UG 8 |Myungsoo
Aku menarik lengan Sooji memasuki pagar rumah Ibu, gadisku yang satu ini sangat sulit untuk kubujuk agar mau makan siang bersama kami. Ia mengatakan jika merasa tidak enak harus mengganggu kebersamaan keluargaku, padahal Ibu dan adikku lebih bersemangat untuk mengajaknya bergabung bersama.
"Bawa Sooji ke rumah. Kamu belum mengenalkannya pada Ibu secara resmi." Begitulah penuturan Ibu semalam saat Jiwon menceritakan bagaimana awal pertemuannya bersama Sooji.
Meskipun aku mengatakan bahwa itu tidak perlu tapi Ibu memaksa, katanya agar bisa menjalin hubungan lebih baik lagi terhadap calon menantunya.
Ah, menantu? Entah mengapa itu terdengar cukup menyenangkan ditelingaku.
"Myungsoo--"
"Jangan menolak terus. Lagipula semenjak kita berpacaran kamu belum bertemu Ibuku." Aku tersenyum ketika menoleh dan mendapatkan wajah merona gadisku, dia terlihat lebih manis saat malu-malu seperti ini.
"Sudah ya, tidak perlu malu. Ibu sangat ingin berkenalan denganmu," alis Sooji terangkat bersamaan dengan aku mengakhiri ucapanku.
"Aku sudah mengenal bibi Sooae, begitupun Bibi. Dia mengenalku," aku tertawa lalu mengamit lengannya agar jalan bersisian denganku.
"Kalian saling mengenal sebagai tetangga. Sekarang aku membawamu ke rumah sebagai kekasihku untuk kuperkenalkan pada Ibu dan adikku," jelasku menatapnya lekat, "kamu mengerti?"
Senang rasanya bisa melihat semburat merah diwajahnya yang cerah, aku tersenyum puas ketika akhirnya gadisku mengangguk mengerti.
"Jadi ayo kita masuk. Ibu dan Jiwon pasti sudah menunggu."
Ketika memasuki rumah, Sooji hanya diam saja tanpa memandang apapun. Aku mengerti jika saat ini masih banyak kecemasan yang bersarang dibenaknya, tapi aku akan meyakinkan jika Ibu dan adikku benar-benar menerimanya tanpa memandang pekerjaan ataupun statusnya, sepertiku yang mencintainya apa adanya.
"Jangan khawatir, Ibu pasti akan senang melihatmu," bisikku padanya, berharap setidaknya dengan kalimat itu dia sedikit terhibur dan tidak berpikiran negatif lagi tentang dirinya sendiri.
"Aku hanya gugup," gumamnya pelan, aku merasakan lenganku digenggam erat olehnya, "aku tidak tau harus melakukan apa."
Ah gadisku, dia terlihat benar-benar sedang gugup. Apa karena ini pertama kalinya dia menemui orangtua kekasihnya?
Tunggu, apa Sooji pernah memiliki kekasih? Apa aku sudah pernah menanyakan hal itu padanya atau belum?
Astaga mengapa aku bisa melupakan hal sepenting ini?
"Myungsoo?"
"Hah?"
Aku menoleh padanya dan dia hanya tersenyum lalu melirik ke arah depan, mengalihkan pandanganku dan ternyata kami telah berada di ruang tengah dimana Ibu dan Jiwon sedang memperhatikan kami dengan wajah terpukau.
"Oh maaf," gumamku pelan, lalu membawanya unthk mendekati kedua wanita itu, aku tersenyum melihat kedua bola mata ibu yang berbinar girang.
"Bu, ini Sooji. Sesuai keinginanmu, aku membawanya sebagai kekasihku," ucapku memulai percakapan guna memecah keheningan yang terjadi diruangan ini, disampingku Sooji hanya mampu tersenyum gugup menatap ibuku.
Lima detik serasa lima jam untukku ketika menunggu reaksi Ibu, hingga sampai aku merasakan tarikan di tubuh gadisku yang membuat kami menjauh. Saat mendengar pekikan girang Ibu barulah aku sadar jika dia sudah menarik Sooji untuk memeluknya.
