2. Gejolak Ombak
Victim
By: zhaErza
Naruto © Masashi Kishimoto
Happy reading. ;)
.
.
.
Chapter 2
Gejolak Ombak
.
.
.
Sakura menggantungkan lukisan itu di dinding kamarnya, terlihat indah dan memukau kumpulan cat yang tersusun sempurna menjadi sekuntum bunga mekar di tengah gurun, benar-benar sangat memesonanya. Manik emerald-nya kini beralih ke sudut lukisan dan kembali menangkap nama dari seniman itu. Helaan napas terdengar, dan sekarang ia semakin penasaran saja dengan seorang pria bernama Suu.
"Seperti apa dia?" fantasinya bermain dan membayangkan seorang lelaki khas seniman yang sering ia lihat di televisi atau media cetak, memakai topi dan memegang kuas di jarinya. Benarkah begitu? Atau jangan-jangan, Mr. Suu adalah sosok kakek tua yang tidak memiliki rambut dan bertubuh gembul.
Gelengan kepala menandakan sang gadis memaksa membuang khayalan tak bergunanya, walau bagaimana bentuk seorang pria bernama Suu itu, yang jelas Sakura sekarang telah jatuh hati terhadap karyanya. Pokoknya, ia berjanji untuk selalu menanti karya terbaru Mr. Suu dan akan membelinya dari sang penjual; Sasuke.
Dua hari setelahnya, Sakura kembali ke tempat Sasuke berjualan lukisan. Gadis itu berlari-lari kecil ketika hampir sampai di sana. Ia menarik napas dan mengucapkan 'hai' kepada sang penjual yang tersenyum tipis kepadanya.
Setelah diberikan kursi plastik untuk Sakura, gadis itu tanpa sungkan lagi langsung duduk dan bercerita banyak hal, sekarang mereka sepertinya sudah akrab, atau hanya untuk Sakura saja yang memang selalu ekspresif dan ramah.
"Kau pasti tak tahu, Sasuke?"
Sakura bercerita dengan riang dan pernuh suka cita sekaligus penasaran, Sasuke sendiri hanya menggeleng sambil tersenyum karena mendengar suara riang dari teman barunya.
"Katakanlah, agar aku tahu."
"Ah, aku selalu memikirkan Mr. Suu, Sasuke. Bagaimana rupanya? Bagaimana suaranya? Bagaimana ia? Aku mulai gila sepertinya. Huaaa!"
Kekehan kecil keluar dari bibir Sasuke, meski ia tidak bisa melihat bagaimana raut Sakura saat bercerita, tapi ia yakin gadis itu pasti terlihat sangat menggemaskan. Dari suaranya saja, Sasuke bisa menebak kalau Sakura memiliki kepribadian yang riang dan gampang terbawa suasana.
"Ya, bisa kurasakan kalau kau memang gila."
Cubitan di lengan kanan Sasuke langsung ia berikan, lelaki itu sekarang berpura-pura mengaduh dan menggoyang-goyangkan lengannya. Sementara Sakura kini cemberut karena diakui gila oleh lelaki penjual lukisan ini.
"Jahat sekali kau, Sasuke. Aku minta potongan harga kalau begitu." Sakura bersuara ngambek dan lantas berdiri, ia berjalan-jalan dan melihat-lihat lukisan yang berjejer apik di pinggir taman itu.
Zamrud-nya masih menyisir benda berseni yang dengan gagah terpajang, memerhatikan yang satu dan yang lainnya. Tak henti, menyeleksi mana yang akan ia bawa dan pajang di rumah mewah yang ditinggalinya seorang diri.
Ia kembali duduk, dan matanya masih belum menemukan lukisan yang ia anggap sesuai dengan keinginannya.
"Ada apa? Tidak tertarik?"
Sakura mengangguk, kemudian ketika ia mengingat Sasuke yang tidak bisa melihat, lalu ia menjawab pertanyaan lelaki itu.
"Ya, belum ada yang menarik perhatianku. Tapi, lukisannya semakin sedikit dari beberapa hari yang lalu. Sudah banyak yang terjual, ya?"
Anggukan dan senyuman sepertinya menjadi jawaban bagi Sakura, diam-diam gadis musim semi itu bersyukur karena lukisan teman barunya ini banyak yang laku. Dengan begini, selain menambah rezeki untuk Sasuke, nama Mr. Suu juga semakin terkenal.
