[8] : Even It's Not Me?
3. Jevon
"Psst, anak baru."
"Anjir, ganteng banget."
"Yang ceweknya cantik."
"Mereka pacaran?"
"Mereka pindahan?"
"Gue denger mereka...."
Aku memutar mata bosan. Dasar, orang-orang nggak punya kerjaan.
Bukan. Ini bukan karena another V.S conflict. Namun bisikan-bisikan, semakin merebak saat sepasang manusia melangkah turun dari mobilnya.
Seorang cewek dengan wajah yang dilengkapi bibir yang selalu tertarik turun ke bawah, dan seorang remaja laki-laki yang ramping seperti penari. Keduanya mengenakan seragam yang masih baru, dengan setelan kemeja putih, serta bawahan bermotif kotak-kotak yang menjadi ciri khas IHS.
Kalau dalam kepala kalian bisa menebak itu siapa, aku yakin kalian benar.
Ya. Itu gadis dan laki-laki yang menempati kamar atas.
Kiera, dan Serafano Perdana.
Aku menghela napas pelahan, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar karena ini. Bukan, bukan karena mereka menyebalkan. Walau, ya, si gadis itu sama sekali tak pernah tersenyum ataupun berbicara, kecuali pada kakaknya. Bukan itu. Tapi karena hal lain.
Aku melangkahkan kaki ke lorong kelas Akselerasi, lalu dengan kasar menghempaskan diri ke atas kursi.
"Buset, ada yang lagi moody hari ini." ledek satu suara tanpa tahu malu. "PMS lo, Jevon?"
Aku melemparkan pandangan mencibir ke arahnya, yang membuat gadis berambut cepak itu tergelak. "Berisik, Gret."
Gretel, cewek yang lebih cowok dari kebanyakan cowok itu hanya ngakak tanpa tahu malu. Tangannya menabok punggungku--benar-benar ditabok. Aku hanya bisa meringis.
"Ya elah, lagian lo juga nih." ejeknya sambil tersenyum. "Cuma lo satu-satunya cowok ter-moody yang pernah gua temuin."
"Ber--"
"Bersyukurlah karena gue masih mau jadi temen lo."
"Ap--"
"Apalagi dengan sifat lo yang absurd itu."
"Di--"
"Dimana lagi lo bisa nemuin cewek se-amazing gue?"
Aku memelototinya. "Gue laporin juga lo sama Hansel."
Seketika, mata bulat Gretel makin membulat saat mendengar nama pacarnya disebut-sebut. Gadis itu memelototiku balik, namun menutup rapat bibirnya. Hanya Hansel, yang bisa membuat seorang Gretel tutup mulut--setidaknya untuk beberapa menit. Aku masih tak habis pikir, bagaimana ceritanya Hansel bisa tahan dengan cewek yang kelakuannya kayak cowok, dan berisiknya nggak ketulungan ini?
Mungkin hanya Hansel, dan Tuhanlah yang tahu.
"Udah, ah." akhirnya Gret bersuara lagi, setelah semenit berada dalam posisi diamnya. "Gua mau ke Hansel aja. Paling lo nitip salam ke Angie kan? Udah gue bilang, lo kalau saling suka pacaran aja."
Kali ini aku melemparkan benda terdekatku kepadanya. "Udah sana lo pergi aja!"
Dan dia hanya tertawa, namun juga melemparkan pandangan yang tak bisa kuartikan maknanya.
***
1. Kiera
Kelas...XI IPA 3.
Aku menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke tempat duduk di ujung paling belakang ruangan. Ini menyebalkan. Orang-orang hanya memperhatikanku, tanpa berani menyapa.
Memangnya aku pajangan apa?
"Apa? Jadi karena si anak baru itu?" suara yang lantang itu benar-benar membuatku menoleh, apalagi karena ada embel-embel yang sedang melekat padaku sekarang.
Sepertinya, kalau di sekolah ini aada trending topic, namakulah yang akan tercantum di paling atas.
Heran, seenggaknya kalau mau ngegosipin orang, gak usah pake volume segala kali.