"Aku senang sekali akhirnya Myungsoo membawa seorang gadis ke rumah," itu ucapan Ibuku yang membuat Jiwon mengangguk setuju sementara Sooji hanya tersenyum malu-malu.
"Terima kasih, sudah mau mencairkan hati beku putraku," aku mendengus. Ibu berniat berbisik pada Sooji tapi suaranya terlalu nyaring untuk dikatakan sebagai bisikan sehingga aku mendengarnya.
"Bu, tolong jangan rusak pemikiran Sooji dengan ceritamu."
Ibu hanya tersenyum lebar saat menatapku dan aku tertegun. Pertama kalinya setelah sekian tahun aku bisa melihat senyum lebar Ibu yang terlihat sangat tulus dan matanya terlihat kembali hidup yang menyiratkan rasa kebahagiaan disana. Kemudian aku melirik Sooji yang berada dalam rangkulannya, melihat Ibuku bahagia hanya karena keberadaan Sooji disisiku membuat hatiku menghangat.
Sooji tidak hanya membawa kebahagiaan untukku, tapi untuk Ibu dan Jiwon juga. Tidak pernah kulihat mereka seantusias ini saat bertemu orang lain, bahkan Jiwon yang awalnya adalah wanita pendiam menjadi sangat cerewet saat berbincang dengan Sooji.
Aku beruntung kan? Bisa menemukan gadis sehebat Sooji yang mampu menceriakan kehidupan dalam keluargaku yang telah lama menghilang.
"Aku tidak salah pilih kan, Ibu?" Aku bertanya sembari menatap Sooji dan Jiwon yang kini sudah sibuk berbicara mengenai banyak hal, Jiwon terlihat sangat bersemangat ketika Sooji menceritakan mengenai pengalamannya selama hidup di Panti Asuhan beberapa tahun silam.
"Pilihanmu selalu tepat anakku. Ibu sangat senang kamu bisa memilih Sooji," jawaban Ibu membuatku tersenyum bangga. Aku tau Sooji akan mudah diterima oleh keluargaku karena dia adalah gadis yang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini mencoba untuk mendekatiku.
"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" Tanya Ibu lagi, aku berpikir apa yang telah kami lalui selama ini.
"Aku rasa kami semakin dekat dan dia sangat terbuka padaku. Aku senang dengan itu," jawabku dan aku kembali teringat pada kekhawatirannya, "tapi dia sering mengeluh karena status dan pekerjaannya yang tidak pantas. Aku terkadang kehabisan akal untuk meyakinkannya bahwa aku tidak masalah dengan itu." Keluhku membuat Ibu mengusap punggung tanganku dengan lembut.
"Dia melewati masa-masa sulit selama ini. Hidup dengan komentar-komentar negatif dilingkungan sekitarnya sudah jelas membuatnya merasa cemas dengan hubungan kalian."
"Tapi aku benar-benar tidak masalah dengan pekerjaannya, Bu. Aku tau dia gadis baik-baik." Sanggahku kemudian, kulihat Ibu tersenyum dan menganggukan kepalanya seolah mengerti apa yang kukatakan.
"Kamu memang tidak masalah tapi bagaimana dengan orang lain?" Tanya Ibu membuatku menatapnya dalam diam, "Ibu yakin jika Sooji hanya mencemaskan cibiran orang yang akan kamu dapatkan nanti--"
"Bu, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku mencintainya meskipun harus mendapatkan hinaan atau dikucilkan orang-orang, asal aku bersamanya itu tidak akan jadi masalah."
Aku masih tidak mengerti sebenarnya, mengapa Sooji harus berlaku seakan terbebani oleh hubungan ini. Aku memang senang karena dia memiliki perasaan yang sama dan mau menerimaku, aku juga memberinya waktu untuk kami melakukan pendekatan sebelumnya. Namun sampai saat ini, gadisku itu masih juga merasa bahwa dirinya tidak pantas untukku. Meskipun menurutku hanya dialah satu-satunya gadis yang layak untukku tapi dia tetap berpikir sebaliknya.