Mata Sakura sekarang mengikuti lelaki di depannya ini yang kelihatan berdiri, ia awalnya ingin membantu Sasuke, tapi ia urungkan keinginannya ketika melihat lelaki bermata beda warna itu berjalan tanpa kesulitan karena kondisi fisiknya.
Masih mengikuti gerik Sasuke, manik dedaunan Sakura menangkap sang lelaki berambut hitam kebiruan yang kini berjongkok dan mengeluarkan lukisan yang sebelumnya diletakkan di bawah dan terbungkus oleh kain cokelat gelap. Sasuke mengeluarkan persegi itu dan pelan-pelan ia bawa ke hadapan Sakura.
"Biar kubantu." Langsung ia pindahkan benda berharga bagi mereka dan memang cukup sulit untuk dibawa dengan tangan satu, Sakura membawanya dengan bagian belakang yang mengarah kepadanya sehingga ia belum melihat seperti apa gambar yang tersemat di dalam sana.
"Gejolak Ombak," ketika lukisan sudah berdiri kokoh seperti yang lainnya dan menampakkan sesuatu seperti apa yang diucapkan oleh penjualnya.
"Eh?"
Bibir kecilnya pun terbuka sedikit karena melihat hal memukau di depan matanya. Coretan tinta berbagai warna yang membentuk gelombak ombak, dan percikan-percikan airnya yang kelihatan sangat indah dan besinar bagai terkena cahaya matahari. Lukisan yang menyejukkan jiwa, Sakura bahkan merasakan seolah dapat mendengar suara gejolak ombak itu. Ia menutup matanya dan seperti meresapi suara air yang bergemuruh dan berlomba-lomba untuk menjilati bibir pantai.
"Luar biasa, Mr. Suu. Sangat luar biasa." Pori-pori jari Sakura pun merasakan timbul-timbul dari lukisan itu.
Manik onyx dan violet Sasuke terbuka lebar karena mendengar pujian tulus dari gadis di sebelahnya ini. Beberapa saat setelahnya, bibir lelaki itu pun membentuk bengkokan kecil.
"Aaaaa ... Mr. Suu. Aku ingin sekali berjumpa.Ne, Sasuke, tolong pertemukan aku dengan Mr. Suu. Please!" kedua telapak tangan Sakura menyatu sebagai gerak tersirat bahwa ia menginginkan Sasuke untuk mengabulkan permohonannya.
Alis tajam lelaki yang sekarang berada di depan Sakura ini langsung naik satu, ia bingung dengan rengekan si gulali. Suara memelas gadis itu bahkan terus saja terdengar, bertanda sang merah muda masih memohon padanya.
Sasuke pun menggerakkan tangan kanannya dan memijat pelan belakang lehernya yang tak pegal, ia cukup kebingungan dengan permintaan Sakura yang sekarang semakin gencar merengek kepadanya. Helaan napas ia lakukan, dan sekarang dirinya mencoba berbicara kepada sang gadis.
"Aku tak bisa," ada jeda dari ucapan Sasuke.
"Kenapa?" namun, sepertinya Sakura sangat ingin tahu sampai-sampai ia tidak membiarkan lelaki berambuk raven itu melanjutkan rangkaian kata itu.
"Ya, karena aku sudah berjanji kepadanya."
Mata sang gadis gulali pun semakin membulat, ia kelihatannya masih tidak mau terima dengan ucapan tidak jelas dari penjual lukisan ini. Mereka masih berdiri dengan berhadapan dan Sakura masih terus merongrong Sasuke agar segera membeberkan janjinya itu kepada dirinya.
"Apa? Janji apa? Sasuke, ayolah. Apa susahnya memberitahu jati diri dari Mr. Suu? Atau bagaimana jika kau berikan aku alamatnya, bagaimana?"
Diam adalah jawaban Sasuke, lelaki itu masih berpikir apakah hal ini harus ia jelaskan, dan ia kabulkan keinginan gadis berhelai unik ini atau tidak?
"Aku sudah berjanji, agar tidak memberitahu siapa pun tentang jati dirinya. Begitulah, maafkan aku, Sakura. Dengan berat hati aku tidak bisa mengabulkannya."
Mengerucutlah bibir beraroma ceri yang dimiliki oleh tubuh gadis berambut gulali ini. Ia sendiri sampai gemas dengan sikap Sasuke yang benar-benar memengang teguh janjinya dengan Mr. Suu. Tapi, mau bagaimana lagi, ini juga bukan salah si mata beda warna ini. Ya, kalau sudah berjanji, maka harus dijaga dan jangan sampai diingkari.