Seseorang bersuara toa tadi menoleh, lalu matanya membesar saat melihatku menatapnya. Gadis berambut pendek itu langsung mengalihkan pandangannya, pura-pura sibuk mengobrol dengan dua orang di depannya.
Ah, ada si cewek Cina itu rupanya.
Si Angie-Angie itu.
Aku tinggal serumah dengannya, tapi dia sama sekali tak pernah berbicara padaku. Aku bahkan.tak tahu kalau kita sekelas.
Nah. Inilah salah satu bukti, kalau nggak di 'rumah' nggak di sekolah, orang-orang hanya menatapku dan segera mengalihkan pandangan. Seakan-akan, menatapku lima menit saja akan membuat mereka dijangkiti penyakit menular.
Aku menghela napas, lalu memasang headset untuk menyumpal telingaku. Lagu mulai mengalun, bersamaan dengan mulainya lagi saat pertama kali aku menginjakan kaki di rumah itu.
***
"Gue bilang, nggak usah ungkit-ungkit masalah itu lagi, Jevon."
Aku membeku, sementara pintu setengah terbuka di hadapanku. Suara kasar itu milik cowok bermata cokelat itu--siapa namanya? Ah ya, Oliver. Ketiga orang itu, dua cowok dan satu cewek itu lengkap disana. Satu mencekal kerah cowok yang berambut hitam itu, dan si cewek berusaha melepaskan keduanya.
"Ah--" aku terdiam sebentar, sementara dua orang itu kembali.berdiri tegak, seakan tak ada masalah apa-apa. "Gue cuma mau tanya, apa ada yang ngeliat...barang gue ketinggalan di sini."
Mataku menyapu seluruh ruangan, sampai akhirnya mendarat di dompet kecil yang sudah lusuh berwarna toska. "Bisa..."
"Ini." si cowok berambut hitam itu (Evan? Jovan? Entahlah aku lupa), mengoperkannya padaku. Matanya yang hitam sempat menatap mataku sekilas. Begitu cepat, bahkan aku tak terlalu yakin ia benar-benar menatapku.
"Well, makasih." ucapku salah tingkah; karena tiga pasang mata itu menatapku lekat-lekat. Aku beranjak dari tempatku berdiri, dan kembali menutup pintu.
Aku bersandar di belakang pintu dapur, lalu membuka dompet kecil itu.
Isinya sudah berubah tempat.
"Gue nggak bisa, Jevon," suara seseorang terdengar samar dari dalam dapur. "Bahkan walaupun ia, bukan Kiera yang gue kenal dulu."
Kiera yang dia kenal dulu?
Apa maksudnya?
***
Sera : Kir, lo bisa pulang sendiri nggak?
Kiera : Gila lo bang?
Kiera : Bisa-bisa nyasar ke Papua kalau gua pulang sendiri.
Aku mengangkat kepala, sementara di ujung lain kantin, Sera mengatakan 'lebay lo, Kir' tanpa suara. Aku memutar mata kesal, lalu mengetikkan pagi pesan untuk kakakku sayang itu.
Kiera : Nggak. P o k o k n y a, apapun rencana lo sama temen lo yang baru itu, lo harus anter gue pulang dulu.
Read.
Sera tidak membalas pesanku segera, namun ia menoleh ke sekumpulan temannya yang baru, dan menunjukku tanpa malu. Aku jadi ingin membenturkan kepalaku saja ke atas meja. Kakak idiot.
Salah satu alasan kenapa aku enggan bergabung dengan mereka adalah :
1. Karena mereka kakak kelas.
2. Karena mereka nggak jelas.
3. Dan karena, mereka cowok semua.
Dan terutama, karena kalau aku disana, bukannya Sera yang melindungiku, malah aku yang melindunginya. Percayalah.
Mereka tertawa setelah selesai mendengarkan Sera bicara. Mereka menengok padaku, melambai, bahkan beberapa ada yang berani mengedip padaku--yang hanya kubalas dengan dengusan dan wajah paling jutek yang kupunya. Sejurus kemudian, ponselku bergetar lagi, menandakan pesan masuk dari Sera.
Sera : Deal. Tapi bukan gue yang nganter.
***
(7-11-2015)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top