Kami memang telah memiliki komitmen satu sama lain saat ini, dia menerima segala perhatianku dan memberiku perhatian yang sama besarnya. Kami adalah sepasang kekasih, itu benar tapi aku terkadang merasa Sooji selalu menghindar untuk terlihat berdua denganku ditempat umum.
Sejauh ini kami hanya menghabiskan waktu dimobilku saat mengantar dan menjemputnya pulang, diteras rumahnya dan terkadang di sungai Han untuk melihat matahari terbit. Tidak pernah sekalipun kami berkencan ditempat umum seperti taman, mall, pasar malam ataupun gedung teater. Karena setiap kuajak untuk pergi ketempat-tempat ramai dia selalu menolak dengan berbagai alasan.
Tapi aku tau semua alasan itu hanya karangannya karena alasan sebenarnya adalah dia tidak ingin membuat orang-orang berpikiran buruk tentangku karena menjalin hubungan dengannya.
"Dia pasti sangat mencintaimu karena memikirkan tentang reputasimu di masyarakat," sahutan Ibu membuatku menoleh pada Sooji yang saat bersamaan juga melihat kearahku. Dia tersenyum manis padaku sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Jiwon.
"Apa yang harus kulakukan agar dia bisa mempercayai dirinya sendiri, Bu?" Tanyaku akhirnya, sampai saat ini aku memang tidak memiliki solusi yang tepat untuk mengubah pandangan Sooji terhadap hubungan kami.
"Mulailah dengan mempercayainya. Orang seperti Sooji akan lebih mudah percaya dengan tindakan dibandingkan kalimat semata," aku mendengar nasehat ibu dengan baik-baik, "jangan hanya mengatakan tapi buktikan jika kau memang mencintainya Myungsoo agar dia bisa yakin."
"Ibu benar," gumamku setuju, memang benar bahwa Sooji lebih membutuhkan tindakan dibandingkan hanya kata-kata yang berwujud semu. Selama ini memang aku hanya sering meyakininya dengan kata-kataku saja tapi tidak pernah membuktikan apapun padanya.
Keputusanku sangat tepat dengan meminta nasehat Ibu. Dia sangat tau apa yang menjadi kegundahanku dan dapat menemukan solusinya.
***
"Pak."
Aku menghentikan langkah ketika melewati meja CSO dilantai satu, menoleh dan menatap Haemi yang baru beranjak dari tempatnya untuk mendekatiku.
"Ada apa Haemi?"
"Kartu ATM Jiwon sudah selesai, kata Jiwon aku titip ke Bapak saja." Ujarnya lalu mengulurkan sebuah kartu persegi yang masih mengkilat.
"Ya, terima kasih Haemi. Lainkali kamu perlu menagih makan siang pada Jiwon, dia selalu merepotkanmu."
"Ini sudah pekerjaanku." Haemi tertawa lalu kembali ke mejanya, aku berbalik untuk melanjutkan langkahku menuju lantai dimana ruanganku berada.
"Tuan, anda memiliki tamu," aku mengernyit melihat front officer yang berada di depan ruanganku.
"Siapa? Saya tidak memiliki janji pada siapapun hari ini," tukasku, Nari hanya tersenyum masam dan melirik pintu ruanganku. Ah, dilihat dari ekspresi kesal Nari sepertinya aku tau siapa tamu tak diundang itu, "baiklah Nari, terima kasih sudah tidak mengusir tamuku," candaku yang dibalas dengusan kesal olehnya. Aku hanya tertawa lalu bergegas masuk ke dalam ruanganku.
"Apa yang membuatmu mendatangi kantorku Kangjoon?" Tegurku sesaat setelah menutup pintu, kulihat pria berambut tembaga itu nenoleh dan tersenyum menatapku. Dia bahkan sudah duduk didepan mejaku tanpa perlu menunggu izin dariku.