Sakura mendecak bibirnya. Ia langsung saja duduk di kursi plastik dengan gerakan cepat sehingga menimbulkan bunyi gesekan antara ia dan kursinya. Sasuke yang mendengar suara tidak biasa itu pun menyeringai. Ia sadar sekarang si teman barunya ini sedang dalam keadaan ngambek. Tidak mau lelah, Sasuke pun mengikuti apa yang dilakukan Sakura. Tapi, tentu saja ia duduk di kursi itu dengan pelan dan tidak menimbulkan suara ribut seperti yang dilakukan gadis itu tadi.
"Aku tak akan menyerah." Sasuke jelas menangkap nada tegas dalam suara Sakura.
Kini, yang bisa dilakukan lelaki itu hanya tersenyum sambil menggumamkan sesuatau yang ambigu.
.
.
.
Lukisan berjudul Gejolak Ombak, kini Sakura pajang di ruang tamunya. Sesaat, gadis dengan mata seindah dedaunan itu menatap betapa terlihat memesonanya benda persegi ini, dan ia sekarang semakin ingin bertemu dengan Mr. Suu.
"Awas saja kau, Sasuke. Dasar menyebalkan." Kepalan tangannya yang sekarang berada di depan dada semakin ia eratakan buku-buku jarinya. Sepertinya gadis ini tengah merasakan kegemasan akibat ulah sang penjual yang main rahasian dengan dirinya. Bahkan, saat di jalan Clover tadi bersama Sasuke, Sakura sempat melihat seringai yang tecetak jelas di bibir lelaki itu.
"Jangan-jangan Sasuke sengaja. Menyebalkan!"
Beberapa hari setelahnya, Sakura tidak datang ke tempat Sasuke. Bukan karena ia tengah dalam keadaan merajuk atau sebangsanya, hanya saja sekarang ia tengah ada di kota Fuuma tempat kelahirannya dan merupakan rumah orang tuanya. Seperti yang selalu terjadi setiap setahun sekali, akan ada pesta mewah khusus bangsawan yang digelar di rumah orang tuanya yang bak istana itu.
Sakura melangkah dan keluar dari kamarnya dengan gaun tanpa lengan hijau dan sewarna dengan emerald. Bagian punggungnya terbuka dan ditutupi dengan selendang transparan yang berhiaskan manik-manik yang berkelip dan menimbulkan warna acak ketika tertimpa cahaya lampu, kalung mutiara yang melingkari lehernya dan sepatu bertumit runcung berkilau yang membungkus kaki mungilnya. Gaun itu panjang, tapi memiliki belahan di samping salah satu kakinya hingga mencapai pangkal paha, belum lagi kerah leher yang membentuk huruf 'v' sehingga menampilkan sedikit belahan dadanya. Dilihat dari mana pun, Sakura sangat memesona dan seksi. Rambut gadis itu dibuat ikal dan sibak menyamping dengan sebelah sisi kepala ia sematkan jepit rambut seukuran telapak tangan anak-anak yang berbentuk ukiran dedaunan perak yang dihiasi tabutan permata putih.
Seluruh mata memandangnya saat sang gadis menuruni tangga. Siapa yang tidak terperangah oleh keindahan yang tengah berada pada diri Sakura saat ini?
Seorang lelaki dengan pakaian rapi dan tidak kalah dari penampilan Sakura pun mendatanginya, dan berdiri pogah di depannya dengan dagu yang diangkat ke atas. Gadis merah muda itu tersenyum geli seketika karena melihat teman dari kecilnya ini yang sekarang tengah menggodanya.
Uluran tangan lelaki itu mengarah kepada Sakura dan ia langsung menerimanya. Rei Gaara tentu menyeringai karena berhasil mendapatkan gadis yang paling diincar ini.
Mereka lalu berjalan bersama dan bertemu sapa dengan orang tua, juga beberapa kerabat yang datang. Pembicaraan basa-basi pun dimulai dan Sakura sebenarnya sangat muak dengan hal ini. Ia harus menjaga diri dan tidak boleh terlalu menampakkan emosi yang berlebihan. Senyum seadanya tapi harus terlihat memukau, berbicara dengan lembut dan sopan, tertawa pun harus dengan nada lembut dan teratur.
"Kalau begitu, kami undur diri, Tou-sama, Oka-sama, Ji-sama dan Ba-sama." Gaara bersuara dan menganggukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada kedua orang tuanya dan orang tua Sakura, "Permisi." Senyum di bibirnya ia sunggingkan, begitu pun dengan gadis yang sekarang masih menyematkan lengannya di lekukan siku Gaara.
