"Hmm.. pasti maksudnya adalah perang," kata koki itu.
"Perang? Apa maksudmu?"
"Sudah dari zaman aku seusiamu, peperangan berlangsung. Ada sebuah negara yang bernama Eshara hendak menyerang negara-negara tetangganya. Mereka serakah sekali, padahal diantara 6 negara di Asgares, wilayah mereka yang paling besar dan maju. Bisa dibilang, mereka sudah tidak butuh apapun lagi tapi masih saja mau menindas bangsa lain."
"Memangnya Damascus itu siapa?"
Si koki berusaha untuk terbiasa dengan ucapan dan susunan kalimat yang dipilih oleh pemuda udik ini. Meskipun kedengaran kurang ajar dan tidak terkendali, namun begitulah orang pedalaman. "Ia jendral besar di sini. Ia berkuasa atas semua kemiliteran, mulai dari satpam hingga satuan keamanan istana. Dan setahuku, orang-orang penting seperti dia tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan anak nelayan sepertimu."
"Dimana dia tinggal? Aku ingin menemuinya dan mengembalikan barang miliknya yang dititipkan pada ibuku," kata Milo.
"Barang?"
"Ya, sebuah belati. Katanya dititipkan sebelum aku lahir. Jadi sebenarnya walau orangtuaku mengenalnya tapi kami tidak pernah bertemu."
"Hehehe ... diam-diam kamu kenal orang besar rupanya. Komandan Damascus tinggal di ibukota. Jangan tanya aku cara ke sana, lihat peta saja. Baiklah, nak, semuanya 20 silver." Kata koki itu.
Milo segera membayarnya dan setelah menyelesaikan porsi keduanya, dia pergi dari kedai itu. Milo melanjutkan jalan-jalan. Ia suka kota ini. Dimana-mana ia melihat orang-orang yang seumuran dengannya menggunakan pakaian jubah putih yang seragam dimana pada punggungnya terdapat simbol universitas dengan warna merah. Sesekali mereka membawa buku sambil dibaca saat berjalan, atau dijepit di ketiak sambil buru-buru melangkah ke suatu tempat.
Milo tertarik pada gedung universitas yang paling tinggi. Gedung itu sudah dilihatnya sejak dari luar kota. Ketika sampai di pintu gerbang utamanya, ia melihat seseorang pemuda seumuran dengannya sedang didorong keluar dari universitas tersebut.
"Keluar kau! Riwayatmu sudah tamat, pelajar gagal!" kata seorang lelaki paruh baya kepadanya dengan kasar.
"Kalian tidak mendengarku dulu! Kalian tidak mengerti bahwa tanaman itu pasti ada! Minimal pernah ada!" kata orang itu marah juga.
"Tanaman itu hanyalah dongeng, dan selamanya akan tetap menjadi dongeng!"
"Siapa tahu diantara dongeng itu ada yang sungguhan!"
Orang itu mendekati si pemuda dan berkata dengan tajam. "Kalau kau bisa membuktikan cerita putri salju, dimana ada seorang wanita yang sudah meninggal bisa dihidupkan kembali oleh seorang pangeran hanya karena bibirnya dicium, baru aku mungkin akan percaya bahwa Yggdrasil bukan hanya sekadar dongeng!"
"Hei, pak tua! Kenapa sebagai ilmuwan kau kolot sekali sih?? Segala kemungkinan bisa saja terjadi!" seru pelajar muda tersebut.
"Satu nasihat untukmu; jangan sia-siakan masa mudamu. Buang impianmu jadi ilmuwan dan berpalinglah ke dunia tulis menulis. Tulislah novel dan cerita ngawur, itu lebih sesuai bagi tukang berkhayal sepertimu!" sambil berkata begitu, orang tua itu sudah masuk kembali ke dalam universitas dan mengacuhkan pemuda tersebut. Milo mendekati pemuda yang sedang memunguti kertas-kertas proposalnya yang berserakan di tanah karena dilempar orang tua tadi.
Ia sibuk menggerutu. "Dasar ilmuwan gedeg! Kau lupa kalau ilmu-ilmu matematika, fisika, kimia, biologi dan lainnya berasal dari filsafat. Dan filsafat berawal dari imajinasi, khayalan! Kau lupa bahwa apapun yang bisa dipikirkan manusia, mungkin saja bisa terjadi! Dulu orang bilang tidak mungkin besi bisa mengapung di atas air, sekarang kita membangun kapal dari besi! Bodoh!"
"Hai, kelihatannya kacau sekali kau," sapa Milo.
"Ya, memang kacau. Mau bagaimana lagi?" katanya sambil menyusun urutan kertas tersebut. "Aku baru saja dikeluarkan dari universitas gara-gara berdebat mengenai keberadaan sesuatu yang dia pikir tidak ada."
"Aku sempat mendengar pembicaraan kalian tadi, dan kalian menyebut tentang dongeng, atau sebuah tanaman ... Memangnya ada apa?" tanya Milo.
"Baik sekali kau mau bicara denganku. Kenalkan, aku Dalluf. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku adalah manusia kloning pertama di Gaia. Tapi aku tidak tahu aku kloningan dari siapa," kata Dalluf.
"Kloning?"
"Ya, kloning. Kau tahu kan? Bila salah satu selmu diambil, kemudian dijadikan sesosok dirimu yang lain, maka hasil itu dinamakan kloning. Oh ya, tentu saja, aku manusia kloning pertama yang berhasil hidup, bisa bergerak dan berpikir layaknya manusia normal. Sekarang tinggal mencari seorang perempuan dan kita cari tahu apakah aku juga bisa menghasilkan keturunan atau tidak," kata Dalluf dengan wajah datar dan bosan.
"Sel?"
Dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu, Dalluf menebak bahwa hari ini bakal lama. Faktanya adalah, ia sedang berbicara ilmiah dengan seorang yang bahkan mungkin tidak tahu buku itu apa. Akan tetapi karena Milo tampak tertarik sekali pada Yggdrasil, maka Dalluf mau tidak mau membawanya ke bukit tempat dia tinggal. Lumayan daripada tak ada yang mau dengar dan dia hanya bisa menuliskan semua pada buku catatan dan berharap ada yang peduli setelah dia mati kelak.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top