"Kartu kredit Eunsoo hilang kemarin saat sedang belanja bersama Ibuku," jawabnya ketika bokongku telah menyentuh kursi, aku mengangkat alis menatapnya, "aku butuh kartu itu diblokir sebelum ada yang menemukannya. Sepertinya kartunya tercecer."
"Kamu tidak harus menemuiku hanya untuk melaporkan masalah ini Kangjoon, dibawah banyak costumer service yang siap menanti keluhanmu," tukasku dengan wajah masam, sepertinya aku tau kali ini apa yang membuat Nari kesal.
"Lebih cepat jika berurusan denganmu teman," sahutnya membuatku teringat Jiwon juga pernah mengatakan hal seperti ini saat datang untuk mengurus kartunya yang hilang.
"Astaga kalian benar-benar pintar memanfaatkanku."
Kangjoon hanya tertawa lalu dia mengeluarkan beberapa berkas milik Eunsoo termasuk kartu identitasnya yang artinya aku sama sekali tidak memiliki pilihan untuk menolak hal tersebut.
"Aku akan mengurusnya segera. Katakan pada Eunsoo dia bisa mendapatkan kartunya yang baru paling lama tiga atau empat hari lagi," ucapku pasrah membuat Kangjoon tersenyum puas. Aku hanya mendengus meletakkan berkas yang diberikan Kangjoon diatas tumpukan map diujung meja.
"Lalu apalagi? Aku tau kamu kemari bukan hanya untuk masalah ini," tanyaku setelahnya, Kangjoon hanya menatapku dalam diam membuatku sedikit risih. Sejak kapan Kangjoon berubah menjadi pria sok misterius seperti ini?
"Kudengar Jongin bertemu dengan Sooji," ucapnya dan aku langsung mengangguk mengingat saat aku dan Sooji sedang makan malam diluar tanpa sengaja bertemu dengan Jongin yang sedang inspeksi disana. Dan kami sedikit berbincang, sebenarnya hanya Sooji dan Jongin dan aku lebih banyak mendengarkan.
"Apa kamu tau setelah berbicara dengan Sooji, Jongin sedikit berubah?"
Aku menggelengkan kepalaku dengan alis bertaut, memang setelah pertemuan direstoran itu aku tidak lagi bertemu dengan Jongin, hanya Sehun saat menjemput atau mengantar Sooji.
"Apa maksudmu dengan dia berubah?"
"Dia menjadi lebih semangat dan sedikit lebih santai." Penjelasan Kangjoon sama sekali tidak membuatku mengerti, "dia sedang berkencan dengan seorang wanita," sambungnya yang sukses membuatku terkejut.
"Jongin? Berkencan? Itu tidak masuk akal!" Seruku tidak percaya, Kangjoon tertawa dengan dramatis.
"Itu benar. Dia mengaku jika Sooji yang mengenalkannya pada wanita itu."
Aku semakin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kangjoon, kapan Sooji mengenalkan Jongin pada seorang wanita? Seingatku gadisku tidak pernah bertemu dengannya selain saat mengenalkan mereka di guesthouse Minho dan direstoran beberapa waktu lalu.
"Itu benar. Makadari itu aku ingin meminta izin."
"Apa?" Kangjoon tersenyum memberiku tatapan ragu membuatku menebak-nebak apa yang diinginkannya saat ini, "cepat katakan apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin bertemu Sooji."
Aku menatapnya heran,
"Mungkin dia bisa memberikan semangat untuk hidupku yang kelam ini."
Ah omong kosong. Mengapa harus mengumpakan hidupnya secara berlebihan seperti ini, "Sooji bukan tempat untuk kalian berkeluh kesah." Ucapku tidak terima tapi Kangjoon tetap terlihat begitu mengharapkannya.
"Ayolah Myungsoo. Kamu tau gadismu itu sangat cantik, sangat sulit menolak pesonanya."
"Itu tidak ada hubungannya Kangjoon." Dengusku menatapnya malas, dia malah tertawa lalu kemudian membujuk untuk mengizinkannya bertemu dengan Sooji.