"Mereka begitu serasi." Mebuki berkomentar dan memandang kedua orang tua Gaara, mereka pun menganggukkan kepala dan tertawa kecil bersama.
Sementara itu, kedua sahabat yang sekarang masih berjalan bersama sesekali membengkokkan bibirnya dan berbasa-basi sebentar terhadap orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Sampai akhirnya keluarlah dua orang sahabat itu dari ruangan pesta, dan berjalan ke arah taman belakang dari rumah Sakura ini.
Gaara langsung melepaskan dasi kupu-kupu yang dipakainya dan membuka dua kancing bajunya, sementara Sakura melepaskan sepatu yang benar-benar sangat menyiksanya kini. Mereka saling menghela napas lega karena sudah bisa bebas dari acara mengerikan itu dan sekarang duduk di bangku taman yang terbuat dari batu.
Saling tatap dan mengernyitkan alis dan dahi, kemudian kedua sahabat itu tertawa bersama.
"Sial." Umpat Gaara setelah menyelesaikan tawanya. Ia lalu membuang napas kasar dan mengambil tas tangan Sakura.
Ketika menemukan jus lemon yang berada di botol kecil yang hanya berisikan 140 mililiter jus, dan isinya tinggal setengah, Gaara langsung saja membuka tutupnya dan menegukkan hingga tandas, walau rasa asam itu sangat mendominasi kerongkongannya.
"Hei, jangan dihabiskan, Panda!" mata emeraldSakura terbelalak karena sekarang botol berisikan jus lemon kesukaannya itu telah kosong, seharusnya masih ada setengah lagi dan Sakura sengaja meyisakannya agar bisa ia nikmati saat ini, tapi lelaki berambut merah ini benar-benar menyebalkan.
Lidah Gaara membersihkan sisa-sisa cairan lemon yang masih menempel di bibirnya, lelaki itu lantas menyeringai dan menatap mata Sakura dengan raut wajah mengejek.
"Aku mendapatkan ciumanmu." Ucapnya dengan suara jahil.
Mulutnya terperangah, "Apa? Dasar gila!" umpatnya kepada lelaki yang duduk bersebelahan dengannya di taman yang sepi dan dingin ini.
Gaara tertawa kecil karena melihat Sakura yang masih bersungut-sungut. Ia lalu menarik napas dalam dan menyandarkan punggung kokohnya di kursi yang terbuat dari batu, mata jade-nya ia palingkan ke atas sehingga bintang-bintang itu kini masuk ke penglihatannya.
"Kau akan dihukum jika ketahuan berbicara frontal begitu," Gaara berbisik, masih menatap langit gelap yang menyajikan gemintang.
"Kau juga sama." Sakura mengikuti Gaara dan menyandarkan diri di batu, matanya menatap langit yang berkilau.
"Berengsek! Aku muak."
Wajah Sakura langsung saja ia panglingkan menghadap Gaara yang masih bertahan dengan posisinya itu. Belum pernah ia melihat lelaki bermanik mirip dengannya ini mengatakan kemuakan mereka terhadap atuaran keluarga secara gamblang begini.
"Aku seperti boneka mereka." Dengusan jengah mewarnai pendengaran Sakura.
Untuk beberapa saat mereka terdiam.
"Aku ingin ke pantai," pernyataan itu Sakura ucapkan. Mengalihkan perhatian, mungkin.
Gaara masih saja diam, ia kelihatannya ingin mendengarkan apa lagi yang akan diucapkan gadis merah muda ini.
"Aku ingin melihat gejolak ombak, kau mau ikut?"
"Tentu."
Entah sampai beberapa lama, kedua sahabat sedari kecil itu masih duduk bersama di taman yang dingin dan hanya dihiasi penyajian dari suara hewan-hewan malam yang ikut meramaikan keadaan mereka. Bahu Sakura yang awalnya hanya tertutup selendang tipis kini sudah ada pakaian Gaara yang menghangatkannya.
.
.
.
.
.
Chapter 2
End
.
.
.
An:
Terimakasih karena sudah bca dan komen hehe.
Fanfiksi ini aslinya sudah Erza ketik sampai chapter 11. Dan kayaknya memang bakal panjang deh hehe.
Dan jangan lupa untuk tulis kesan dan pesan setelah membaca chapter 2 ini di kolom komentar ya hehe.
Salam sayang dari istri Itachikoi,
zhaErza
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top