Sejujurnya dia bisa dengan bebas bertemu Sooji, toh semenjak aku mengenalkan mereka secara otomatis mereka semua menjadi teman dan tidak perlu izin dari siapapun untuk bertemu dengan teman bukan? Lagipula aku hanya kekasih Sooji, bukan suaminya jadi tidak ada hak untukku melarang teman-temanku bertemu dengannya.
"Kamu tidak perlu izinku Kangjoon."
"Benarkah? Kupikir kamu akan cemburu karena aku ingin bertemu Sooji."
Hmm cemburu? Itu sangat klise menurutku.
"Jangan membual, kalian temanku jadi untuk untuk apa cemburu pada salah satu dari kalian hanya karena bertemu dengan kekasihku?" Tanyaku menatap Kangjoon yang sudah tertawa geli, "aku juga sering bertemu Eunsoo, atau Jiwon malah lebih sering kutemui tapi kalian tidak pernah cemburu kan?"
"Benar. Tapi itu karena kamu tidak menyukai mereka, bagaimana jika kuberitahu bahwa aku menyukai Sooji?"
Aku memandang Kangjoon mencari kebohongan atas kalimatnya namun aku tidak menemukan apapun selain kejujuran disana. Dia tersenyum lebar saat menyebut nama Sooji membuatku yakin jika dia memang benar menyukainya.
"Gadis itu pantas disukai. Aku tidak akan menyangkalnya." Tukasku, sekilas aku dapat melihat wajah terkejut Kangjoon tapi ah sepertinya itu hanya hayalanku karena saat ini pria aneh itu sudah tertawa.
"As expected our Myungsoo. He and his selfcontrol."
Aku mengulum senyum mendengar decakannya, "jadi kamu akan bertemu Sooji atau tidak?" Tanyaku mengkonfirmasi keinginannya yang langsung dibalas oleh anggukan antusiasnya.
"Siang ini Jiwon mengajaknya berbelanja. Hubungi Jiwon untuk tau lokasi mereka," terangku mengingat pagi tadi Jiwon yang tidak memiliki pekerjaan dikantornya datang kerumah dan memaksa Sooji untuk menemaninya seharian ini. Sekalian untuk mendekatkan diri katanya.
"Ah baiklah, aku akan menunggu sampai makan siang. Thank you bro."
"Jangan menelantarkan adikku. Belikan makan siang untuknya juga."
"Aye captain!" Serunya lalu berbalik dan menghilang dibalik pintu kerjaku, tidak pernah aku melihatnya sesemangat ini jika berbicara mengenai wanita setelah bersama Eunsoo. Kupikir memang ada baiknya dia bertemu Sooji, mereka akan menjadi teman yang akrab.
Tapi sepertinya ada sesuatu yang lebih membutuhkan perhatkanku saat ini. Ya, Jongin dan teman kencannya.
Siapa wanita itu?
*
Jam empat sore aku tiba dirumah Ibu dan melirik kediaman Sooji, sepertinya mereka belum pulang karena tidak terlihat tanda-tanda bahwa rumahnya sedang berpenghuni saat ini. Dan tepat ketika aku ingin masuk kedalam halaman rumah Ibuku, saat itu juga mobil yang kukenali milik Kangjoon mendekat dan berhenti tepat didepan rumah Sooji.
Aku mengalihkan langkah dan mendekati mobil itu saat Kangjoon keluar disusul oleh Sooji.
"Dimana Jiwon?" Tanyaku langsung saat berada didekat mereka, kulihat Sooji terkejut dengan kehadiranku lalu menatap Kangjoon yang sepertinya terliha puas karena sudah menghabiskan waktu bersama kekasihku hari ini.
"Aku mengantarnya ke apartemen. Tepat didepan pintu, jangan khawatir." Jelas Kangjoon lalu aku mengangguk mengerti.
"Jadi kamu sudah selesai kan? Pulang sana." Ujarku membuat Kangjoon kembali tertawa lalu berpamitan pada Sooji yang hanya mampu mengangguk membalasnya.
Selepas kepergian Kangjoon aku melirik Sooji seraya mendekatinya, "jadi kalian darimana saja?" Tanyaku.
"Ma--maaf." Gumamnya membuatku heran terlebih melihat wajah gugupnya. Apa dia habis melakukan kesalahan?
"Untuk apa minta maaf?"
"A--ku pergi bersamanya," gumamnya melirikku dengan ragu kemudian menambahkan dengan cepat, "tapi tadi Jiwon ada. Kami tidak hanya berdua."
Aku tertawa lalu mengusap kepalanya, gadisku terlihat sangat manis, "Kangjoon sudah mengatakannya padaku lebih dulu kalau dia ingin menemuimu. Aku tidak pernah melarangmu pergi bersama teman-temanku Sooji." Ujarku membuat matanya membesar.
"Kamu tidak marah?" Aku tersenyum lalu menggeleng, menggandengnya untuk berjalan menuju pintu rumahnya.
"Kamu pasti lelah, ayo masuk dan istirahat."
Kami masuk kedalam rumahnya, ini kedua kalinya aku masuk kemari dan suasanya tidak berubah dari kali pertama aku masuk, "istirahatlah, aku akan pulang."
Baru saja ingin berbalik, Sooji sudah menahan lenganku membuatku menatapnya, "kamu memerlukan sesuatu?" Tanyaku dan tiba-tiba saja wajahnya berubah merona, dia menunduk lalu mendekatiku.
"Jangan pulang dulu. Aku akan buatkan teh untukmu," ujarnya malu-malu yang sukses membuatku tersenyum bahagia.
"Baiklah, secangkir teh sepertinya menggiurkan."
Sooji hanya menggumam pelan lalu berbalik meninggalkanku berdiri didepan pintu rumahnya, ia masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya mungkin. Aku tau sebenarnya secangkir teh itu hanya alasannya saja, dia pasti tidak ingin aku meninggalkannya saat ini.
Astaga, betapa manisnya gadisku itu.
"Duduklah, aku akan membuatkan teh untukmu."
Setelah mengucapkan itu dia langsung bergegas kedapur membuatku tertawa dalam hati, sudah berani menahanku disini tapi dia masih malu-malu juga. Ckckc, dasar.
Aku duduk disofa lalu memperhatikan ruangan itu, benar-benar tidak berubah hingga pandanganku beralih pada dua pigura yang dulu sempat menjadi perhatianku.
Mengapa salah satu bingkainya masih kosong? Aku mengingat dengan jelas jika isi dari bingkai itu sekarang sudah berpindah tempat diruang kerjaku, tapi kenapa isinya masih kosong?
"Myungsoo--"
Aku menoleh mendapati Sooji berdiri disamping sofa dengan dua cangkir teh ditangannya, aku berdiri lalu meraih cangkirku dan meletakkannya dimeja.
"Kenapa bingkainya masih kosong?" Tanyaku kemudian, Sooji melirik piguranya lalu tersenyum sedih, "kamu bilang masih banyak fotomu."
Aku menatap Sooji yang hanya diam saja, dia beranjak duduk disampingku dengan kepala tertunduk. Aku meraih jemarinya dan menggenggamnya.
"Aku tidak memiliki foto lain."
"Tapi mengapa--"
Sooji menoleh padaku secara tiba-tiba membuat kalimatku terhenti, matanya terlihat sedih saat ini. "Karena kalau aku jujur kamu tidak akan mau menerimanya. Aku tau kamu sangat ingin foto itu," ungkapnya mengenang salah satu kebodohan yang tidak pernah kusesali itu. Aku tersenyum mengusap pipinya yang hangat.
"Tunggu disini, aku akan segera kembali." Ucapku, Sooji sempat ingin protes namun aku sudah melesat keluar dari rumahnya. Dengan cepat aku memasuki rumah ibuku dan langsung naik kelantai dua menuju kamarku. Bahkan mengabaikan Ibu yang baru saja menegurku karena tiba-tiba muncul didalam rumah.
"Myungsoo, kamu tuli atau sengaja mengabaikan Ibu?"
Ibu menyusulku ke kamar dan aku tetap mengabaikannya, membuka laci meja belajar yang dulu kugunakan saat masa-masa sekolah dan mencari album foto didalam sana.
"Myungsoo!"
"Bu, maaf. Aku terburu-buru, ini demi kelangsungan hidup anakmu bersama Sooji jadi tunda dulu marahnya, oke?" Aku menoleh padanya sekilas lalu kembali mencari album fotoku.
"Dasar anak nakal!" Setelah mengucapkan itu Ibu langsung keluar dari kamarku, aku yakin dia tidak akan menggangguku karena aku telah menyebutkan nama Sooji yang mana itu adalah salah satu penangkal agar aku bisa selamat dari omelannya.
Oh Sooji, aku mencintaimu sayang.
"Ah dapat!" Aku langsung menarik album foto dari dalam laci yang ditumpuk beberapa buku, kemudian membukanya, "ayo kita lihat apa yang ada disini."
Setelah mendapatkan apa yang kuinginan, segera kusimpan album foto itu asal lalu keluar dari kamar dan sekali lagi bertemu dengan Ibu diruang keluarga. Aku mendekatinya lalu mencium pipinya sebelum bergegas keluar dari rumah.
Hanya gerutuan Ibu yang kudengar sebelum menutup pintu, aku yakin saat ini dia sedang mencak-mencak tidak jelas akan kelakuanku. Tapi itu tidak menjadi masalah.
"Kamu darimana?" Sooji langsung menyambutku dengan wajah cemas membuatku merasa semakin bahagia. Kutarik tangannya dan meletakkan selembar foto disana.
"Ini bisa mengisi bingkaimu yang kosong." Ucapku was-was menantikan reaksinya, ia menatap foto yang kuberikan. Itu adalah fotoku saat berusia tujuh tahun, sedang memakai baju tradisional Korea dengan wajah masam.
Aku ingat saat itu aku sangat tidak senang difoto namun Ibu memaksa sehingga jadilah foto itu, itu adalah foto terakhir yang kumiliki sebelum aku beranjak dewasa dan kurasa Sooji wajib menyimpannya karena aku telah menyimpan fotonya.
"Ini--"
"Aku tau wajahku jelek saat itu, tapi hanya ini foto yang kutemukan selain foto-fotoku saat remaja." Jelasku, Sooji masih memandang foto itu lalu mengangkat wajahnya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Oh aku membuatnya menangis lagi.
"Sayang jangan menangis. Kamu tidak suka fotoku ya?" Tanyaku menariknya untuk kupeluk, dia menggeleng lalu membalas pelukanku.
"Aku suka. Terima kasih."
Aku segera melepas pelukannya lalu membawanya ke ruang tengah, "kalau begitu ayo pasang disini," pintaku tidak sabar. Sooji tersenyum lalu dengan telaten memasang fotoku dibingkai itu sebelum memajangnya kembali.
Kami berdiri bersisian sambil memandang foto tersebut, senyumku langsung terkembang saat merasakan kepala Sooji menyandar dipundakku. Aku merangkul bahunya lalu menunduk untuk mengecup puncak kepalanya.
"I love you." Bisikku padanya.
Tbc.
Maaf ya baru muncul dan ini pendek 🙏🙏🙏🙏
Udah segini aja soalnya idenya. Aku sulit nyari kata-kata kalau lagi nulia pov Myungsoo. Karena dia cowo kali makanya agak susah 😅
Oh ya ini sudah akan ending ya. Dua part lagi InsyaAllah ending. Aku mau tamatin pas di chapter 10 jadi doakan semoga lancar dan Move On bisa dilanjut 😆😆😆😆
See you next part 🙋🙋🙋🙋
Thank.xoxo
elship_L
.
.
-19/02/17-
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top